Dropdown

Rabu, 08 Juli 2015

GILA BATU AKIK

Karya:  Dudunk Sakelan

19 Maret ini di Kampung aku, terjadi kesibukan baru. Dari anak-anak hingga dewasa banyak yang sibuk membuat mata cincin dari batu. Entah siapa yang menemukan lebih dulu, tanah berbatu yang letaknya hanya sepelemparan batu dari rumah aku itu, kini ramai dikunjungi oleh orang yang mau mengambil batu untuk dibuat mata cincin. Dan sekarang, aku dengar tanah yang dulunya tidak berharga itu, dijaga oleh beberapa preman yang disewa oleh si Pemilik tanah itu. Orang dilarang mengambilnya, kecuali dengan cara membeli. Itu pun ngambilnya tidak boleh lebih dari takaran yang sudah ditentukan. Sekadar diketahui, aku adalah salah seorang yang tidak tertarik untuk membuat mata cincin itu, apalagi sampai memilikinya. Apalagi bila sampai dihubungkan dengan hal-hal yang berbau mistis, seperti yang bisa inilah itulah. Bukannya gimana. Percaya juga, tapi bila kekuatan itu hanya atas kehendak Gusti Allah semata. Suatu sore habis posting cerpen di CERPEN-KU, aku jalan-jalan ke lokasi pengambilan batu yang belakangan jadi perbincangan masyarakat itu. Aku ingin mengetahui bagaimana keadaannya sekarang. "Berhenti!" Tiba-tiba di ujung jalan menuju lokasi, aku dicegat beberapa orang preman. Salah seorang yang rupanya pemimpinnya yang memintaku berhenti. Aku tidak kenal siapa mereka. Pasti dari kampung sebelah. Atau malah dari daerah lain. "Kalau mau ngambil batu, bayar dulu!" imbuhnya rada ketus. "Kalian siapa?" tanyaku. "Sepertinya bukan orang Madura?" "Memang. Kami berlima ini semua pendatang," jawab pemuda yang tadi kuduga pemimpinnya itu. "Namaku Yan Hendra. Di sebelah kiri aku...." "Yudha S. Riadi. Aku mantan pacar Rinjani Syafriadi. Di sebelah kiri aku...." "Muhamad Relqy Auliansyah Alvano. Dan yang berambut gondrong di sebelah kiriku ini...." "Khusni Yakob," jawabnya sambil nyengir. "Dan di sebelah kiriku ini... Tedy Maulana Ibrahim." "Lho, kok kamu, Khus, yang memperkenalkan aku? Harusnya aku dong!" Ia langsung ngenjak jempol kaki cowok yang bernama Khusni itu. "Hadduw...!" Khusni meringis-ringis kesakitan sambil memegangi jempol kakinya. "Kurang?" Tedy mengacungkan tinjunya. Suasana pun jadi ribut. Apalagi ketika kemudian si Khusni menangis sambil guling-guling di tanah. Melihat situasi memanas gitu, diam-diam aku pergi. Tapi ketika hendak melewati tikungan, ada batu sebesar telur ayam kampung terbang di atas kepalaku. Sialan, mereka melempar aku. Untung tidak kena. Lalu, iseng-iseng batu yang jatuh tidak jauh di depanku itu, aku ambil. Dan ternyata jenis batu yang ada di ladang yang dijaga ketat oleh lima preman cap Kapak itu. Aku pun mengantongi batu itu. Dan iseng-iseng pula kubawa ke rumah Rumman Ahmar tetanggaku, untuk meminta tolong agar batu yang kupunya itu dijadikan mata cincin. Rumman Ahmar bersedia dengan catatan diberi upah sepuluh ribu rupiah. Ah, bukan masalah, pikirku. Tanpa menunggu terlalu lama, malamnya mata cincin itu selesai dibuat. "Coraknya bagus, Dunk! Ada gambar kala jengkingnya," ucap Rumman Ahmar seraya menyodorkannya padaku. Aku mengamatinya, ternyata benar. Aku jadi tertarik untuk memakainya. Dan sepulangnya dari rumah Rumman Ahmar, aku langsung membeli cincinnya di toko cincin batu akik. Aku pun memasangkan mata cincin itu, ke cincin yang baru kubeli. "Kalau mau dijual, beli aku, Dunk!" seru Mbak Airi Cha, penjual cincin batu akik itu. "Aku akan beli lima ratus ribu." Lima ratus ribu? Aku kaget mendengarnya. Kalau dijual, aku sudah untung banyak. Padahal mudal yang kukeluarkan semuanya tidak sampai seratus ribu rupiah. Tapi... aku tidak tergiur dengan penawaran itu. Aku memutuskan untuk tidak dijual. "Enam ratus ribu, Dunk!" teriak Mbak Airi Cha begitu aku hendak meninggalkan tokonya. Tapi aku tetap tidak memberikannya. Aku pulang sambil menimang-nimang cincin batu akik yang aku punya. Aku tertawa sendiri, karena ternyata aku jadi gila juga pada batu akik. Dan belakangan kuketahui, ternyata cincin yang kupakai itu punya keistimewaan. Yaitu kalau memakainya apabila ketemu kalah jengking atau hewan berbisa lainnya, maka hewan itu tidak menyengat, meskipun dipegang-pegang sekalipun. Aku telah membuktikannya sendiri. Tapi aku tetap dengan keyakinan semula. Bahwa keistimewaan yang ada pada cincin batu akik ini, semata-mata adalah anugerah dari Gusti Allah semata.***

 Bumi Kerapan, 190315

Tidak ada komentar:

Posting Komentar