Senja Kelabu
adalah gadis manis keturunan bangsawan. Meski badannya kurus, tapi selera
makannya luar biasa. Kesukaannya adalah semur jengkol plus pohon-pohonnya. Dia
pun menyukai sambalado pete, lengkap dengan kebun pete dan cabe. Makanya tak
heran bila suatu hari nanti dia bercita-cita menjadi koki. Minimal mengelola
restoran.
Jadi ada
untung ruginya ketika akhirnya dia ‘jadian’ sama saya. Untungnya, diantara
semua yang ngantri mendapatkan cintanya, hanya saya yang terpilih. Apakah
karena saya lebih ganteng dan tajir dibanding lainnya? Bukan! Keturunan
bangsawan pula? Boro-boro! Habis apa, dong? Sederhana, karena teman sekolah,
jadi saya tahu tiap kali ke kantin pasti yang dicari semur jengkol. Nah, tiap
datang ke rumah waktu pdkt, ya bawa oleh-olehnya itu; kalau nggak semur
jengkol, ya sambalado pete. Gampang, kan?
Singkat
cerita setamat SMA kami sama-sama berpisah. Senja kuliah di Singapore,
sementara saya ke Singaparna. Masuk pesantren? Bukan, tapi nguli jadi kernet
tukang bordir yang banyak bejibun di sana. Sebelum berpisah, kami pun mengikat
janji di bawah pohon jengkol milik Pak Ustadz Tedy Maulana Ibrahim.
“Yan, jangan
gitu, dong! Ih, sereeem …!” kata Senja sejenak menghentikan aktifitasnya
menggeragoti batang pohon jengkol saat melihat saya mengeluarkan sebilah
belati.
“Emang yang
kepikiran sama kamu apa? Kita mau bunuh diri
bersama? Wow, ogahlah yau! Aku cuma mau menggurat sesuatu di sini,” kata
saya sambil meraih beberapa daun-daun, dan menyerahkannya pada Senja untuk
dilalapnya. Di situ saya gambar hati, lalu di dalamnya ditulis nama kami
berdua. Setelah itu di bawahnya ditulis lagi: ‘olwes polepel tugedel’.
“Biasanya
kan orang-orang kan gambar hati, tapi ini kok jack keriting, sih?” protes
Senja.
“Maksudnya
supaya nanti hati kamu nggak keriting, alias ingkar janji,” jelas saya, lalu
kembali mencocol mulut Senja yang menganga sambil manggut-manggut dengan
daun-daun jengkol, dan langsung dilahap dengan nikmat.
“Kalau
ingkar janji, kamu akan dikutuk jadi kodok!” kata Senja mulai prosesi kutukan
di antara kami berdua.
“Kalau kamu
yang ingkar janji, kamu harus mau melakukan apa saja yang saya suruh!” sambut
saya.
“Ih, kok
gitu, sih? Bukannya nyumpahin jadi … apa, gitu? Jadi peri, jadi Mak Lampir,
atau apa, kek?”
“Nggak. Udah
itu aja,”kata saya.” Kalau kamu lupa atau pura-pura lupa, maka hidupmu akan
sial terus.”
“Ih, Afgan!”
seru Senja sambil berusaha mencabut secuil akar pohon jengkol.
“Maksudnya?”
“Sadis!”
***
Waktu
berjalan begitu cepat, seperti cinta kami yang berlalu sedemikian kilat. Kota
metropolitan membawa gegar budaya bagi Senja. Kehidupan glamour dengan
cowok-cowok keren telah memikat hatinya. Cuma tiga kali sms saya dibalas, plus
satu kali telepon. Berikutnya jangankan berharap dia yang telepon, bahkan saya
telepon pun dia tak mau angkat. Terakhir malah nomornya tak aktif.
Dua tahun
berlalu, dan akhirnya saya bisa bertemu juga saat terdengar kabar Senja cuti.
Dengan hati berbunga-bunga, dan setelah semprot sana-sini dengan minyak wangi
beraroma jengkol plus pete, saya pun berangkat. Tapi untung tak dapat diraih,
malang apelnya enak, eh malang tak dapat ditolak. Dia sama sekali tak mau
betemu.
“Maaf, Den.
Non Senja bilang tak pernah kenal dengan yang namanya Yan Hendra,” kata seorang
pembantu yang hanya bicara lewat pagar besi. Hidungnya berkedut, dan sepasang
matanya agak menyipit menahan aroma bau khas yang terpancar dari saya.
“Yakin, Bi?”
tanya saya masih berharap.
“Katanya sih
gitu, Den. Maaf, ya?” Cklek! Lubang kecil pada gerbang besi itu ditutup. Saya
menghela nafas, dan melangkah masghul. Senja telah ingkar janji, dan … saya
berharap dia akan menyadari nantinya.
***
“Biiii ….!”
teriak Senja setinggi langit sambil memperlihatkan blazer kesayangannya yang
robek akibat kepanasan disetrika. “Kenapa tidak bilang-bilang kalau
setrikaannya rusaaaak?!!” tambahnya di depan wanita tua yang mengasuhnya sejak
kecil.
Wanita itu
termangu, diam seribu bahasa. Tak pernah dibentak dan dihardik sedemikian rupa,
membuat ia tak mampu menahan kran di bagian bawah, hingga kain panjang coklat
yang dikenakannya terlihat basah.
“Apalagi
itu? Ya ampuuuuun …! Sana! Sana! Bau pesing! Mana bau jengkol lagi! Hus! Huss!”
Senja mengibas-ngibaskan tangan berjalan beberapa tindak ke depan. Pada saat
yang sama Tonie Hida, sang adik, sedang bermain mobil-mobilan di lantai, dan …
siuuut! Sebuah mobilnya menarik sebelah kaki Senja. Gubrak! Tak ayal, Senja pun
jatuh terduduk. Tapi sebelum terjatuh, sebelah tangannya reflek menarik taplak
meja setrikaan, akibatnya semua barang yang ada di atas jatuh berantakan, dan
setrikaan yang masih panas menimpa kakinya.
“Aduuh,
Mamaaaaaaaa …!!!” teriak gadis itu setinggi langit.
Senja pun
dibawa ke rumah sakit terdekat menjelang maghrib. Sialnya saat itu sedang
terjadi pemadaman listrik, dan generator diesel yang sedang dipasang
bermasalah. Tak sabar dengan keadaan itu, keluarga pun membawanya ke klinik
yang agak jauh dari rumah. Tiba di tujuan ternyata dokter tak ada.
“Bu dokter nggak
ada, sedang ada keperluan keluarga,” kata Dudunk Sakelan yang mengaku tukang
sapu di tempat itu, “tapi kalau mau saya bisa menyuntik, kok!”
“Pala lu aja
yang disuntik!” semprot Senja geram, sambil buru-buru meninggalkan tempat itu.
Akhirnya mufakat keluarga dibawalah dia ke tempat Musiyem, dukun beranak
terkenal.
“Kok aku di
bawa ke sini? Aku mau berobat, bukan mau melahirkan!” protesnya.
“Sudah
diam!” tukas Arie Tombi, sang bapak. “Di sini
nanti kamu dijampi-jampi supaya sembuh.”
“Iya, tenang
saja,” kata Setia Rahmawati Numbone. “Meski mulutnya bau jengkol, yang penting
kamu sembuh.”
“Apa?!
Jengkol? Ih, nggak mauuuuu ….!” teriak Senja berontak, dan dengan
terpincang-pincang dia memanggil taksi diikuti oleh keluarganya yang
berteriak-teriak memanggil.
***
Jengkol, dan
jengkol lagi yang didengar dan ditemuinya. Apa ini? Sejak dari bandara dia
selalu apes. Mestinya mama dan papa jemput, tapi akhirnya gagal karena
berhalangan. Cari taksi susah dan penuh. Sekalinya ada yang mau, argonya
gila-gilaan. Ditambah macet di jalan. Tiba di rumah, kamarnya berantakan
diacak-acak si Tonie, makanan kosong, kulkas pun demikian. Warung di dekat
rumah tutup. Akhirnya isi perut dengan mie instan. Setelah dimasak malah
kelamaan dan lodoh. Haddeeeuuuh … pertanda apa ini?
Yan Hendra!
Ya, itu biang keladinya. Sumpahnya tempo hari, apakah … dia keturunan si Pahit
Lidah hingga hari-harinya selama di sini sial terus? Apakah dia mesti minta
maaf karena tak bisa menepati janji mereka dulu? Awalnya setelah ‘ngeh’ dengan
situasi modern di negeri orang, maka kisah cinta mereka kekanak-kanakan. Cinta
monyet, getoh! Jadi tak perlu deh ditindaklanjuti.
Setelah ragu
bolak-balik, akhirnya diputuskan untuk meneleponnya. Suara di seberang sana
sangat mengejutkan.
“Tadi sore
ada yang gantung diri di pohon jengkolnya Pak Ustadz Tedy Maulana Ibrahim. Dari
pakaian yang dikenakan sepertinya itu si Yan. Kayaknya dia frustrasi, soalnya
ada sepucuk surat untuk seseorang ….”
“Ini siapa?”tanya
Senja.
“Boris
Gibran, csnya. Hapenya digadein ke saya. Ini siapa, ya?”
“Saya Senja
Kelabu …”
“Wah,
kebetulan! Surat terakhirnya ditujukan kepada gadis bernama Senja Kelabu. Mau
saya kasih langsung apa disms aja?”
“Sms aja …”
sahut Senja getir.
Setelah menunggu
beberapa lama, sms pun tiba. Senja membacanya dengan gemetar.
“Bermula di
pohon jengkol ini kita bertemu, kemudian mengikat janji. Kulakukan sepenuh
hati, kaulupakan sepenuh jiwa. Kini tinggal kenangan dan kubawa ke sana. Tapi
percayalah, janji tetap janji, dan dia memiliki jiwa pengikat. Karena kau
mengingkari janji, maka kau akan diikat olehnya. Maka akibatnya akan melekat
terus pada dirimu.”
Olwes polepel
tugedel
Yan Hendra
“Oh, no!”
Senja Kelabu menjadi gelisah. Pikirannya berkecamuk, janji terucap yang
diingatkan, menjadi hantu yang menempel ketat pada dirinya, dan dari hari ke
hari seperti menyatu dalam diri. Senja jarang makan, jarang mandi, dan jarang
ke luar kamar. Dia khawatir, bila beraktifitas di luar, maka nasib malang akan
selalu menimpa. Terkadang dia seperti berhalusinasi melihat sosok Yan melintas
di depan pintu pagar rumahnya. Kalau sudah begitu dia menjadi histeris dan ketakutan,
lalu menjerit-jerit sendiri.
Dari
kejauhan, sambil menghembuskan nafas bersamaan dengan kepulan asap tipis rokok,
saya menepuk pundak Boris Gibran.
“Ayo, kita
pulang ….”
Langit
terlihat menggelap, seperti mendung. Nun jauh di batas cakrawala ada segurat
garis merah, samar terselubungi kelabunya senja.
***
Ckp,
9-8-2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar