Lima hari lima malam Marjuki bermenung diri dan selama lima hari lima malam itulah saya bertanya-tanya apa gerangan yang menggelayuti pikirannya. Sepertinya sudah menjadi tabiat saya jika rasa penasaran itu tak terobati maka panas dinginlah suhu badan ini. Berangkat dari rasa penasaran itulah akhirnya saya berkunjung ke rumah Marzuki guna melampiaskan unek-unek yang sudah tak terbendung lagi. Sesampai di rumah Marzuki, saya masih melihat dia termenung-menung dengan muka bermuram durja. Kemudian, saya memberanikan diri mendekati Marzuki penuh hati-hati.
“Juk, kalau boleh saya bertanya kira-kira apa sih yang sedang ente pikirin?” tanya saya seraya menyodorkan rokok ke mukanya yang kusut. Marzuki menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan, tangannya merayap kemudian melolos rokok yang saya sodorkan.
“Sebenarnya saya ini kepengen jadi preman” tandas Marzuki dengan mimik yang serius.
“Hah … apa saya nggak salah denger, Juk?” tanya saya tak percaya dengan apa yang barusan diucapkan Marzuki
“Benar dan saya sedang tidak bergurau, Gus!” tegas Marzuki layaknya sudah jadi preman beneran
“Kenapa ente pengen jadi preman, Juk?”
“Ya, karena saya pengen ditakuti orang! Selama ini semua orang cuma bisa menertawakan saya lantaran gigi saya yang tonggos ini! Kira-kira ente tau nggak bagaimana caranya agar ditakuti orang, Gus?”
Pertanyaan Marzuki membuat saya bingung. Darimana saya tahu caranya menjadi preman, sementara kawan-kawan saya itu rata-rata golongan orang baik-baik, bahkan ada yang jadi ustad. Saya putar otak. Sejurus kemudian saya teringat preman pasar yang sering malakin saya tiap kali saya belanja.
“Saya tau Juk! Caranya kamu pakai anting-anting!”
Keesokan harinya Marjuki menuruti omongan saya dan berkeliaran entah kemana. Sehari kemudian Marzuki datang ke rumah saya dengan muka teramat menyedihkan.
“Bagaimana Juk, apa semua orang sudah takut sama ente?” tanya saya penuh selidik
“Takut apanya Gus, justru mereka malah makin menertawakan saya!” seloroh Marjuki dan setelah saya amati tawa saya hampir meledak melihat dua anting-anting di kupingnya macam bencong kemarin sore. Untunglah segera saya cegat mengingat orang di depan muka saya ini tengah dirundung nestapa.
“Waduh Juk, pantas, aturan kamu pakai antinganya satu saja”
“Huh … ada cara lain nggak selain anting?”
Buru-buru saya putar otak, kemudian saya teringat preman terminal yang pernah merampas jam tangan saya waktu mau mudik dulu.
“Ah, pakai celana robek saja Juk! Pasti semua orang takut!”
Keesokan harinya lagi-lagi Marjuki menuruti omongan saya. Hari berikutnya Marjuki dating lagi ke rumah saya.
“Bagaimana, Juk?” tanya saya sumringah lantaran tak melihat lagi mendung di muka Marzuki
“Tak mempan juga, Gus, tapi ada untungnya sih, kemarin ada orang ngasih celana lumayan bagus, dikira saya ini pengemis Gus! Haduh, … kalau begini terus kapan orang bisa takut sama saya ya?”
Ide di otak saya sepertinya buntu. Saya mencoba mengingat preman-preman yang pernah membuat saya grogi, tapi tak satupun melintas. Dan ketika Marzuki hendak melengos pergi lantara kecewa dengan ideku yang buntu, tiba-tiba saya dapat ide brilian.
“Ngomong kasar Juk!!” ujarku spontanitas sementara Marjuki mendelik, mulutnya menganga dan sepertinya mendapatkan ilham yang begitu hebat dari mulut saya yang sebenarnya bau jengkol.
“Wuaahhhh … ide hebaaaaat!” teriak Marzuki lantas ngeloyor pergi dan saya tahu persis apa yang akan dilakukannya.
Sehari, dua hari, tiga hari Marjuki tak kelihatan batang hidungnya. Saya senang sepertinya ide saya kali ini berhasil. Hari ke empat Marjuki belum nongol juga dan teramat senanglah hati saya karena setidaknya sudah membantu mewujudkan keinginan kawan saya yang satu itu. Pada hari kelima, rasa penasaran saya mulai teraduk-aduk ketika Marjuki belum nongol juga. Akhirnya dengan penuh keyakinan saya mendatangi rumah Marjuki, di samping itu ada juga keniatan untuk minta traktir kopi atas ide saya yang cemerlang itu.
Sesampai di rumah Marjuki, saya tak mendapati batang hidungnya. Hanya ada si Komar, adik Marjuki yang jaga rumah. Lantas saya pun bertanya kepadanya tentang keberadaan Marjuki. Mendengar penuturan adik Marjuki, hati saya seperti mau meledak. Kuping saya yang dari tadi anteng-anteng saja mendadak panas dan lutut saya tiba-tiba gemetar seperti kesengat listrik. Menurutnya, Marjuki kini terbaring di rumah sakit gara-gara memaki orang. Mukanya lebam-lebam dipukuli dan yang lebih mengerikan lagi katanya mulut Marjuki sampai menyon terkena bogem mentah preman pasar yang dimaki-makinya lima hari yang lalu. Duh, kasihan …!!
***
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar