Kisah ini terjadi berpuluh tahun lalu, saat hape belum marak, gadget belum ada, komputer masih jaman DOS dan pentium belum dikenal. Jadi, ya pastinya belum ada facebook, twitter, apalagi instagram. Chatting di BB, WA, Line, dan sebagainya malah belum ada dalam angan-angan. Media online, jangan tanya. Website, blogspot, wordpress, dan sebagainya...kagak ada! Primadona saat itu koran dan majalah. Hii, jadul banget, ya?
***
Netty yang baru menikah minta libur dua hari, dan sebagai partner satu-satunya, mau ga mau ya mesti setuju. Siapa lagi, wong yang jaga toko cuma dua orang. Tapi saat pagi di hari kedua, perempuan pemelihara jerawat itu muncul. Dari balik kacamata tebalnya seperti ada tulisan: please... please...
***
Netty yang baru menikah minta libur dua hari, dan sebagai partner satu-satunya, mau ga mau ya mesti setuju. Siapa lagi, wong yang jaga toko cuma dua orang. Tapi saat pagi di hari kedua, perempuan pemelihara jerawat itu muncul. Dari balik kacamata tebalnya seperti ada tulisan: please... please...
“Ya, Yan? Dia mau tugas ke luar kota sabtu besok, jadi kalo gue kerja dua hari gantiin elo, jadi jarang ketemu. Gue kan masih pengantin baru. Jaelaah...masa lo kagak ngerti, sih?” rengeknya merayu dengan mengedip-ngedipkan mata dan memilih senyum yang paling manis dari stok persediaannya untuk meluluhkan perjanjian yang sudah disepakati. Saya tersenyum, bukan karena rayuannya, melainkan karena pada saat seperti itu jadi ingat telenovela dari Amerika Latin, Betty La Fea. Lagipula disuruh ngerti? Lha, gue aja belum nikah, gimana cara ngertiinnya?
Ya sudahlah, sebagai teman kerja satu-satunya mau ga mau ya mesti ngertiin. Hari ini Betty La Fea full, dan saya libur seharian. Besok dan seterusnya dia masuk pagi, saya yang shift dua pulang sampai malam. Padahal mestinya tiap minggu ganti-ganti shift
Ya sudahlah, sebagai teman kerja satu-satunya mau ga mau ya mesti ngertiin. Hari ini Betty La Fea full, dan saya libur seharian. Besok dan seterusnya dia masuk pagi, saya yang shift dua pulang sampai malam. Padahal mestinya tiap minggu ganti-ganti shift
Saya berdiri di pinggir jalan seberang gedung pertokoan. Entah kenapa, sebab itu bukan tempat dimana saya biasa nunggu mobil untuk pulang. Waktu baru menunjukkan pukul 07:15. Masih pagi sekali. Terasa enggan pulang ke rumah, tapi tak punya rencana hendak ke mana. Sebuah bus jurusan Bekasi berhenti mencari penumpang. Cukup lama untuk menarik perhatian dan menumbuhkan hasrat ke sebuah kota di ujung timur Karawang. Bekasi dan Karawang seolah satu garis lurus di pantura. Pasti banyak trayek mobil ke sana, dan sepertinya bisa ditempuh bolak-balik untuk kembali pulang. Kaki saya melangkah masuk ke dalam, tanpa diperintah otak, lalu duduk manis. Herannya lagi, seakan cuma saya yang ditunggu, bus itu pun berangkat. Satu jam lebih, bus tiba di terminal Bekasi, dan...bukan cuma ada, tapi buuuaaanyak angkutan umum ke kota yang sedang saya tuju. Saya memilih satu diantaranya. Mini bus tua unik, yang tempat duduknya masih terasa nyaman, meski suara mesinnya meringis miris terdengar.
Tiba di tujuan bingung sejenak, karena tak niat alamat pun tak dibawa. Coba menelusuri memori otak, nihil. Tak ketemu. Ya sudah, pede aja. Kota sekecil ini pasti cuma punya satu SMA negeri. Tapi di mana? Nah, itu masalahnya.
“Mang, sekolahan SMA negeri,”kataku memanggil tukang becak. “Apal, nte?”
“Apal atuuuh...”
“Baraha?”
“Nya enggeus genep rebu.”
“Gocenglah enggeus!” tawar saya sok tahu dan langsung naik. Si abang becak pasti setuju, sebab dia langsung nggowes. Tidak sampi dua ratus meter sudah sampai. Ebussseh! Belum juga sempat lihat-lihat pemandangan kanan kiri. Belakangan tahu, ongkos becak dari terminal ke SMA itu cuma dua ribu. Mantap!
“Apal atuuuh...”
“Baraha?”
“Nya enggeus genep rebu.”
“Gocenglah enggeus!” tawar saya sok tahu dan langsung naik. Si abang becak pasti setuju, sebab dia langsung nggowes. Tidak sampi dua ratus meter sudah sampai. Ebussseh! Belum juga sempat lihat-lihat pemandangan kanan kiri. Belakangan tahu, ongkos becak dari terminal ke SMA itu cuma dua ribu. Mantap!
Sekolah sepi, dan dengan songong saya menyusuri ke dalam. Tetap sepi, kosong. Alaaah, hari apa ini? Kan bukan minggu?
“Cari apa, Mas?” tanya seseorang dari arah belakang. Saya sempat kaget, tapi sekuat mungkin disembunyikan. Seorang pria bertubuh sedang, dan seukuran tingginya. Usianya mungkin terpaut lima atau tujuh tahun di atas saya. Meski sorot matanya sedikit curiga, namun dia berusaha tersenyum ramah.
“Eh, ng...mau cari saudara...katanya sekolah di sini. Libur, Mas?” tanya saya mati-matian menyembunyikan grogi dan mendesak otak untuk bekerja cepat mencari jawaban.
“Libur habis try out. Nanti senin baru masuk kembali. Ke rumahnya saja, Mas...”
“Itu dia. Saya cuma dikasi tahu alamat sekolahnya saja. Aduh, jadi bingung...gimana, ya?”
“Kelas berapa?”
“Kelas 1 empat. Namanya Widya,” jawab saya lengkap dan berharap lawan bicara bisa memberi solusi. Tanggung sudah berada di sini, masa iya harus pulang tanpa bertemu? Wuah!
Saya diajak ke rumahnya di samping sekolah, dan masih satu lokasi. Orang itu, yang kemudian saya tahu bernama Aris, bicara dengan seorang perempuan. Tak lama dia mengeluarkan motor dan mengajak saya ke satu tempat. Kami bertemu remaja tanggung, yang menunjukkan alamat Widya. Setelah paham, Mas Aris mengantarkan saya ke tujuan.
***
Bukan bermaksud sombong, tapi saya sempat juga merasakan jadi orang agak terkenal saat itu(hehehe...pake ‘agak’), dikarenakan tulisan sering dimuat di beberapa koran dan majalah remaja. Widya adalah salah seorang penggemar yang sering menyurati, dan secara berkala tetap saya balas, meski resikonya berat, yaitu: pengeluaran ekstra untuk beli perangko. Awalnya biasa saja, tapi lama kelamaan saya merasa anak ini cerdas dan kreatif. Bentuk tulisannya bisa berubah-ubah. Kreasi amplopnya unik-unik, sehingga tak heran diantara mereka yang berkirim surat, maka dialah yang menonjol. Seiring waktu, kami semakin akrab sehingga hal itulah yang mungkin memberatkan langkah ke sini untuk melihat, seperti apa sih orangnya?
“Cari apa, Mas?” tanya seseorang dari arah belakang. Saya sempat kaget, tapi sekuat mungkin disembunyikan. Seorang pria bertubuh sedang, dan seukuran tingginya. Usianya mungkin terpaut lima atau tujuh tahun di atas saya. Meski sorot matanya sedikit curiga, namun dia berusaha tersenyum ramah.
“Eh, ng...mau cari saudara...katanya sekolah di sini. Libur, Mas?” tanya saya mati-matian menyembunyikan grogi dan mendesak otak untuk bekerja cepat mencari jawaban.
“Libur habis try out. Nanti senin baru masuk kembali. Ke rumahnya saja, Mas...”
“Itu dia. Saya cuma dikasi tahu alamat sekolahnya saja. Aduh, jadi bingung...gimana, ya?”
“Kelas berapa?”
“Kelas 1 empat. Namanya Widya,” jawab saya lengkap dan berharap lawan bicara bisa memberi solusi. Tanggung sudah berada di sini, masa iya harus pulang tanpa bertemu? Wuah!
Saya diajak ke rumahnya di samping sekolah, dan masih satu lokasi. Orang itu, yang kemudian saya tahu bernama Aris, bicara dengan seorang perempuan. Tak lama dia mengeluarkan motor dan mengajak saya ke satu tempat. Kami bertemu remaja tanggung, yang menunjukkan alamat Widya. Setelah paham, Mas Aris mengantarkan saya ke tujuan.
***
Bukan bermaksud sombong, tapi saya sempat juga merasakan jadi orang agak terkenal saat itu(hehehe...pake ‘agak’), dikarenakan tulisan sering dimuat di beberapa koran dan majalah remaja. Widya adalah salah seorang penggemar yang sering menyurati, dan secara berkala tetap saya balas, meski resikonya berat, yaitu: pengeluaran ekstra untuk beli perangko. Awalnya biasa saja, tapi lama kelamaan saya merasa anak ini cerdas dan kreatif. Bentuk tulisannya bisa berubah-ubah. Kreasi amplopnya unik-unik, sehingga tak heran diantara mereka yang berkirim surat, maka dialah yang menonjol. Seiring waktu, kami semakin akrab sehingga hal itulah yang mungkin memberatkan langkah ke sini untuk melihat, seperti apa sih orangnya?
Akhirnya saya sampai persis di depan rumahnya. Sebuah rumah sederhana yang dari depan tidak terlalu besar. Bercat putih agak kusam, dan di beberapa bagian terlihat hijau. Ada pohon jambu air dekat pintu pagar kecil. Seseorang keluar, gadis manis berambut panjang dengan wajah sederhana tanpa polesan tersenyum lugu. Memori otak coba mencari file tersimpan, dan detektor mencocokkan wajah itu dengan foto yang pernah dikasi beberapa waktu lalu, lalu...cling! Identifikasi 90 persen cocok!
“Gimana, Mas? Bener ga?” teriak Mas Aris.
“Eh, iya. Bener.” Hampir saja saya lupa karena sempat termangu saat beradu pandang dengan gadis tadi. Saya hampiri Mas Aris, dan memberi uang sekedar pengganti bensin, tapi beliau menolak, dan buru-buru pergi.
“Makasih, Maaas...!”
“Gimana, Mas? Bener ga?” teriak Mas Aris.
“Eh, iya. Bener.” Hampir saja saya lupa karena sempat termangu saat beradu pandang dengan gadis tadi. Saya hampiri Mas Aris, dan memberi uang sekedar pengganti bensin, tapi beliau menolak, dan buru-buru pergi.
“Makasih, Maaas...!”
Selanjutnya kami berkenalan face to face, juga dengan keluarganya. Ngobrol, makan, dan ngobrol lagi bareng-bareng. Lalu pulang, dan secara periodik datang lagi ke sini, ngobrol bareng keluarga lagi, makan, ngobrol, lalu pulang. Berjalan sampai empat tahun sebelum akhirnya saya datang bersama keluarga, meminta si neng Widya kepada orangtuanya.
-udahan, ya? :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar