Dropdown

Sabtu, 27 Juni 2015

KISAH RAMADHAN (BAG.3)


Kutinggalkan warung kopi dengan menahan malu. Pulang dan tidur! Itu yang kupikirkan. Sabtu hari bebas, kan? Tadi aja aku bolos. Di sekolah, Pak Guru Achmad Solihin paling beri pelajaran soal warga negara yang baik. Membosankan!
Di SMU 'CERPEN-KU', yang kusuka cuma pelajaran bahasa Indonesia. Soalnya, gurunya cantik banget. Kapan-kapan aku ceritain tentang ibu guru yang namanya mirip baku jamu keliling, Linda Nurazizah.
Kalau sekarang, aku ingin tidur!
Tak sampai sampai seperminuman kopi, kasur tipis di lantai kamar kost yang sewanya sering telat kubayar, telah berhasil mengantar jiwaku ke alam mimpi.
Di mana aku menjelma jadi konglomerat. Namanya juga mimpi. Bebas, dong!
Nah di mimpi itu, aku menjadi pengusaha sukses, yang menguasai 100% saham kepemilikan PT. Raja Alengka. Perusahaan kopi terbesar di Asia yang mulai merambah Eropa.
"Selain Sinta Dewita dan suaminya, siapa lagi penghuni rumah itu?" tanyaku saat mobil Van berperatan canggih yang kutumpangi berhenti tak jauh dari rumah Kepala Desa Ayodya.
"Cuma adiknya Si Ramadhan, Pi. Namanya Laksmana Aditya," jawab Andro Indrajit, putraku yang jenius, yang mengatur aksi penculikan .
"Tenang, Bos!" sela Rossi, gadis cantik lulusan universitas ternama Amerika jurusan Teknologi Informatika yang kupekerjakan untuk operasi ini.
"Sinyal, jaringan telpon dan listrik di rumah itu, sudah saya blokir," tambahnya.
"It's show time!" Andro segera menyusul Dimaz Ramadhan yang terlihat keluar dari rumah. Dapat kupastikan, tujuannya adalah kantor Telkom terdekat.
Seperti yang telah diperkirakan, tak lama Laksmana Aditya juga keluar.
"Go!" kataku pada Hany Juwita, salah satu agenku yang ahli dalam urusan merayu dan menyesatkan kaum Adam.
Kini, tinggal Sinta sendirian.
Sebelum bertindak, aku merasa ada yang mengguncang-guncang pundakku.
"Bangun! Sahur!" kata Khusni Yakob, teman kostku.
"Besok Minggu. Libur, ah! Bebas mau puasa atau tidak."
"Puasa nda pakai libur." Khusni menarik lenganku.
"Tuh, udah aku bikinin kopi."
Kantukku seketika lenyap. Langsung kuraih gelas yang berisi minuman beraroma syurga. Ya, syurganya anak kost.
"Ih, cuci muka dulu!"
--- besok lagi, ah! ---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar