Dropdown

Tampilkan postingan dengan label Cergo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cergo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Januari 2016

Misteri Noni Belanda Bunting

Karya: Achenk Mangkoerondo Limo

Di ujung kampung wong edan, berdiri sebuah rumah tua tanpa penghuni. Konon (jangan dibalik), rumah tua itu dulu pernah dihuni oleh Noni belanda, seorang diri. Menurut sumber yang saya dengar, Noni belanda itu dulunya bunga desa di sini. Kulitnya putih bersih, wajahnya ayu tiada tanding, rambutnya pirang bergelombang sepunggung, bola matanya sebiru lautan dan dia punya body semlohay icik icik e'hm. Karena kecantikannya yang sungguh menggoda mata lelaki normal, Noni belanda pernah diperkosa oleh kawanan lelaki tak dikenal. Hingga akhirnya Noni belanda hamil dan saat usia kehamilannya menginjak 8 bulan, Noni belanda tak pernah terlihat lagi di rumahnya. Banyak versi cerita berbeda tentang hilangnya, Noni belanda tanpa pamit. Ada yang bilang, "Dia meninggal karena kecelakaan becak, saat hendak mudik ke kampung halamannya." Ada lagi yang bilang, "Dia bunuh diri dengan menyebur ke dalam sumur." Entah yang mana, yang benar. Tapi banyak sumber yang mengatakan, "Dia meninggal karena tidak hidup."

Minggu, 20 September 2015

TINKERBELL Karya: MJ Tinx

a



TINKERBELL
Mentari baru saja nampak, tapi Emak Musiyem dan Ayah Budy sudah rapi dan wangi. Tercium aromanya seperti bunga kantil di taman depan rumah. Emak Musiyem terlihat cantik sekali, bak seorang Dewi Nawang Wulan dari sebuah kerajaan. Baju batik pink, selendang putih membalut tubuhnya yang langsing dan tinggi semampai. Pokoknya top banget, kaya model yang sudah ‘go internasional’. Ayah Budy pun tak mau ketinggalan. Beliau memakai jas hitam variasi batik, celana panjang hitam dan sepatu fantofel yang mengkilap. Hingga membuat silau saat aku melihatnya. “Awww ….”
“Widihhh …! Mau ke mana, nih?! Kok sudah rapi bener, Mak, Yah?” tanyaku sembari mengelap keringat dengan handuk kecil.

Kamis, 03 September 2015

PREMAN karya: DIMAZ DEWANTARA


Lima hari lima malam Marjuki bermenung diri dan selama lima hari lima malam itulah saya bertanya-tanya apa gerangan yang menggelayuti pikirannya. Sepertinya sudah menjadi tabiat saya jika rasa penasaran itu tak terobati maka panas dinginlah suhu badan ini. Berangkat dari rasa penasaran itulah akhirnya saya berkunjung ke rumah Marzuki guna melampiaskan unek-unek yang sudah tak terbendung lagi. Sesampai di rumah Marzuki, saya masih melihat dia termenung-menung dengan muka bermuram durja. Kemudian, saya memberanikan diri mendekati Marzuki penuh hati-hati.
“Juk, kalau boleh saya bertanya kira-kira apa sih yang sedang ente pikirin?” tanya saya seraya menyodorkan rokok ke mukanya yang kusut. Marzuki menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan, tangannya merayap kemudian melolos rokok yang saya sodorkan.
“Sebenarnya saya ini kepengen jadi preman” tandas Marzuki dengan mimik yang serius.

Senin, 10 Agustus 2015

Janji Yang Diingkari




Senja Kelabu adalah gadis manis keturunan bangsawan. Meski badannya kurus, tapi selera makannya luar biasa. Kesukaannya adalah semur jengkol plus pohon-pohonnya. Dia pun menyukai sambalado pete, lengkap dengan kebun pete dan cabe. Makanya tak heran bila suatu hari nanti dia bercita-cita menjadi koki. Minimal mengelola restoran.

Jadi ada untung ruginya ketika akhirnya dia ‘jadian’ sama saya. Untungnya, diantara semua yang ngantri mendapatkan cintanya, hanya saya yang terpilih. Apakah karena saya lebih ganteng dan tajir dibanding lainnya? Bukan! Keturunan bangsawan pula? Boro-boro! Habis apa, dong? Sederhana, karena teman sekolah, jadi saya tahu tiap kali ke kantin pasti yang dicari semur jengkol. Nah, tiap datang ke rumah waktu pdkt, ya bawa oleh-olehnya itu; kalau nggak semur jengkol, ya sambalado pete. Gampang, kan?

