MALAM itu ketika sepeda
motor yang aku kendarai tiba-tiba lunglai dan kehilangan tenaganya. Kemudian
berhenti tepat di belakang Harrier hitam, suasana di sekelilingku begitu
lengang, termasuk jalanan itu pun demikian, pandanganku tidak mendapati orang
melintas sampai di penghujung simpang. Ternyata dengan memilih rute yang tak
biasanya menuju pulang, mematahkan perkiraan aman. Seharusnya rute ini tidak
kupilih, jam 10 begini kios-kios bensin di ruas jalanan ini memang tidak lagi
buka. Spontan aku merogoh hand phone, coba menghubungi pacarku Gyza.
Tapi, dari seberang sana
bukan suara merdu Gyza yang menjawab, melainkan suara merdu lain. Suara robot
itu mengabarkan, pulsa yang kumiliki tidak cukup untuk melakukan panggilan ini.
Apes, terlalu asik menghabiskan malam minggu bersama kekasih, sampai-sampai
pulsapun lupa di isi ulang.
Ini bukan kali pertama
motorku kehabisan bensin atau pulsa di HP sampai nol. Melainkan, ini pertama
kalinya keduanya kosong melompong secara bersamaan. Aku terdiam sejenak,
menarik napas panjang untuk meredakan kekesalan. Saat jengkel mulai reda dan
ingin mendorong sepeda motor, aku tersentak oleh sepasang cahaya merah yang
tiba-tiba berkedip. Tepat dari pantat Harrier yang sejak tadi memang tak
mengeluarkan suara. Berkedip lagi, perlahan dan berulang-ulang.
Samar cahaya lampu jalan
merembes di beberapa bagian kaca Harrier, mataku menyaksikan dari dalam mobil
mewah itu ada seseorang. Ya, sesosok bayangan di balik kemudi, tidak bergerak.
Seakan tahu aku mulai terpancing, sepasang cahaya merah yang tak lain lampu rem
mobil itu pun kini berhenti berkedip. Melainkan terus mengeluarkan cahaya
merah. Aku jadi penasaran, helm kedap udara yang gampang membuat kepala gatal
ku copot, kepalaku mulai berkeringat. Kemudian meletakkannya di motor yang kini
urung kuseret.
Aku mulai melangkah ragu,
menghampiri pintu sisi kemudi Harrier. Sekedar memastikan apa gerangan yang
terjadi. Tapi, baru kira-kira melangkah dan berada tepat setengah badan di sisi
mobil mewah itu, pintu kemudi terbuka bersamaan sosok tubuh lunglai ke tanah.
Alamak, aku sontak kaget. Dari remang cahaya lampu jalan, kusaksikan darah
masih mengucur dari kerongkongan laki-laki bertubuh atletis itu. Tubuhnya
berkelenjotan, tangan kanannya memegangi tempat mengucurnya darah, matanya
tajam menatapku. Dari mulutnya kemudian terdengar suara ngorok sesaat.
Selebihnya, suara mengerikan itu melemah dan tubuh itu kemudian tak bergerak.
Aku bingung, tak tahu
mesti bagaimana dan berbuat apa. Kepalaku membesar, jantungku berdegup kencang
bercampur rasa mual tak tertahankan. Sampai akhirnya, aku dikejutkan oleh
teriakan pengendara lain yang urung mendekat dari arah depan dan belakang
sepanjang jalan aspal yang tadinya sepi, namun perlahan dari kejauhan mulai
gaduh oleh suara yang memancing orang-orang sekitar berdatangan.
“Ada pembunuhan, itu
pembunuhnya, panggil polisi, panggil polisi!” teriak orang-orang itu dengan
sorot tak karuan lekat kearahku. Kini, bukan hanya kepala dan jantungku yang
semakin tak menentu, baik ukuran dan detaknya. Sontak tubuh terasa seperti
sehelai bulu yang rontok, kemudian melayang diterbangkan angin. Aku berlari
sekencang mungkin, melesat menerobos semak, tanah becek, melompati parit,
tembok pagar, yang menurut ukuran manusia normal itu tak mungkin dilakukan,
namun semua itu kulampaui dengan mudah. Hingga akhirnya dengan nafas
terengah-engah dan dada yang rasanya mau pecah, tubuhku ambruk. Aku bersandar
di pojok pagar besi setinggi dada sebuah rumah. Rumah yang meski malam-malam di
sekelilingnya masih kelihatan asri. Bunga-bunga terpoles sinar lampu.
Rumput-rumput hujau seperti lapangan sepak bola, pancuran air. Begitu serasi,
sama halnya seperti penghuninya yang telah kukenal dengan baik.
Beberapa saat berselang,
nafasku mulai normal kembali. Kedua belah tanganku masih gemetaran. Pakaian
kotor dan basah bersimbah keringat. Namun, saat baru hendak aku melangkah
menghampiri pintu pagar, dari arah belokan jalan di depanku sebuah motor metic
putih melintas kemudian memperlahan kecepatannya, berhenti tepat didepan pintu
pagar besi. Pengendaranya seorang perempuan, mengenakan helm SNI bercorak Helo
Kitty berwarna pink. Sebelum hendak masuk tanpa sengaja sosok itu menoleh
kearahku untuk beberapa saat.
“Giz,” kataku penuh harap
dan sedikit ragu.
“Ab, abang Dirga?
Astaghfirullah bang,” jawabnya kemudian.
***
Lanjutannya ada DI SINI
Lanjutannya ada DI SINI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar