Dropdown

Selasa, 14 Juli 2015

NENEKKU MASIH PERAWAN #2 karya: Dudunk Sakelan

i

MALAM ini, aku jadi satpam di rumahku sendiri. Nenek yang pergi sejak sore tadi, belum juga kembali. Waduh, jangan-jangan sudah dimutilasi oleh orang yang dipanggilnya Mas Bram itu. Salahnya nenek sih, keganjenan. Jatuh cinta tanpa berunding dulu sama aku. Jatuh cintanya, sama orang kaya lagi!
Kalau sampai ayam jantan berkokok, nenek belum datang juga, aku harus lapor pada Pak Khusni Yakob, kepala hansip di desa ini. Biar---
Tiiit ..! Tiiiiittt ...!


Lha, itu, di depan ada mobil sedang membunyikan klakson! Aku buru-buru ke luar. Menghampiri mobil yang berhenti di depan pintu pagar. Dengan jelas kulihat, seorang cewek cantik keluar dari mobil, lalu disusul oleh nenek.
Hmmh, tadi yang menjemput cowok ganteng, sekarang yang mengantarkan pulang, seorang cewek cantik. Sungguh membingungkan!
Tambah bingung lagi, ketika cewek itu mengarahkan pandang ke arahku dan melemparkan senyum. Weleh, weleh, jantungku langsung berdar-der-dor, bagai bunyi petasan di malam takbiran.
"Kenapa bengong, Dunk?" Nenek tahu-tahu sudah berada di depanku.
"I ... itu, siapa, NeK? Kenapa nggak diajak mampir dulu?" tanyaku dengan sedikit kecewa. Terlebih begitu cewek cantik itu, masuk kembali ke mobilnya, dan pergi bersama mobilnya.
"Kamu naksir?" Nenek tersenyum meledek. Lalu meninggalkan aku dengan cuek angsa.
"Nenek belum menjawab pertanyaanku!" Aku mengejar nenek.
"Nenek cape, Dunk! Sudah, ceritanya besok saja," ucap nenek enteng saat kakinya yang dibungkus sandal berhak tinggi menapaki bibir teras.
Selanjutnya, nenek tidak bisa diintrogasi lagi. Ia sudah masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya rapata-rapat.
***
BESOKNYA aku bangun kesiangan. Maklum, sampai tengah malam aku belum bisa tidur. Pikiranku ingat terus pada cewek cantik yang semalam telah melempari aku sepotong senyuman.
Melihat pintu kamar nenek terbuka, aku segera masuk. Waduh, benar-benar nenek, ganjennya makin mengkhawatirkan. Kulihat ia duduk di meja rias. Sedang meraut alisnya.
"Gimana, Dunk? Makin cantik nggak, Nenek?" Nenek tersenyum melihat ke arahku yang terlihat di cermin.
"Iya, Nek, cantik," jawabku tanpa pikir panjang.
"Mas Bram pasti makin tergila-gila pada Nenek!" Nenek melebarkan senyumnya. Memperlihatkan gigi palsunya dengan ikhlas.
Mau tidak mau, aku ikut tersenyum juga. Sekadar menyenangkan hati nenek yang tengah kasmaran. "Mas Bram itu cowok yang kemarin menjemput Nenek, ya?"
"Yang ganteng itu?"
"Iya."
"Bukan. Dia itu putra sulung Mas Bram. Namanya Solihin. Masa, Mas Bram sebrondong itu? Hihi, ya nggak-lah. Tuaan 'dikit."
"Lalu, cewek yang semalam nganterin Nenek, siapa?" usutku lebih lanjut.
"Putri bungsu Mas Bram. Namanya Rahma," sahut nenek kalem sambil beralih menimpuki pipinya dengan pemerah pipi.
Waduh, kalau nenek jadi menikah dengan Mas Bram-nya, berarti nanti aku akan menjadi kemenakan cewek yang bernama Rahma itu. Tidak, tidak, pernikahan itu tidak boleh terjadi. Aku yang harusnya menikahi Rahma.
"Kamu naksir calon anak tiri Nenek, Dunk?" usik nenek tiba-tiba.
"Eh, i ... iya, Nek. Mending Nenek saja yang ngalah ya?"
"Maksudmu, Nenek jangan menikah dengan Mas Baram?"
"Iya, Nek. Ya?"
"Nggak bisa begitu, Dunk. Nenek sudah terlanjur cinta sama Mas Bram," ujar Nenek sambil mengeluarkan air mata. "Masa, kamu ingin nenek selamanya perawan?"
Haaah ...?! Nenekku masih perawan? Ada-ada saja nih, nenek.
"Dunk, ijinkan nenek bahagia!" seru nenek dengan air mata yang mulai meleleh ke pipinya.***

BERSAMBUNG
Bumi Kerapan, 140715

Edisi selanjutnya ada di di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar