Naskah itu kubaca lagi. Tidak tahu kenapa Bu Linda memberi tugas penulisan skenario pentas sendratari itu padaku. Bukankah di SMU 'CERPENKU' banyak murid lain yang jauh lebih pinter?
Beberapa hari belakangan ini, pikiranku terfokus pada cerita naskah Ramayana ini. Sampai terbawa mimpi, bahkan di saat pingsan.
Sepertinya, harus segera kurampungkan, agar tidak jadi beban pikiran. Mungkin akan jadi kenangan manis kala aku lulus nanti.
Sepertinya, harus segera kurampungkan, agar tidak jadi beban pikiran. Mungkin akan jadi kenangan manis kala aku lulus nanti.
Bersambung...
Eh, dikit banget ya, Mas Dudunk?
Ini tema bikin bingung, jadi inget yang di kampung. Memory sayur kangkung, dari gadis berkerudung, yang mata dan hidung, bikin hatiku bersenandung, melambung sampai langit ujung.
Hingga awan mendung datang dari Bandung, ending menggantung, terkatung-katung, rampung.
Hi hi
lupain, itu curhat orang linlung.
Ini tema bikin bingung, jadi inget yang di kampung. Memory sayur kangkung, dari gadis berkerudung, yang mata dan hidung, bikin hatiku bersenandung, melambung sampai langit ujung.
Hingga awan mendung datang dari Bandung, ending menggantung, terkatung-katung, rampung.
Hi hi
lupain, itu curhat orang linlung.
Terusin cerita aja.
"Baiklah, anak-anak. Kita mulai latihan!" kata Bu Linda Nurazizah. Kaca mata bening yang nangkring di hidung mbangir, menambah anggun wajah manisnya.
Murid-murid -terutama cowok, begitu antusias mengikuti sesi latihan drama ini. Alasannya, apa lagi kalau bukan karena ingin menghayati pesona kecantikan ibu gurunya yang membuai dan melambai. Daun kali, ya?
Murid-murid -terutama cowok, begitu antusias mengikuti sesi latihan drama ini. Alasannya, apa lagi kalau bukan karena ingin menghayati pesona kecantikan ibu gurunya yang membuai dan melambai. Daun kali, ya?
"Ini kan Ramadhan, kenapa pentas drama Ramayana, Bu?" tanya Dimaz. Murid ganteng yang dapat peran jadi Sri Rama.
"Kenapa bukan Umar bin Khotob, atau para wali aja, Bu?" Aditya yang di naskah jadi adik Rama, ikut bertanya.
"Mending Romeo and Juliet. Romantis!" usul Hany Juwita. Tumben dia nda usul cerita horor.
"Titanic, lebih asyik," sahut Ira Andinita. Murid kalem yang bikin aku rada kesengsem.
"Jaka Tarub aja, Bu Guru. Aku ikut jadi bidadari." Musiyem tak mau kalah.
Aku tersenyum. Rupanya pemilik warung kopi itu tak tahan cuma menonton. Eh mana itu putrinya yang imut, ya? Airi Cha, kopinya selalu nikmat!
"Kenapa bukan Umar bin Khotob, atau para wali aja, Bu?" Aditya yang di naskah jadi adik Rama, ikut bertanya.
"Mending Romeo and Juliet. Romantis!" usul Hany Juwita. Tumben dia nda usul cerita horor.
"Titanic, lebih asyik," sahut Ira Andinita. Murid kalem yang bikin aku rada kesengsem.
"Jaka Tarub aja, Bu Guru. Aku ikut jadi bidadari." Musiyem tak mau kalah.
Aku tersenyum. Rupanya pemilik warung kopi itu tak tahan cuma menonton. Eh mana itu putrinya yang imut, ya? Airi Cha, kopinya selalu nikmat!
Andro, Nano, Ifank, Saeful dan hampir semua murid cowok ikut usul. Bukan ingin berpartisipasi, tapi semata-mata ingin dapat tatapan mata Ibu Linda yang indah bagai pelangi senja.
Bu Linda hanya tersenyum menanggapinya.
"Ayo, Mj! Coba jelaskan!" katanya pada putri Pak Kepsek yang mengatur semua dekorasi panggung drama nanti.
"Ayo, Mj! Coba jelaskan!" katanya pada putri Pak Kepsek yang mengatur semua dekorasi panggung drama nanti.
"Rahwana adalah kisah angkara murka karena memperturutkan hawa nafsu. Nah, Ramadhan, intinya adalah pengendalian hawa nafsu," terang Mj.
Wih, kayak bu guru, batinku.
"Nafsu itu fitrah manusia. Tuhan menganugerahkan akal dan pikiran, agar kita mampu mengendalikannya," tambah Mj.
Wih, kayak bu guru, batinku.
"Nafsu itu fitrah manusia. Tuhan menganugerahkan akal dan pikiran, agar kita mampu mengendalikannya," tambah Mj.
Semua murid cowok terdiam. Bukan mendengar ceramah Mj. Sama sekali tak menarik!
Mata mereka tertuju pada Bu Linda. Mengamati wajahnya, gerakan lembutnya, ayunan tangannya, langkahnya, semuanya.
Yah, namanya juga nafsu. Manusiawi, kan?
Mata mereka tertuju pada Bu Linda. Mengamati wajahnya, gerakan lembutnya, ayunan tangannya, langkahnya, semuanya.
Yah, namanya juga nafsu. Manusiawi, kan?
Selesai.
Gading, juni2015
Gading, juni2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar