Dropdown

Rabu, 15 Juli 2015

NENEKKU MASIH PERAWAN #3 oleh: DUDUNK SAKELAN



SORE yang berselimut kabut. Aku duduk dengan lesu di bawah pohon tomat. Pikiranku benar-benar kacau. Bagaimana tidak, semua teman di Cerpen-Ku menyuruhku mengalah pada nenek. Masa, hanya karena nenek sudah tua, aku harus mengalah? Padahal cinta adalah soal hati---
"Eh, rupanya kamu ada di sini, Dunk? Pantesan saja dicari di kamarnya, nggak ada!" Nenek tiba-tiba sudah bergelayut manja di sebelahku.
Aku mendengus saja. Malas sekali untuk meladeninya. Mending diam seribu bahasa.
"Dunk, besok kan sudah lebaran. Menurut kamu, enaknya Mas Bram dibelikan baju apa, ya?"
Aku kembali mendengus.
"Mas Bram itu ...."
"Alaaa ... Nenek! Mas Bram terus dari tadi yang diomongin?!" Aku berdiri. Lalu, jumpalitan ke atas pohon tomat.
"Dudunk ...! Kamu kenapa, sih? Dari semalam, kok uring-uringan mulu?" Nenek memandangku dengan pandangan cemas, "ayo, turun ...! Nanti jatuh, lho!"

"Nggak mau!" seruku kesal.
"Terus ... kamu mau ngapain di situ?"
"Maun bunuh diri. Percuma hidup, kalau hati tercabik-cabik."
"Siapa yang menyakiti kamu?"
"Nenek jangan pura-pura nggak tahu, deh!"
"Kamu naksir, Mas Bram?"
"Putrinya."
"Iya, nenek kan sudah setuju."
"Benarkah, Nek?" Aku langsung ngeloyor turun, dan duduk dengan manis di sebelah nenek.
"Iya. Kamu menikahi Rahma, dan nenek menikah dengan Mas Bram. Mantep, kan? Kamu jadi menantu nenek nantinya."
"Ya ... nggak bisa begitu, Nek. Apa kata Ustadz Achmad Solihin nantinya? Nggak ah, aku nggak mau!"
Nenek menatapku sambil tersenyum. "Dunk, yang nggak boleh menikah itu, kalau kamu benar-benar cucu nenek. Lha, kamu itu sebenarnya bukan cucu nenek, kok."
"Haah ...?!" Aku tersentak kaget mendengarnya, "terus, kalau bukan cucu Nenek, aku ini cucu siapa?"
"Nggak tahu. Anak siapa juga nenek nggak tahu."
"Kok Nenek bisa nggak tahu?"
"Karena Nenek dulu menemukan kamu di bawah pohon tomat ini. Kamu masih orok ketika itu. Lalu ,nenek yang baik hati ini, merasa kasihan. Kamu nenek rawat sampai sebesar ini."
"Benar, Nek?" tanyaku sedih.
"Iya. Nenek sendiri belum punya cucu. Menikah saja, belum. Makanya, nenek bahagia banget ketika sahabat lama nenek, Mas Bram, mau melamar nenek."
"Nek, maafkan aku, Nek!" Aku memeluk pohon tomat.
Nenek menangis sesegukan. "Dunk, ini nenek. Kenapa kamu memeluk pohon tomat?"
"Sengaja, Nek. Kalau memeluk Nenek, takut Kakek Bram cemburu." Aku makin erat memeluk pohon tomat.
"Jangan memanggil kakek, ah! Sebentar lagi kan Mas Bram bakal jadi mertua kamu. Jadi, mulai sekarang belajar memanggil papa. Oke?"
"Iya, Nek."
"Mama."
"Eh, i ... iya, Mama."
Nenek ... eh, mama, tersenyum senang mendengar ucapanku.***

SELESAI
Bumi Kerapa, 150715
*Edisi sebelumnya ada di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar