Akan tetapi sebagai manusia juga, aku nggak tega melihat Musiyem kedinginan diterpa angin dan badai di luar sambil megangin sepanduk. Apalagi ketika aku melihat kepalanya goyang-goyang dan giginyaatampak gemeratakan lantaran menahan ggigil terkena sabetan air hujan yang mulai turun.
“Mbak, Mus monggo silahkan masuk saja!” ujarku seraya membuka gerbang pintu dan mempersilahkan Musiyem untuk masuk ke rumah
“Aku duduk di luar sajalah, Dim” katanya tebata-bata masih menahan gigil
“Ya, sudah aku buatkan teh ya biar anget badannya”
Beberapa saat kemudian aku pun keluar membawa secangkir teh dan krupuk buat cemilannya.
“Kalau boleh tau, mengapa Mbak Mus bawa spanduk itu besar-besar, dan maaf Mbak Mus aku tadi belum sempat membaca tulisan di spanduk itu soalnya sudah luntur sih”
“Iya, Dim, itu aku tulis pake spidol anakku sih, jadi, kena ujan aja luntur gitu”
“Ya, udah ceritakan saja, mbak, ada apa sebenarnya”
“Anu, lho, Dim, aku sebenarnya mau protes, kenapa sih klau kamu buat tulisan aku nggak ada manis-manisnya barang sedikit saja, tapi buat mereka kok manis banget?”
“Oh, soal itu, toh … Mbak Mus pengen tahu, ya, kenapa”
“Iya, Dim, … aku ngiri sekali sama mereka!”
“Begini, Mbak Mus, alas an kenapa aku nggak pernah bikin tulisan manis buat Mbak Mus yak arena Mbak Musnya itu sendiri sudah manis!”
“Hah … benarkan Dim, kamu bilang aku manis dari mulutmu sendiri”
“ya, iyalah masa mulut Zalika atau Era, atau Airi!”
“Wuaaaaaah ….” MUsiyem langsung salto, kayang, roll depan belakang sampai akhirnya kejedot pagar. Aku cuma geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
“Mbak Mus … Mbak … Mus!” teriakku
“Iya Dim, ada apa, ada apa …” Musiyem begitu girang dan menghampiriku dengan cara salto
“Maaf, ya Mbak Mus, tadi aku bilang Mbak Mus Manis itu karena aku lihat kaki Mbak Mus dikerubutin semut. Jadi ya aku nyari nyari alasan saja, soalnya tadi juga aku bingung mau menjawabnya bagaimana!”
Musiyem lemes mendadak. Lututnya gemetar. Pandangannya nanar, dan pada akhirnya seperti biasa, ayannya kumat.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar