Setelah lama mendadu, bos odong-odong memutuskan untuk mencari pendamping hidup yang baru. Bukan karena kejablaian Yan Hendramengambil keputusan ini. Namun lebih di karenakan rasa sayang kepada anak-anaknya yang sudah tak beribu. Lalu Yan mengumpulkan keempat anaknya untuk meminta persetujuan mereka.
"Bagaimana menurut kalian jika abah menikah lagi?" tanya abah kepada keempat buah pisangnya, hihihi ... hati maksudnya.
Keempat anaknya, Dudunk Sakelan, Dimaz Dewantara, Hany Juwita danPercaya Sama Zalika hanya saling pandang satu sama lain.
Keempat anaknya, Dudunk Sakelan, Dimaz Dewantara, Hany Juwita danPercaya Sama Zalika hanya saling pandang satu sama lain.
"Kok pada diam?" Abah sedikit heran."Apa tidak setuju?" tanyanya lagi.
"Kami setuju, Bah!" Tiba-tiba serentak keempat anaknya menjawab.
"Baiklah jika begitu, tidak perlu berlama-lama. Minggu depan abah menikah." Mantap abah berkata.
"Kami setuju, Bah!" Tiba-tiba serentak keempat anaknya menjawab.
"Baiklah jika begitu, tidak perlu berlama-lama. Minggu depan abah menikah." Mantap abah berkata.
Seminggu kemudian Yan pulang, membawa seorang perempuan mengenakan cadar. Bodynya bohahay ngalahi body Joele sapinya Dudunk.
Kembali dikumpulkanya anak-anak. Demi melihat emak baru yang bercadar, Dudunk cs di hinggapi rasa penasaran. Berbagai pertanyaan bergelantungan di otak dan fikiran mereka. Rasanya tidak sabar mereka ingin melihat bagaimana rupa dari istri abah yang notebene adalah MATIR mereka.
Kembali dikumpulkanya anak-anak. Demi melihat emak baru yang bercadar, Dudunk cs di hinggapi rasa penasaran. Berbagai pertanyaan bergelantungan di otak dan fikiran mereka. Rasanya tidak sabar mereka ingin melihat bagaimana rupa dari istri abah yang notebene adalah MATIR mereka.
"Kenalkan, ini istri abah yang baru." Tersipu Yan memperkenalkannya.
"Iya tau, Bah!" seru mereka berbarengan. Perempuan bercadar itu hanya manggut-manggut kepada keempat anak tirinya.
"Ayo salim emak baru kalian," anjur Yan kepada putra putrinya. Dengan terpaksa Dudunk cs menyalami emak tirinya, yang tanpa di komando udah menjulurkan tanganya yang bau terasi saat dicium. Hampir saja Dudunk dan ketiga adiknya muntah. Namun demi abah, muntahnya nggak jadi.
"Iya tau, Bah!" seru mereka berbarengan. Perempuan bercadar itu hanya manggut-manggut kepada keempat anak tirinya.
"Ayo salim emak baru kalian," anjur Yan kepada putra putrinya. Dengan terpaksa Dudunk cs menyalami emak tirinya, yang tanpa di komando udah menjulurkan tanganya yang bau terasi saat dicium. Hampir saja Dudunk dan ketiga adiknya muntah. Namun demi abah, muntahnya nggak jadi.
"Baiklah, karena abah ada rapat mendadak dengan karyawan odong-odong, kalian abah tinggal biar lebih akrab lagi dengan emak yang baru," ujar Yan kepada buah hatinya.
"Iya, Bah!" seru mereka berjamaah.
"Iya, Bah!" seru mereka berjamaah.
"Mbeb, abang ngantor dulu, ya." Pamit Yan pada istri barunya. Si Mbeb hanya mengangguk. Lalu sebagai istri sakila haduh sakinah, perempuan bercadar itu mencium ketek Yan. Kok ketek, ya? Bingungkan? Sama, hihihi ....
Yan pun berangkat dengan mengendarai odong-odong keluaran terbaru. Tinggallah kini Dudunk bersama ketiga adiknya.
Yan pun berangkat dengan mengendarai odong-odong keluaran terbaru. Tinggallah kini Dudunk bersama ketiga adiknya.
Suasana hening seketika. Ntah karena rasa canggung atau apalah. Namun Dudunk dan saudaranya tetap penasaran pada emak barunya yang tak sepatah katapun keluar auman dari mulutnya. Lama mereka saling pandang. Sempat terlintas dalam benak mereka, apakah emak barunya bisu. Namun buru-buru fikiran itu di buang ke empang belakang rumah.
"Emak." Takut-takut Hany menyapa.
"Hmmmm!" Hanya suara itu yang keluar dari mulutnya.
"Hmmmm!" Hanya suara itu yang keluar dari mulutnya.
"Emak, sudah lama kenal abah?" Dimaz coba bertanya.
"Hmmmm!" Masih suara yang sama.
"Emak cintakan sama abah?" Pertanyaan konyol keluar dari mulut si bungsu Zalika.
"Hmmmm!" Suara itu juga.
"Emak, senangkan mengenal kami?" Si sulung Dudunk menimpali.
"Hmmmmm!" Juga masih sama.
"Kok hmmmm terus, Mak?" Dudunk penasaran.
"Hmmmm, senang sekali!" seru emak sembari membuka cadarnya.
"Musiyem ...!!!" seru mereka tak percaya, sampai bola mata Dudunk cs hampir gelundungan.
"Ya, aku Musiyem! Orang yang sering kalian bully. Sekarang terima pembalasanku!" seru Musiyem sembari mengeluarkan cemeti.
"Nggak gitu-gitu juga sih, Mak!" Dudunk ketakutan sampai ngompol di celana.
"Mulai hari ini, siapa yang tidak menuruti kehendakku, aku cambuk dan gantung di pohon tomat. Serta seharian tidak di beri makan." Mengeleggar suara Musiyem.
Hany dan Zalika saling berpelukan. Dudunk gemetar ketakutan. Sementara Dimaz sudah setengah kejang-kejang.
Hany dan Zalika saling berpelukan. Dudunk gemetar ketakutan. Sementara Dimaz sudah setengah kejang-kejang.
"Dudunk, Tugas kamu memasak dan membersihkan rumah. Dimaz, mencuci dan menyetrika. Hany ngangon sapi-sapi. Lalu kamu Zalika bantui Hany dan setiap hari tumbuki padi yang ada di lumbung."
Itulah titah emak baru mereka. Penderitaan anak-anak Yan berawal namun tak berakhir. Ini di karenakan Musiyem sering mereka bully sebagai perawan tua, hihihi ....
Terlihat Musiyem duduk manis di kursi goyang, memperhatikan anak-anak tirinya dengan penuh rasa kemenangan. Sementara Dudunk nangis bombay karena disuruh memasak. Dimaz nangis Bolywood. Hany nangis sambil jungkir balik, lalu Zalika guling-guling nangis Korea di empang belakang rumah.
Itulah titah emak baru mereka. Penderitaan anak-anak Yan berawal namun tak berakhir. Ini di karenakan Musiyem sering mereka bully sebagai perawan tua, hihihi ....
Terlihat Musiyem duduk manis di kursi goyang, memperhatikan anak-anak tirinya dengan penuh rasa kemenangan. Sementara Dudunk nangis bombay karena disuruh memasak. Dimaz nangis Bolywood. Hany nangis sambil jungkir balik, lalu Zalika guling-guling nangis Korea di empang belakang rumah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar