“Abang kok diam aja?”
“Ya mau bicara apa lagi? Situasi sudah berubah. Sekian puluh tahun waktu menyela, dan kini tak ada lagi yang tersisa.”
“Dia sempat membicarakan soal Abang. Tak banyak, sih. Tapi sepertinya dia menyesal. Abang tak berusaha mendekatinya lagi? Sekarang dia janda lho, Bang?”
“Hallaah, ko ini macam-macam aja!”
“Tapi Abang masih cinta kan sama dia? Buktinya waktu Ti bilang dia mau ke Jakarta, respon Abang cepat kali. Tapi Abang tak coba untuk lihat-lihat dia?”
“Nggak.”
“Ah, bohong lah! Dia sempat curiga sama sopir taksi yang ngantar dia ke hotel. Itu Abang, ya?”
Tak ada jawaban.
“Ti yakin itu pasti Abang. Abang nyopir taksi di bandara?”
“Ti jadi ingat sesuatu. Sejak di Jakarta, kita baru dua kali ketemu, dan Abang tak pernah mau cerita soal pekerjaan atau usaha. Bahkan Ti mau ke rumah aja,Abang tak mau ngajak. Abang kenapa, sih? Meskipun kita bukan saudara kandung, tapi ikatan darah satu bapak itu kan kuat, Bang? Apa Abang tak anggap Ti sebagai saudara? Waktu Abang masih tinggal di Medan, Ti aja sudah anggap sebagai saudara kandung. Kenapa sih, Bang?”
Kembali hening.
“Bang Hamdan?”
“Ya ….”
“Kenapa?”
“Nantilah suatu waktu pasti akan abang ajak ko ke rumah, cuma tidak sekarang ….”
“Kenapa? Abang malu kalau rumah jelek dan Ti hina?”
“Sudahlah, nggak usah dibahas. Sudah malam, ko harus tidur. Lain waktu kita sambung lagi.”
Ti menghela nafas. “Kak Mayang kirim salam sama Abang. Dia titip nomornya, siapa tahu Abang mau menghubunginya. Nanti Ti sms.”
“Malam, Ti. Jaga kesehatan, ya? Assalaamu’alaikum ….” Kata Hamdan tak merespon ucapan adiknya.
“Malam juga, Bang. Sama-sama. Wa’alaikumsalaam ….”
Hamdan baru saja meletakkan hp ketika seseorang datang menghampiri. “Biasa, Bang. Rokok setengah ama kacangnya dua. Besok minta ama bapak, ya?” kata si pembeli. Hamdan cuma nyengir sambil menyerahkan pesanan. Si pembeli adalah anak Haji Juhari, yang dengan kebaikannya memberi tempat untuk meletakkan kios rokok di atas got depan rumahnya; di mana Hamdan mencari nafkah, dan sekaligus sebagai rumahnya. Mana mungkin dia berani menagih, karena orang lain saja berani membayar tempatnya sejuta sebulan sebagai ongkos sewa, sementara dia gratis. Bahkan gratis pula menumpang mandi dan BAB di tempat Haji Juhari.
Ti atau Hetty, adik tirinya, bekerja pada sebuah perusahaan asing, sedangkan Mayang, menurut cerita Hetty, adalah direktur area yang mengawasi kawasan Asia Tenggara dari sebuah perusahaan farmasi asing. Bandingkan dengan dirinya? Masih beranikah dia bicara cinta dan menagih kesetiaan? Hamdan yang bodoh dan lugu. Cinta pertama kepada tetangga sebelah rumah, hanya karena diberi perhatian yang selama ini jarang diperolehnya, maka cinta pun terpatri, dan kesetiaan pun dilekat jadi satu. Tak peduli hati tersakiti, janji tetap dijunjung tinggi.
Hhhh …. Hela nafasnya terasa berat, dan bertambah sesak kala sebatang rokok dihisapnya. Udara malam ini terasa dingin tatkala angin bertiup membawa butiran air yang mengembun. Malam terasa pekat tanpa bulan. Awan hitam begitu merajai tiap kaki langit beberapa waktu belakangan, sehingga tak lagi dilihatnya senja di ujung siang.
***
T A M A T
Jakarta
13-07-2015
*bagian pertamanya ada DI SINI
Hhhh …. Hela nafasnya terasa berat, dan bertambah sesak kala sebatang rokok dihisapnya. Udara malam ini terasa dingin tatkala angin bertiup membawa butiran air yang mengembun. Malam terasa pekat tanpa bulan. Awan hitam begitu merajai tiap kaki langit beberapa waktu belakangan, sehingga tak lagi dilihatnya senja di ujung siang.
***
T A M A T
Jakarta
13-07-2015
*bagian pertamanya ada DI SINI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar