Dropdown

Minggu, 14 Juni 2015

Mengejar Cinta Musiyem (bag.1)

Karya: Khoirul Muhtaromi
Aku turun dari taksi tepat di depan Museum Madame Tussauds Bangkok. Dari Mbok Darpi, aku dapat kabar jika Musiyem terbang ke negeri Thailand ini.
Pertama kenal gadis ini, aku sempat dibuat jengkel.
"Ini saudara saya, Mas," kata Mbok Darpi saat mengenalkan. Aku memang memintanya untuk mencari pengganti sementara, karena Mbok Darpi mau pulang kampung untuk beberapa hari.
"Siapa nama kamu?" tanyaku sambil melepas dasi. Hari itu pekerjaan di kantor menumpuk sehingga aku ingin rehat sejenak di rumah karena malamnya, masih harus menemui seorang klien di Jakarta Convention Center. Padahal itu malam Minggu. Sangat menyebalkan!
"Saya Musiyem, Tuan," jawabnya dengan senyum ramah.
"Panggil Mas aja!" kataku sambil melangkah ke kamar karena harus mandi.
"Eh, Yem!" panggilku sebelum membuka pintu. "Tolong buatin aku kopi!"
"Pakai gelas, Tuan eh Mas?" Musiyem mendekat.
"Kamu pernah lihat orang minum kopi pakai ember?!" sahutku sewot. Kesal sekali dengan pertanyaan bodohnya.
Mbok Darpi segera menghampiri, berbisik pada Musiyem lalu mereka melangkah ke dapur.
Hari-hari berikutnya, Musiyem makin menjengkelkan, terutama nasehat-nasehatnya soal hal-hal yang kulakukan. Memangnya dia siapaku?
Selang dua minggu, Mbok Darpi datang dari kampung, dan Musiyem pulang.
Mustinya aku senang dengan kepulangannya. Ternyata tidak! Aku merasa kehilangan.
Kebersamaan yang terjalin, meski cuma dua minggu melahirkan kerinduan. Aku merindukan sosok perempuan yang telaten mengurus segala tetek bengek urusan rumah. Aku merindukan canda konyolnya. Aku merindukan Musiyem. Aku harus mengejarnya dan meraih cintanya.
Ini yang sedang kulakukan di negeri Gajah Putih ini.
"Mas Abimanyu!" Sebuah suara memanggilku.
Itu Musiyem. Aku menyambutnya, sapa basa-basi hingga akhirnya memutuskan ngobrol di kedai kopi terdekat.
"Aku dapat beasiswa dari kampus untuk mempelajari patung lilin di museum ini," terang Musiyem yang ternyata mahasiswi Universitas Seni Indonesia. Menggantikan Mbok Darpi tempo hari, hanya pekerjaan sambilan untuk menambah uang saku. Rasa kagumku bertambah.
"Aku suka kamu, Yem!" kataku tanpa ragu.
"Hahaha...!" Tak kusangka dia tertawa.
"Terus, bagaimana dengan Dewi?" tanya Musiyem tenang sambil mengaduk Kaffae Yen, es kopi susu khas Thailand. "Aku tahu Mas Abi menyukainya."
BERSAMBUNG
Gading, 13.06.15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar