Dropdown

Sabtu, 19 September 2015

PUISI - PUISI SASTRA DEWITA


MISTERI KATA YANG MEMBUNUH RASA
Tikam aku dengan kata madu yang kau lelehkan pada kelopak bunga yang terserak rekah di hamparan padang itu
Saat gelombang sudah tenang dan riak sudahlah diam pada pusarannya
Tapi kau golakkan tepuk buih hingga kembali riuh terundang
Tak tahukah kau ada bilur luka yang acapkali melepuh dan terkoyak lalu kusulam kembali dalam jelujur maaf
Hanya seringkali kuselubungi dalam diam
biarlah serupa misteri bagimu
Karena kuingin telaga ini tetap indah hingga senja kelak menerbitkan malam
Lalu mengatupkan matanya dalam misteri alam
Misteri yang kini menautkan kita dalam satu babak cerita kehidupan
Tapi entahlah ....
Senyatanya teramat sering aku mati saat kata telah acapkali menjadi sebuah belati.
Bumi Andalas,
Nk.2015
Top of Form


AKU DALAM AKU YANG KECIL
Oleh : Sastra Dewita
Pada gigirnya asa kuberdiri
Ke-imanan-ku kerap teruji
Saat kumenata serebrumku tuk menyiratkan segala jawab
Pada satu bentuk yang ingin terbingkai; penuh
Acap kali dalam gigilnya musim cerita
kubaca isi dari alunan alam diri
Di saat hamparan jagad raya telah kutatap
hanya tertuju mata pada bintang angkasa yang gemilang
Pada saat menatap samudra biru yang eloknya telah kudalami
Ternyata hanya lautlah jadi hamparan
Aku merasa kecil pada angkasa
merasa kecil pada laut saat semua terbentang di hadapanku
Jemariku merengkuh tapi tak kuasa tuk meraih dalam kanvas
Semua begitu sempurna tuk kujadikan sebuah lukisan
Aku merasa kecil pada hamparan kuas kuas kuasaMu
Semoga kecilku bisa sedikit memberi warna pada bintang itu ... pada laut itu
Tak ingin kumoksai semua yang terlukis oleh alamnya.
Bumi Andalas,
Era.2015



PUISI UNTUK PEMBUAT PUISIKU
Oleh : Sastra Dewita
Saat senja bernaung lembayung bianglala basah
Kuterbangkan sepucuk puisi
Berharap terselip diantara rinai yang turun; perlahan
Seumpama tenggang penanti waktu
Sebelum rinai membuncah menjadi hujan
Padanya kutembangkan sebait melodi
pengiring sayap sayap puisi
Rona nada berdenting 
Buta pada not not syairnya
Anila ... tolong hembus kepakkan sayap ringkih puisiku itu
Agar rasa di dalamnya tersampaikan
Rasa yang lahir dari pecah berderainya mataku
Kutitip renyuh airmata haru pedih dalamnya
Jangan sampai ia tak tersampai
Pada hati teduh Pembuat puisiku
Memang senja ini bukanlah senja terbaikku
Rinai itu salah membasahi puisiku
Ada yang terluput tersudut pada pojokan rindu
Nanar menangkupkan kenanga doa
Menggumam hanya dalam pasrah
Tak berkaca tak berbayang harap
Itulah aku ... si Penggurat puisi
Nyalang mengintip pada tirai lamunan
Ah ... adakah rupa kasihku diantara percik rinai itu?
Tapi rinai semakin membasahi senjaku
Lembayung sempat bertanya saat puisiku melintas pada cahayanya yang mulai menunduk
"Untuk siapakah...?"
Kuhela nadir kuhela jawab tersampir di sudut ujung bibir
Dalam desah yang membatu gumam teralun
"Puisi itu untukmu ...
Untuk kau pembuat puisiku, jawabku rindu dengan mata yang berkaca; sedih"
Bumi Andalas,
Nk.14.9.2015

4 komentar:

  1. Terbaik dan terbaik !!!
    Hehehe

    BalasHapus
  2. Hihi ... si Kakak jelek eksis di sini. :p

    BalasHapus
  3. Hihi keren kak era, saya suka...

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus