Oleh Dudunk Sakelan
PAK Dadank, ayah Dudunk sedang galau hatinya. Pasalnya, sejak memasuki
bulan Ramadhan ini, banyak warga yang bikin petasan. Menurutnya, ia yang
sebagai polisi merasa tidak dianggap oleh warga. "Heran ayah!" desisnya
"Heran kenapa, Yah?" tanya bininya dengan tatapan penuh heran juga.
"Heran karena Bunda nggak hamil lagi 'kali?" celetuk Dudunk yang sedang main catur sendirian di lantai.
"Ngaco kamu Dunk!" seru bundanya. Namun tak urung tersenyum juga.
"Kalau nggak ..., soal apa, dong?" tanya Dudunk sambil nyengir kuda catur.
"Pendapat Dudunk benar juga, Bun. Tapi ... yang menjadi pikiran ayah sekarang ini bukan itu. Bukan soal bikin anak lagi."
"Ya ... iyalah. Sekarang kan masih siang hari!" Dudunk kembali nyeletuk.
"Dudunk ...! Jaga omonganmu!" Bundanya melotot pada anak sematawayangnya yang sangat disayang oleh kakek dan neneknya itu.
Pak Dadank tersenyum, meski wajahnya tetap terlihat galau. "Apa yang
diucapkan Dudunk benar Bun. Ini kan bulan Ramadhan. Agama melarang kita
berhubu ...."
"Ayah ini gimana, sih?" penggal bininya sambil
menelengkan kepalanya, "wajah Ayah terlihat galau sekali, tapi
omongannya kok ngelantur gitu?"
"Ayah benar, Bunda," tukas Dudunk
santai, "Bunda saja yang ngomongnya kekencengan. Padahal di bulan
puasa, nggak boleh marah-marah. Puasanya batal!"
"Sudah, sudah.
Ayah dan anak semuanya pada ngelantur ngomongnya!" seru Bu Linda, bunda
Dudunk sambil mengibas-ibaskan tangannya di udara.
Dudunk kembali nyengir. Kali ini serupa Dude Herlino. Sedang papanya lebih memilih manyun.
"Ayah kenapa, sih?" tanya bininya gemas-gemas sayang.
Pak Dadank mendesah panjang pendek. "Ayah heran, Bun," ucapnya kemudian.
"Ya, heran kenapa? Dari tadi bilang heran melulu, sampai anak kita
berpikiran yang nggak-nggak!" sergah bininya sambil melirik pada Dudunk
yang kembali asik main catur.
"Ayah heran sama orang-orang. Terutama anak-anak muda sekarang."
"Kenapa dengan anak-anak sekarang?" tanya bininya penasaran.
"Anak-anak jaman sekarang beda dengan anak-anak dulu."
"Ya, tentu saja beda, Yah!" celetuk Dudunk lagi, "anak-anak jaman ayah
dulu, sekarang sudah tua-tua. Seperti Ayah juga, hihihi."
"Dudunk ...!" Bundanya berteriak keras. Kaget sendiri.
"Anak kita benar, Bun. Meskipun sebenarnya bukan itu maksud ayah," ucap Pak Dadank, membela anaknya.
"Uh, Ayah!" Bininya merengut. Alisnya sampai ketemuan. Persis celurit kembar yang disanding berhadapan.
Pak Dadank tersenyum, meski tak sepenuhnya bisa. "Ayah heran pada
orang-orang karena masih saja bikin petasan, meskipun sudah tahu petasan
itu berbahaya dan dilarang oleh pemerintah," ungkapnya kemudian, "nanti
kalau ditangkap, ayah dibilang galak, kolot dan sebagainya!"
Bu Linda yang punya nama lengkap
Dhafitha Linda Nur Azizah , manggut-manggut. "Dengerin tuh, Dunk!" serunya sambil menoleh pada Dudunk.
"Oh, iya. Kemarin ayah lihat Dudunk diberi petasan oleh kakeknya. Lain kali jangan mau, ya?" Ayahnya juga menoleh pada Dudunk.
"Iya, Yah," sahut Dudunk kalem.
"Pintarnya anak ayah!" Ayahnya tersenyum. Kali ini, senyumnya sukses diracik. Galaunya jadi hilang, "masih disimpan?"
"Nggak, Ayah. Dudunk nggak menyimpannya."
"Pintar!" Ayahnya kembali memuji.
"Agar nggak membahayakan, semuanya sudah Dudunk bakar."
"Haaaah ...?!" teriak ayah dan bundanya serentak.***
Bumi Kerapan, 070715