Selasa, 28 Juli 2015

PERTEMPURAN oleh: Musiyem




Duh ... Melihat musuh yang begitu ganteng dan keren-keren, Pasukan srikandi dipimpin komandan Sutini Tini yang beranggotakan Esi Sunnysunny, Puspa AndiniPercaya Sama ZalikaSastra DewitaZenith AzzuraRossiSyam Aminah dan Wirda Fathiya Al Faiq tampaknya akan menyerah tanpa perlawanan. Pasukan musuh dari seberang memang luar biasa ganteng dan ... Hight quality brondy. Pasukan tempur mereka dipimpin Tedy Maulana Ibrahim dengan prajurit brondynya yaituShobikhul IrfanEmNu Rushob AchElCefri D'alberqueque, pasukan khusus dan terlatih dipimpin komandan yang ganteng yaitu Arie Tombiberanggotakan Dudunk SakelanArya PurnamaAchmad SolihinNano Setyoko Andro Wp.

Sabtu, 25 Juli 2015

KEMPLING PENGIN NONTON FILM PORNO karya: Yan Hendra

a


Meski usianya sudah jadul ditandai dengan dengkul yang sudah merudul, tapi semangat Kempling
tetap joss. Terlebih dia sudah lama sekali menduda. Terakhir waktu dia masih hobi nonton layar tancap yang bintang utamanya Eva Arnaz dan Suzanna. Meski pulang sampai pagi, bareng dengan tukang kacang rebus dan bandrek, nggak ada yang ngelarang. Sebab Maryatun, sang istri tercinta, sedang asik mengais rezeki di negeri orang. Saking asiknya sampai lupa pulang dan kasi berita, sampai sekarang. Otomatis suplai dana untuk Kempling pun terputus. Saldonya kosong melompong.

Senin, 20 Juli 2015

ORANG MISKIN DILARANG MATI karya: Yanuar Hendra



Waktu Kempling bilang emaknya meninggal, sebagai sohib kental, saya langsung terbang ke rumah kontrakannya yang sempit, kumuh, dan sebagian terendam banjir. Tiba di sana beberapa tetangga sudah berkumpul, dan di ruang tamu terlihat jenazah emaknya Kempling terbujur kaku berselimut kain batik panjang. Dua orang kerabat sedang mengaji di dekatnya. Sementara Kempling hanya duduk di dekat mereka dengan kopiah belel warisan bapaknya. Wajahnya yang sangar, tetap tak mampu menyiratkan kesedihan hatinya.
Saya duduk di sebelahnya, ikut diam membisu. Tapi dasar Kempling, diamnya ternyata bukan semata-mata berduka. Buktinya dengan berbisik dia berkata, "Gue bingung buat bayar kontrakan berikutnya. Juga buat makan sehari-hari. Selama ini kan emak yang nanggung..."

Satu lagi persembahan cergo alias cerita gokil dari Musiyem

A Y A M


Menjelang lebaran, Arie Tombi duduk termenung di kandang ayamnya. Dia pandangi ayamnya satu persatu. Ada rasa iba menelusup ke hatinya. Ayam jago yang diberi nama Luther sebentar lagi akan pindah kandang, berpindah ke panci dan menjadi ayam opor. Si Bieber ayam jago abg pun harus masuk wajan menjadi ayam semur. Apa boleh buat THR dari Bos odong-odong Yan Hendra ditunda hingga waktu yang tak ditentukan.
"Rie, cepet potong ayamnya! Ga usah pakai diajak ngobrol!" suara emakZenith Azzura mengagetkannya.
"Iya, Mak! Duh ... tapi kasihan Mak!" jawab Arie sambil memeluk si Luther.
"Halah! Emang itu nasibnya ayam kudu dipotong, udah cepet keburu sore!" Emak Zenith gemes lihat Arie mesra-mesraan sama si Luther.

Senin, 13 Juli 2015

Hashirama Rama Rahma dan Kisahnya karya: Musiyem


Sudah Tujuh hari tujuh malam Rahma mengurung diri di kamarnya. Emaknya bingung apa yang sedang terjadi padanya. Makan yang biasanya sehari lima kali plus camilan kue pancong, kini sehari hanya minum air putih 2 gelas. Takut anak kesayangannya lemas dan akhirnya pergi untuk selama-lamanya, Emak Sastra Dewita menggedor-gedor pintu kamar Rahma.
"Rahma, ayo makan dulu nak! Emak udah masak sayur daun katuk kesukaanmu, nih!" Emak Era merayu.
"Ngga mau Mak! Ngga nafsu makan!" Rahma menjawab tanpa membuka baju eh pintu.
"Lauknya kepiting asem manis, nih!" Rayuan lanjutan ala Emak Era.
"Ngga mau Mak! Apa pun makanannya aku ngga mau! lagi mogok makan!" Rahma tetap menolak.
Emak Era makin sedih dan bingung, anak gadis satu-satunya, Peninggalan suaminya Dimaz Dewantara yang sedang merantau ke pulau Buaya Darat kini mengurung diri. Makin sedih dah pilu tiada tara hati Emak Era karena sejak merantau Dimaz selalu tebar pesona. Menurut kabar burung Dimaz telah menggoda 10 wanita dan 5 pria. Oh ... serasa dunia hancur lebur, langit runtuh dan gunung berterbangan. Sakitnya tuh disini oh .... Emak Era mengelap air mata dan ingusya yang mengalir berbarengan dengan ujung roknya. Kemudian ia mengambil kertas dan pulpen lalu mengalirlah rasa hatinya dalam puisi.

Sabtu, 11 Juli 2015

MATIR (EMAK TIRI) karya: Airi Cha




Setelah lama mendadu, bos odong-odong memutuskan untuk mencari pendamping hidup yang baru. Bukan karena kejablaian Yan Hendramengambil keputusan ini. Namun lebih di karenakan rasa sayang kepada anak-anaknya yang sudah tak beribu. Lalu Yan mengumpulkan keempat anaknya untuk meminta persetujuan mereka.
"Bagaimana menurut kalian jika abah menikah lagi?" tanya abah kepada keempat buah pisangnya, hihihi ... hati maksudnya.
Keempat anaknya, Dudunk SakelanDimaz DewantaraHany Juwita danPercaya Sama Zalika hanya saling pandang satu sama lain.
"Kok pada diam?" Abah sedikit heran."Apa tidak setuju?" tanyanya lagi.
"Kami setuju, Bah!" Tiba-tiba serentak keempat anaknya menjawab.
"Baiklah jika begitu, tidak perlu berlama-lama.  Minggu depan abah menikah." Mantap abah berkata.

Jumat, 10 Juli 2015

THR karya: Airi Cha


Entah mengapa hari ini di istana Cerpen_Ku, banyak rakyat antri di depan pintu gerbang. Penjaga pintu gerbang Dudunk Sakelan sampai-sampai kewalahan menghadapi hal ini. Entah apa yang mereka inginkan. Situasi ini tak urung membuat Dudunk pucing pala entok.
Terlihat antrian paling depan ada Mj Tinx, di belakangnya Saeful Nak Bacty. Selanjutnya Shobikhul Irfan lalu Rossi. Kemudian Zenith AzzuraSastra Dewita Senja Kelabu Ani Sugiharto Agus Bilowo Andro Wp Lukman Hakim Cahyo Wibowo. Terlihat juga Nano Setyoko Linda Puspita SariHersan Tosa Alie Alhamdulillah Dhenok Raharjo. Serta yang terheboh Musiyem dan masih banyak lagi.
Hatiku bertanya-tanya ada apa gerangan. Walau aku tidak ikut antri namun aku tetap mengawasi jalannya cerita. Mana sinar matahari begitu menyengat di kulit tapi mereka tetap semangat empat lima.
"Duh, prajurit Dudunk, kapan lagi gerbang terbuka?!" teriak Musiyem dari urutan antri yang kesekian.
"Iya, Pak Dudunk!" Tinx menimpali sembari memijit-mijit kakinya yang pegal karena sudah antri dari pagi.
"Iya,! Iyaa,! Iyaaaa ....!" sahut massa berbarengan. Dudunk semakin bingung menghadapi rakyat Cerpen_Ku. Untung segera datang Panglima brondy Dimaz Dewantara yang dipuja Musi setengah idup setengah mati. Disusul hadirnya patih bijaksana Khoirul Muhtaromi sertaTedy Maulana Ibrahim Pengawal kepercayaan raja Yan Hendra. LaluAchmad Solihin sang kiayi kerajaan.
Suasana menjadi iruk pikuk layaknya pasar ikan.
"Tenang ...! Tenang rakyat sekalian.!" himbau Khoirul mencoba menenangkan massa. Seketika suasana menjadi hening seperti di kuburan, demi mendengar suara nan arif bijaksana.
"Ada maksud apa saudara sekalian hadir di istana ini?" tanya sang patih.
"Mau ambil THR, Om Patih." Lugu Tinx menjawab.
"THR?" Berkerut kening sang patih mendengar jawaban Tinx.
"Iya, Patih. THR-ku Panglima Dimaz juga nggak mengapa," timpal Musi tersapu-sapu.
"Patih aku minta pupuk 500 karung buat sawitku." Nano berseru dari antrian.
"Saya pempres aja sebanyak tiga kereta kuda patih. Buat Bagas jagoan saya." Cahyo tak mau ketinggalan mengaju permintaan.
Saya ini, saya itu, saya ngono, saya ngene. Bagai dengungan tawon pindah terasa suara rakyat Cerpenku di telinga ini.
"Sabar-sabar! Mengapa kalian meminta THR ke istana ini?" tanya sang patih.
Suasana kembali hening.
"Kan ada himbauanya patih." Kali ini Dhenok angkat bicara.
"Himbauan?" gumam sang pathi sambil ngelus jenggot yang hanya tiga helai.
"Iya patih, kemarin disampaikan oleh penyiar berita istana Hany Juwitadan Percaya Sama Zalika. Katanya kita boleh minta apa saja," cerocos Musi pajang kali lebar.
"Tidak benar itu. Sekarang bubar!" perintah sang patih. Massa mulai ribut.
"Bubaaaarrrrrrr!" Kenceng teriakan sang patih. Namun massa tetap bertahan.
Aku beringsut mendekati massa.
"Ayo, pada pulang!" bujukku pada mereka.
"Lantas siapa yang tanggung jawab atas waktu kita yang terbuang Mbak Cha?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir Era.
"Iya mbak." Linda menimpali.
"Mbak Hany dan Zalika!" sahutku mantap.
"Oke kemon semua!" komando mbak Zura sembari nangkring di atas punggung Macannya yang bernama Maung.
Arak-arakan massa menuju rumah sang pembuat onar. Tanpa disengaja mereka berpapasan dengan dua mahluk jail itu. Terlihat Hany dan Zalika cekikikkan penuh kemenangan. Seketika tawa mereka terhenti berganti wajah yang pucat pasi.
"Serrrrrbbbuuuuuu!" komando Zura.
"La la larrriiii,  Za!" teriak Hany memberi aba-aba pada sohibnya.
"Kutukupreeeettttt ! Jangan lari Hany!" Musi teriak histeris.
Akhirnya terjadilah kejar-kejaran massa yang tak seimbang. Dari pada capek, aku memilih ngaso di bawah pohon tomat milik prajurit Dudunk. Nunggu hingga waktu berbuka tiba.

Bilik Airi, 10 Juli 15

***

Rabu, 08 Juli 2015

GILA BATU AKIK

Karya:  Dudunk Sakelan

19 Maret ini di Kampung aku, terjadi kesibukan baru. Dari anak-anak hingga dewasa banyak yang sibuk membuat mata cincin dari batu. Entah siapa yang menemukan lebih dulu, tanah berbatu yang letaknya hanya sepelemparan batu dari rumah aku itu, kini ramai dikunjungi oleh orang yang mau mengambil batu untuk dibuat mata cincin. Dan sekarang, aku dengar tanah yang dulunya tidak berharga itu, dijaga oleh beberapa preman yang disewa oleh si Pemilik tanah itu. Orang dilarang mengambilnya, kecuali dengan cara membeli. Itu pun ngambilnya tidak boleh lebih dari takaran yang sudah ditentukan. Sekadar diketahui, aku adalah salah seorang yang tidak tertarik untuk membuat mata cincin itu, apalagi sampai memilikinya. Apalagi bila sampai dihubungkan dengan hal-hal yang berbau mistis, seperti yang bisa inilah itulah. Bukannya gimana. Percaya juga, tapi bila kekuatan itu hanya atas kehendak Gusti Allah semata. Suatu sore habis posting cerpen di CERPEN-KU, aku jalan-jalan ke lokasi pengambilan batu yang belakangan jadi perbincangan masyarakat itu. Aku ingin mengetahui bagaimana keadaannya sekarang. "Berhenti!" Tiba-tiba di ujung jalan menuju lokasi, aku dicegat beberapa orang preman. Salah seorang yang rupanya pemimpinnya yang memintaku berhenti. Aku tidak kenal siapa mereka. Pasti dari kampung sebelah. Atau malah dari daerah lain. "Kalau mau ngambil batu, bayar dulu!" imbuhnya rada ketus. "Kalian siapa?" tanyaku. "Sepertinya bukan orang Madura?" "Memang. Kami berlima ini semua pendatang," jawab pemuda yang tadi kuduga pemimpinnya itu. "Namaku Yan Hendra. Di sebelah kiri aku...." "Yudha S. Riadi. Aku mantan pacar Rinjani Syafriadi. Di sebelah kiri aku...." "Muhamad Relqy Auliansyah Alvano. Dan yang berambut gondrong di sebelah kiriku ini...." "Khusni Yakob," jawabnya sambil nyengir. "Dan di sebelah kiriku ini... Tedy Maulana Ibrahim." "Lho, kok kamu, Khus, yang memperkenalkan aku? Harusnya aku dong!" Ia langsung ngenjak jempol kaki cowok yang bernama Khusni itu. "Hadduw...!" Khusni meringis-ringis kesakitan sambil memegangi jempol kakinya. "Kurang?" Tedy mengacungkan tinjunya. Suasana pun jadi ribut. Apalagi ketika kemudian si Khusni menangis sambil guling-guling di tanah. Melihat situasi memanas gitu, diam-diam aku pergi. Tapi ketika hendak melewati tikungan, ada batu sebesar telur ayam kampung terbang di atas kepalaku. Sialan, mereka melempar aku. Untung tidak kena. Lalu, iseng-iseng batu yang jatuh tidak jauh di depanku itu, aku ambil. Dan ternyata jenis batu yang ada di ladang yang dijaga ketat oleh lima preman cap Kapak itu. Aku pun mengantongi batu itu. Dan iseng-iseng pula kubawa ke rumah Rumman Ahmar tetanggaku, untuk meminta tolong agar batu yang kupunya itu dijadikan mata cincin. Rumman Ahmar bersedia dengan catatan diberi upah sepuluh ribu rupiah. Ah, bukan masalah, pikirku. Tanpa menunggu terlalu lama, malamnya mata cincin itu selesai dibuat. "Coraknya bagus, Dunk! Ada gambar kala jengkingnya," ucap Rumman Ahmar seraya menyodorkannya padaku. Aku mengamatinya, ternyata benar. Aku jadi tertarik untuk memakainya. Dan sepulangnya dari rumah Rumman Ahmar, aku langsung membeli cincinnya di toko cincin batu akik. Aku pun memasangkan mata cincin itu, ke cincin yang baru kubeli. "Kalau mau dijual, beli aku, Dunk!" seru Mbak Airi Cha, penjual cincin batu akik itu. "Aku akan beli lima ratus ribu." Lima ratus ribu? Aku kaget mendengarnya. Kalau dijual, aku sudah untung banyak. Padahal mudal yang kukeluarkan semuanya tidak sampai seratus ribu rupiah. Tapi... aku tidak tergiur dengan penawaran itu. Aku memutuskan untuk tidak dijual. "Enam ratus ribu, Dunk!" teriak Mbak Airi Cha begitu aku hendak meninggalkan tokonya. Tapi aku tetap tidak memberikannya. Aku pulang sambil menimang-nimang cincin batu akik yang aku punya. Aku tertawa sendiri, karena ternyata aku jadi gila juga pada batu akik. Dan belakangan kuketahui, ternyata cincin yang kupakai itu punya keistimewaan. Yaitu kalau memakainya apabila ketemu kalah jengking atau hewan berbisa lainnya, maka hewan itu tidak menyengat, meskipun dipegang-pegang sekalipun. Aku telah membuktikannya sendiri. Tapi aku tetap dengan keyakinan semula. Bahwa keistimewaan yang ada pada cincin batu akik ini, semata-mata adalah anugerah dari Gusti Allah semata.***

 Bumi Kerapan, 190315

Pintarnya Dudunk





Oleh Dudunk Sakelan

PAK Dadank, ayah Dudunk sedang galau hatinya. Pasalnya, sejak memasuki bulan Ramadhan ini, banyak warga yang bikin petasan. Menurutnya, ia yang sebagai polisi merasa tidak dianggap oleh warga. "Heran ayah!" desisnya
"Heran kenapa, Yah?" tanya bininya dengan tatapan penuh heran juga.
"Heran karena Bunda nggak hamil lagi 'kali?" celetuk Dudunk yang sedang main catur sendirian di lantai.
"Ngaco kamu Dunk!" seru bundanya. Namun tak urung tersenyum juga.
"Kalau nggak ..., soal apa, dong?" tanya Dudunk sambil nyengir kuda catur.
"Pendapat Dudunk benar juga, Bun. Tapi ... yang menjadi pikiran ayah sekarang ini bukan itu. Bukan soal bikin anak lagi."
"Ya ... iyalah. Sekarang kan masih siang hari!" Dudunk kembali nyeletuk.
"Dudunk ...! Jaga omonganmu!" Bundanya melotot pada anak sematawayangnya yang sangat disayang oleh kakek dan neneknya itu.
Pak Dadank tersenyum, meski wajahnya tetap terlihat galau. "Apa yang diucapkan Dudunk benar Bun. Ini kan bulan Ramadhan. Agama melarang kita berhubu ...."
"Ayah ini gimana, sih?" penggal bininya sambil menelengkan kepalanya, "wajah Ayah terlihat galau sekali, tapi omongannya kok ngelantur gitu?"
"Ayah benar, Bunda," tukas Dudunk santai, "Bunda saja yang ngomongnya kekencengan. Padahal di bulan puasa, nggak boleh marah-marah. Puasanya batal!"
"Sudah, sudah. Ayah dan anak semuanya pada ngelantur ngomongnya!" seru Bu Linda, bunda Dudunk sambil mengibas-ibaskan tangannya di udara.
Dudunk kembali nyengir. Kali ini serupa Dude Herlino. Sedang papanya lebih memilih manyun.
"Ayah kenapa, sih?" tanya bininya gemas-gemas sayang.
Pak Dadank mendesah panjang pendek. "Ayah heran, Bun," ucapnya kemudian.
"Ya, heran kenapa? Dari tadi bilang heran melulu, sampai anak kita berpikiran yang nggak-nggak!" sergah bininya sambil melirik pada Dudunk yang kembali asik main catur.
"Ayah heran sama orang-orang. Terutama anak-anak muda sekarang."
"Kenapa dengan anak-anak sekarang?" tanya bininya penasaran.
"Anak-anak jaman sekarang beda dengan anak-anak dulu."
"Ya, tentu saja beda, Yah!" celetuk Dudunk lagi, "anak-anak jaman ayah dulu, sekarang sudah tua-tua. Seperti Ayah juga, hihihi."
"Dudunk ...!" Bundanya berteriak keras. Kaget sendiri.
"Anak kita benar, Bun. Meskipun sebenarnya bukan itu maksud ayah," ucap Pak Dadank, membela anaknya.
"Uh, Ayah!" Bininya merengut. Alisnya sampai ketemuan. Persis celurit kembar yang disanding berhadapan.
Pak Dadank tersenyum, meski tak sepenuhnya bisa. "Ayah heran pada orang-orang karena masih saja bikin petasan, meskipun sudah tahu petasan itu berbahaya dan dilarang oleh pemerintah," ungkapnya kemudian, "nanti kalau ditangkap, ayah dibilang galak, kolot dan sebagainya!"
Bu Linda yang punya nama lengkap Dhafitha Linda Nur Azizah , manggut-manggut. "Dengerin tuh, Dunk!" serunya sambil menoleh pada Dudunk.
"Oh, iya. Kemarin ayah lihat Dudunk diberi petasan oleh kakeknya. Lain kali jangan mau, ya?" Ayahnya juga menoleh pada Dudunk.
"Iya, Yah," sahut Dudunk kalem.
"Pintarnya anak ayah!" Ayahnya tersenyum. Kali ini, senyumnya sukses diracik. Galaunya jadi hilang, "masih disimpan?"
"Nggak, Ayah. Dudunk nggak menyimpannya."
"Pintar!" Ayahnya kembali memuji.
"Agar nggak membahayakan, semuanya sudah Dudunk bakar."
"Haaaah ...?!" teriak ayah dan bundanya serentak.***
Bumi Kerapan, 070715