Entah mengapa hari ini di istana Cerpen_Ku, banyak rakyat antri di depan pintu gerbang. Penjaga pintu gerbang Dudunk Sakelan sampai-sampai kewalahan menghadapi hal ini. Entah apa yang mereka inginkan. Situasi ini tak urung membuat Dudunk pucing pala entok.
Terlihat antrian paling depan ada Mj Tinx, di belakangnya Saeful Nak Bacty. Selanjutnya Shobikhul Irfan lalu Rossi. Kemudian Zenith AzzuraSastra Dewita Senja Kelabu Ani Sugiharto Agus Bilowo Andro Wp Lukman Hakim Cahyo Wibowo. Terlihat juga Nano Setyoko Linda Puspita SariHersan Tosa Alie Alhamdulillah Dhenok Raharjo. Serta yang terheboh Musiyem dan masih banyak lagi.
Hatiku bertanya-tanya ada apa gerangan. Walau aku tidak ikut antri namun aku tetap mengawasi jalannya cerita. Mana sinar matahari begitu menyengat di kulit tapi mereka tetap semangat empat lima.
"Duh, prajurit Dudunk, kapan lagi gerbang terbuka?!" teriak Musiyem dari urutan antri yang kesekian.
"Iya, Pak Dudunk!" Tinx menimpali sembari memijit-mijit kakinya yang pegal karena sudah antri dari pagi.
"Iya,! Iyaa,! Iyaaaa ....!" sahut massa berbarengan. Dudunk semakin bingung menghadapi rakyat Cerpen_Ku. Untung segera datang Panglima brondy Dimaz Dewantara yang dipuja Musi setengah idup setengah mati. Disusul hadirnya patih bijaksana Khoirul Muhtaromi sertaTedy Maulana Ibrahim Pengawal kepercayaan raja Yan Hendra. LaluAchmad Solihin sang kiayi kerajaan.
"Iya, Pak Dudunk!" Tinx menimpali sembari memijit-mijit kakinya yang pegal karena sudah antri dari pagi.
"Iya,! Iyaa,! Iyaaaa ....!" sahut massa berbarengan. Dudunk semakin bingung menghadapi rakyat Cerpen_Ku. Untung segera datang Panglima brondy Dimaz Dewantara yang dipuja Musi setengah idup setengah mati. Disusul hadirnya patih bijaksana Khoirul Muhtaromi sertaTedy Maulana Ibrahim Pengawal kepercayaan raja Yan Hendra. LaluAchmad Solihin sang kiayi kerajaan.
Suasana menjadi iruk pikuk layaknya pasar ikan.
"Tenang ...! Tenang rakyat sekalian.!" himbau Khoirul mencoba menenangkan massa. Seketika suasana menjadi hening seperti di kuburan, demi mendengar suara nan arif bijaksana.
"Tenang ...! Tenang rakyat sekalian.!" himbau Khoirul mencoba menenangkan massa. Seketika suasana menjadi hening seperti di kuburan, demi mendengar suara nan arif bijaksana.
"Ada maksud apa saudara sekalian hadir di istana ini?" tanya sang patih.
"Mau ambil THR, Om Patih." Lugu Tinx menjawab.
"THR?" Berkerut kening sang patih mendengar jawaban Tinx.
"Mau ambil THR, Om Patih." Lugu Tinx menjawab.
"THR?" Berkerut kening sang patih mendengar jawaban Tinx.
"Iya, Patih. THR-ku Panglima Dimaz juga nggak mengapa," timpal Musi tersapu-sapu.
"Patih aku minta pupuk 500 karung buat sawitku." Nano berseru dari antrian.
"Saya pempres aja sebanyak tiga kereta kuda patih. Buat Bagas jagoan saya." Cahyo tak mau ketinggalan mengaju permintaan.
Saya ini, saya itu, saya ngono, saya ngene. Bagai dengungan tawon pindah terasa suara rakyat Cerpenku di telinga ini.
Saya ini, saya itu, saya ngono, saya ngene. Bagai dengungan tawon pindah terasa suara rakyat Cerpenku di telinga ini.
"Sabar-sabar! Mengapa kalian meminta THR ke istana ini?" tanya sang patih.
Suasana kembali hening.
Suasana kembali hening.
"Kan ada himbauanya patih." Kali ini Dhenok angkat bicara.
"Himbauan?" gumam sang pathi sambil ngelus jenggot yang hanya tiga helai.
"Himbauan?" gumam sang pathi sambil ngelus jenggot yang hanya tiga helai.
"Iya patih, kemarin disampaikan oleh penyiar berita istana Hany Juwitadan Percaya Sama Zalika. Katanya kita boleh minta apa saja," cerocos Musi pajang kali lebar.
"Tidak benar itu. Sekarang bubar!" perintah sang patih. Massa mulai ribut.
"Bubaaaarrrrrrr!" Kenceng teriakan sang patih. Namun massa tetap bertahan.
Aku beringsut mendekati massa.
"Bubaaaarrrrrrr!" Kenceng teriakan sang patih. Namun massa tetap bertahan.
Aku beringsut mendekati massa.
"Ayo, pada pulang!" bujukku pada mereka.
"Lantas siapa yang tanggung jawab atas waktu kita yang terbuang Mbak Cha?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir Era.
"Iya mbak." Linda menimpali.
"Lantas siapa yang tanggung jawab atas waktu kita yang terbuang Mbak Cha?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir Era.
"Iya mbak." Linda menimpali.
"Mbak Hany dan Zalika!" sahutku mantap.
"Oke kemon semua!" komando mbak Zura sembari nangkring di atas punggung Macannya yang bernama Maung.
Arak-arakan massa menuju rumah sang pembuat onar. Tanpa disengaja mereka berpapasan dengan dua mahluk jail itu. Terlihat Hany dan Zalika cekikikkan penuh kemenangan. Seketika tawa mereka terhenti berganti wajah yang pucat pasi.
"Oke kemon semua!" komando mbak Zura sembari nangkring di atas punggung Macannya yang bernama Maung.
Arak-arakan massa menuju rumah sang pembuat onar. Tanpa disengaja mereka berpapasan dengan dua mahluk jail itu. Terlihat Hany dan Zalika cekikikkan penuh kemenangan. Seketika tawa mereka terhenti berganti wajah yang pucat pasi.
"Serrrrrbbbuuuuuu!" komando Zura.
"La la larrriiii, Za!" teriak Hany memberi aba-aba pada sohibnya.
"Kutukupreeeettttt ! Jangan lari Hany!" Musi teriak histeris.
Akhirnya terjadilah kejar-kejaran massa yang tak seimbang. Dari pada capek, aku memilih ngaso di bawah pohon tomat milik prajurit Dudunk. Nunggu hingga waktu berbuka tiba.
"La la larrriiii, Za!" teriak Hany memberi aba-aba pada sohibnya.
"Kutukupreeeettttt ! Jangan lari Hany!" Musi teriak histeris.
Akhirnya terjadilah kejar-kejaran massa yang tak seimbang. Dari pada capek, aku memilih ngaso di bawah pohon tomat milik prajurit Dudunk. Nunggu hingga waktu berbuka tiba.
Bilik Airi, 10 Juli 15
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar