Dropdown

Selasa, 30 Juni 2015

Bagaimana Memahami Puisi


Oleh:Achmad Solihin
 29 Juni pukul 17:02

 Bagi sebagian teman kita, pertanyaan ini akan terasa agak menyulitkan untuk mendapatkan jawabannya. Mengapa? Karena puisi cenderung ingin dipahami dengan pola pikir yang terlalu rasional. Untuk jenis puisi dalam pahatan kekata harfiah dimana pemaknaannya memang terang-benderang (atau secara eksplisit sudah jelas sebagaimana adanya), rasionalitas kita tentu akan cepat menangkap kandungan isinya dengan baik. Contohnya, bisa kita cermati dalam puisi yang steril dari unsur majasi (kata-kata kiasan). Seperti, di antaranya, puisi anak-anak biasanya masih menggunakan kalimat-kalimat sederhana dan akrab dengan dunia bocah. Selain itu, ada juga puisi bermajas atau berkias yang menggunakan gaya bahasa seperti metafora, personifikasi, sarkasme, dan sebagainya. Silahkan buka kembali catatan sekolahnya, dulu saya mulai mendapat pelajaran mengenai gaya bahasa saat duduk di kelas dua dan tiga es-em-pe. Namun waktu itu, belum bisa bikin puisi. Cuma menghapalkan teori aja biar nilai Bahasa Indonesianya gak terlalu jelek. Hehehe.. Dalam memahami puisi majasi, suka atau taksuka ya harus banyak membaca karya orang lain. Bukan menjiplak, tetapi menelaah gaya bertuturnya. Jangan bosan berlatihlah coret-mencoret sebebas mungkin. Sambil mengamati keadaan sekitar, terutama yang paling diminati dan bisa menggugah kepekaan rasa kita. Misalnya; kita dapat menciptakan sebuah puisi mengenai keseharian hidup tetangga di dekat rumah kita. Nampaknya terlalu sepele, tetapi jika sering dilatih akan terasah kepekaan hati kita. Tentu akan butuh waktu, dan juga perlu ketelatenan, Bila menemukan sebuah puisi yang memang sulit diterima secara pemikiran biasa, cobalah simak lalu amati penempatan setiap kata dalam satu larik ke larik berikutnya. Jangan dulu memaksakan diri untuk memahami makna di dalamnya melainkan silahkan menikmati keindahan dan kelenturan gaya bahasa pada pengungkapannya. Terus terang, banyak puisi majasi para penyair yang tidak saya pahami. Namun demikian, saya dapat menikmati puisi-puisi mereka. Itulah letak kenikmatan menghayati puisi. Semoga bermanfaat. Salam kolak manis Cerpen-Ku, I love you all. grin emotikon Cipageran Bandung Barat, 29-06-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar