Dropdown

Senin, 13 Juli 2015

KEMPUNAN (bag.1) karya: Topan Kejora





MALAM itu ketika sepeda motor yang aku kendarai tiba-tiba lunglai dan kehilangan tenaganya. Kemudian berhenti tepat di belakang Harrier hitam, suasana di sekelilingku begitu lengang, termasuk jalanan itu pun demikian, pandanganku tidak mendapati orang melintas sampai di penghujung simpang. Ternyata dengan memilih rute yang tak biasanya menuju pulang, mematahkan perkiraan aman. Seharusnya rute ini tidak kupilih, jam 10 begini kios-kios bensin di ruas jalanan ini memang tidak lagi buka. Spontan aku merogoh hand phone, coba menghubungi pacarku Gyza.
Tapi, dari seberang sana bukan suara merdu Gyza yang menjawab, melainkan suara merdu lain. Suara robot itu mengabarkan, pulsa yang kumiliki tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Apes, terlalu asik menghabiskan malam minggu bersama kekasih, sampai-sampai pulsapun lupa di isi ulang.
Ini bukan kali pertama motorku kehabisan bensin atau pulsa di HP sampai nol. Melainkan, ini pertama kalinya keduanya kosong melompong secara bersamaan. Aku terdiam sejenak, menarik napas panjang untuk meredakan kekesalan. Saat jengkel mulai reda dan ingin mendorong sepeda motor, aku tersentak oleh sepasang cahaya merah yang tiba-tiba berkedip. Tepat dari pantat Harrier yang sejak tadi memang tak mengeluarkan suara. Berkedip lagi, perlahan dan berulang-ulang.
Samar cahaya lampu jalan merembes di beberapa bagian kaca Harrier, mataku menyaksikan dari dalam mobil mewah itu ada seseorang. Ya, sesosok bayangan di balik kemudi, tidak bergerak. Seakan tahu aku mulai terpancing, sepasang cahaya merah yang tak lain lampu rem mobil itu pun kini berhenti berkedip. Melainkan terus mengeluarkan cahaya merah. Aku jadi penasaran, helm kedap udara yang gampang membuat kepala gatal ku copot, kepalaku mulai berkeringat. Kemudian meletakkannya di motor yang kini urung kuseret.

Aku mulai melangkah ragu, menghampiri pintu sisi kemudi Harrier. Sekedar memastikan apa gerangan yang terjadi. Tapi, baru kira-kira melangkah dan berada tepat setengah badan di sisi mobil mewah itu, pintu kemudi terbuka bersamaan sosok tubuh lunglai ke tanah. Alamak, aku sontak kaget. Dari remang cahaya lampu jalan, kusaksikan darah masih mengucur dari kerongkongan laki-laki bertubuh atletis itu. Tubuhnya berkelenjotan, tangan kanannya memegangi tempat mengucurnya darah, matanya tajam menatapku. Dari mulutnya kemudian terdengar suara ngorok sesaat. Selebihnya, suara mengerikan itu melemah dan tubuh itu kemudian tak bergerak.
Aku bingung, tak tahu mesti bagaimana dan berbuat apa. Kepalaku membesar, jantungku berdegup kencang bercampur rasa mual tak tertahankan. Sampai akhirnya, aku dikejutkan oleh teriakan pengendara lain yang urung mendekat dari arah depan dan belakang sepanjang jalan aspal yang tadinya sepi, namun perlahan dari kejauhan mulai gaduh oleh suara yang memancing orang-orang sekitar berdatangan.
“Ada pembunuhan, itu pembunuhnya, panggil polisi, panggil polisi!” teriak orang-orang itu dengan sorot tak karuan lekat kearahku. Kini, bukan hanya kepala dan jantungku yang semakin tak menentu, baik ukuran dan detaknya. Sontak tubuh terasa seperti sehelai bulu yang rontok, kemudian melayang diterbangkan angin. Aku berlari sekencang mungkin, melesat menerobos semak, tanah becek, melompati parit, tembok pagar, yang menurut ukuran manusia normal itu tak mungkin dilakukan, namun semua itu kulampaui dengan mudah. Hingga akhirnya dengan nafas terengah-engah dan dada yang rasanya mau pecah, tubuhku ambruk. Aku bersandar di pojok pagar besi setinggi dada sebuah rumah. Rumah yang meski malam-malam di sekelilingnya masih kelihatan asri. Bunga-bunga terpoles sinar lampu. Rumput-rumput hujau seperti lapangan sepak bola, pancuran air. Begitu serasi, sama halnya seperti penghuninya yang telah kukenal dengan baik.
Beberapa saat berselang, nafasku mulai normal kembali. Kedua belah tanganku masih gemetaran. Pakaian kotor dan basah bersimbah keringat. Namun, saat baru hendak aku melangkah menghampiri pintu pagar, dari arah belokan jalan di depanku sebuah motor metic putih melintas kemudian memperlahan kecepatannya, berhenti tepat didepan pintu pagar besi. Pengendaranya seorang perempuan, mengenakan helm SNI bercorak Helo Kitty berwarna pink. Sebelum hendak masuk tanpa sengaja sosok itu menoleh kearahku untuk beberapa saat.
“Giz,” kataku penuh harap dan sedikit ragu.
“Ab, abang Dirga? Astaghfirullah bang,” jawabnya kemudian.
***

Lanjutannya ada DI SINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar