Dropdown

Senin, 13 Juli 2015

Hashirama Rama Rahma dan Kisahnya karya: Musiyem


Sudah Tujuh hari tujuh malam Rahma mengurung diri di kamarnya. Emaknya bingung apa yang sedang terjadi padanya. Makan yang biasanya sehari lima kali plus camilan kue pancong, kini sehari hanya minum air putih 2 gelas. Takut anak kesayangannya lemas dan akhirnya pergi untuk selama-lamanya, Emak Sastra Dewita menggedor-gedor pintu kamar Rahma.
"Rahma, ayo makan dulu nak! Emak udah masak sayur daun katuk kesukaanmu, nih!" Emak Era merayu.
"Ngga mau Mak! Ngga nafsu makan!" Rahma menjawab tanpa membuka baju eh pintu.
"Lauknya kepiting asem manis, nih!" Rayuan lanjutan ala Emak Era.
"Ngga mau Mak! Apa pun makanannya aku ngga mau! lagi mogok makan!" Rahma tetap menolak.
Emak Era makin sedih dan bingung, anak gadis satu-satunya, Peninggalan suaminya Dimaz Dewantara yang sedang merantau ke pulau Buaya Darat kini mengurung diri. Makin sedih dah pilu tiada tara hati Emak Era karena sejak merantau Dimaz selalu tebar pesona. Menurut kabar burung Dimaz telah menggoda 10 wanita dan 5 pria. Oh ... serasa dunia hancur lebur, langit runtuh dan gunung berterbangan. Sakitnya tuh disini oh .... Emak Era mengelap air mata dan ingusya yang mengalir berbarengan dengan ujung roknya. Kemudian ia mengambil kertas dan pulpen lalu mengalirlah rasa hatinya dalam puisi.

Sudah hari ke sepuluh Namun Rahma belum ada tanda-tanda akan keluar dari kamar. Sebagai emak yang baik Era cemas bukan kepalang. Takut anak gadisnya melayang. Pintu digedor tapi tak ada jawaban, segala jurus rayuan tak juga mempan. Emak Era makin panik, jangan-jangan anaknya telah tak bernyawa. Emak Era mengambil steger milik Bang Boris Gibran. Emak Era mengintip dari lubang angin, dan ... Astagfirullah ... nampak kamar Rahma penuh kertas berserakan, Rahma nampak tertidur ditumpukkan kertas. Tertidurkah? Atau ... ah jangan-jangan? Emak Era makin panik. Saat tengah dilanda kepanikan, Budy Cahyadi Putra Ratu lewat sambil membawa dagangannya kue pancong rasa mocca.
"Emak Era lagi ngapain? Pakai acara naik-naik, nanti kalau jatuh gimana? Turun Emak,biar saya tolongin," Budy mulai modus.
"Waduh! Untung Mas Budy lewat, itu yayangmu Rahma dah sepuluh hari ngga mau keluar kamar," Emak Era nampak cemas tiada pura-pura.
"Wah, sekalian tunggu empat puluh hari aja, Mak! Sekalian tahlil," jawab Budy slengehan.
"Heh!!! Sembarangan yah! Udah, tolong dobrakin pintu kamarnya aja," pinta Emak Era.
Akhirnya Budy berhasil mendobrak pintu kamar Rahma. Rahma nampak pucat pasi.
"Aduh! My dearest ada apa sih! Pake acara tapa ngebleng ngurung di kamar," Budy merasa iba melihat kondisi Rahma yang pucat basi eh pasi.
"My dearest! dulu aku tak apa ketika cintamu terbagi sama Musiyem, tapi kenapa kini kau bagi juga buat Emakku, hua huaaaaa ...," tangis Rahma meledak bagai bom rakitan
"Wah ngga koq! Mana buktinya?" jawab Budy gugup persis maling ayam ketangkep hansip.
"Ini!!! Dearest buat puisi dan semuanya tertulis untuk Sastra Dewita!" Rahma menunjukkan tumpukan kertas warna biru.
"Eh ya maaf, ya sudah lama saya naksir Emak Era, cuma tersimpan dalam puisi saja. Tapi setelah Ayahmu merantau dan kabarnya di rantau tebar pesona ya ... Aku maju lagi," Budy menjawab seakan merasa tak bersalah.
"Eh, Budy berarti kita punya rasa yang sama dong! Aku juga memendam rasaku padamu tapi hanya tersimpan dalam puisi," jawab Era sambil tersipu malu kayak ABG sedang jatuh cinta.
"Wah!!! Ternyata kita sehati ya Emak Era!" jawab Budy sambil matanya kedip-kedip persis mata buaya.
"Eh em iya, rasa yang sama," Emak Era tak kalah saltingnya. Membuat Rahma makin menaikkan emosi diatas ubun-ubun.
"Tapi bener nih Era suka aku?" Budy mencoba meyakinkan.
"Bener deh! Kalau tak percaya belalah dadaku," jawab Emak Era mantap dan Rahma makin kelojotan.
"Tapi maaf ya Era, cintaku padamu hanya tersisa 10% karena cintaku 80% udah untuk Musiyem, 10% untuk Rahma maukah engkau dengan sisa cintaku itu?" Budy mengungkapkan perasaannya.
"Iya ngga papa, daripada sama Dimaz aku ngga kebagian cinta, cintanya terbagi pada sepuluh wanita dan lima pria. Aku sedih Budy," Emak Era mulai lebay.
"Emak!!!! Kira-kira dong Mak! Masa embebku digebet juga!" Rahma geram dengan Emaknya.
"Yaaa ... daripada ama Dimaz, makan hati eh maaf ya Rahma," jawab Emak Era santai.
Mendengar jawaban emaknya jantungnya serasa berhenti berdetak. Rahma langsung ke kamar, sakit hatinya tak terlukiskan. Sangat sakit.
"Era, koq Era tega juga ama anak sendiri sih!" tanya Budy sedikit heran.
"Siapa bilang anak sendiri, Rahma kan anak Dimaz sama Percaya Sama Zalika, karena Zalika sakit hati anaknya dikasih ke aku," jawab Emak Era sedikit manja.
"Tapi Era ... maaf ya, saat ini cintaku sudah full dicarter sama Musiyem, jadi tak ada sisa untukmu," jawab Budy santai sambil memandangi foto Musiyem yang mirip syahrini.
"Nah, aku gimana dong? tanya Era bingung.
"Maaf ya" jawab Budy sambil memeluk foto Musiyem.
Saat itu juga Era merasa dunia gelap gulita. Dan ... gedubraaaaaakkk Era pingsan.

Bks, Juli 2015
***

Mau baca gokil lainnya? Ada di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar