Dropdown

Sabtu, 11 Juli 2015

CINTA GILA

‪#‎bebas
Letih rasanya, harus mengantri berjam-jam hanya untuk mendapatkan sehelai tiket kereta api. Belum lagi, ketika di kereta harus berdesak-desakkan dengan penumpang lain yang berkeringat dan mempunyai aroma tubuh beraneka ragam.
"Fiuh..."
Cinta membayangkan dirinya ketika akan mudik lebaran ke kampung cerpen-ku.
"Sebaiknya, aku tidak usah pulang. Lagi pula, disana bapak akan menjodohkanku dengan orang yang tak pernah kutahu sebelumnnya. Tapi, jika aku disini mas Bambang pasti akan terus menggodaku. Ih orang yang sangat menyebalkan."
Baju yang telah ia kemas pun, hendak ia rapikan lagi ke lemari.
Kring... Kriiing
Seketika ponsel Cinta berdering, dengan cepat tangannya meraih ponsel itu.
"Bapak?"
Cinta segera menekan layar hijau di ponselnya.
"Hallo, waalaikumsalam. Iya pak, Cinta nggak jadi pulang.Tapi pak... Ha... Hallo."
Tut... Tut...
Telponnya terputus. Cinta bingung, bapak memaksanya pulang hari ini juga. Entah kenapa bapak sangat ingin menjodohkan putrinya itu dengan orang yang dianggapnya sangat cocok dengan Cinta.
Dengan hati yang gundah, iapun menuruti permintaan bapaknya.
Saat ia keluar dari kamar kostnya, mas Bambang telah berdiri didepan pintu gerbang kostnya.
"Lho, Cinta mau kemana? Biar mas antar ya?"
"Kemana saja boleh. Tidak usah, awas mas saya buru-buru."
"Cintaaa, i lope you pull."
Teriakan mas Bambang membuat kuping Cinta pengang. Rasanya ia ingin segera meninggalkan tetangga yang dianggapnya gila itu.
Sesampainya di stasiun ia merasakan hal yang ia bayangkan sebelumnya, dan ia merasa kesal karena banyak sekali orang yang membuatnya tak nyaman. Setelah mendapat tiket, ia segera memasuki kereta yang telah tiba di stasiun 3 menit yang lalu.
"Disini kosong, kan?"
Cinta bertanya pada seorang lelaki tampan didepannya.
Dengan ramah lelaki itu memberinya senyum manis, yang membuat hatinya sedikit tenang.
"Iya, kosong. Saya Dika."
Lelaki itu mengulurkan tangannya. Uluran tangan itu disambut baik oleh gadis berkuncir satu disampingnya.
"Cinta."
Mereka pun berbincang-bincang dengan baik, tanpa sadar mereka telah tiba di stasiun.
"Setelah ini, kamu hendak kemana?"
Tanya Dika tetap ramah.
"Ke kampung cerpen-ku, kamu bagaimana?"
"Wah kebetulan sekali, tujuan kita sama. Ya sudah, kita bareng saja."
Cinta mengangguk penuh keceriaan. Cinta bercerita pada Dika jika dirinya akan dijodohkan, dia ingin meminta Dika untuk menjadi pacar pura-pura Cinta.
"Bagaimana Dik, kamu mau kan?"
Dika berfikir sejenak, sambil memerhatikan tampang polos Cinta.
"Baiklah."
Jawaban Dika disambut ceria teriakan Cinta.
"Horeeee."
Dika hanya tersenyum. Mungkin dibalik senyuman Dika tersimpan rasa iba pada gadis polos itu, atau Dika jatuh cinta?
Tak terasa mereka telah sampai di rumah cinta, Dika merasa kaget setengah mati.
"Cinta, ini rumah kamu?"
"Iya Dik, kenapa? Kok wajah kamu aneh gitu?"
"Ini rumah pamanku."
"Hah? Jadi kita saudara?"
"Iya, maaf aku tidak bisa menolongmu."
"Cintaaaa... Akhirnya kamu datang juga. Aku sudah nggak sabar nikah sama kamu!"
Teriakan itu membuat Cinta ketakutan, lelaki yang kan menjadi jodohnya adalah mas Bambang tetangga kost yang sering mengganggunya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar