Dropdown

Jumat, 22 Mei 2015

NANNY (BAG.9)

a


Selamat Tinggal Dilan
Non Lea memasuki kamar Dilan dengan membawa selembar kertas dan pena.
"Nanny, kontrak kerja keduamu. Tanda tangan disini," perintahnya sambil menyodorkan pena dan meletakkan kertas di hadapan Najma.
"Maaf, Non Lea, saya tidak memperpanjang kontrak."
"Apa! Lea tidak suka yang begini. Bagaimana Dilan?" katanya sedikit panik. Najma tersenyum saja menanggapi.
"Jangan terlalu khawatir. Ambil saja nanny baru, serahkan pada saya. Saya baru pergi saat Dilan sudah mengenal dan nyaman bareng nanny barunya. Saya masih banyak waktu."
"Yah, nanny selalu punya banyak cara." kata Non Lea sambil berlalu keluar kamar.
Meja makan. Di sanalah setiap kabar baru tersampaikan. Saat sarapan dan makan malam. Di waktu itu saja keluarga ini berkumpul. Selepasnya dunia berbeda bagi mereka. Kabar rencana Nanny Dilan mengundurkan diri untuk menikah, merebak pagi ini.
***
Najma memperhatikan Dilan yang tengah menapakkan kaki di rumput taman yang basah oleh embun pagi. Rasa geli dikakinya membuat Dilan tampak lucu.
"Ini terapi yang baik untukmu bayi Dilan,"gumam Najma, yang kemudian terkejut mendengar seseorang menguap di dekatnya.
"Ko Lip?"
"Nanny, benar-benar akan menikah?" tanya Ko Lip dengan wajah ngantuknya. Najma tersenyum dan mengangguk.
"Kau bahkan tidak pernah mengambil cuti. Kapan pacarannya?"
"Saya tidak melakukan itu."
"Jadi bagaimana bisa menikah?"
"Itulah adat kampung halaman. Wanita yang sudah dewasa, lalu seorang pria menginginkannya, dan datang pada orang tua untuk meminang," kata Najma menjelaskan. Ko Lip nampak terbengong.
"Begitukah?"
"Ya. Mirip seperti islam mengajarkan. Bedanya, islam mengijinkan pertemuan pertama yang di sebut ta'aruf. Saat ta'aruf kurang berkenan di hati, baik wanita atau prianya boleh menolak."
"Lalu ..., kau tidak bisa menolak?"
"Kenapa harus menolak? Pria itu pilihan keluarga, pasti baik. Kami melakukannya turun temurun dan menyukainya."
"Kau tidak menyukaiku, em... maksud Lip, seperti kebanyakan wanita suka."
Najma jadi tertawa melihat tingkah Ko Lip. Tapi kemudian memasang wajah serius.
"Tentu saja suka, Ko.... Siapa yang tidak suka pria tampan dan kaya? Tapi sukanya seorang untuk menikah tidak sederhana. Perbedaan yang banyak, hari akan jadi susah dilalui."
"Lip, ajarkan nanti."
"Seperti kamus dan buku yang Ko Lip kasih kemarin-kemarin?"
Setelah menjadi teman, Ko Lip memang sering mengajari Najma banyak hal. Juga memberi buku-buku dan kamus bahasa untuk dipelajari. Terutama dua bahasa keseharian mereka English dan Mandarin. Walaupun Najma juga belajar bahasa asing di yayasan pendidik calon nanny, Najma tetap bersemangat belajar. Nanny wajib mengenal bahasa asing, minimal percakapan sederhana.
"Jadi, Nanny tahu maksud Lip?"
"Ya. Tapi jangan memaksakan diri. Non Santi kelihatannya cantik juga baik."
"Lip suka muslim sepertimu. Diri yang selalu terjaga itu, luar biasa."
"Ko Lip bahkan masih katolik. Bersama Non Santi, Anda bisa mulai belajar dari sekarang, dan jadi muslim yang sejati," saran Najma sambil tersenyum.
"Ok." kata Ko Lip sambil mengangkat bahu dan berlalu pergi.
***
Najma berpapasan dengan ibu Rian yang dipanggil,Non Fung.
"Baguslah, aku tidak harus melihatmu lebih lama."katanya pelan sambil berlalu. Tapi kemudian menghentikan langkah tanpa berbalik mendengar Najma membalas ucapannya.
"Tentu Anda senang. Tapi saya tidak peduli. Orang besar seperti Anda, mengkambing hitamkan orang kecil. Itu bukan apa-apa,"kata Najma tegas. Dengan mengepalkan tangan, Non Fung berlalu cepat menuju kamarnya.
***
Dari balik kaca, Najma memperhatikan Dilan, dengan mata kabur karena basah. Dilan menolak semua makan malam yang diberikan oleh nanny barunya. Mata kecilnya mencari-cari sosok yang dekat dengannya. Bahkan ibunya tidak dipedulikan. Tidak tahan, akhirnya Najma masuk dan mengambil sendok dari tangan nanny baru.
"Sekali lagi, biar saya bantu Dilan makan malam," katanya serak. Dilan pun makan dengan lahap. Non Lea menarik nafas berat.
Akhirnya waktupun tiba. Saat Najma harus pergi. Ditatapnya Dilan yang bermain- main di taman bersama Mattiew, kakaknya. Najma tidak ingin, Dilan melihatnya pergi. Semalam Najma sudah berpamitan pada semuanya. Juga meminta maaf pada Pak Sopyan dan Non Fung walau tidak dianggap sekalipun.
"Selamat tinggal Dilan, semoga kau tetap sehat dan baik- baik saja. Juga... Cepat besar."
Tamat
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar