Dropdown

Senin, 10 Agustus 2015

Janji Yang Diingkari




Senja Kelabu adalah gadis manis keturunan bangsawan. Meski badannya kurus, tapi selera makannya luar biasa. Kesukaannya adalah semur jengkol plus pohon-pohonnya. Dia pun menyukai sambalado pete, lengkap dengan kebun pete dan cabe. Makanya tak heran bila suatu hari nanti dia bercita-cita menjadi koki. Minimal mengelola restoran.

Jadi ada untung ruginya ketika akhirnya dia ‘jadian’ sama saya. Untungnya, diantara semua yang ngantri mendapatkan cintanya, hanya saya yang terpilih. Apakah karena saya lebih ganteng dan tajir dibanding lainnya? Bukan! Keturunan bangsawan pula? Boro-boro! Habis apa, dong? Sederhana, karena teman sekolah, jadi saya tahu tiap kali ke kantin pasti yang dicari semur jengkol. Nah, tiap datang ke rumah waktu pdkt, ya bawa oleh-olehnya itu; kalau nggak semur jengkol, ya sambalado pete. Gampang, kan?


Singkat cerita setamat SMA kami sama-sama berpisah. Senja kuliah di Singapore, sementara saya ke Singaparna. Masuk pesantren? Bukan, tapi nguli jadi kernet tukang bordir yang banyak bejibun di sana. Sebelum berpisah, kami pun mengikat janji di bawah pohon jengkol milik Pak Ustadz Tedy Maulana Ibrahim.

“Yan, jangan gitu, dong! Ih, sereeem …!” kata Senja sejenak menghentikan aktifitasnya menggeragoti batang pohon jengkol saat melihat saya mengeluarkan sebilah belati.

“Emang yang kepikiran sama kamu apa? Kita mau bunuh diri  bersama? Wow, ogahlah yau! Aku cuma mau menggurat sesuatu di sini,” kata saya sambil meraih beberapa daun-daun, dan menyerahkannya pada Senja untuk dilalapnya. Di situ saya gambar hati, lalu di dalamnya ditulis nama kami berdua. Setelah itu di bawahnya ditulis lagi: ‘olwes polepel tugedel’.

“Biasanya kan orang-orang kan gambar hati, tapi ini kok jack keriting, sih?” protes Senja.

“Maksudnya supaya nanti hati kamu nggak keriting, alias ingkar janji,” jelas saya, lalu kembali mencocol mulut Senja yang menganga sambil manggut-manggut dengan daun-daun jengkol, dan langsung dilahap dengan nikmat.

“Kalau ingkar janji, kamu akan dikutuk jadi kodok!” kata Senja mulai prosesi kutukan di antara kami berdua.

“Kalau kamu yang ingkar janji, kamu harus mau melakukan apa saja yang saya suruh!” sambut saya.

“Ih, kok gitu, sih? Bukannya nyumpahin jadi … apa, gitu? Jadi peri, jadi Mak Lampir, atau apa, kek?”

“Nggak. Udah itu aja,”kata saya.” Kalau kamu lupa atau pura-pura lupa, maka hidupmu akan sial terus.”

“Ih, Afgan!” seru Senja sambil berusaha mencabut secuil akar pohon jengkol.

“Maksudnya?”

“Sadis!”

                                                            ***

Waktu berjalan begitu cepat, seperti cinta kami yang berlalu sedemikian kilat. Kota metropolitan membawa gegar budaya bagi Senja. Kehidupan glamour dengan cowok-cowok keren telah memikat hatinya. Cuma tiga kali sms saya dibalas, plus satu kali telepon. Berikutnya jangankan berharap dia yang telepon, bahkan saya telepon pun dia tak mau angkat. Terakhir malah nomornya tak aktif.

Dua tahun berlalu, dan akhirnya saya bisa bertemu juga saat terdengar kabar Senja cuti. Dengan hati berbunga-bunga, dan setelah semprot sana-sini dengan minyak wangi beraroma jengkol plus pete, saya pun berangkat. Tapi untung tak dapat diraih, malang apelnya enak, eh malang tak dapat ditolak. Dia sama sekali tak mau betemu.

“Maaf, Den. Non Senja bilang tak pernah kenal dengan yang namanya Yan Hendra,” kata seorang pembantu yang hanya bicara lewat pagar besi. Hidungnya berkedut, dan sepasang matanya agak menyipit menahan aroma bau khas yang terpancar dari saya.

“Yakin, Bi?” tanya saya masih berharap.

“Katanya sih gitu, Den. Maaf, ya?” Cklek! Lubang kecil pada gerbang besi itu ditutup. Saya menghela nafas, dan melangkah masghul. Senja telah ingkar janji, dan … saya berharap dia akan menyadari nantinya.
                                                           ***

“Biiii ….!” teriak Senja setinggi langit sambil memperlihatkan blazer kesayangannya yang robek akibat kepanasan disetrika. “Kenapa tidak bilang-bilang kalau setrikaannya rusaaaak?!!” tambahnya di depan wanita tua yang mengasuhnya sejak kecil.

Wanita itu termangu, diam seribu bahasa. Tak pernah dibentak dan dihardik sedemikian rupa, membuat ia tak mampu menahan kran di bagian bawah, hingga kain panjang coklat yang dikenakannya terlihat basah.

“Apalagi itu? Ya ampuuuuun …! Sana! Sana! Bau pesing! Mana bau jengkol lagi! Hus! Huss!” Senja mengibas-ngibaskan tangan berjalan beberapa tindak ke depan. Pada saat yang sama Tonie Hida, sang adik, sedang bermain mobil-mobilan di lantai, dan … siuuut! Sebuah mobilnya menarik sebelah kaki Senja. Gubrak! Tak ayal, Senja pun jatuh terduduk. Tapi sebelum terjatuh, sebelah tangannya reflek menarik taplak meja setrikaan, akibatnya semua barang yang ada di atas jatuh berantakan, dan setrikaan yang masih panas menimpa kakinya.

“Aduuh, Mamaaaaaaaa …!!!” teriak gadis itu setinggi langit.

Senja pun dibawa ke rumah sakit terdekat menjelang maghrib. Sialnya saat itu sedang terjadi pemadaman listrik, dan generator diesel yang sedang dipasang bermasalah. Tak sabar dengan keadaan itu, keluarga pun membawanya ke klinik yang agak jauh dari rumah. Tiba di tujuan ternyata dokter tak ada.

“Bu dokter nggak ada, sedang ada keperluan keluarga,” kata Dudunk Sakelan yang mengaku tukang sapu di tempat itu, “tapi kalau mau saya bisa menyuntik, kok!”

“Pala lu aja yang disuntik!” semprot Senja geram, sambil buru-buru meninggalkan tempat itu. Akhirnya mufakat keluarga dibawalah dia ke tempat Musiyem, dukun beranak terkenal.

“Kok aku di bawa ke sini? Aku mau berobat, bukan mau melahirkan!” protesnya.

“Sudah diam!” tukas Arie Tombi, sang bapak. “Di sini  nanti kamu dijampi-jampi supaya sembuh.”

“Iya, tenang saja,” kata Setia Rahmawati Numbone. “Meski mulutnya bau jengkol, yang penting kamu sembuh.”

“Apa?! Jengkol? Ih, nggak mauuuuu ….!” teriak Senja berontak, dan dengan terpincang-pincang dia memanggil taksi diikuti oleh keluarganya yang berteriak-teriak memanggil.

                                                        ***
Jengkol, dan jengkol lagi yang didengar dan ditemuinya. Apa ini? Sejak dari bandara dia selalu apes. Mestinya mama dan papa jemput, tapi akhirnya gagal karena berhalangan. Cari taksi susah dan penuh. Sekalinya ada yang mau, argonya gila-gilaan. Ditambah macet di jalan. Tiba di rumah, kamarnya berantakan diacak-acak si Tonie, makanan kosong, kulkas pun demikian. Warung di dekat rumah tutup. Akhirnya isi perut dengan mie instan. Setelah dimasak malah kelamaan dan lodoh. Haddeeeuuuh … pertanda apa ini?

Yan Hendra! Ya, itu biang keladinya. Sumpahnya tempo hari, apakah … dia keturunan si Pahit Lidah hingga hari-harinya selama di sini sial terus? Apakah dia mesti minta maaf karena tak bisa menepati janji mereka dulu? Awalnya setelah ‘ngeh’ dengan situasi modern di negeri orang, maka kisah cinta mereka kekanak-kanakan. Cinta monyet, getoh! Jadi tak perlu deh ditindaklanjuti.

Setelah ragu bolak-balik, akhirnya diputuskan untuk meneleponnya. Suara di seberang sana sangat mengejutkan.
“Tadi sore ada yang gantung diri di pohon jengkolnya Pak Ustadz Tedy Maulana Ibrahim. Dari pakaian yang dikenakan sepertinya itu si Yan. Kayaknya dia frustrasi, soalnya ada sepucuk surat untuk seseorang ….”
“Ini siapa?”tanya Senja.
“Boris Gibran, csnya. Hapenya digadein ke saya. Ini siapa, ya?”
“Saya Senja Kelabu …”
“Wah, kebetulan! Surat terakhirnya ditujukan kepada gadis bernama Senja Kelabu. Mau saya kasih langsung apa disms aja?”
“Sms aja …” sahut Senja getir.
Setelah menunggu beberapa lama, sms pun tiba. Senja membacanya dengan gemetar.
“Bermula di pohon jengkol ini kita bertemu, kemudian mengikat janji. Kulakukan sepenuh hati, kaulupakan sepenuh jiwa. Kini tinggal kenangan dan kubawa ke sana. Tapi percayalah, janji tetap janji, dan dia memiliki jiwa pengikat. Karena kau mengingkari janji, maka kau akan diikat olehnya. Maka akibatnya akan melekat terus pada dirimu.”
Olwes polepel tugedel
Yan Hendra

“Oh, no!” Senja Kelabu menjadi gelisah. Pikirannya berkecamuk, janji terucap yang diingatkan, menjadi hantu yang menempel ketat pada dirinya, dan dari hari ke hari seperti menyatu dalam diri. Senja jarang makan, jarang mandi, dan jarang ke luar kamar. Dia khawatir, bila beraktifitas di luar, maka nasib malang akan selalu menimpa. Terkadang dia seperti berhalusinasi melihat sosok Yan melintas di depan pintu pagar rumahnya. Kalau sudah begitu dia menjadi histeris dan ketakutan, lalu menjerit-jerit sendiri.
Dari kejauhan, sambil menghembuskan nafas bersamaan dengan kepulan asap tipis rokok, saya menepuk pundak Boris Gibran.
“Ayo, kita pulang ….”
Langit terlihat menggelap, seperti mendung. Nun jauh di batas cakrawala ada segurat garis merah, samar terselubungi kelabunya senja.

                                                      ***

Ckp, 9-8-2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar