MISTERI
KATA YANG MEMBUNUH RASA
Tikam aku
dengan kata madu yang kau lelehkan pada kelopak bunga yang terserak rekah di
hamparan padang ituSaat gelombang sudah tenang dan riak sudahlah diam pada pusarannya
Tapi kau golakkan tepuk buih hingga kembali riuh terundang
Tak tahukah kau ada bilur luka yang acapkali melepuh dan terkoyak lalu kusulam kembali dalam jelujur maaf
Hanya seringkali kuselubungi dalam diam
biarlah serupa misteri bagimu
Karena kuingin telaga ini tetap indah hingga senja kelak menerbitkan malam
Lalu mengatupkan matanya dalam misteri alam
Misteri yang kini menautkan kita dalam satu babak cerita kehidupan
Tapi entahlah ....
Senyatanya teramat sering aku mati saat kata telah acapkali menjadi sebuah belati.
Bumi Andalas,
Nk.2015
Nk.2015
AKU DALAM AKU YANG KECIL
Oleh : Sastra Dewita
Pada gigirnya asa kuberdiri
Ke-imanan-ku kerap teruji
Saat kumenata serebrumku tuk menyiratkan segala jawab
Pada satu bentuk yang ingin terbingkai; penuh
Acap kali dalam gigilnya musim cerita
kubaca isi dari alunan alam diri
Di saat hamparan jagad raya telah kutatap
hanya tertuju mata pada bintang angkasa yang gemilang
Pada saat menatap samudra biru yang eloknya telah kudalami
Ternyata hanya lautlah jadi hamparan
Aku merasa kecil pada angkasa
merasa kecil pada laut saat semua terbentang di hadapanku
Jemariku merengkuh tapi tak kuasa tuk meraih dalam kanvas
Semua begitu sempurna tuk kujadikan sebuah lukisan
Aku merasa kecil pada hamparan kuas kuas kuasaMu
Semoga kecilku bisa sedikit memberi warna pada bintang itu ... pada laut itu
Tak ingin kumoksai semua yang terlukis oleh alamnya.
Ke-imanan-ku kerap teruji
Saat kumenata serebrumku tuk menyiratkan segala jawab
Pada satu bentuk yang ingin terbingkai; penuh
Acap kali dalam gigilnya musim cerita
kubaca isi dari alunan alam diri
Di saat hamparan jagad raya telah kutatap
hanya tertuju mata pada bintang angkasa yang gemilang
Pada saat menatap samudra biru yang eloknya telah kudalami
Ternyata hanya lautlah jadi hamparan
Aku merasa kecil pada angkasa
merasa kecil pada laut saat semua terbentang di hadapanku
Jemariku merengkuh tapi tak kuasa tuk meraih dalam kanvas
Semua begitu sempurna tuk kujadikan sebuah lukisan
Aku merasa kecil pada hamparan kuas kuas kuasaMu
Semoga kecilku bisa sedikit memberi warna pada bintang itu ... pada laut itu
Tak ingin kumoksai semua yang terlukis oleh alamnya.
Bumi Andalas,
Era.2015
Era.2015
Terbaik dan terbaik !!!
BalasHapusHehehe
Hihi ... si Kakak jelek eksis di sini. :p
BalasHapusHihi keren kak era, saya suka...
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus