Dropdown

Kamis, 30 Juli 2015


Puisi- Puisi Kepedulian dan Perenungan
Budy Cahyady Putra Ratu


Ah kau...

Aku tahu kau
Seorang anak duduk di lorong Gramedia
Isenh membaca bukubuku sembari menunggu jam sekolah usai
Lalu kau mencintai sastra
Dan berkoar sebagai seorang pujangga
Ah kau...
Datanglah ke desa tertinggal
Kembali sekolah SD di sana
Tidak perlu lulus, cukup sampai kelas lima
Ah kau
Di sana kau harus menjajakan daun pisang jika ingin jajan
Itupun bila laku terjual
Harapan untuk jajan hari ini tinggal impian
Dan kau akan merasa senang, saat menemukan teh kotak kosong
Dengan hati riang kau bawa pulang
Ah kau...
Di sana kau akan merasakan pilu
Untuk bayar sekolah kau harus merelakan si jalu ayam kesayanganmu
Atau kambingmu harus kau tukar dengan seragam putih merahmu
Dan harus kau tahu
Di sana belum tersentuh listrik
Kau akan merasakan mata kananmu membengkak
Dari lampu minyak tanah saat belajar malammu
Ah jika ini kau
Apa pernah berpikir sebagai pecinta sastra?
Apa pernah berpikir, kalau kau seorang pujangga?
Sahabat...
Datanglah kesana
Mari beradu aksara
Karena disana...
Tidak ada rengek manja, untuk menjadi perangkai aksara
Dan aku
Tidak pernah menghabiskan uang ayahku
Hanya untuk beradu aksara

======================================== 

Aku Ingin

Sekeping purnama bersembunyi di balik awan
Elok di antara bintang yang bertaburan
Kutengadahkan wajah muram
Samar kupandangi sepasang burung malam
Terbang melintasi gelap dan kesunyian.
Wahai malammalam yang berganti
Aku ingin...
Menjadi purnama yang bersinar tapi tidak menyilaukan
Aku ingin...
Menjadi bintangbintang elok nan bertaburan
Aku ingin...
Menjadi sepasang burung malam melintasi gelap dan kesunyian
Kutak ingin sendiri...
Seperti hari hari yang telah berlalu
Aku masih setia menunggu
AKU RINDU
Aku ingin hadirmu malam ini
Tuk wujudkan segala mimpimimpi
Yang telah kita rindui.
=========================


Apa kau dengar Tuan?
Dengkur mahkluk kecil di sampingku
Dan wajah memelas istriku, hingga terbawa tidur
Serta sakit di kepalaku semakin saja
Atau aku belum cukup sabar?
Hanya aku yang mampu menghadapi
Dingin dini hari, hujan menyirami
Dan jalan basah serta berlumpur
Hanya aku sendiri
Sepanjang hari melayani
Dan kembali lagi malam hari
Tapi apa yang kudapati
Sekarung rasa kecewa
Dan setumpuk masalah
Hanya aku tak'mampu bertahan
Dari panasnya bara api
Kusesali tapi harus kembali

=========================== 

Untuk Anakku

Bermainlah sesukamu
Bernyanyi, tertawa atau menangis terserah
Asal membuatmu bahagia
Ayah akan selalu bangga padamu nak'
Dan maafkan Ayah...
Yang takmampu memberi 
Apa yang terbaik dan membuatmu bangga.
Carilah jejakmu sendiri, wahai permataku
Jangan takut apa yang ada di depanmu
Karena rasa takut, tercipta dari bayanganmu sendiri
Rasa takut kelak akan membodohimu dan akan selalu membodohimu
Walau Ayah akan selalu mendampingimu
Tolong tinggalkan jejak Ayahmu, anakku
Pelan tapi pasti hidup akan menuntunmu pada dua pilihan
Di satu sisi akan kau dapati jalan yang datar
Sisi lainnya akan kau dapati jalan yang mendaki, berlubang pengap dan basah
Gelapnya hutan belantara
Mana yang akan kau pilih?
Bila jalan datar yang kau pilih
Di sana akan kau dapati hamparan tanah yang luas dan tandus
Tubuhmu akan lemas putus asa
Menggali dan terus menggali
Sementara yang kau minum adalah air keringatmu sendiri.
Bila jalan terjal dan mendaki yang kau pilih
Di atas sana kau akan mudah menggapai bintang dan panorama indah seluas kau memandang.
Tapi...
Jangan lupa untuk turun anakku


 ========================================================

Tidak ada komentar:

Posting Komentar