Dropdown

Jumat, 26 Juni 2015

KISAH RAMADHAN (BAG.2)


‪#‎Tirta_Kerinduan‬
(Parodi wayang facebook)

Merasa malu dengan ledekan ibu-ibu di warung kopi, aku bergegas pulang.
Dug!!
Karena tergesa-gesa, kepalaku menabrak kusen pintu. Limbung, lalu jatuh.
Dug!!
Kepalaku membentur lantai. Enak, eh sakit sekali. Entah dari mana datangnya, puluhan kunang-kunang mengerubuti kepalaku.
Di tv, Cita Chitata menyindirku,
... Sakitnya tuh di sini,
di dalam hatiku...
Semakin lama, semakin sayup, lalu hening, gelap, tak kurasakan apa-apa.
"Papi! Are you oke?" tanya Andro Indrajit.
"Papi cuma capai. Ada apa?" Aku balik tanya.
"Cuma mau kasih tahu, kalau mobil yang Papi pesen sudah siap."
Aku memang pesan mobil dengan disain khusus. Rencana penculikan Sinta Dewita harus berhasil, besok.
Sejak melihat istri Dimaz Ramadhan di peresmian Bendungan Maili, aku seperti minum 'Tirta Kerinduan'. Selalu saja ingin bertemu. Wajahnya seakan terlihat di semua tempat. Di dinding, di lemari, di pohon, di pucuk Monas, di langit, di gelas kopi, bahkan semua iklan di tv terlihat diperankan oleh Sinta.
"Mas! Bangun, Mas. Jangan pingsan di sini!"
"Sinta!?" tanyaku begitu membuka mata.
"Saya Zenith, Mas! Mau ditagih malah pingsan."
"Pingsan di rumahku saja, Mas. Nanti tak kasih jamu beras kencur," kata Linda yang disambut cekikikan ibu-ibu yang lain.
--- besok lagi, ya?---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar