Seperti biasa, setiap hari Selasa selepas bel pulang berbunyi mereka yang mengaku sebagai anggota ROHIS mengadakan rapat di sanggarnya. Rapat kali ini di pimpin oleh Ustad Ilham, guru paling ganteng disekolah. Beliau menyampaikan tentang apa saja yang harus di persiapkan untuk acara buka puasa bersama. Semua mendengarkan kecuali aku, ya aku. Aku mencemaskan Rangga, si ketua rohis itu.
"Ukhti, kenapa cemas begitu?" Zara membuyarkan lamunanku yang tertuju kepada Rangga.
"Akh, tidak apa-apa, ukhti."
"Akh, tidak apa-apa, ukhti."
Kutengok jam tanganku, sudah seperempat jam rapat berjalan tapi Rangga belum juga muncul. Padahal tadi ketika ditanya olehku dia bilang akan hadir rapat. Kalau saja dia tidak bilang seperti itu aku tidak akan menghadiri rapat.
"Assalamualaikum, ustadz ma'af saya telat."
Itu dia Rangga, orang yang ku tunggu-tunggu. Aku tersenyum lega.
Itu dia Rangga, orang yang ku tunggu-tunggu. Aku tersenyum lega.
"Oh, jadi ukhti mencemaskan akhi Rangga?" terka Zara.
"Tidak ukhti. Memangnya ada Akhi Rangga?" Tanyaku menyembunyikan rasaku.
***
CRB,2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar