Dropdown

Senin, 15 Juni 2015

Mengejar Cinta Musiyem (bag.2)


Karya: Khoirul Muhtaromi

Pertanyaan Musiyem soal Dewi melumerkan semangatku. Kopi nikmat khas Thailand tak mampu menghapus nama itu dari ingatan. Gelombang lembut dari rambut tebalnya, masih terekam dengan baik. Dagu lancipnya juga masih menancap kuat dalam memori.
Sayangnya semua keindahan itu hanya penghias hayalku saja. Tersimpan jauh di lubuk hati. Entah bagaimana Musiyem bisa melihatnya.
"Bener, kan?" tanya Musiyem membuyarkan lamunan. "Kalau denger nama Dewi kamu jadi kaku. Lucu, ih!"
"Masa, sih?" tanyaku.
Musiyem berdiri. "Senyumnya lebih menggoda dari kopi termahal di dunia," katanya meledekku.
"Ngaco, kamu!" umpatku menanggapi.
"Eh, kalau kamu mau nyoba kopi termahal di dunia, di sini tempatnya." Musiyem kembali duduk. "Namanya kopi gajah. Kalau kopi luwak itu prosesnya dari kotoran luwak, yang ini diproses dari kotoran gajah."
"Beneran, nih?" tanyaku penasaran. Cerita soal kopi selalu menarik perhatianku.
"Lho, pemandu dari hotel nda kasih info?" balas Musiyem.
"Dia cuma cerita soal O-leang, kopi es dengan berbagai rasa buah," terangku.
"Yang ini lebih oke," kata Musiyem berpromosi, "di sini, dikenal dengan Black Ivory. Harga kopi mentahnya nyampai 800 bath."
Pikiranku langsung menghitung. Jika dirupiahkan itu sekitar 10 miliar. Fantastis! "Kamu udah nyoba?"
Musiyem nyengir. "Belum. Secangkir 500 ribu. Duitku mana cukup? Tapi kalau ditraktir, mau banget."
Aku cuma tertawa. Musti coba, nih! batinku.
"Udah, yuk!" ajak Musiyem. "Hari ini, kami akan membahas dengan pengelola museum soal patung lilin presiden kita, Bung Karno. Jadi aku nda bisa nemenin kamu."
"Terus aku gimana?" tanyaku bingung, merasa pengejaran cinta yang sia-sia.
"Ya kamu mendingan pulang, raih hati Dewi!" jawab Musiyem sok dewasa.
"Memang dia mau?" tanyaku bodoh.
"Yaelah! Aku juga perempuan. Kalau kamu nda ngomong mana dia ngerti."
Aku berdiri. Merasakan ada sedikit api semangat menyala.
"Begitu, ya?" kataku pada diri sendiri.
"Kalau begitu aku langsung pulang aja. Makasih, Yem! Kamu sahabat yang baik," pamitku.
"Kalau mau selfie sama Angelina Jolie, di museum udah ada patung lilinnya," tawar Musiyem dengan canda khasnya.
Aku hanya tertawa.
Selesai.
Gading, 14.06.15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar