a
BELAKANGAN aku melihat nenek berubah jadi ganjen. Rambutnya yang sudah putih semua, dicat warna hitam. Sehingga rambutnya yang panjang terurai itu, persis seperti pemeran iklan shampo Pantene di teve. Sementara make-up wajahnya, alamaak ngartis benar. Kupikir ini nenek lagi kesambet atau sedang mengalami puber, ya? Kalau lagi puber, puber ke berapa?
"Tolong Dunk, gigi nenek disikat!" seru nenek suatu hari sembari mencopot gigi palsunya.
"Nenek ada-ada aja! Sikat sendirilah, Nek!"
"Tolong dong, nenek buru-buru, nih! Sebentar lagi Mas Bram akan kemari, ngapelin nenek."
Mas Bram? Siapa, tuh? Olala, bisa gila aku nanti lama-lama berada di hadapan nenek. Aku harus minggat, ah! Mending bermain-main sama si Joele saja daripada dekat-dekat sama nenek.
"Gimana, Dunk? Mau bantu nenek, nggak?" tanya nenek sambil mengipas-ipas wajahnya dengan selembar uang bergambar Pak Karno.
Melihat uang, mataku langsung hijau. Padahal uangnya tidak berwarna hijau. Namun, begitu aku melihat gusi nenek yang sudah ompong tidak bergigi lagi, aku jadi tidak minat lagi untuk mengambil duitnya. Bukan apa-apa, aku hanya tidak tega morotin nenekku yang sudah uzur.
"Mau nggak, Dunk?" tanya nenek sekali lagi.
"Tapi gigi palsunya disikat sendiri ya, Nek?"
"Uh, dasar bocah malas!" Nenek merengut. Lalu bergegas menuju kamar mandi sambil menenteng gigi palsunya.
***
***
BAGAIMANAPUN juga aku penasaran dengan cowok yang neneku menyebutnya Mas Bram itu. Gara-gara dia, nenekku jadi ganjen. Ah, jangan-jangan nenek hanya berkhayal saja. Atau ... daripada penasaran, mending aku intip sajalah. Namun, kalau aku tetap di sini, nggak enak. Nenek pasti nyuru-nyuru aku lagi.
Aku kemudian pergi ke halaman. Bersembunyi di pohon tomat. Di sini tempatnya cukup strategis untuk mengedarkan pandang ke arah halaman dan serambi.
Tiit ... tiiiit ... tiiiit ....
Tiba-tiba terdengar kalakson mobil dari arah mulut pintu pagar rumah. Aku melongok heran. Masa, gacoan nenek cowok bermobil? Namun, kalau ditilik dari namanya yang cukup mentereng, pastaslah bila ia bermobil.
"Duuuunk ...! Bukain pintu pagar ...!" teriak nenek dari mulut pintu rumah.
Waduh, bagaimana, nih?
"Duduuuuunk ...!"
"I-iya, Nek!" Terpaksalah aku menuruti keinginan nenek. Akupun kemudian cepat-cepat turun dari pohon tomat. Bergegas menuju pintu pagar halaman yang memang dalam keadaan tertutup.
Setelah pintu pagar kubuka, meluncurlah dengan pelan mobil sedan berwarna merah hati. Aku kagum melihatnya. Seumur-umur baru kali ini halaman rumahku didatangi mobil sekeren itu.
Nenek sambil menjinjing kainnya, berlari anjing ke halaman. Menghampiri seorang cowok yang keluar dari mobilnya. Mudah dan ganteng! Itukah Mas Bram? Benar-benar gila!
Tanpa basa-basi, nenek masuk ke mobil. Cowok itu pun masuk juga.
"Dunk, jaga rumah, ya?" teriak nenek dari jendela mobil.
Aku bengong, dan tetap bengong sampai nggak sadar mobil telah meninggalkan halaman. Pergi entah ke mana.***
BERSAMBUNG

OG , it is amazing
BalasHapus