Dropdown

Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2015

NENEKKU MASIH PERAWAN #3 oleh: DUDUNK SAKELAN



SORE yang berselimut kabut. Aku duduk dengan lesu di bawah pohon tomat. Pikiranku benar-benar kacau. Bagaimana tidak, semua teman di Cerpen-Ku menyuruhku mengalah pada nenek. Masa, hanya karena nenek sudah tua, aku harus mengalah? Padahal cinta adalah soal hati---
"Eh, rupanya kamu ada di sini, Dunk? Pantesan saja dicari di kamarnya, nggak ada!" Nenek tiba-tiba sudah bergelayut manja di sebelahku.
Aku mendengus saja. Malas sekali untuk meladeninya. Mending diam seribu bahasa.
"Dunk, besok kan sudah lebaran. Menurut kamu, enaknya Mas Bram dibelikan baju apa, ya?"
Aku kembali mendengus.
"Mas Bram itu ...."
"Alaaa ... Nenek! Mas Bram terus dari tadi yang diomongin?!" Aku berdiri. Lalu, jumpalitan ke atas pohon tomat.
"Dudunk ...! Kamu kenapa, sih? Dari semalam, kok uring-uringan mulu?" Nenek memandangku dengan pandangan cemas, "ayo, turun ...! Nanti jatuh, lho!"

Selasa, 14 Juli 2015

NENEKKU MASIH PERAWAN #2 karya: Dudunk Sakelan

i

MALAM ini, aku jadi satpam di rumahku sendiri. Nenek yang pergi sejak sore tadi, belum juga kembali. Waduh, jangan-jangan sudah dimutilasi oleh orang yang dipanggilnya Mas Bram itu. Salahnya nenek sih, keganjenan. Jatuh cinta tanpa berunding dulu sama aku. Jatuh cintanya, sama orang kaya lagi!
Kalau sampai ayam jantan berkokok, nenek belum datang juga, aku harus lapor pada Pak Khusni Yakob, kepala hansip di desa ini. Biar---
Tiiit ..! Tiiiiittt ...!

Senin, 13 Juli 2015

NENEKKU MASIH PERAWAN #1 Oleh Dudunk Sakelan

a

BELAKANGAN aku melihat nenek berubah jadi ganjen. Rambutnya yang sudah putih semua, dicat warna hitam. Sehingga rambutnya yang panjang terurai itu, persis seperti pemeran iklan shampo Pantene di teve. Sementara make-up wajahnya, alamaak ngartis benar. Kupikir ini nenek lagi kesambet atau sedang mengalami puber, ya? Kalau lagi puber, puber ke berapa?
"Tolong Dunk, gigi nenek disikat!" seru nenek suatu hari sembari mencopot gigi palsunya.
"Nenek ada-ada aja! Sikat sendirilah, Nek!"
"Tolong dong, nenek buru-buru, nih! Sebentar lagi Mas Bram akan kemari, ngapelin nenek."
Mas Bram? Siapa, tuh? Olala, bisa gila aku nanti lama-lama berada di hadapan nenek. Aku harus minggat, ah! Mending bermain-main sama si Joele saja daripada dekat-dekat sama nenek.
"Gimana, Dunk? Mau bantu nenek, nggak?" tanya nenek sambil mengipas-ipas wajahnya dengan selembar uang bergambar Pak Karno.
Melihat uang, mataku langsung hijau. Padahal uangnya tidak berwarna hijau. Namun, begitu aku melihat gusi nenek yang sudah ompong tidak bergigi lagi, aku jadi tidak minat lagi untuk mengambil duitnya. Bukan apa-apa, aku hanya tidak tega morotin nenekku yang sudah uzur.
"Mau nggak, Dunk?" tanya nenek sekali lagi.
"Tapi gigi palsunya disikat sendiri ya, Nek?"
"Uh, dasar bocah malas!" Nenek merengut. Lalu bergegas menuju kamar mandi sambil menenteng gigi palsunya.
***

KEMPUNAN (bag.2) karya: Topan Kejora



Telah aku ceritakan semua kejadian yang menimpaku pada Gyza. Malam itu kami berboncengan, kuajak kekasihku ke tempat biasa kami bermenung untuk menikmati indahnya matahari terbenam. Di sebuah areal pelabuhan, tempat kapal-kapal barang bersandar. Namun, sejak belasan tahun lalu tak lagi beroperasi, karena pemerintah setempat bosan mengeruk endapan lumpur di sepanjang muaranya. Saban hari kian menebal. Hal seperti ini memang bukan barang baru di negeri ini. Proyek-proyek semacam ini memang sengaja diciptakan, atau memang cenderung dipaksakan. Selain mengharap kucuran ongkos perawatan besar sebagai alasan, juga menjadi alasan untuk membuat pelabuhan lain dengan dalih yang lama terbukti tidak menguntungkan.
Tapi malam ini, selang lebih kurang satu jam berlalu. Kami menatap kejauhan bukan untuk membayangkan masa depan yang gilang-gemilang. Aku kebingungan, di sampingku Gyza tak henti-henti mengusap cairan bening di pipinya. Bagaimana tidak, ponselku selalu bergetar selang beberapa menit. Dari nomor yang saudara-saudara dan orangtuaku hingga nomor yang tidak tertera namanya. Begitupun pesan singkat dari orang yang kukenal, yang mengaku polisi, keluarga korban, hingga preman, silih berganti memenuhi kotak pesan ponsel milikku. Mereka membujuk, memaksa, mengancam. Aku diteror dan akhirnya berbuah menyudutkan. Bahwa akulah yang bersalah.

KEMPUNAN (bag.1) karya: Topan Kejora





MALAM itu ketika sepeda motor yang aku kendarai tiba-tiba lunglai dan kehilangan tenaganya. Kemudian berhenti tepat di belakang Harrier hitam, suasana di sekelilingku begitu lengang, termasuk jalanan itu pun demikian, pandanganku tidak mendapati orang melintas sampai di penghujung simpang. Ternyata dengan memilih rute yang tak biasanya menuju pulang, mematahkan perkiraan aman. Seharusnya rute ini tidak kupilih, jam 10 begini kios-kios bensin di ruas jalanan ini memang tidak lagi buka. Spontan aku merogoh hand phone, coba menghubungi pacarku Gyza.
Tapi, dari seberang sana bukan suara merdu Gyza yang menjawab, melainkan suara merdu lain. Suara robot itu mengabarkan, pulsa yang kumiliki tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Apes, terlalu asik menghabiskan malam minggu bersama kekasih, sampai-sampai pulsapun lupa di isi ulang.
Ini bukan kali pertama motorku kehabisan bensin atau pulsa di HP sampai nol. Melainkan, ini pertama kalinya keduanya kosong melompong secara bersamaan. Aku terdiam sejenak, menarik napas panjang untuk meredakan kekesalan. Saat jengkel mulai reda dan ingin mendorong sepeda motor, aku tersentak oleh sepasang cahaya merah yang tiba-tiba berkedip. Tepat dari pantat Harrier yang sejak tadi memang tak mengeluarkan suara. Berkedip lagi, perlahan dan berulang-ulang.
Samar cahaya lampu jalan merembes di beberapa bagian kaca Harrier, mataku menyaksikan dari dalam mobil mewah itu ada seseorang. Ya, sesosok bayangan di balik kemudi, tidak bergerak. Seakan tahu aku mulai terpancing, sepasang cahaya merah yang tak lain lampu rem mobil itu pun kini berhenti berkedip. Melainkan terus mengeluarkan cahaya merah. Aku jadi penasaran, helm kedap udara yang gampang membuat kepala gatal ku copot, kepalaku mulai berkeringat. Kemudian meletakkannya di motor yang kini urung kuseret.

DAN SENJA PUN USAI (bag.2) karya: Yanuar Hendra


"Bang ..."“Hmm ....”
“Abang kok diam aja?”
“Ya mau bicara apa lagi? Situasi sudah berubah. Sekian puluh tahun waktu menyela, dan kini tak ada lagi yang tersisa.”
“Dia sempat membicarakan soal Abang. Tak banyak, sih. Tapi sepertinya dia menyesal. Abang tak berusaha mendekatinya lagi? Sekarang dia janda lho, Bang?”
“Hallaah, ko ini macam-macam aja!”
“Tapi Abang masih cinta kan sama dia? Buktinya waktu Ti bilang dia mau ke Jakarta, respon Abang cepat kali. Tapi Abang tak coba untuk lihat-lihat dia?”
“Nggak.”
“Ah, bohong lah! Dia sempat curiga sama sopir taksi yang ngantar dia ke hotel. Itu Abang, ya?”
Tak ada jawaban.
“Ti yakin itu pasti Abang. Abang nyopir taksi di bandara?”
“Nggak, cuma nyerep ….”

DAN SENJA PUN USAI (bag.1) karya: Yanuar Hendra


Dan memperhatikan dengan saksama perempuan berkerudung merah hati itu. Wajahnya agak tirus dengan make up tipis. Ada sedikit kerut-merut di kanan kiri hidung, serta agak berkantung di kelopak mata bagian bawah. Kulitnya relatif putih dengan beberapa flek sangat minimalis, dan nyaris tak terlihat dalam jarak pandang tertentu. Dibalut busana muslim warna coklat tua dengan lengan sebatas siku; namun dari arah dalam disambung manset panjang sewarna dengan kerudungnya, wanita itu terlihat charming dan modis. Terlebih dipadu dengan tas bermerek internasional pada lengan kirinya.
“Ke mana kita, Bu?” tanyanya sopan sambil melirik kaca spion ketika mobil mulai meninggalkan area parker. Dilihatnya wanita itu mengeluarkan smartphone.
“Sebentar. Jalan saja perlahan,” katanya. Kemudian terlihat dia menekan beberapa tombol angka, lalu mulai bicara dengan seseorang. “Assalaamu’alaikum … Kakak baru sampai nih, Ti …”
“Oh, ya? Aduuuh, maaf. Hetty tak bisa jemput,” sahut suara di seberang telepon selulernya. “Kakak sama siapa?”
“Sendirilaah... Sama siapa pula?”
Suara lawan bicaranya mengikik. “Nginap di tempat akulah, ya? Cuma sempit, maklum anak kost.”
“Eh, daerah mana ko bilang tempo hari?”
“Kuningan. Ya, Kak ya? Pliiiis … Nginap di tempat akulah, ya?”
“Kita tengok nanti ajalah. Kayaknya udah sore. Nanti kakak hubungi ko, ya?”
“Eh, Kakak mau berapa hari di sini?”
“Mungkin dua atau tiga hari …” jawab wanita itu, kemudian memutuskan pembicaraan. “Ke daerah Kuningan aja, Pak,” katanya kepada si sopir.

Minggu, 28 Juni 2015

KISAH RAMADHAN (BAG.4)



Naskah itu kubaca lagi. Tidak tahu kenapa Bu Linda memberi tugas penulisan skenario pentas sendratari itu padaku. Bukankah di SMU 'CERPENKU' banyak murid lain yang jauh lebih pinter?
Beberapa hari belakangan ini, pikiranku terfokus pada cerita naskah Ramayana ini. Sampai terbawa mimpi, bahkan di saat pingsan.
Sepertinya, harus segera kurampungkan, agar tidak jadi beban pikiran. Mungkin akan jadi kenangan manis kala aku lulus nanti.
Bersambung...
Eh, dikit banget ya, Mas Dudunk?
Ini tema bikin bingung, jadi inget yang di kampung. Memory sayur kangkung, dari gadis berkerudung, yang mata dan hidung, bikin hatiku bersenandung, melambung sampai langit ujung.
Hingga awan mendung datang dari Bandung, ending menggantung, terkatung-katung, rampung.
Hi hi
lupain, itu curhat orang linlung.
Terusin cerita aja.
"Baiklah, anak-anak. Kita mulai latihan!" kata Bu Linda Nurazizah. Kaca mata bening yang nangkring di hidung mbangir, menambah anggun wajah manisnya.
Murid-murid -terutama cowok, begitu antusias mengikuti sesi latihan drama ini. Alasannya, apa lagi kalau bukan karena ingin menghayati pesona kecantikan ibu gurunya yang membuai dan melambai. Daun kali, ya?
"Ini kan Ramadhan, kenapa pentas drama Ramayana, Bu?" tanya Dimaz. Murid ganteng yang dapat peran jadi Sri Rama.
"Kenapa bukan Umar bin Khotob, atau para wali aja, Bu?" Aditya yang di naskah jadi adik Rama, ikut bertanya.
"Mending Romeo and Juliet. Romantis!" usul Hany Juwita. Tumben dia nda usul cerita horor.
"Titanic, lebih asyik," sahut Ira Andinita. Murid kalem yang bikin aku rada kesengsem.
"Jaka Tarub aja, Bu Guru. Aku ikut jadi bidadari." Musiyem tak mau kalah.
Aku tersenyum. Rupanya pemilik warung kopi itu tak tahan cuma menonton. Eh mana itu putrinya yang imut, ya? Airi Cha, kopinya selalu nikmat!
Andro, Nano, Ifank, Saeful dan hampir semua murid cowok ikut usul. Bukan ingin berpartisipasi, tapi semata-mata ingin dapat tatapan mata Ibu Linda yang indah bagai pelangi senja.
Bu Linda hanya tersenyum menanggapinya.
"Ayo, Mj! Coba jelaskan!" katanya pada putri Pak Kepsek yang mengatur semua dekorasi panggung drama nanti.
"Rahwana adalah kisah angkara murka karena memperturutkan hawa nafsu. Nah, Ramadhan, intinya adalah pengendalian hawa nafsu," terang Mj.
Wih, kayak bu guru, batinku.
"Nafsu itu fitrah manusia. Tuhan menganugerahkan akal dan pikiran, agar kita mampu mengendalikannya," tambah Mj.
Semua murid cowok terdiam. Bukan mendengar ceramah Mj. Sama sekali tak menarik!
Mata mereka tertuju pada Bu Linda. Mengamati wajahnya, gerakan lembutnya, ayunan tangannya, langkahnya, semuanya.
Yah, namanya juga nafsu. Manusiawi, kan?
Selesai.
Gading, juni2015

Sabtu, 27 Juni 2015

KISAH RAMADHAN (BAG.3)


Kutinggalkan warung kopi dengan menahan malu. Pulang dan tidur! Itu yang kupikirkan. Sabtu hari bebas, kan? Tadi aja aku bolos. Di sekolah, Pak Guru Achmad Solihin paling beri pelajaran soal warga negara yang baik. Membosankan!
Di SMU 'CERPEN-KU', yang kusuka cuma pelajaran bahasa Indonesia. Soalnya, gurunya cantik banget. Kapan-kapan aku ceritain tentang ibu guru yang namanya mirip baku jamu keliling, Linda Nurazizah.
Kalau sekarang, aku ingin tidur!
Tak sampai sampai seperminuman kopi, kasur tipis di lantai kamar kost yang sewanya sering telat kubayar, telah berhasil mengantar jiwaku ke alam mimpi.
Di mana aku menjelma jadi konglomerat. Namanya juga mimpi. Bebas, dong!
Nah di mimpi itu, aku menjadi pengusaha sukses, yang menguasai 100% saham kepemilikan PT. Raja Alengka. Perusahaan kopi terbesar di Asia yang mulai merambah Eropa.
"Selain Sinta Dewita dan suaminya, siapa lagi penghuni rumah itu?" tanyaku saat mobil Van berperatan canggih yang kutumpangi berhenti tak jauh dari rumah Kepala Desa Ayodya.
"Cuma adiknya Si Ramadhan, Pi. Namanya Laksmana Aditya," jawab Andro Indrajit, putraku yang jenius, yang mengatur aksi penculikan .
"Tenang, Bos!" sela Rossi, gadis cantik lulusan universitas ternama Amerika jurusan Teknologi Informatika yang kupekerjakan untuk operasi ini.
"Sinyal, jaringan telpon dan listrik di rumah itu, sudah saya blokir," tambahnya.
"It's show time!" Andro segera menyusul Dimaz Ramadhan yang terlihat keluar dari rumah. Dapat kupastikan, tujuannya adalah kantor Telkom terdekat.
Seperti yang telah diperkirakan, tak lama Laksmana Aditya juga keluar.
"Go!" kataku pada Hany Juwita, salah satu agenku yang ahli dalam urusan merayu dan menyesatkan kaum Adam.
Kini, tinggal Sinta sendirian.
Sebelum bertindak, aku merasa ada yang mengguncang-guncang pundakku.
"Bangun! Sahur!" kata Khusni Yakob, teman kostku.
"Besok Minggu. Libur, ah! Bebas mau puasa atau tidak."
"Puasa nda pakai libur." Khusni menarik lenganku.
"Tuh, udah aku bikinin kopi."
Kantukku seketika lenyap. Langsung kuraih gelas yang berisi minuman beraroma syurga. Ya, syurganya anak kost.
"Ih, cuci muka dulu!"
--- besok lagi, ah! ---

Jumat, 26 Juni 2015

KISAH RAMADHAN (BAG.2)


‪#‎Tirta_Kerinduan‬
(Parodi wayang facebook)

Merasa malu dengan ledekan ibu-ibu di warung kopi, aku bergegas pulang.
Dug!!
Karena tergesa-gesa, kepalaku menabrak kusen pintu. Limbung, lalu jatuh.
Dug!!
Kepalaku membentur lantai. Enak, eh sakit sekali. Entah dari mana datangnya, puluhan kunang-kunang mengerubuti kepalaku.
Di tv, Cita Chitata menyindirku,
... Sakitnya tuh di sini,
di dalam hatiku...
Semakin lama, semakin sayup, lalu hening, gelap, tak kurasakan apa-apa.
"Papi! Are you oke?" tanya Andro Indrajit.
"Papi cuma capai. Ada apa?" Aku balik tanya.
"Cuma mau kasih tahu, kalau mobil yang Papi pesen sudah siap."
Aku memang pesan mobil dengan disain khusus. Rencana penculikan Sinta Dewita harus berhasil, besok.
Sejak melihat istri Dimaz Ramadhan di peresmian Bendungan Maili, aku seperti minum 'Tirta Kerinduan'. Selalu saja ingin bertemu. Wajahnya seakan terlihat di semua tempat. Di dinding, di lemari, di pohon, di pucuk Monas, di langit, di gelas kopi, bahkan semua iklan di tv terlihat diperankan oleh Sinta.
"Mas! Bangun, Mas. Jangan pingsan di sini!"
"Sinta!?" tanyaku begitu membuka mata.
"Saya Zenith, Mas! Mau ditagih malah pingsan."
"Pingsan di rumahku saja, Mas. Nanti tak kasih jamu beras kencur," kata Linda yang disambut cekikikan ibu-ibu yang lain.
--- besok lagi, ya?---

TIRTA KEHIDUPAN UNTUK ABAH (bag.2)



Halaman ketiga ada Dhea Day, Saeful Nak Bacty, Pncari Jati Diri, Erma Rusyani dan Mj TinxTinx, dengan kasus super galau.
Hahaha ... hahaha, tak sadar Rossi tertawa lepas melihat nama-nama temannya yang tertulis dibuku tamu.
"Rossi, silahkan masuk!" sang asisten tampan menyuruhnya masuk.
Memasuki ruang praktek mbah Ifank, Rossi dibuat mlongo persis Ayam mau nelor. Tak ada kesan seram, tak ada kemenyan, tak ada kembang selapangan. Di meja terdapat komputer, Tv, dan peralatan elektronik lainnya. Mbah Ifank dengan penampilan trendy ala brondy idolanya Hany Juwita sedang sibuk di depan laptop.
"Mbah Ifank? Maaf saya Rossi, anaknya Abah Achmad Solihin," Rossi bingung harus bagaimana.
"Ya, Saya tahu itu, mau cari tirta untuk Abah, ya?" suara mbah Ifank membuat Rossi terlena, suaranya mirip suara Afghan. Serak-serak gimana gitu ....
"I i iya Mbah, tapi Mbah koq ngga kayak Dukun?" Rossi tambah bingung.
"Hahaha, lagipula siapa bilang aku dukun? Setiap penyakit itu Allah telah ciptakan obatnya, kita wajib berikhtiar mencarinya," kata mbah Ifank sambil matanya sibuk melototin laptopnya.
"Mereka yang datang kesini, ada yang galau, ada yang patah hati obat mujarab ya dzikir, karena hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." kata mbah Ifank yang bersuara Afghan persis Abah Solihin kalau lagi ceramah.
"Tirta kehidupan itu ya tirta wudhu, bayangkan lima kali wajah kita terbasuh ditambah sholat sunah lainya itulah tirta sebagai obat," mbah Ifank menjelaskan.
Rossi hanya mlongo, laler dan nyamuk masuk kemulutnya tanpa permisi.
"Mbah lagi sibuk apa, sih?" Rossi memberanikan diri bertanya.
"Hahaha ... sssttt aku lagi buka Cerpen-ku, di group itu aku paling suka ama yang namanya Musiyem. Orangnya manis, ramah, baik hati dan tidak sombong persis puteri salju deh. Tapi kalau koment puisiku rada sableng dia, masa' aku posting puisi sedih komentnya malah ketawa," kata mbah Ifank sambil senyum-senyum membuat jantung Rossi seakan lepas bautnya.
Hadeh ... memandang mbah Ifank, Rossi teringat ayang embebnya Andro Wp. Sebenarnya Rossi sudah ingin putus saja. Rossi seorang pembalap tapi punya pacar jangankan naik motor naik sepeda saja jatuh jungkir balik. Nampaknya Ifank paham perasaan Rossi. Saat itu juga Ifank menyatakan cinlok, cinta di lokasi Pertemuan pada Rossi. Rossi senang tiada tara, lansung bergoyang sowang gaya terbaru.
"Rossi, penyebab Abahmu sering kumat ayannya karena Abah tuh naksir berat Percaya Sama Zalika tapi takut ditolak lagi," kata Ifank bersuara Afghan.
Ah ... biarlah Abah ayan yang penting aku telah cinlok sama mbah Ifank bersuara Afghan. Rossi tersenyum lupa di rumah Abahnya lagi kejang-kejang.
Wkwkwkkkkk ....
Bks, Juni 2015
***

MENCARI TIRTA KEHIDUPAN (bag.1)


Adzan subuh baru saja berlalu, namun Rossi sudah bersiap dengan motornya. Wajahnya tampak diliputi kecemasan. Bum ... buuuummmm ... motornya langsung ngebut di jalan yang masih sepi. Rossi menghentikan motornya di rumah Budy Hakiki, tanpa melepas helmnya Rossi langsung mengetuk pintu berulang-ulang.
"Hadeh ... bentar! Siapa sih!" suara Budy menggerutu sambil memakai sarung.
"Bang, Abah sakitnya kambuh lagi, Bang!" suara Rossi penuh kecemasan.
"Duduk dulu sini, emang Abah Achmad Solihin kenapa? Koq perasaan ayannya sering kambuh sekarang?" tanya Budy heran.
"Waktu kemarin kambuh karena cintanya ditolak Hany Juwita, terus yang sekarang ditolak Mbak Ani Sugiharto, aduh pusing nih, Bang!" ucap Rossi pada Kakak tercintanya.
"Abang punya usul, kamu pergi ke rumah Mbah Ifank Amarta minta air, namanya tirta kehidupan. Abang denger, banyak yang sudah sembuh kalau berobat kesana," usul Budy.
Demi Abah tercinta, Rossi rela memacu motor balap hasil modifikasi odong-odong Yan Hendra. Rossi melewati lembah, mendaki gunung dan melewati rawa-rawa. Sampailah Rossi di gubuk yang sangat menyeramkan di sekitarnya nampak tengkorak kepala binatang berserakan. Pintu masuk bertuliskan "Open" waduh ... nih dukun bisa inggris juga pikir Rossi. Di dekat pintu masuk ada meja kecil taplaknya bermotif kepiting dan udang berbaris.
"Misi ... misi ... Mbah dukun Ifank Amarta, saya ada peluru eh perlu," Rossi agak gemeteran juga.
Tak lama muncul seorang berwajah tampan nan rupawan.
"Nama saya ADitya, saya Asisten Mbah Ifank, silahkan isi buku tamu dulu, ya" sapa ramah Aditya.
Rossi mengambil pulpen bergambar Hello kitty, timbul niat keingin tahuannya, siapa saja yang pernah bertamu ke sini.
Dibuka lembar pertama wew ... Dimaz Dewantara, Hersan Tosa, Budy Cahyadi Putra RatuCefri D'alberquequeCahyo WibowoNano Setyokodan Khoirul Muhtaromi dengan kasus patah hati.
Wkwkkkkk ... tak sadar Rossi tertawa sendiri.
Halaman kedua ada Hany juwita, Setia Rahmawati NumboneDhenok RaharjoPuspa AndiniSastra DewitaZenith Azzura dan Airi Cha dengan kasus minta jimat penolak ABG ( Aki-aki Banyak Gaya).
Wkwkwkkkkk kali ini Rossi makin tak bisa menahan tawanya.
Halaman ketiga mohon maaf penulis mau berangkat kerja dulu jadi disambung nanti sore ya ... Hihihi
Bks, Juni 2015

***

Kamis, 25 Juni 2015

KISAH RAMADHAN (BAG.1)


‪#‎Akukan‬ _jadi_malu
(Parodi wayang facebook)

Berbagai rayuan kupuisikan, berbagai fasilitas kusediakan, berbagai perhiasan kutawarkan.
Tetap saja tak mengubah pendirian Sinta Dewita.
Aku tak habis pikir. Apa kelebihan Dimaz Ramadhan, sehingga Sinta Dewita begitu setia. Bukankah, di desa Ayodya dia cuma seorang Lurah?
Sedang aku?
Aku adalah Prof. Rahwana Romi. Bos besar dari perusahaan kopi terbesar di Asia, PT Raja Alengka.
Aku punya rumah megah, mobil mewah, harta berlimpah. Namun kalah oleh seorang Lurah. Bagaimana aku tidak resah dan gelisah?
Haruskah aku ikut senam yoga di sanggar adikku Yan Hendra Wibisana?
Atau kuserahkan saja perusahaan ini pada anakku Andro Indrajit, lalu aku alih profesi jadi peternak sapi seperti adikku Dudunk Kumbakarna?
Tidak!!
Aku harus dapatkan cintaku. Bagaimanapun caranya!
Kalau perlu, aku akan menculiknya!
"Ih, ngopi apa melamun, Mas?" Suara Airi Cha putri Mbok Sumiyem warung kopi sebelah kontrakan mengagetkanku.
"Hi, Hi... Kalau melamun jangan kelamaan, Mas!" Ani Sugiharto bakul pecel itu ikut nimbrung.
"Nglamunin aku, ya?" Si cantik tukang jamu, Dhafitha juga ikut nanya.
"Kopinya dingin, tuh!" Zenit si tukang kreditpun ikut menimpali.
Akukan jadi malu!
***

Senin, 15 Juni 2015

Mengejar Cinta Musiyem (bag.2)


Karya: Khoirul Muhtaromi

Pertanyaan Musiyem soal Dewi melumerkan semangatku. Kopi nikmat khas Thailand tak mampu menghapus nama itu dari ingatan. Gelombang lembut dari rambut tebalnya, masih terekam dengan baik. Dagu lancipnya juga masih menancap kuat dalam memori.
Sayangnya semua keindahan itu hanya penghias hayalku saja. Tersimpan jauh di lubuk hati. Entah bagaimana Musiyem bisa melihatnya.
"Bener, kan?" tanya Musiyem membuyarkan lamunan. "Kalau denger nama Dewi kamu jadi kaku. Lucu, ih!"
"Masa, sih?" tanyaku.
Musiyem berdiri. "Senyumnya lebih menggoda dari kopi termahal di dunia," katanya meledekku.
"Ngaco, kamu!" umpatku menanggapi.
"Eh, kalau kamu mau nyoba kopi termahal di dunia, di sini tempatnya." Musiyem kembali duduk. "Namanya kopi gajah. Kalau kopi luwak itu prosesnya dari kotoran luwak, yang ini diproses dari kotoran gajah."
"Beneran, nih?" tanyaku penasaran. Cerita soal kopi selalu menarik perhatianku.
"Lho, pemandu dari hotel nda kasih info?" balas Musiyem.
"Dia cuma cerita soal O-leang, kopi es dengan berbagai rasa buah," terangku.
"Yang ini lebih oke," kata Musiyem berpromosi, "di sini, dikenal dengan Black Ivory. Harga kopi mentahnya nyampai 800 bath."
Pikiranku langsung menghitung. Jika dirupiahkan itu sekitar 10 miliar. Fantastis! "Kamu udah nyoba?"
Musiyem nyengir. "Belum. Secangkir 500 ribu. Duitku mana cukup? Tapi kalau ditraktir, mau banget."
Aku cuma tertawa. Musti coba, nih! batinku.
"Udah, yuk!" ajak Musiyem. "Hari ini, kami akan membahas dengan pengelola museum soal patung lilin presiden kita, Bung Karno. Jadi aku nda bisa nemenin kamu."
"Terus aku gimana?" tanyaku bingung, merasa pengejaran cinta yang sia-sia.
"Ya kamu mendingan pulang, raih hati Dewi!" jawab Musiyem sok dewasa.
"Memang dia mau?" tanyaku bodoh.
"Yaelah! Aku juga perempuan. Kalau kamu nda ngomong mana dia ngerti."
Aku berdiri. Merasakan ada sedikit api semangat menyala.
"Begitu, ya?" kataku pada diri sendiri.
"Kalau begitu aku langsung pulang aja. Makasih, Yem! Kamu sahabat yang baik," pamitku.
"Kalau mau selfie sama Angelina Jolie, di museum udah ada patung lilinnya," tawar Musiyem dengan canda khasnya.
Aku hanya tertawa.
Selesai.
Gading, 14.06.15

Minggu, 14 Juni 2015

Mengejar Cinta Musiyem (bag.1)

Karya: Khoirul Muhtaromi
Aku turun dari taksi tepat di depan Museum Madame Tussauds Bangkok. Dari Mbok Darpi, aku dapat kabar jika Musiyem terbang ke negeri Thailand ini.
Pertama kenal gadis ini, aku sempat dibuat jengkel.
"Ini saudara saya, Mas," kata Mbok Darpi saat mengenalkan. Aku memang memintanya untuk mencari pengganti sementara, karena Mbok Darpi mau pulang kampung untuk beberapa hari.
"Siapa nama kamu?" tanyaku sambil melepas dasi. Hari itu pekerjaan di kantor menumpuk sehingga aku ingin rehat sejenak di rumah karena malamnya, masih harus menemui seorang klien di Jakarta Convention Center. Padahal itu malam Minggu. Sangat menyebalkan!
"Saya Musiyem, Tuan," jawabnya dengan senyum ramah.
"Panggil Mas aja!" kataku sambil melangkah ke kamar karena harus mandi.
"Eh, Yem!" panggilku sebelum membuka pintu. "Tolong buatin aku kopi!"
"Pakai gelas, Tuan eh Mas?" Musiyem mendekat.
"Kamu pernah lihat orang minum kopi pakai ember?!" sahutku sewot. Kesal sekali dengan pertanyaan bodohnya.
Mbok Darpi segera menghampiri, berbisik pada Musiyem lalu mereka melangkah ke dapur.
Hari-hari berikutnya, Musiyem makin menjengkelkan, terutama nasehat-nasehatnya soal hal-hal yang kulakukan. Memangnya dia siapaku?
Selang dua minggu, Mbok Darpi datang dari kampung, dan Musiyem pulang.
Mustinya aku senang dengan kepulangannya. Ternyata tidak! Aku merasa kehilangan.
Kebersamaan yang terjalin, meski cuma dua minggu melahirkan kerinduan. Aku merindukan sosok perempuan yang telaten mengurus segala tetek bengek urusan rumah. Aku merindukan canda konyolnya. Aku merindukan Musiyem. Aku harus mengejarnya dan meraih cintanya.
Ini yang sedang kulakukan di negeri Gajah Putih ini.
"Mas Abimanyu!" Sebuah suara memanggilku.
Itu Musiyem. Aku menyambutnya, sapa basa-basi hingga akhirnya memutuskan ngobrol di kedai kopi terdekat.
"Aku dapat beasiswa dari kampus untuk mempelajari patung lilin di museum ini," terang Musiyem yang ternyata mahasiswi Universitas Seni Indonesia. Menggantikan Mbok Darpi tempo hari, hanya pekerjaan sambilan untuk menambah uang saku. Rasa kagumku bertambah.
"Aku suka kamu, Yem!" kataku tanpa ragu.
"Hahaha...!" Tak kusangka dia tertawa.
"Terus, bagaimana dengan Dewi?" tanya Musiyem tenang sambil mengaduk Kaffae Yen, es kopi susu khas Thailand. "Aku tahu Mas Abi menyukainya."
BERSAMBUNG
Gading, 13.06.15

Jumat, 22 Mei 2015

NANNY (BAG.9)

a


Selamat Tinggal Dilan
Non Lea memasuki kamar Dilan dengan membawa selembar kertas dan pena.
"Nanny, kontrak kerja keduamu. Tanda tangan disini," perintahnya sambil menyodorkan pena dan meletakkan kertas di hadapan Najma.
"Maaf, Non Lea, saya tidak memperpanjang kontrak."
"Apa! Lea tidak suka yang begini. Bagaimana Dilan?" katanya sedikit panik. Najma tersenyum saja menanggapi.
"Jangan terlalu khawatir. Ambil saja nanny baru, serahkan pada saya. Saya baru pergi saat Dilan sudah mengenal dan nyaman bareng nanny barunya. Saya masih banyak waktu."
"Yah, nanny selalu punya banyak cara." kata Non Lea sambil berlalu keluar kamar.
Meja makan. Di sanalah setiap kabar baru tersampaikan. Saat sarapan dan makan malam. Di waktu itu saja keluarga ini berkumpul. Selepasnya dunia berbeda bagi mereka. Kabar rencana Nanny Dilan mengundurkan diri untuk menikah, merebak pagi ini.
***
Najma memperhatikan Dilan yang tengah menapakkan kaki di rumput taman yang basah oleh embun pagi. Rasa geli dikakinya membuat Dilan tampak lucu.
"Ini terapi yang baik untukmu bayi Dilan,"gumam Najma, yang kemudian terkejut mendengar seseorang menguap di dekatnya.
"Ko Lip?"
"Nanny, benar-benar akan menikah?" tanya Ko Lip dengan wajah ngantuknya. Najma tersenyum dan mengangguk.
"Kau bahkan tidak pernah mengambil cuti. Kapan pacarannya?"
"Saya tidak melakukan itu."
"Jadi bagaimana bisa menikah?"
"Itulah adat kampung halaman. Wanita yang sudah dewasa, lalu seorang pria menginginkannya, dan datang pada orang tua untuk meminang," kata Najma menjelaskan. Ko Lip nampak terbengong.
"Begitukah?"
"Ya. Mirip seperti islam mengajarkan. Bedanya, islam mengijinkan pertemuan pertama yang di sebut ta'aruf. Saat ta'aruf kurang berkenan di hati, baik wanita atau prianya boleh menolak."
"Lalu ..., kau tidak bisa menolak?"
"Kenapa harus menolak? Pria itu pilihan keluarga, pasti baik. Kami melakukannya turun temurun dan menyukainya."
"Kau tidak menyukaiku, em... maksud Lip, seperti kebanyakan wanita suka."
Najma jadi tertawa melihat tingkah Ko Lip. Tapi kemudian memasang wajah serius.
"Tentu saja suka, Ko.... Siapa yang tidak suka pria tampan dan kaya? Tapi sukanya seorang untuk menikah tidak sederhana. Perbedaan yang banyak, hari akan jadi susah dilalui."
"Lip, ajarkan nanti."
"Seperti kamus dan buku yang Ko Lip kasih kemarin-kemarin?"
Setelah menjadi teman, Ko Lip memang sering mengajari Najma banyak hal. Juga memberi buku-buku dan kamus bahasa untuk dipelajari. Terutama dua bahasa keseharian mereka English dan Mandarin. Walaupun Najma juga belajar bahasa asing di yayasan pendidik calon nanny, Najma tetap bersemangat belajar. Nanny wajib mengenal bahasa asing, minimal percakapan sederhana.
"Jadi, Nanny tahu maksud Lip?"
"Ya. Tapi jangan memaksakan diri. Non Santi kelihatannya cantik juga baik."
"Lip suka muslim sepertimu. Diri yang selalu terjaga itu, luar biasa."
"Ko Lip bahkan masih katolik. Bersama Non Santi, Anda bisa mulai belajar dari sekarang, dan jadi muslim yang sejati," saran Najma sambil tersenyum.
"Ok." kata Ko Lip sambil mengangkat bahu dan berlalu pergi.
***
Najma berpapasan dengan ibu Rian yang dipanggil,Non Fung.
"Baguslah, aku tidak harus melihatmu lebih lama."katanya pelan sambil berlalu. Tapi kemudian menghentikan langkah tanpa berbalik mendengar Najma membalas ucapannya.
"Tentu Anda senang. Tapi saya tidak peduli. Orang besar seperti Anda, mengkambing hitamkan orang kecil. Itu bukan apa-apa,"kata Najma tegas. Dengan mengepalkan tangan, Non Fung berlalu cepat menuju kamarnya.
***
Dari balik kaca, Najma memperhatikan Dilan, dengan mata kabur karena basah. Dilan menolak semua makan malam yang diberikan oleh nanny barunya. Mata kecilnya mencari-cari sosok yang dekat dengannya. Bahkan ibunya tidak dipedulikan. Tidak tahan, akhirnya Najma masuk dan mengambil sendok dari tangan nanny baru.
"Sekali lagi, biar saya bantu Dilan makan malam," katanya serak. Dilan pun makan dengan lahap. Non Lea menarik nafas berat.
Akhirnya waktupun tiba. Saat Najma harus pergi. Ditatapnya Dilan yang bermain- main di taman bersama Mattiew, kakaknya. Najma tidak ingin, Dilan melihatnya pergi. Semalam Najma sudah berpamitan pada semuanya. Juga meminta maaf pada Pak Sopyan dan Non Fung walau tidak dianggap sekalipun.
"Selamat tinggal Dilan, semoga kau tetap sehat dan baik- baik saja. Juga... Cepat besar."
Tamat
***

Kamis, 21 Mei 2015

NANNY (BAG.8)

a


Tabir Yang Tersingkap
Najma melihat Mattiew sendirian bermain bola di taman.
"Nanny Dilan, please take for me!"teriaknya sambil menunjuk bola di bawah tangga.
"Where your nanny?" tanya Najma sambil berjongkok mengimbangi tinggi Mattiew, sambil menyerahkan bola. Mengimbangi tinggi anak saat berbicara adalah adab yang diajarkan pada setiap calon nanny, untuk mendapatkan perhatian anak.
"Nanny go to eat."
"O."
Najma melirik jam di tangannya. "13:10, makan siang sudah lewat. Kenapa Mattiew ditinggal begitu lama? Pasti ada sesuatu,"pikir Najma.
Benar saja, baru Najma hendak beranjak, Wati datang dengan wajah tegang.
"Ada apa? Kenapa Mettiew ditinggal sendirian jam segini? Makan siang telat juga?"
"Udah jangan banyak tanya. Semua lagi bingung. Sore nanti nyonya besar mau nyidang kita semua."
"Masalah apa lagi?"
"Ada yang pakai sambungan telepon jarak jauh sampai jutaan tagihannya."
Najma terbengong, dan segera bergegas mancari info lengkapnya.
Semua tampak berkumpul di depan TV.
"Mbak Ima, siapa yang ngasih tahu pertama?"tanya Najma penasaran.
"Pak Agus. Karyawan di kantor nyonya. Sekarang ke kantor telkom buat ngelacak kemana tujuan panggilan.
"Tapi kenapa semua tegang? Yang penting kan nggak pakai telepon itu,"heran Najma melihat ketegangan semua.
"Suster kan belum pernah disidang nyonya. Suaranya menggelegar seperti petir. Nggak salah juga gemeter duduk di sana nanti,"kata mbak Ima sambil menunjuk ruang tamu. Mimi, asisten rumah yang paling muda tampak sangat gelisah
"Mimi kenapa?"tanya Najma.
"Mimi, ngelap telepon setiap hari. Jangan-jangan kepencet tanpa sadar, bagaimana?" tanya Mimi lugu.
"Kalau kepencet terus ditutup lagi habisnya nggak jutaan, Mi,"kata Najma. Mimi tersenyum lega.
Sore hari ketika semua ada dirumah, nyonya besar turun dan memanggil semua pekerja di rumah itu, kecuali sopir pribadi keruang tamu.
"Kalian tahu kenapa dikumpulkan di sini!?"tanya nyonya dengan suara keras dan berwibawa. Semua menunduk tak ada yang menjawab.
"Kalian di sini bekerja. Tidak diperkenankan menggunakan fasilitas rumah, selain untuk urusan pekerjaan. Tagihan telepon melonjak tinggi bulan ini. Bukan masalah biayanya. Saya tidak suka pekerja disini bertingkah lancang! Line telepon yang aktif keluar cuma ada tiga. Kamar saya, kamar Non Fung dan ruang baca pribadi saya. Siapa yang berani menjelajah dan menggunakan fasilitas tanpa ijin!?"
Suasana sungguh tegang, ketika seseorang memasuki ruangan. Pak Agus masuk dengan selembar kertas di tangannya.
"Gimana, Gus. Ke mana panggilan menuju?" tanya nyonya dengan suara rendah.
"Panggilan jarak jauh ke Kute Bali, Nyonya. Tanggal (...)." Pak Agus menyebutkan tanggal yang terbaca dari kertas yang dipegangnya. "Selama lima hari berturut-turut,"lanjutnya.
"Itu tanggal, saat Yanyan ke Kute kan?" kata Non Lea, ibu Dilan.
Semua mata menuju kearah Non Fung dan Pak Yanyan, ayah dan ibu Rian.
"Tapi Fung pakai ponsel buat telepon Daddy," kata ibu Rian menatap bingung suaminya.
"Panggil Sopyan ke sini!" perintah nyonya tegas.
"Sopyan, waktu di Bali, kamu disewakan kamar di hotel yang sama dengan Pak Yan, kan? Apa ada yang meneleponmu?" tanya nyonya, ketika Pak Sopyan sudah masuk dan duduk.
"Ya, Nyonya," kata Pak Sopyan sambil menunduk.
"Siapa!"
"Mira, Nanny Rian yang lama."
Semua saling pandang. Kini tatapan nyonya besar menancap pada Fung menantunya.
"Fung, urus ini. Jangan sampai terulang. Perhatikan orang-orang pribadi kalian," katanya sambil beralih menatap semua anak dan menantunya.
"Maaf, Nyonya. Boleh saya bicara?" tanya Najma yang kemudian menarik semua mata menatap kearahnya.
"Ya, Nanny Dilan."
"Nanny lama Rian, keluar bukan karena saya, Nyonya."
"Lalu?"
"Saya tidak tahu apakah bermasalah dalam kerja, hanya saja saya tahu kedekatannya dengan Pak Sopyan, dan kemarahannya pada saya hanya karena cemburu. Saya meminta bantuan Pak Sopyan, atas perintah Non Lea."
"Fung, urus ini jangan sampai terulang,"kata nyonya sambil menatap menatunya itu tajam. " Saya tidak suka, orang-orang tidak nyaman kerja di sini karena masalah seperti itu. Sekarang, semuanya teruskan pekerjaan kalian,"lanjutnya sambil mengalihkan pandangan pada para pekerja.
Sorot mata kebencian ibu Rian semakin terasa tajam bagi Najma, tapi Najma tidak takut. Lega rasanya kebenaran terungkap. Najma sungguh kagum atas kebijakan nyonya besar, mengatasi masalah dalam keluarganya.
Bersambung ke episode 9: Selamat Tinggal Dilan (tamat)