Dropdown

Senin, 13 Juli 2015

KEMPUNAN (bag.2) karya: Topan Kejora



Telah aku ceritakan semua kejadian yang menimpaku pada Gyza. Malam itu kami berboncengan, kuajak kekasihku ke tempat biasa kami bermenung untuk menikmati indahnya matahari terbenam. Di sebuah areal pelabuhan, tempat kapal-kapal barang bersandar. Namun, sejak belasan tahun lalu tak lagi beroperasi, karena pemerintah setempat bosan mengeruk endapan lumpur di sepanjang muaranya. Saban hari kian menebal. Hal seperti ini memang bukan barang baru di negeri ini. Proyek-proyek semacam ini memang sengaja diciptakan, atau memang cenderung dipaksakan. Selain mengharap kucuran ongkos perawatan besar sebagai alasan, juga menjadi alasan untuk membuat pelabuhan lain dengan dalih yang lama terbukti tidak menguntungkan.
Tapi malam ini, selang lebih kurang satu jam berlalu. Kami menatap kejauhan bukan untuk membayangkan masa depan yang gilang-gemilang. Aku kebingungan, di sampingku Gyza tak henti-henti mengusap cairan bening di pipinya. Bagaimana tidak, ponselku selalu bergetar selang beberapa menit. Dari nomor yang saudara-saudara dan orangtuaku hingga nomor yang tidak tertera namanya. Begitupun pesan singkat dari orang yang kukenal, yang mengaku polisi, keluarga korban, hingga preman, silih berganti memenuhi kotak pesan ponsel milikku. Mereka membujuk, memaksa, mengancam. Aku diteror dan akhirnya berbuah menyudutkan. Bahwa akulah yang bersalah.

“Kau harus pergi bang. Sejauh mungkin,” ujar Gyza akhirnya dengan nada parau. Aku tersentak, bagaimana mungkin orang yang aku percaya dan sayangi selama ini tega-teganya berkata demikian. Bahwa aku harus meninggalkan semua yang berharga dan kumiliki. Padahal satu-satunya orang yang percaya bukan aku pelaku pembunuhan itu bukankah Gyza, kekasihku. Tapi kenapa, tega-teganya dia memilih jalan untuk ikut menjauhiku.
“Tap, tapi bukan abang pelakunya Giz. Demi Allah,” kataku tak habis pikir.
Kemudian sepi. Tak ada kata-kata lain yang terucap dari bibir kami. Perasaanku masih campur aduk. Heran. Terkejut. Terakhir, tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba gadis disampingku menangis. Tubuhnya terguncang di bahuku.
“Demi Allah bang, Giza percaya abang bukan seorang pembunuh. Tapi inilah kenyataannya, mereka melihat abang di sana, motor abang juga di sana bukan? Demi masa depanmu bang, pergilah sejauh mungkin,” katanya dengan bibir bergetar.
“Tapi Giz,” jawabku pelan.
“Tak ada tapi-tapian bang, pergilah selagi sempat,” jawabnya datar sambil menatap kosong deretan lampu-lampu dermaga yang tak semua menyala dan suram. Aku terenyak. Sirna sudah kenangan manis itu, lenyap sudah keinginan untuk membanggakan kedua orangtua dan keluarga. Hidup normal bersama orang yang aku sayang dengan keluarga kecil. Hapus sudah mimpi. Saat itu, rasanya ingin aku menyerahkan diri ke kantor polisi. Menempuh proses hukum yang penuh intrik. Namun itu tak kulakukan, karena aku yakin percuma. Dari uraian beragam pesan singkat yang kubaca di ponselku, ternyata yang terbunuh itu seorang pejabat penting di Kotaku. Lagi pula siapalah aku dan keluargaku, kami bukanlah orang dari kalangan atas.
Malam ini, ketika trompet elektromekanik cargo yang membawaku berlayar meraung menyapa dari kejauhan Port of Shanghai yang tak pernah tidur. Seperti yang sudah-sudah, di setiap samudera dan dermaga tempat ku berlabuh, baru saja kulayarkan rahasia kerinduan sebagai balasan membuncah rasa pada kalian. Dan ini kali, beginilah bunyi pesan yang mengapung itu:
Buat kalian yang kusayang…
Beberapa jam kedepan dan jika Allah menghendaki, maka sampailah pelarianku untuk sandar sejenak di Port of Shanghai. Gyza, bahagia hatiku sebab engkau masih sudi mengabarkan beritamu. Seperti janji kita, aku tak akan membalas semua itu secara langsung. Tak mengapa, buatmu doa dan harapku tak pernah putus. Semoga engkau selamat melahirkan anak ke-2 mu. Seperti inginmu dan harapan suamimu. Jika terwujud, bayimu kelak pasti akan tumbuh menjadi gadis cantik dan memiliki kecemerlangan hati sepertimu.
Emak, Bapak dan Kakak-kakakku yang selalu kurindukan.
Semoga kalian selalu diberikan ketabahan dalam menghadapi berbagai ujian tuduhan yang hingga kini tak lekang. Sebagaimana aku, hingga detik ini terus tabah berjuang menjalani hidup sebagai orang terbuang di pelayaran yang entah sampai kapan membawaku kembali keharibaan kalian.
Namun yang pasti, kepada setiap lumba-lumba yang kujumpai, begitupun setiap menjejakan kaki di pelabuhan yang kusinggahi, selalu kunyatakan bahwa aku bukan seorang pembunuh keji. Semoga mereka menyampaikan pesan yang hanyut ini ke pangkuan kalian, bahwa aku hanya kurang beruntung pada saat peristiwa itu terjadi dan semua ini.
(Port of Shanghai, 2015)
*Kempunan
***
Catatan kaki:
*Kempunan ; Kesialan/kecelakaan yang diderita seseorang karena sesuatu yang tidak terpenuhi atau berjalan sesuai keinginan.


*bagian pertamanya ada DI SINI


(Borneo - Indonesia, Mei 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar