Dropdown

Kamis, 30 Juli 2015


Puisi- Puisi Kepedulian dan Perenungan
Budy Cahyady Putra Ratu


Ah kau...

Aku tahu kau
Seorang anak duduk di lorong Gramedia
Isenh membaca bukubuku sembari menunggu jam sekolah usai
Lalu kau mencintai sastra
Dan berkoar sebagai seorang pujangga
Ah kau...
Datanglah ke desa tertinggal
Kembali sekolah SD di sana
Tidak perlu lulus, cukup sampai kelas lima
Ah kau
Di sana kau harus menjajakan daun pisang jika ingin jajan
Itupun bila laku terjual
Harapan untuk jajan hari ini tinggal impian
Dan kau akan merasa senang, saat menemukan teh kotak kosong
Dengan hati riang kau bawa pulang
Ah kau...
Di sana kau akan merasakan pilu
Untuk bayar sekolah kau harus merelakan si jalu ayam kesayanganmu
Atau kambingmu harus kau tukar dengan seragam putih merahmu
Dan harus kau tahu
Di sana belum tersentuh listrik
Kau akan merasakan mata kananmu membengkak
Dari lampu minyak tanah saat belajar malammu
Ah jika ini kau
Apa pernah berpikir sebagai pecinta sastra?
Apa pernah berpikir, kalau kau seorang pujangga?
Sahabat...
Datanglah kesana
Mari beradu aksara
Karena disana...
Tidak ada rengek manja, untuk menjadi perangkai aksara
Dan aku
Tidak pernah menghabiskan uang ayahku
Hanya untuk beradu aksara

======================================== 

Selasa, 28 Juli 2015

PERTEMPURAN oleh: Musiyem




Duh ... Melihat musuh yang begitu ganteng dan keren-keren, Pasukan srikandi dipimpin komandan Sutini Tini yang beranggotakan Esi Sunnysunny, Puspa AndiniPercaya Sama ZalikaSastra DewitaZenith AzzuraRossiSyam Aminah dan Wirda Fathiya Al Faiq tampaknya akan menyerah tanpa perlawanan. Pasukan musuh dari seberang memang luar biasa ganteng dan ... Hight quality brondy. Pasukan tempur mereka dipimpin Tedy Maulana Ibrahim dengan prajurit brondynya yaituShobikhul IrfanEmNu Rushob AchElCefri D'alberqueque, pasukan khusus dan terlatih dipimpin komandan yang ganteng yaitu Arie Tombiberanggotakan Dudunk SakelanArya PurnamaAchmad SolihinNano Setyoko Andro Wp.

Sabtu, 25 Juli 2015

KEMPLING PENGIN NONTON FILM PORNO karya: Yan Hendra

a


Meski usianya sudah jadul ditandai dengan dengkul yang sudah merudul, tapi semangat Kempling
tetap joss. Terlebih dia sudah lama sekali menduda. Terakhir waktu dia masih hobi nonton layar tancap yang bintang utamanya Eva Arnaz dan Suzanna. Meski pulang sampai pagi, bareng dengan tukang kacang rebus dan bandrek, nggak ada yang ngelarang. Sebab Maryatun, sang istri tercinta, sedang asik mengais rezeki di negeri orang. Saking asiknya sampai lupa pulang dan kasi berita, sampai sekarang. Otomatis suplai dana untuk Kempling pun terputus. Saldonya kosong melompong.

Selasa, 21 Juli 2015

JODOH EMANG MAKNYUS karya: Yanuar Hendra



Kisah ini terjadi berpuluh tahun lalu, saat hape belum marak, gadget belum ada, komputer masih jaman DOS dan pentium belum dikenal. Jadi, ya pastinya belum ada facebook, twitter, apalagi instagram. Chatting di BB, WA, Line, dan sebagainya malah belum ada dalam angan-angan. Media online, jangan tanya. Website, blogspot, wordpress, dan sebagainya...kagak ada! Primadona saat itu koran dan majalah. Hii, jadul banget, ya?
***
Netty yang baru menikah minta libur dua hari, dan sebagai partner satu-satunya, mau ga mau ya mesti setuju. Siapa lagi, wong yang jaga toko cuma dua orang. Tapi saat pagi di hari kedua, perempuan pemelihara jerawat itu muncul. Dari balik kacamata tebalnya seperti ada tulisan: please... please...

Senin, 20 Juli 2015

ORANG MISKIN DILARANG MATI karya: Yanuar Hendra



Waktu Kempling bilang emaknya meninggal, sebagai sohib kental, saya langsung terbang ke rumah kontrakannya yang sempit, kumuh, dan sebagian terendam banjir. Tiba di sana beberapa tetangga sudah berkumpul, dan di ruang tamu terlihat jenazah emaknya Kempling terbujur kaku berselimut kain batik panjang. Dua orang kerabat sedang mengaji di dekatnya. Sementara Kempling hanya duduk di dekat mereka dengan kopiah belel warisan bapaknya. Wajahnya yang sangar, tetap tak mampu menyiratkan kesedihan hatinya.
Saya duduk di sebelahnya, ikut diam membisu. Tapi dasar Kempling, diamnya ternyata bukan semata-mata berduka. Buktinya dengan berbisik dia berkata, "Gue bingung buat bayar kontrakan berikutnya. Juga buat makan sehari-hari. Selama ini kan emak yang nanggung..."

Satu lagi persembahan cergo alias cerita gokil dari Musiyem

A Y A M


Menjelang lebaran, Arie Tombi duduk termenung di kandang ayamnya. Dia pandangi ayamnya satu persatu. Ada rasa iba menelusup ke hatinya. Ayam jago yang diberi nama Luther sebentar lagi akan pindah kandang, berpindah ke panci dan menjadi ayam opor. Si Bieber ayam jago abg pun harus masuk wajan menjadi ayam semur. Apa boleh buat THR dari Bos odong-odong Yan Hendra ditunda hingga waktu yang tak ditentukan.
"Rie, cepet potong ayamnya! Ga usah pakai diajak ngobrol!" suara emakZenith Azzura mengagetkannya.
"Iya, Mak! Duh ... tapi kasihan Mak!" jawab Arie sambil memeluk si Luther.
"Halah! Emang itu nasibnya ayam kudu dipotong, udah cepet keburu sore!" Emak Zenith gemes lihat Arie mesra-mesraan sama si Luther.

Minggu, 19 Juli 2015

Puisi-puisi Keprihatinan dan Renungan Sastra Dewita

SATU PERCAKAPAN SENDU SEBELUM HARI FITRI YANG KAN DATANG BERTAMU.

"Bunda ... kuingin baju baru.
Berenda dan berpita kupu-kupu.
Kuingin sepatu merah itu Bunda.
Juga tas mungil berkepala boneka.
Belikan Bunda kuingin seperti mereka
yang tinggal di rumah gedong sana."
"Anakku sayang ... sabar ya nak
Bunda selesaikan cucian ini dulu.
Esok jika upahnya ada akan Bunda belikan nak.
Tapi bukanlah baju berenda dan berpita kupu-kupu cukuplah sehelai baju katun kaki lima seharga tiga puluh lima ribu.
Bukan pula sepatu merah mengkilat itu nak, Bunda hanya bisa belikan sepasang sandal jepit seharga lima belas ribu.
Dan tas berkepala boneka itu buat apa nak jika nanti tak kan terisi apa-apa.
Sabar nak, Bunda hanya berupah seratus ribu.
Tapi esok lebaran kita kan makan enak, Bunda akan membeli tahu dan membuat sambal yang enak, masih ada sisa limapuluh ribu buat hidangan lezat kita nanti.
Nak sabarlah yang penting kau tetap sekolah agar tak menjadi seperti Bunda."
"Bunda ... kapan aku bisa seperti anak-anak itu Bunda, bermain dengan sepeda, berbaju bagus, dengan pita di kepala, tinggal di rumah besar berpagar tinggi duuuh ... pasti senyaman istana."
"Esok, nak jika kau telah menjadi seorang bidan, kau akan seperti mereka memiliki anak-anak yang tak kan pernah merasakan sepertimu maka berjanjilah Nak untuk terus menjadi anak yang pintar agar kau bisa seperti mereka dan Bunda kan terus berjuang tuk mewujudkan mimpimu Nak."
"Bunda ... aku berjanji, aku akan meraih mimpi-mimpiku, aku tak ingin tinggal di emperan-emperan toko ini, aku tak ingin lagi bergumul dengan sampah, aku ingin membelikan Bunda baju yang bagus, aku ingin mengajak Bunda makan di rumah makan dekat pasar itu, aku ingin kita tinggal di rumah yang ada kasurnya Bunda maka restui dan doakan aku selalu Bunda."
" Anakku ... doa Bunda tak akan pernah putus untukmu karena hanya itu lah satu-satunya yang bisa Bunda berikan bagi hidupmu. Hanya setangkup doa milik Bunda yang berharga Nak, sekarang kemarilah sayang ... lelaplah engkau dalam kasih Bunda, esok masih tetap harus kita lalui walau sulit tapi percayalah Tuhan selalu bersama kita."
Bumi Andalas, 18/7/2015
Special to Komunitas Anak Jalanan (KAJ. BUKIT)

Rabu, 15 Juli 2015

NENEKKU MASIH PERAWAN #3 oleh: DUDUNK SAKELAN



SORE yang berselimut kabut. Aku duduk dengan lesu di bawah pohon tomat. Pikiranku benar-benar kacau. Bagaimana tidak, semua teman di Cerpen-Ku menyuruhku mengalah pada nenek. Masa, hanya karena nenek sudah tua, aku harus mengalah? Padahal cinta adalah soal hati---
"Eh, rupanya kamu ada di sini, Dunk? Pantesan saja dicari di kamarnya, nggak ada!" Nenek tiba-tiba sudah bergelayut manja di sebelahku.
Aku mendengus saja. Malas sekali untuk meladeninya. Mending diam seribu bahasa.
"Dunk, besok kan sudah lebaran. Menurut kamu, enaknya Mas Bram dibelikan baju apa, ya?"
Aku kembali mendengus.
"Mas Bram itu ...."
"Alaaa ... Nenek! Mas Bram terus dari tadi yang diomongin?!" Aku berdiri. Lalu, jumpalitan ke atas pohon tomat.
"Dudunk ...! Kamu kenapa, sih? Dari semalam, kok uring-uringan mulu?" Nenek memandangku dengan pandangan cemas, "ayo, turun ...! Nanti jatuh, lho!"

Cara Meminimalisir Kata-Kata


Dalam banyak kasus banyak terlihat pengulangan-pengulangan yang tidak penting pada suatu karangan. Mungkin bukan persoalan salah atau benar, tetapi secara estetika menjadi kurang manis dan indah untuk dibaca. Di samping memang terjadi pemborosan kata.
Contoh: 
Malam Minggu kemarin, aku dan ibu pergi ke pasar malam. Aku dan ibu membeli baju baru. Baju baru itu berwarna merah. Baju berwarna merah adalah kesukaanku.
***
Bandingkan dengan ini.
Malam Minggu kemarin, aku dan ibu pergi ke pasar malam. Kami membeli baju baru berwarna merah, kesukaanku.
***
- Aku dan ibu pada kalimat kedua, diganti ' kami' untuk efisiensi.
- Baju baru itu, pada kalimat ketiga dihilangkan, sedang berwarna merah dimasukkan pada kalimat kedua.
- Kalimat keempat dipenggal, lalu ambil 'kesukaanku' untuk disambung.
- Akhirnya jadi paragraf baru, hanya dengan dua kalimat.
***
Contoh paragraf di atas sangat sederhana. Pada kebanyakan kasus, kita sering 'terperangkap' pada pengulangan kata ganti orang, dan kata sambung, seperti: saya, aku, kau, dia, nya ... Dan, yang ....

Baik, segitu aja dulu, ya?
Semoga bermanfaat.

***

TIPS CARI IDE MENULIS



Biasanya, mereka yang hobi nulis, entah puisi atau cerpen, kalau lagi kasmaran dan patah hati, mendadak kebanjiran ide. Emosi diluapkan dalam bentuk syair dan cerita. Tak peduli tulisan itu masuk dalam katagori apa. Pokoknya tulis, dan semprot. Hajar, bleh!
Bener, kan? smile emotikon
Nah, bagi yang kondisi hatinya biasa-biasa saja, kalau ingin kebanjiran ide, ada tips menarik, yaitu:
1. Dengarkan musik galau, melow, dan patah hati, biar "kesambet" auranya. Pura-puranya kamu yang mengalami kejadian itu. Setelah dapat auranya, mulailah menulis.
2. Dengar musik riang, komedi, dan semangat ala country, caranya sama. Berpura-pura kamu yang mengalami, lalu serap auranya, setelah itu baru coba bikin cerita.
Oke, sekian tipsnya. Semoga bermanfaat. Selamat mencoba!

Selasa, 14 Juli 2015

NENEKKU MASIH PERAWAN #2 karya: Dudunk Sakelan

i

MALAM ini, aku jadi satpam di rumahku sendiri. Nenek yang pergi sejak sore tadi, belum juga kembali. Waduh, jangan-jangan sudah dimutilasi oleh orang yang dipanggilnya Mas Bram itu. Salahnya nenek sih, keganjenan. Jatuh cinta tanpa berunding dulu sama aku. Jatuh cintanya, sama orang kaya lagi!
Kalau sampai ayam jantan berkokok, nenek belum datang juga, aku harus lapor pada Pak Khusni Yakob, kepala hansip di desa ini. Biar---
Tiiit ..! Tiiiiittt ...!

KENANGAN Karya: Tedy Maulana Ibrahim

Keningku mengerut mengingat kenangan Kenanganku mengerucut pada kening Keningmu mungkin tak menyimpan kenangan tentang keningku. Kenanglah saat keningmu keningku beradu pada satu kata,nyaitu secangkir kopi. Secangkir kopi menyatukan keningku keningmu pada kenangan tentang kopi. Ted juli 15 puisi berikutnya »

Senin, 13 Juli 2015

NENEKKU MASIH PERAWAN #1 Oleh Dudunk Sakelan

a

BELAKANGAN aku melihat nenek berubah jadi ganjen. Rambutnya yang sudah putih semua, dicat warna hitam. Sehingga rambutnya yang panjang terurai itu, persis seperti pemeran iklan shampo Pantene di teve. Sementara make-up wajahnya, alamaak ngartis benar. Kupikir ini nenek lagi kesambet atau sedang mengalami puber, ya? Kalau lagi puber, puber ke berapa?
"Tolong Dunk, gigi nenek disikat!" seru nenek suatu hari sembari mencopot gigi palsunya.
"Nenek ada-ada aja! Sikat sendirilah, Nek!"
"Tolong dong, nenek buru-buru, nih! Sebentar lagi Mas Bram akan kemari, ngapelin nenek."
Mas Bram? Siapa, tuh? Olala, bisa gila aku nanti lama-lama berada di hadapan nenek. Aku harus minggat, ah! Mending bermain-main sama si Joele saja daripada dekat-dekat sama nenek.
"Gimana, Dunk? Mau bantu nenek, nggak?" tanya nenek sambil mengipas-ipas wajahnya dengan selembar uang bergambar Pak Karno.
Melihat uang, mataku langsung hijau. Padahal uangnya tidak berwarna hijau. Namun, begitu aku melihat gusi nenek yang sudah ompong tidak bergigi lagi, aku jadi tidak minat lagi untuk mengambil duitnya. Bukan apa-apa, aku hanya tidak tega morotin nenekku yang sudah uzur.
"Mau nggak, Dunk?" tanya nenek sekali lagi.
"Tapi gigi palsunya disikat sendiri ya, Nek?"
"Uh, dasar bocah malas!" Nenek merengut. Lalu bergegas menuju kamar mandi sambil menenteng gigi palsunya.
***

BERKAH RAMADHAN karya: Sastra Dewita


Kumandang takbir melantun dari dinding kedinding
Menggema pada langit meriakkan samudera
Fitrah bertamu mengetuk di ambang pintu
Saat lapar dahaga tiada lagi terpenjara
Dosa terlepas dari kuningnya kembang musim
Menjadi segalanya anyar putih bak seulas kapuk
Berkah yang tertadah dari bulan yang suci
Ah semoga kelak kita bersua kembali.

Bumi Andalas, 13/7/2015

KEMPUNAN (bag.2) karya: Topan Kejora



Telah aku ceritakan semua kejadian yang menimpaku pada Gyza. Malam itu kami berboncengan, kuajak kekasihku ke tempat biasa kami bermenung untuk menikmati indahnya matahari terbenam. Di sebuah areal pelabuhan, tempat kapal-kapal barang bersandar. Namun, sejak belasan tahun lalu tak lagi beroperasi, karena pemerintah setempat bosan mengeruk endapan lumpur di sepanjang muaranya. Saban hari kian menebal. Hal seperti ini memang bukan barang baru di negeri ini. Proyek-proyek semacam ini memang sengaja diciptakan, atau memang cenderung dipaksakan. Selain mengharap kucuran ongkos perawatan besar sebagai alasan, juga menjadi alasan untuk membuat pelabuhan lain dengan dalih yang lama terbukti tidak menguntungkan.
Tapi malam ini, selang lebih kurang satu jam berlalu. Kami menatap kejauhan bukan untuk membayangkan masa depan yang gilang-gemilang. Aku kebingungan, di sampingku Gyza tak henti-henti mengusap cairan bening di pipinya. Bagaimana tidak, ponselku selalu bergetar selang beberapa menit. Dari nomor yang saudara-saudara dan orangtuaku hingga nomor yang tidak tertera namanya. Begitupun pesan singkat dari orang yang kukenal, yang mengaku polisi, keluarga korban, hingga preman, silih berganti memenuhi kotak pesan ponsel milikku. Mereka membujuk, memaksa, mengancam. Aku diteror dan akhirnya berbuah menyudutkan. Bahwa akulah yang bersalah.

KEMPUNAN (bag.1) karya: Topan Kejora





MALAM itu ketika sepeda motor yang aku kendarai tiba-tiba lunglai dan kehilangan tenaganya. Kemudian berhenti tepat di belakang Harrier hitam, suasana di sekelilingku begitu lengang, termasuk jalanan itu pun demikian, pandanganku tidak mendapati orang melintas sampai di penghujung simpang. Ternyata dengan memilih rute yang tak biasanya menuju pulang, mematahkan perkiraan aman. Seharusnya rute ini tidak kupilih, jam 10 begini kios-kios bensin di ruas jalanan ini memang tidak lagi buka. Spontan aku merogoh hand phone, coba menghubungi pacarku Gyza.
Tapi, dari seberang sana bukan suara merdu Gyza yang menjawab, melainkan suara merdu lain. Suara robot itu mengabarkan, pulsa yang kumiliki tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Apes, terlalu asik menghabiskan malam minggu bersama kekasih, sampai-sampai pulsapun lupa di isi ulang.
Ini bukan kali pertama motorku kehabisan bensin atau pulsa di HP sampai nol. Melainkan, ini pertama kalinya keduanya kosong melompong secara bersamaan. Aku terdiam sejenak, menarik napas panjang untuk meredakan kekesalan. Saat jengkel mulai reda dan ingin mendorong sepeda motor, aku tersentak oleh sepasang cahaya merah yang tiba-tiba berkedip. Tepat dari pantat Harrier yang sejak tadi memang tak mengeluarkan suara. Berkedip lagi, perlahan dan berulang-ulang.
Samar cahaya lampu jalan merembes di beberapa bagian kaca Harrier, mataku menyaksikan dari dalam mobil mewah itu ada seseorang. Ya, sesosok bayangan di balik kemudi, tidak bergerak. Seakan tahu aku mulai terpancing, sepasang cahaya merah yang tak lain lampu rem mobil itu pun kini berhenti berkedip. Melainkan terus mengeluarkan cahaya merah. Aku jadi penasaran, helm kedap udara yang gampang membuat kepala gatal ku copot, kepalaku mulai berkeringat. Kemudian meletakkannya di motor yang kini urung kuseret.

Hashirama Rama Rahma dan Kisahnya karya: Musiyem


Sudah Tujuh hari tujuh malam Rahma mengurung diri di kamarnya. Emaknya bingung apa yang sedang terjadi padanya. Makan yang biasanya sehari lima kali plus camilan kue pancong, kini sehari hanya minum air putih 2 gelas. Takut anak kesayangannya lemas dan akhirnya pergi untuk selama-lamanya, Emak Sastra Dewita menggedor-gedor pintu kamar Rahma.
"Rahma, ayo makan dulu nak! Emak udah masak sayur daun katuk kesukaanmu, nih!" Emak Era merayu.
"Ngga mau Mak! Ngga nafsu makan!" Rahma menjawab tanpa membuka baju eh pintu.
"Lauknya kepiting asem manis, nih!" Rayuan lanjutan ala Emak Era.
"Ngga mau Mak! Apa pun makanannya aku ngga mau! lagi mogok makan!" Rahma tetap menolak.
Emak Era makin sedih dan bingung, anak gadis satu-satunya, Peninggalan suaminya Dimaz Dewantara yang sedang merantau ke pulau Buaya Darat kini mengurung diri. Makin sedih dah pilu tiada tara hati Emak Era karena sejak merantau Dimaz selalu tebar pesona. Menurut kabar burung Dimaz telah menggoda 10 wanita dan 5 pria. Oh ... serasa dunia hancur lebur, langit runtuh dan gunung berterbangan. Sakitnya tuh disini oh .... Emak Era mengelap air mata dan ingusya yang mengalir berbarengan dengan ujung roknya. Kemudian ia mengambil kertas dan pulpen lalu mengalirlah rasa hatinya dalam puisi.

DAN SENJA PUN USAI (bag.2) karya: Yanuar Hendra


"Bang ..."“Hmm ....”
“Abang kok diam aja?”
“Ya mau bicara apa lagi? Situasi sudah berubah. Sekian puluh tahun waktu menyela, dan kini tak ada lagi yang tersisa.”
“Dia sempat membicarakan soal Abang. Tak banyak, sih. Tapi sepertinya dia menyesal. Abang tak berusaha mendekatinya lagi? Sekarang dia janda lho, Bang?”
“Hallaah, ko ini macam-macam aja!”
“Tapi Abang masih cinta kan sama dia? Buktinya waktu Ti bilang dia mau ke Jakarta, respon Abang cepat kali. Tapi Abang tak coba untuk lihat-lihat dia?”
“Nggak.”
“Ah, bohong lah! Dia sempat curiga sama sopir taksi yang ngantar dia ke hotel. Itu Abang, ya?”
Tak ada jawaban.
“Ti yakin itu pasti Abang. Abang nyopir taksi di bandara?”
“Nggak, cuma nyerep ….”

CERITA MANIS BUAT MUSIYEM karya: Dimaz Dewantara


Pagi ini Musiyem protes keras sambil membawa spanduk besar-besar di depan rumahku. Aku kira ada demo besar-besaran ketika dari dalam aku melihat spanduk itu berkibar-kibar, tahu-tahunya di luar hanya Musiyem seorang diri saja. Wkwkwk. Yaah, kalau ngurusin demo begini sih aku cuma ‘ngutik’ jari kelingkingku dengan jempol, alias cekrekmukrek.
Akan tetapi sebagai manusia juga, aku nggak tega melihat Musiyem kedinginan diterpa angin dan badai di luar sambil megangin sepanduk. Apalagi ketika aku melihat kepalanya goyang-goyang dan giginyaatampak gemeratakan lantaran menahan ggigil terkena sabetan air hujan yang mulai turun.
“Mbak, Mus monggo silahkan masuk saja!” ujarku seraya membuka gerbang pintu dan mempersilahkan Musiyem untuk masuk ke rumah
“Aku duduk di luar sajalah, Dim” katanya tebata-bata masih menahan gigil
“Ya, sudah aku buatkan teh ya biar anget badannya”

DAN SENJA PUN USAI (bag.1) karya: Yanuar Hendra


Dan memperhatikan dengan saksama perempuan berkerudung merah hati itu. Wajahnya agak tirus dengan make up tipis. Ada sedikit kerut-merut di kanan kiri hidung, serta agak berkantung di kelopak mata bagian bawah. Kulitnya relatif putih dengan beberapa flek sangat minimalis, dan nyaris tak terlihat dalam jarak pandang tertentu. Dibalut busana muslim warna coklat tua dengan lengan sebatas siku; namun dari arah dalam disambung manset panjang sewarna dengan kerudungnya, wanita itu terlihat charming dan modis. Terlebih dipadu dengan tas bermerek internasional pada lengan kirinya.
“Ke mana kita, Bu?” tanyanya sopan sambil melirik kaca spion ketika mobil mulai meninggalkan area parker. Dilihatnya wanita itu mengeluarkan smartphone.
“Sebentar. Jalan saja perlahan,” katanya. Kemudian terlihat dia menekan beberapa tombol angka, lalu mulai bicara dengan seseorang. “Assalaamu’alaikum … Kakak baru sampai nih, Ti …”
“Oh, ya? Aduuuh, maaf. Hetty tak bisa jemput,” sahut suara di seberang telepon selulernya. “Kakak sama siapa?”
“Sendirilaah... Sama siapa pula?”
Suara lawan bicaranya mengikik. “Nginap di tempat akulah, ya? Cuma sempit, maklum anak kost.”
“Eh, daerah mana ko bilang tempo hari?”
“Kuningan. Ya, Kak ya? Pliiiis … Nginap di tempat akulah, ya?”
“Kita tengok nanti ajalah. Kayaknya udah sore. Nanti kakak hubungi ko, ya?”
“Eh, Kakak mau berapa hari di sini?”
“Mungkin dua atau tiga hari …” jawab wanita itu, kemudian memutuskan pembicaraan. “Ke daerah Kuningan aja, Pak,” katanya kepada si sopir.

Minggu, 12 Juli 2015

PURA-PURA

Seperti biasa, setiap hari Selasa selepas bel pulang berbunyi mereka yang mengaku sebagai anggota ROHIS mengadakan rapat di sanggarnya. Rapat kali ini di pimpin oleh Ustad Ilham, guru paling ganteng disekolah. Beliau menyampaikan tentang apa saja yang harus di persiapkan untuk acara buka puasa bersama. Semua mendengarkan kecuali aku, ya aku. Aku mencemaskan Rangga, si ketua rohis itu.
"Ukhti, kenapa cemas begitu?" Zara membuyarkan lamunanku yang tertuju kepada Rangga.
"Akh, tidak apa-apa, ukhti."
Kutengok jam tanganku, sudah seperempat jam rapat berjalan tapi Rangga belum juga muncul. Padahal tadi ketika ditanya olehku dia bilang akan hadir rapat. Kalau saja dia tidak bilang seperti itu aku tidak akan menghadiri rapat.
"Assalamualaikum, ustadz ma'af saya telat."
Itu dia Rangga, orang yang ku tunggu-tunggu. Aku tersenyum lega.
"Oh, jadi ukhti mencemaskan akhi Rangga?" terka Zara.
"Tidak ukhti. Memangnya ada Akhi Rangga?" Tanyaku menyembunyikan rasaku.
***
CRB,2015

ENTAH 1



Diamku dalam sunyi dini hari.
Merajut sulaman dzikir Ilahi.
Dalam hari-hari terwarnai mimpi.
Melukis setiap dinding nurani
Coba memberi arti dari kehidupan ini.
Ku baktikan hidup pada dunia.
Menjaja syahwat cinta harta.
Menggadai ibadah yang sia-sia.
Tenggelam dalam kubang nistanya dosa.
Entah sampai kapan.........
Sesekali ku coba menepi
Tapi nafsu kian membebani.
Merajukku untuk kembali menari.
Menyanyikan irama duniawi.
Hingga Syetan tertawa senang.
Dan Iblis tersenyum menang.
Entah sampai kapan................
***

Misteri Hilangnya Sandal Hello Kitty


Tema :
‪#‎Pura‬-pura

Selepas menunaikan shalat subuh berjamaah, Detektif Abdul dan Ubay bergegas menuju kantor mereka. Hari ini banyak kasus sulit yang harus dipecahkan, dimulai dari kasus cinta segitiga mba Percaya Sama Zalikadengan Hyun Bin dan David Beckham, hilangnya koko krunch milik BuWirda Fathiya Al Faiq, dan kasus yang paling menghebohkan seluruh warga desa CERPEN-KU, yaitu misteri keberadaan Putri Setia Rahmawati Numbone saat bermain petak umpet. Sampai status ini dimuat, Putri Tia belum juga ditemukan.
Dalam perjalanan, Detektif Abdul dan Ubay dikagetkan oleh suara yang memanggil mereka. Sesaat Abdul mengira itu suara Agnes Monica yang kangen padanya, tapi semakin dekat, ia melihat seperti Raisha yang ingin mengatakan cinta, makin dekat lagi, ternyata dia adalah si cantikHashirama Rama Rahma. Ia berlari tergopoh-gopoh, wajahnya tetap mempesona, dan gerakan tubuhnya sangat anggun. Sejenak ia menghela napas panjang.
“Sendal saya hilang Bang Detektif,” ujar Rahma dengan wajah yang berkaca-kaca.
“Hilang? Bay ini pasti pencurian,” kata Abdul penuh percaya diri.
“Baik, antar kami langsung ke TKP Nona Rahma,” ujar Ubay berwibawa.
***
“Tadi saya simpan di sini Bang, tapi pas keluar udah gak ada lagi,” kata Rahma terisak-isak.
“Apa ada orang yang Nona curigai saat ini?” Tanya Ubay dengan memainkan kaca pembesarnya di TKP.
“Ada Bang, dia Um Tonie Hida, tetangga saya.”
“Pasti dia pelakunya!” Tiba-tiba Abdul berteriak dengan lantang.
“Buset! Bikin kaget aja kamu Dul,” ujar Ubay sembari menghantamkan kaca pembesar ke kepala Abdul.
“Iya Bang, pasti dia pelakunya. Soalnya kemarin, dia maksa banget beli sandal saya Bang. Tapi saya gak jual,” isakan Rahma seketika berubah menjadi tangisan.
“Baiklah Nona Rahma, kasus ini akan kami selidiki lebih lanjut. Jadi mohon untuk bersabar terlebih dahulu,” kata Ubay menenangkan Rahma.
“Iya, makasih Bang Detektif. Biayanya berapa Bang?”
“Hmm, gak usah khawatir dengan biaya. Cukup dengan senyuman manis Nona Rahma saja,” ucap Ubay menggoda.
“Ah, Bang Detektif bisa aja.”
***
Menyelidiki kasus hilangnya sandal Rahma merupakan tugas berat yang harus segera diselesaikan oleh Detektif Abdul dan Ubay. Akhir-akhir ini memang banyak kasus kehilangan yang aneh terjadi. Pernah suatu ketika Detektif Abdul dan Ubay memecahkan kasus hilangnya macan Zenith Azzura Azzura, yang ternyata bersembunyi di dalam lemari. Sang macan bertutur bahwa ia bersembunyi karena majikannya sering menganggapnya seperti boneka Barbie yang imut. Lebih aneh lagi kasus kehilangan boneka milik Mj Tinx, yang ternyata ada di bawah bantal. Sang boneka mengakui bahwa majikannya sering memperlakukannya seperti seekor macan. Kenapa kalian gak tukeran aja?
“Dul, dari tadi kamu cengingiran terus,” kata Ubay melihat kawan detektifnya senyam-senyum sendiri.
“Haha, sstt Bay. Tadi saya cuman pura-pura nuduh um Toni Hida?”
“Maksudnya Dul?”
“Nih coba lihat, sandal Hello Kitty Rahma, saya yang pakai Bay haha. Selfie dulu ah.”
“BUSET! Jadi kamu yang ambil Dul? Ikutan selfie ah.”


Abdul dan Ubay
Makassar, 7 Juli 2015

PURA PURA



Wajah boneka dengan kerlip sayu pada kedua mata
Tutur kata lugu melintuh bak perawan desa
Derai canda selalu mempesona
Gelak lucu tak henti tersungging di setiap kata
Seolah tak ada pura-pura
Aku begitu jatuh cinta saat pandangan pertama
Kupanggil kau adik kau panggil aku kakak
Lalu kita seperti kakak beradik
Kerap kau menangis mengeluh buat iba
Hingga kupeluk dalam setiap doa
Di suatu senja kau pun bercerita
Jatuh cinta pada seorang pemuda
Aku pun tertawa dengan bahagia
sambut senang dalam derai tawa
Namun ternyata itu lah akhir sebuah cerita
Perlahan kau mulai berpura-pura
Sering berdusta dalam setiap kata
Tak lagi lugu kini mulut penuh bisa
Kau yang bak perawan desa kini sungguh luar biasa
Gaya kota lenggok pun mulai menggoda
Tak lagi ramah selalu ketus bicara
Aku pun heran lalu bertanya kenapa
Jawabnya sungguh tak terduga
Ia takut aku menggoda pacarnya
Ah ... cinta kau memang luar biasa
Bisa menyulap segala dengan seketika
Hingga dia pun kini bergaun dusta penuh pura pura.

Bumi Andalas, 12/7/2015
***

PURA-PURA DEMI JURAGAN KABAYAN


Juragan kabayan sidak ke satu kampung
"sungai mendadak banyak ikan gurame,nila,lauk mas berseliweran""
Juragan kabayan berkata:mentang mentang aku suka mancing sungai kalian isi dengan bemacammacam ikan padaahal sungai penuh limbah pabrik".
Para gadis dan ibu-ibu mendadak berdandan wah.
"apakah setiap hari nyai berpakaian seperti ini ",tanya pejabat kabayan
Sang gadis tertunduk malu sebab semua hasil ngutang kiri kanan
Rumah -rumah mendadak bercat bersih ,jalan- jalan rapih jembatan mendadak diperbaiki,kampung mendadak sejahtera
Pejabat desa tak mau di nilai gagal memajukan desa
aku tak jadi berikan bantuan pada kampung.ini teriak pejabat kabayan
Apa yang mesti di perbaiki jika desa telah sejahteraa.
Sang kades bengong,inilah jika para pejabat berprinsip asal bapa senang.

Ted juli15
***

Sabtu, 11 Juli 2015

CINTA GILA

‪#‎bebas
Letih rasanya, harus mengantri berjam-jam hanya untuk mendapatkan sehelai tiket kereta api. Belum lagi, ketika di kereta harus berdesak-desakkan dengan penumpang lain yang berkeringat dan mempunyai aroma tubuh beraneka ragam.
"Fiuh..."
Cinta membayangkan dirinya ketika akan mudik lebaran ke kampung cerpen-ku.
"Sebaiknya, aku tidak usah pulang. Lagi pula, disana bapak akan menjodohkanku dengan orang yang tak pernah kutahu sebelumnnya. Tapi, jika aku disini mas Bambang pasti akan terus menggodaku. Ih orang yang sangat menyebalkan."
Baju yang telah ia kemas pun, hendak ia rapikan lagi ke lemari.