Dropdown

Senin, 13 Juli 2015

DAN SENJA PUN USAI (bag.1) karya: Yanuar Hendra


Dan memperhatikan dengan saksama perempuan berkerudung merah hati itu. Wajahnya agak tirus dengan make up tipis. Ada sedikit kerut-merut di kanan kiri hidung, serta agak berkantung di kelopak mata bagian bawah. Kulitnya relatif putih dengan beberapa flek sangat minimalis, dan nyaris tak terlihat dalam jarak pandang tertentu. Dibalut busana muslim warna coklat tua dengan lengan sebatas siku; namun dari arah dalam disambung manset panjang sewarna dengan kerudungnya, wanita itu terlihat charming dan modis. Terlebih dipadu dengan tas bermerek internasional pada lengan kirinya.
“Ke mana kita, Bu?” tanyanya sopan sambil melirik kaca spion ketika mobil mulai meninggalkan area parker. Dilihatnya wanita itu mengeluarkan smartphone.
“Sebentar. Jalan saja perlahan,” katanya. Kemudian terlihat dia menekan beberapa tombol angka, lalu mulai bicara dengan seseorang. “Assalaamu’alaikum … Kakak baru sampai nih, Ti …”
“Oh, ya? Aduuuh, maaf. Hetty tak bisa jemput,” sahut suara di seberang telepon selulernya. “Kakak sama siapa?”
“Sendirilaah... Sama siapa pula?”
Suara lawan bicaranya mengikik. “Nginap di tempat akulah, ya? Cuma sempit, maklum anak kost.”
“Eh, daerah mana ko bilang tempo hari?”
“Kuningan. Ya, Kak ya? Pliiiis … Nginap di tempat akulah, ya?”
“Kita tengok nanti ajalah. Kayaknya udah sore. Nanti kakak hubungi ko, ya?”
“Eh, Kakak mau berapa hari di sini?”
“Mungkin dua atau tiga hari …” jawab wanita itu, kemudian memutuskan pembicaraan. “Ke daerah Kuningan aja, Pak,” katanya kepada si sopir.

“Baik, Bu.” Hamdan menghela nafas lega. Tujuan sudah jelas, sehingga dia tidak perlu melambatkan laju kendaraan, yang nanti dikhawatirkan merugikan penumpngnya dengan argo yang terus berjalan. Namun seperti kata pepatah: Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak; mereka malah terjebak macet di pintu tol dalam kota. “Maaf, Bu …” ucapnya lirih.
“Tak apa …” Penumpangnya mengedar pandang ke sisi jalan pada rerimbunan pohon bakau yang sudah bercampur dengan bangunan pergudangan.
Hamdan menyetel musik dengan volume rendah. Audio dalam mobil yang apik membuat suara yang terdengar menjadi nyaman di telinga. Satu hit lawas dari Daniel Sahuleka mengalun lembut.
“Don’t sleep away this night my baby
please stay with me at least till down …”
Sang penumpang melirik padanya, yang kebetulan terlihat oleh Dan. Ekspresinya datar, sehingga ia merasa wanita itu terganggu.
“Maaf, kalau Ibu terganggu, saya matikan saja …”
“Nggak usah. Biarkan saja.,” tukas wanita itu. “Suka lagu ini?” tanyanya selang beberapa lama.
Dan tersenyum. “Suka juga. Biasalah, waktu muda pernah kenal cewek, Bu. Saat itu lagu ini sedang hit, jadi terbawa sampai sekarang.”
“Tapi ceweknya kan sudah jadi istri sekarang?”
Dan malah tertawa kecil. “Nggak, Bu. Dia meninggalkan saya ….”
“Maaf ....”
“Nggak apa-apa, Bu. Masa lalu,” kata Dan datar. “Ibu dari Sumatera, ya?”
“Iya, Medan …”
“Medan? Wah, saya pernah ke sana lho, Bu!”
“O, ya?”
Dan mengangguk cepat. “Ada saudara jauh. Tinggalnya di Jalan Ayahanda,” katanya bercerita. “Waktu itu saya nganggur dan sedang cari pekerjaan. Tapi di sana juga nggak lama. Cuma tiga bulan. Lumayanlah, waktu sesingkat itu saya bisa jalan-jalan dan sedikit mengenal daerah itu.”
Wanita itu cuma tersenyum. Ekspresinya tak berlebihan.
“Ada family di Jakarta, Bu?” tanya Dan saat kemacetan mulai terurai sedikit demi sedikit.
“Mmm … hanya kenalan.”
“O … Hanya itu yang bisa diucap Dan. Kendaraan melaju kencang karena godaan jalan lurus, dan volume kendaraan yang relatif mampu dilewati dengan mudah. Selip kanan, lurus, lalu selip kiri, tekan gas.
“Nggak usah terburu, Pak. Malah membahayakan. Biasa saja.”
“Eh, iya, Bu. Maaf. Saya hanya merasa nggak enak, sebab waktu macet tadi argo kan jalan terus. Nanti kalau saya lambat takut dikira sengaja ….”
“Nggak apa-apa. Tenang saja ….”
Hamdan menghela nafas sejenak. “Mantan pacar saya dulu kabur karena menganggap saya bukan lelaki jantan,” katanya coba memulai pembicaraan lagi. Tapi sepertinya wanita itu cuma merespon dengan senyum tipis yang kesannya terpaksa. Tapi Hamdan tetap nekat untuk terus bercerita. “Maksudnya bukan karena saya seperti wanita, tapi karena saya bukan ahli berkelahi, dan bukan pula ahli dalam balap motor. Belakangan saya tahu kalau ternyata dia lebih menyukai lelaki tipe seperti itu. Tapi temannya bilang dia memang sudah dijodohkan dari kecil. Maklumlah, Bu. Pacar saya itu konon keturunan ningrat, jadi katanya kelak mesti menikah dengan kalangan ningrat pula,” cerocos Hamdan. Dari kaca spion dia lihat wanita itu coba menegaskan pandangan kepadanya dengan tatapan menelisik, tapi Dan buru-buru melengos.
“Padahal saya sangat mencintainya, dan menancapkan tekad untuk setia bersama-sama,” lanjut Hamdan. “Kami bahkan pernah melakukan hal gila dengan menusukkan jari, dan darah yang keluar ditampung dalam cawan berisi air, lalu kami minum bersama. Barangsiapa melanggar janji kesetiaan, maka dia akan celaka …!”
“Siapa kamu?” tanya wanita itu tiba-tiba menukas.
“Maaf, Bu?” tanya Hamdan kaget. Dilihatnya wanita itu memandangnya penuh selidik.
“Kamu bukan sopir asli taksi ini, kan?”
Hamdan menghela nafas sebelum mengangguk. Tentu saja wanita itu menduga demikian setelah melihat profil sopir taksi yang terpampang dekat dashboard sebelah kiri, berbeda dengan dirinya. “Pak Slamet sedang sakit, dan saya tetangganya,” jelas Dan. “Beliau butuh uang, dan saya pun demikian. Itulah sebabnya mengapa saya menggantikannya. Maaf, Bu. Kalau cerita saya tadi mengganggu, saya betul-betul mohon maaf. Tidak ada maksud apa-apa, selain untuk mencairkan suasana saja. Sekali lagi mohon maaf, Bu.”
“Sudahlah … nggak apa-apa.”
“Sebentar lagi kita sampai. Ibu mau diturunkan di mana?” tanya Hamdan.
“Di depan sana, di hotel itu,,” tunjuknya ke satu gedung bertingkat.
“Baik, Bu.”
Wanita itu agak kesulitan untuk coba mengamati wajah si sopir taksi saat hendak membayar, sebab selain merendahkan lidah topinya, Hamdan pun seperti enggan bertatap muka. Mungkin masih merasa malu karena membuat penumpangnya agak kesal dengan ceritanya tadi. Sehingga terkesan ingin buru-buru terima uang lalu pergi.
Hampir bersamaan dia berlalu, sebuah taksi lain merapat dan berhenti. Seorang wanita ayu, berkulit putih dengan rambut dicat pirang, berusia sekitar 30-an , turun dan langsung menghambur. “Kakaaaaak …!” teriaknya girang.
“Hetty? Lho, kok ko ada di sini?” seru wanita yang tadi menumpang taksi Hamdan, dan sesaat gelagapan ketika tubuhnya dipeluk kuat-kuat.
“Iyalah! Aku kan tahu. Tiap kali ke Jakarta kan Kakak selalu nginap di hotel ini. Hapallah aku …” sahut Hetty. “Ah, Kakak tega kali, nggak mau nginap di tempatku …” lanjutnya merajuk.
“Aaah, ko ini mengkek kali pun! Macam tak tahu aja ko ini. Tiap rapat di Jakarta, pasti di hotel ini, jadi hemat waktu dan tenaga kan kalo nginap di sini.”
“Tapi besok sebelum balik, mampir, ya?”
“InsyaAlloh …”
“Janji, ya? Awas kalau tak ditepati,” ancam Hetty.
Wanita yang dipanggil ‘kakak’ itu tersenyum getir. Tiba-tiba dia ingat dengan cerita sopir taksi tadi soal janji setia. Hela nafasnya terasa berat, dan sambil merangkul Hetty, dia mengajaknya ke dalam.
***

* bagian keduanya ada DI SINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar