Dropdown

Rabu, 08 Juli 2015

Selembar Mimpi

Karya: Wirda Fathiya Al Faiq
Dari para admin cerpenku yang baik hati aku selalu diberikan selembar mimpi, dan senangnya diberika mimpi lewat tokoh-tokoh kesukaanku.
Hari ini sudah lebih dari 70 lembar mimpi yang kukumpulkan, dan ingin ku jilid menjadi sebuah buku.

”Yupz, menjilid sudah selesai.” Kataku bahagia. ”Tapi… ko jadi pusing gini ya kepalaku. Kenapa ya. Duh.” Tiba-tiba saja kepalaku berputar dan kurasakan seperti ada daya magnet besar yang menarikku ke dalam buku. Aku mencoba berpegangan pada lemari, tapi aku terjatuh dan kepentok meja sampai akhirnya aku menggantungkan harapan pada kaki meja untuk menahan tubuhku tapi sia-sia jilid mimpi itu berhasil menarikku ke dalamnya.
***
BUUUUUGGHHH. ”Aaaaawwwww. Di mana aku? Tiba-tiba suasana jadi sepi. Aku seperti berada di dalam hutan belantara. Aku berjalan tak berarah, tapi ku dengar suara Faiq, di mana dia?
Ketika kulihat ke atas. ”Oh, astaga. Kenapa wajah Faiq besar sekali?” Saat itu aku mengerti kalau aku sedang terjebak di dalam jilidan mimpi yang kubukukan, dan Faiq melihatku dari luar buku dan sedang mempermainkan bukunya.

”Faiiiiiqq, tolong ibu.” Dia hanya tersenyum memperlihatkan gusinya dengan bibirya yang tipis namun penuh eces.
Sia-sia ku pikir akhirnya aku memutuskan untuk mencari jalan keluar sendiri. Dari kejauhan aku mendengar auman harimau. Karena ketakutan akupun berlari dan bersembunyi di semak-semak belukar. Dan aku mengerti ini adalah lembaran mimpi dari Zenith Azzura Azzura makanya ada harimaunya.
Suara harimau itu semakin dekat, dan aku berlari. Dan TAARRR, aku menutup wajahku. ”Huuffttt, syukur deeeh, aku diselamatkan ketapelnya ka Airi Cha di lembaran mimpinya, dan lega rasanya harimau itu telah kabur. Xixixixi.”
Preeeekkkk tubuhku terasa terlempar karena ternyata Faiq merobek selembar mimpi dari Zenith Azura. Masuklah aku ke dunia yang banyak permainan, tapi semua permainannya kok odong-odong semua ya? ”Oh, ternyata lembaran mimpi ini dari Bang Yan Hendra. Tapi aku suka di sini, selain banyak odong-odong aku bisa menikmati lollipop dan coklat.
”Hooohh, apa itu kok banyak badut?” Tapi pikirku hal itu wajar, karena inikan dunia bermain anak-anak pasti banyak badut lah. Tapi ternyata tidak, ini adalah area mimpi dari Ka Dudunk Sakelan. Badut semua. ”Hahahhaaaa.” Tawaku, karena merasa senang, semua badut di sini lucu.
”Daun-daun ini bertuliskan puisi yang indah sekali.” Puisi-puisi itu ku temukan tertulis di dedaunan yang gugur di sepanjang jalan kenangan mimpi. Tak salah lagi kalau ini lembaran mimpi milik Sastra Dewita, dan Achmad Solihin
Kukumpulkan bait-bait puisi mereka berdua hingga akhirnya menjadi sebuah novel yang mirip dengan novel milik Linda Puspita Sari.
Perjalananku di kota mimpi cerpenku sudah sampai ke kota. Ku lihat ada lembaran mimpi Musiyem dan Percaya Sama Zalika ‪#‎The_dream_of_ngawur_city‬. Setia Rahmawati Numbone, kemudian lembaran mimpi Syam Aisyah, Rossi, Mj Tinx, Ila Sabila dan lain-lain.
Kurogoh kantongku ternyata aku masih menyimpan lollipop dari area mimpinya Bang Yan Hendra. Aku makan saja karena perutku lapar, tapi. ”Uhuk uhuk uhuk.” Aku tersedak, dank arena tersedaklah gravitasi bumi kembali menarikku ke luar dari magnet buku mimpi tersebut. Terlemparlah aku ke sudut kamarku. ”AAAWWWW.” Kepalaku sakit terbentur meja. Tapi segera hilang karena melihat senyum Faiq yang bahagia melihatku ada di sisinya lagi.


END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar