Telah aku ceritakan semua
kejadian yang menimpaku pada Gyza. Malam itu kami berboncengan, kuajak
kekasihku ke tempat biasa kami bermenung untuk menikmati indahnya matahari
terbenam. Di sebuah areal pelabuhan, tempat kapal-kapal barang bersandar.
Namun, sejak belasan tahun lalu tak lagi beroperasi, karena pemerintah setempat
bosan mengeruk endapan lumpur di sepanjang muaranya. Saban hari kian menebal.
Hal seperti ini memang bukan barang baru di negeri ini. Proyek-proyek semacam
ini memang sengaja diciptakan, atau memang cenderung dipaksakan. Selain
mengharap kucuran ongkos perawatan besar sebagai alasan, juga menjadi alasan
untuk membuat pelabuhan lain dengan dalih yang lama terbukti tidak
menguntungkan.
Tapi malam ini, selang
lebih kurang satu jam berlalu. Kami menatap kejauhan bukan untuk membayangkan
masa depan yang gilang-gemilang. Aku kebingungan, di sampingku Gyza tak
henti-henti mengusap cairan bening di pipinya. Bagaimana tidak, ponselku selalu
bergetar selang beberapa menit. Dari nomor yang saudara-saudara dan orangtuaku
hingga nomor yang tidak tertera namanya. Begitupun pesan singkat dari orang
yang kukenal, yang mengaku polisi, keluarga korban, hingga preman, silih
berganti memenuhi kotak pesan ponsel milikku. Mereka membujuk, memaksa,
mengancam. Aku diteror dan akhirnya berbuah menyudutkan. Bahwa akulah yang
bersalah.
“Kau harus pergi bang.
Sejauh mungkin,” ujar Gyza akhirnya dengan nada parau. Aku tersentak, bagaimana
mungkin orang yang aku percaya dan sayangi selama ini tega-teganya berkata
demikian. Bahwa aku harus meninggalkan semua yang berharga dan kumiliki.
Padahal satu-satunya orang yang percaya bukan aku pelaku pembunuhan itu
bukankah Gyza, kekasihku. Tapi kenapa, tega-teganya dia memilih jalan untuk
ikut menjauhiku.
“Tap, tapi bukan abang
pelakunya Giz. Demi Allah,” kataku tak habis pikir.
Kemudian sepi. Tak ada kata-kata lain yang terucap dari bibir kami. Perasaanku masih campur aduk. Heran. Terkejut. Terakhir, tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba gadis disampingku menangis. Tubuhnya terguncang di bahuku.
Kemudian sepi. Tak ada kata-kata lain yang terucap dari bibir kami. Perasaanku masih campur aduk. Heran. Terkejut. Terakhir, tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba gadis disampingku menangis. Tubuhnya terguncang di bahuku.
“Demi Allah bang, Giza
percaya abang bukan seorang pembunuh. Tapi inilah kenyataannya, mereka melihat
abang di sana, motor abang juga di sana bukan? Demi masa depanmu bang, pergilah
sejauh mungkin,” katanya dengan bibir bergetar.
“Tapi Giz,” jawabku
pelan.
“Tak ada tapi-tapian
bang, pergilah selagi sempat,” jawabnya datar sambil menatap kosong deretan
lampu-lampu dermaga yang tak semua menyala dan suram. Aku terenyak. Sirna sudah
kenangan manis itu, lenyap sudah keinginan untuk membanggakan kedua orangtua
dan keluarga. Hidup normal bersama orang yang aku sayang dengan keluarga kecil.
Hapus sudah mimpi. Saat itu, rasanya ingin aku menyerahkan diri ke kantor
polisi. Menempuh proses hukum yang penuh intrik. Namun itu tak kulakukan,
karena aku yakin percuma. Dari uraian beragam pesan singkat yang kubaca di
ponselku, ternyata yang terbunuh itu seorang pejabat penting di Kotaku. Lagi
pula siapalah aku dan keluargaku, kami bukanlah orang dari kalangan atas.
Malam ini, ketika trompet
elektromekanik cargo yang membawaku berlayar meraung menyapa dari kejauhan Port
of Shanghai yang tak pernah tidur. Seperti yang sudah-sudah, di setiap samudera
dan dermaga tempat ku berlabuh, baru saja kulayarkan rahasia kerinduan sebagai balasan
membuncah rasa pada kalian. Dan ini kali, beginilah bunyi pesan yang mengapung
itu:
Buat kalian yang
kusayang…
Beberapa jam kedepan dan
jika Allah menghendaki, maka sampailah pelarianku untuk sandar sejenak di Port
of Shanghai. Gyza, bahagia hatiku sebab engkau masih sudi mengabarkan beritamu.
Seperti janji kita, aku tak akan membalas semua itu secara langsung. Tak
mengapa, buatmu doa dan harapku tak pernah putus. Semoga engkau selamat
melahirkan anak ke-2 mu. Seperti inginmu dan harapan suamimu. Jika terwujud,
bayimu kelak pasti akan tumbuh menjadi gadis cantik dan memiliki kecemerlangan
hati sepertimu.
Emak, Bapak dan
Kakak-kakakku yang selalu kurindukan.
Semoga kalian selalu diberikan ketabahan dalam menghadapi berbagai ujian tuduhan yang hingga kini tak lekang. Sebagaimana aku, hingga detik ini terus tabah berjuang menjalani hidup sebagai orang terbuang di pelayaran yang entah sampai kapan membawaku kembali keharibaan kalian.
Semoga kalian selalu diberikan ketabahan dalam menghadapi berbagai ujian tuduhan yang hingga kini tak lekang. Sebagaimana aku, hingga detik ini terus tabah berjuang menjalani hidup sebagai orang terbuang di pelayaran yang entah sampai kapan membawaku kembali keharibaan kalian.
Namun yang pasti, kepada
setiap lumba-lumba yang kujumpai, begitupun setiap menjejakan kaki di pelabuhan
yang kusinggahi, selalu kunyatakan bahwa aku bukan seorang pembunuh keji.
Semoga mereka menyampaikan pesan yang hanyut ini ke pangkuan kalian, bahwa aku
hanya kurang beruntung pada saat peristiwa itu terjadi dan semua ini.
(Port of Shanghai, 2015)
*Kempunan
*Kempunan
***
Catatan kaki:
*Kempunan ; Kesialan/kecelakaan yang diderita seseorang karena sesuatu yang tidak terpenuhi atau berjalan sesuai keinginan.
*bagian pertamanya ada DI SINI
Catatan kaki:
*Kempunan ; Kesialan/kecelakaan yang diderita seseorang karena sesuatu yang tidak terpenuhi atau berjalan sesuai keinginan.
*bagian pertamanya ada DI SINI
(Borneo - Indonesia, Mei 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar