Dropdown

Kamis, 05 Januari 2017

Tolong .... Aku Jenuh di Sini

Tolong ... Aku Jenuh Di Sini
Haaaah!
Adi terbangun dengan sekujur tubuh gemetar dan bermandi keringat! Untuk kesekian kali, mimpi itu kembali menghantuinya. Begitu terasa nyata terekam dalam pikiran.
Tidak mungkin! Tidak mungkin itu Ida! Ida telah meninggal! batin Adi coba membantah. Kembali terpampang jelas di matanya mimpi yang baru saja menghantui. Adi melihat Ida terperangkap dalam sebuah kotak kayu. Tangan, kaki, leher dan badannya terikat kuat pada kotak kayu itu. Dan tali temali yang mengikat anggota tubuhnya itu, adalah ular-ular mengerikan beraneka jenis! Ida merintih dalam tangisan sedih. Beberapa kali mencoba membebaskan diri. Namun sia-sia. Gaun putih yang ia kenakan, nampak compang-camping serta kotor bernoda tanah bercampur darah!
"Adiii ... tolong akuu .... Aku ingin keluuaar! Bebaskan akuu, Adiii! Aku jenuh di siniii!" isak Ida merintih.
Tangannya yang terlilit seekor ular phyton, mencoba menggapai ke arah Adi. Meminta bantuan. Namun dengan cepat ular itu mematuk punggung tangannya. Menggigitnya dalam-dalam. Hingga darah mengalir. Membuat jemari Ida menjadi merah. Ida menjerit nyaring! Namun tangannya yang kini berlumuran darah, tetap coba menggapai ke arah Adi.
"Toloong, Adiii! Bebaskan akuuu! Tolooong!" jeritnya tertahan.
Adi terpana, tak tahu mesti berbuat apa.
"A ... apa? Ba ... bagaimana ... aku bisa ... menolongmu ...?" ucapnya bingung.
"Darah, Adiii! Darah akan mengusir ular-ular iniii! Darah akan membebaskankuuu!" seru Ida keras.
"Da ... darah? Darah ... apa? Siapa ...?"
"Siapa sajaaa! Kalau perlu ... darahmuuu!" sahut Ida.
Adi tercekat!
"Da ... darah ... ku? Ta ... tapi ...?"
"Kau masih cinta aku, kaan? Adiii .... Katakan ... bahwa kau masih mencintaikuuu!" suara Ida terdengar menuntut.
"I ... iya. Aku ... masih mencintaimu ..."
"Berkorbanlah untukku, Adiii! Bebaskan aku dengan darahmuuu! Toloong ... aku jenuh di siniii!" Ida mengerang parau.
"Ta ... tapi ...."
"Tak ada tapiii, Adiii! Bebaskan akuuu! Bila kau memang cintaaa! Kasihani kekasihmu ini, Adiii!"
"A ... aku ... aku ...." Adi tergagap kebingungan.
"Tolong akuuu, Adiii! Tolooong!" seruan Ida semakin keras dan parau. Tangannya terus berusaha menggapai Adi. Tangan yang merah berdarah itu, semakin lama semakin memanjang. terus memanjang ... hingga menjangkau wajah Adi!

Minggu, 25 Desember 2016

SUDUT PANDANG ATAU POV (POINT OF VIEW)

Assalamualaikum,

Loha ... loha ... Selamat malam SOBAT CERPEN-KU.
Ketemu lagi dengan Penyu di edisi Vitamin_Malam. Untuk member lama mungkin sudah tahu dengan edisi ini, tapi untuk member baru pasti baru liat, maklum karena mimin jarang masuk dengan edisi ini.
Nah, malam ini Penyu mau membahas tentang Sudut Pandang dalam sebuah cerita. Langsung disimak aja, ya ....

#SUDUT_PANDANG/POV (Point of view)

a. POV orang pertama tunggal
Dalam POV ini, pengarang/penulis berperan sebagai pelaku atau pun narator dalam cerita. Menggunakan kata ganti 'Aku atau Saya'. POV ini dapat dibedakan berdasarkan kedudukan 'Aku' di dalam sebuah cerita.

* 'Aku' Tokoh Utama
Di bagian ini, pengarang/penulis menjadi tokoh utama. Di mana tokoh 'AKU' menjadi narator sekaligus pusat penceritaan. POV ini cocok digunakan untuk cerita yang terbentuk oleh konflik internal (konflik batin) akibat dari pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, atau harapan dari tokoh cerita, karena akan leluasa dalam mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkan si tokoh.
Contoh :
Sambil bermain aku melirik topi lakenku. Kulihat sebuah kursi roda. Duduk di kursi roda itu, seorang tua yang wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas karena memakai topi laken seperti aku. Rambutnya gondrong dan sudah memutih seperti diriku, namun ketuaannya bisa kulihat dari tangannya yang begitu kurus dan kulitnya yang sangat keriput. Tangan itulah yang terangkat dan tiba-tiba menggenggam sebuah gitar listrik yang sangat indah. (Cerpen Ritchie Blackmore Karya Seno Gumira Ajidarma).

* 'Aku' Tokoh Tambahan
Di POV ini penulis sebagai pelaku dalam cerita, tetapi bukan sebagai tokoh utama. Melainkan 'AKU' di sini hanya sebagai saksi. Dia menceritakan kisah atau peristiwa yang dialami tokoh lain yang menjadi tokoh utama dalam cerita.
Contoh :
Tetangga saya orangnya terkenal baik. Suka menolong orang. Selalu memaafkan. Apa saja yang kita lakukan terhadanya, ia dapat mengerti dengan hati yang lapang, bijaksana, dan jiwa yang besar. (Cerpen Pencuri Karya Putu Wijaya).

Jumat, 15 Januari 2016

CARA PENULISAN DIALOG

Oleh: Linda Puspita Sari

1. Dasar penggunaan tanda baca dalam dialog dibuka dan diakhiri dengan tanda petik (” … “).
2. Tanda baca dalam dialog :
~ Untuk dialog sifatnya pertanyaan, gunakan tanda tanya (?).
Contoh :
(a). "Kapan kamu mau bayar?"
~ Untuk dialog deklaratif / pernyataan (menyampaikan fakta atau opini), akhiri dengan tanda koma (,) atau tanda titik (.) tergantung pada lanjutan dialog tersebut.
Contoh :
(b). "Aku harus pulang."
NOTE : Biasanya, setelah atau sebelum dialog ada frase pelengkap seperti (kata Katy), (tukas Mira), (pekik Henry), (Mira berkata) dll.
Frase pelengkap ini disebut dialog tag. Nah, dialog tag ini akan mempengaruhi tanda baca yang digunakan untuk mengawali atau mengakhiri dialog deklaratif (kalimat pernyataan).

Jumat, 08 Januari 2016

- Aku Gembala Bulan -

Karya: Ripki Aripianto
Sepasang bola berbinar rupa bintang itu menatapku sekedip. Aduhai gadis rupawan yang kutemui di penghujung senja tadi, berlalunya ia tinggalkan jejak candu. Diri jadi kepayang akan bayangnya yang memakai baju biru, pun helai tiara hitamnya kemerahan panjang terurai, kian indah bersama bandana menghias pesonanya nan lugu. Tak ayal lagi ia akan masuk dalam mimpiku, dan niscaya hariku esok jua lusa turut syahdu, pikirku.
"Sungguh, apa yang kau lamunkan, Nak?" tanya ibu menggelitik indria dengar dan angan awal malam ini.

Si Pengumpul Batu Kali


Oleh : Linda Puspita Sari
"Seret nenek itu ke kantor polisi!" perintah Pak Lurah kepada ajudannya.
Dua lelaki berbadan kekar yang mengenakan baju serba hitam, dengan sigap manarik paksa tangan Mbah Darmi, si pengumpul batu kali.
Puluhan warga Desa Kedondong, berkumpul di depan rumah janda tua berumur 80 tahun. Hanya satu dua orang saja yang membela Mbah Darmi. Menghalangi jalan para ajudan, tapi justru pukulan keras di bagian perut yang mereka dapatkan. Sementara yang lain bersorak memberi dukungan pada lurah yang buta hati.
***

Misteri Noni Belanda Bunting

Karya: Achenk Mangkoerondo Limo

Di ujung kampung wong edan, berdiri sebuah rumah tua tanpa penghuni. Konon (jangan dibalik), rumah tua itu dulu pernah dihuni oleh Noni belanda, seorang diri. Menurut sumber yang saya dengar, Noni belanda itu dulunya bunga desa di sini. Kulitnya putih bersih, wajahnya ayu tiada tanding, rambutnya pirang bergelombang sepunggung, bola matanya sebiru lautan dan dia punya body semlohay icik icik e'hm. Karena kecantikannya yang sungguh menggoda mata lelaki normal, Noni belanda pernah diperkosa oleh kawanan lelaki tak dikenal. Hingga akhirnya Noni belanda hamil dan saat usia kehamilannya menginjak 8 bulan, Noni belanda tak pernah terlihat lagi di rumahnya. Banyak versi cerita berbeda tentang hilangnya, Noni belanda tanpa pamit. Ada yang bilang, "Dia meninggal karena kecelakaan becak, saat hendak mudik ke kampung halamannya." Ada lagi yang bilang, "Dia bunuh diri dengan menyebur ke dalam sumur." Entah yang mana, yang benar. Tapi banyak sumber yang mengatakan, "Dia meninggal karena tidak hidup."

Rabu, 23 Desember 2015

MENULIS ARTIKEL DI KORAN

Oleh: Achmad Solihin

Dulu setelah lulus kuliah, aku sempat bingung mau bekerja apa. Berlembar-lembar surat lamaran sudah kukirim ke berbagai perusahaan namun tak satupun mendapatkan balasan memuaskan. Akhirnya daripada menunggu terus di dalam ketidakpastian, seperti "Waiting for Godot" an sich, iseng-iseng kucoba menulis beberapa artikel lalu mengirimkannya ke koran-koran lokal dan nasional via kantor pos.

Minggu, 20 September 2015

TINKERBELL Karya: MJ Tinx

a



TINKERBELL
Mentari baru saja nampak, tapi Emak Musiyem dan Ayah Budy sudah rapi dan wangi. Tercium aromanya seperti bunga kantil di taman depan rumah. Emak Musiyem terlihat cantik sekali, bak seorang Dewi Nawang Wulan dari sebuah kerajaan. Baju batik pink, selendang putih membalut tubuhnya yang langsing dan tinggi semampai. Pokoknya top banget, kaya model yang sudah ‘go internasional’. Ayah Budy pun tak mau ketinggalan. Beliau memakai jas hitam variasi batik, celana panjang hitam dan sepatu fantofel yang mengkilap. Hingga membuat silau saat aku melihatnya. “Awww ….”
“Widihhh …! Mau ke mana, nih?! Kok sudah rapi bener, Mak, Yah?” tanyaku sembari mengelap keringat dengan handuk kecil.

Sabtu, 19 September 2015

PUISI - PUISI SASTRA DEWITA


MISTERI KATA YANG MEMBUNUH RASA
Tikam aku dengan kata madu yang kau lelehkan pada kelopak bunga yang terserak rekah di hamparan padang itu
Saat gelombang sudah tenang dan riak sudahlah diam pada pusarannya
Tapi kau golakkan tepuk buih hingga kembali riuh terundang
Tak tahukah kau ada bilur luka yang acapkali melepuh dan terkoyak lalu kusulam kembali dalam jelujur maaf
Hanya seringkali kuselubungi dalam diam
biarlah serupa misteri bagimu
Karena kuingin telaga ini tetap indah hingga senja kelak menerbitkan malam
Lalu mengatupkan matanya dalam misteri alam
Misteri yang kini menautkan kita dalam satu babak cerita kehidupan
Tapi entahlah ....
Senyatanya teramat sering aku mati saat kata telah acapkali menjadi sebuah belati.
Bumi Andalas,
Nk.2015
Top of Form

Kamis, 03 September 2015

PREMAN karya: DIMAZ DEWANTARA


Lima hari lima malam Marjuki bermenung diri dan selama lima hari lima malam itulah saya bertanya-tanya apa gerangan yang menggelayuti pikirannya. Sepertinya sudah menjadi tabiat saya jika rasa penasaran itu tak terobati maka panas dinginlah suhu badan ini. Berangkat dari rasa penasaran itulah akhirnya saya berkunjung ke rumah Marzuki guna melampiaskan unek-unek yang sudah tak terbendung lagi. Sesampai di rumah Marzuki, saya masih melihat dia termenung-menung dengan muka bermuram durja. Kemudian, saya memberanikan diri mendekati Marzuki penuh hati-hati.
“Juk, kalau boleh saya bertanya kira-kira apa sih yang sedang ente pikirin?” tanya saya seraya menyodorkan rokok ke mukanya yang kusut. Marzuki menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan, tangannya merayap kemudian melolos rokok yang saya sodorkan.
“Sebenarnya saya ini kepengen jadi preman” tandas Marzuki dengan mimik yang serius.

Senin, 10 Agustus 2015

Janji Yang Diingkari




Senja Kelabu adalah gadis manis keturunan bangsawan. Meski badannya kurus, tapi selera makannya luar biasa. Kesukaannya adalah semur jengkol plus pohon-pohonnya. Dia pun menyukai sambalado pete, lengkap dengan kebun pete dan cabe. Makanya tak heran bila suatu hari nanti dia bercita-cita menjadi koki. Minimal mengelola restoran.

Jadi ada untung ruginya ketika akhirnya dia ‘jadian’ sama saya. Untungnya, diantara semua yang ngantri mendapatkan cintanya, hanya saya yang terpilih. Apakah karena saya lebih ganteng dan tajir dibanding lainnya? Bukan! Keturunan bangsawan pula? Boro-boro! Habis apa, dong? Sederhana, karena teman sekolah, jadi saya tahu tiap kali ke kantin pasti yang dicari semur jengkol. Nah, tiap datang ke rumah waktu pdkt, ya bawa oleh-olehnya itu; kalau nggak semur jengkol, ya sambalado pete. Gampang, kan?

Kamis, 30 Juli 2015


Puisi- Puisi Kepedulian dan Perenungan
Budy Cahyady Putra Ratu


Ah kau...

Aku tahu kau
Seorang anak duduk di lorong Gramedia
Isenh membaca bukubuku sembari menunggu jam sekolah usai
Lalu kau mencintai sastra
Dan berkoar sebagai seorang pujangga
Ah kau...
Datanglah ke desa tertinggal
Kembali sekolah SD di sana
Tidak perlu lulus, cukup sampai kelas lima
Ah kau
Di sana kau harus menjajakan daun pisang jika ingin jajan
Itupun bila laku terjual
Harapan untuk jajan hari ini tinggal impian
Dan kau akan merasa senang, saat menemukan teh kotak kosong
Dengan hati riang kau bawa pulang
Ah kau...
Di sana kau akan merasakan pilu
Untuk bayar sekolah kau harus merelakan si jalu ayam kesayanganmu
Atau kambingmu harus kau tukar dengan seragam putih merahmu
Dan harus kau tahu
Di sana belum tersentuh listrik
Kau akan merasakan mata kananmu membengkak
Dari lampu minyak tanah saat belajar malammu
Ah jika ini kau
Apa pernah berpikir sebagai pecinta sastra?
Apa pernah berpikir, kalau kau seorang pujangga?
Sahabat...
Datanglah kesana
Mari beradu aksara
Karena disana...
Tidak ada rengek manja, untuk menjadi perangkai aksara
Dan aku
Tidak pernah menghabiskan uang ayahku
Hanya untuk beradu aksara

======================================== 

Selasa, 28 Juli 2015

PERTEMPURAN oleh: Musiyem




Duh ... Melihat musuh yang begitu ganteng dan keren-keren, Pasukan srikandi dipimpin komandan Sutini Tini yang beranggotakan Esi Sunnysunny, Puspa AndiniPercaya Sama ZalikaSastra DewitaZenith AzzuraRossiSyam Aminah dan Wirda Fathiya Al Faiq tampaknya akan menyerah tanpa perlawanan. Pasukan musuh dari seberang memang luar biasa ganteng dan ... Hight quality brondy. Pasukan tempur mereka dipimpin Tedy Maulana Ibrahim dengan prajurit brondynya yaituShobikhul IrfanEmNu Rushob AchElCefri D'alberqueque, pasukan khusus dan terlatih dipimpin komandan yang ganteng yaitu Arie Tombiberanggotakan Dudunk SakelanArya PurnamaAchmad SolihinNano Setyoko Andro Wp.

Sabtu, 25 Juli 2015

KEMPLING PENGIN NONTON FILM PORNO karya: Yan Hendra

a


Meski usianya sudah jadul ditandai dengan dengkul yang sudah merudul, tapi semangat Kempling
tetap joss. Terlebih dia sudah lama sekali menduda. Terakhir waktu dia masih hobi nonton layar tancap yang bintang utamanya Eva Arnaz dan Suzanna. Meski pulang sampai pagi, bareng dengan tukang kacang rebus dan bandrek, nggak ada yang ngelarang. Sebab Maryatun, sang istri tercinta, sedang asik mengais rezeki di negeri orang. Saking asiknya sampai lupa pulang dan kasi berita, sampai sekarang. Otomatis suplai dana untuk Kempling pun terputus. Saldonya kosong melompong.

Selasa, 21 Juli 2015

JODOH EMANG MAKNYUS karya: Yanuar Hendra



Kisah ini terjadi berpuluh tahun lalu, saat hape belum marak, gadget belum ada, komputer masih jaman DOS dan pentium belum dikenal. Jadi, ya pastinya belum ada facebook, twitter, apalagi instagram. Chatting di BB, WA, Line, dan sebagainya malah belum ada dalam angan-angan. Media online, jangan tanya. Website, blogspot, wordpress, dan sebagainya...kagak ada! Primadona saat itu koran dan majalah. Hii, jadul banget, ya?
***
Netty yang baru menikah minta libur dua hari, dan sebagai partner satu-satunya, mau ga mau ya mesti setuju. Siapa lagi, wong yang jaga toko cuma dua orang. Tapi saat pagi di hari kedua, perempuan pemelihara jerawat itu muncul. Dari balik kacamata tebalnya seperti ada tulisan: please... please...

Senin, 20 Juli 2015

ORANG MISKIN DILARANG MATI karya: Yanuar Hendra



Waktu Kempling bilang emaknya meninggal, sebagai sohib kental, saya langsung terbang ke rumah kontrakannya yang sempit, kumuh, dan sebagian terendam banjir. Tiba di sana beberapa tetangga sudah berkumpul, dan di ruang tamu terlihat jenazah emaknya Kempling terbujur kaku berselimut kain batik panjang. Dua orang kerabat sedang mengaji di dekatnya. Sementara Kempling hanya duduk di dekat mereka dengan kopiah belel warisan bapaknya. Wajahnya yang sangar, tetap tak mampu menyiratkan kesedihan hatinya.
Saya duduk di sebelahnya, ikut diam membisu. Tapi dasar Kempling, diamnya ternyata bukan semata-mata berduka. Buktinya dengan berbisik dia berkata, "Gue bingung buat bayar kontrakan berikutnya. Juga buat makan sehari-hari. Selama ini kan emak yang nanggung..."

Satu lagi persembahan cergo alias cerita gokil dari Musiyem

A Y A M


Menjelang lebaran, Arie Tombi duduk termenung di kandang ayamnya. Dia pandangi ayamnya satu persatu. Ada rasa iba menelusup ke hatinya. Ayam jago yang diberi nama Luther sebentar lagi akan pindah kandang, berpindah ke panci dan menjadi ayam opor. Si Bieber ayam jago abg pun harus masuk wajan menjadi ayam semur. Apa boleh buat THR dari Bos odong-odong Yan Hendra ditunda hingga waktu yang tak ditentukan.
"Rie, cepet potong ayamnya! Ga usah pakai diajak ngobrol!" suara emakZenith Azzura mengagetkannya.
"Iya, Mak! Duh ... tapi kasihan Mak!" jawab Arie sambil memeluk si Luther.
"Halah! Emang itu nasibnya ayam kudu dipotong, udah cepet keburu sore!" Emak Zenith gemes lihat Arie mesra-mesraan sama si Luther.

Minggu, 19 Juli 2015

Puisi-puisi Keprihatinan dan Renungan Sastra Dewita

SATU PERCAKAPAN SENDU SEBELUM HARI FITRI YANG KAN DATANG BERTAMU.

"Bunda ... kuingin baju baru.
Berenda dan berpita kupu-kupu.
Kuingin sepatu merah itu Bunda.
Juga tas mungil berkepala boneka.
Belikan Bunda kuingin seperti mereka
yang tinggal di rumah gedong sana."
"Anakku sayang ... sabar ya nak
Bunda selesaikan cucian ini dulu.
Esok jika upahnya ada akan Bunda belikan nak.
Tapi bukanlah baju berenda dan berpita kupu-kupu cukuplah sehelai baju katun kaki lima seharga tiga puluh lima ribu.
Bukan pula sepatu merah mengkilat itu nak, Bunda hanya bisa belikan sepasang sandal jepit seharga lima belas ribu.
Dan tas berkepala boneka itu buat apa nak jika nanti tak kan terisi apa-apa.
Sabar nak, Bunda hanya berupah seratus ribu.
Tapi esok lebaran kita kan makan enak, Bunda akan membeli tahu dan membuat sambal yang enak, masih ada sisa limapuluh ribu buat hidangan lezat kita nanti.
Nak sabarlah yang penting kau tetap sekolah agar tak menjadi seperti Bunda."
"Bunda ... kapan aku bisa seperti anak-anak itu Bunda, bermain dengan sepeda, berbaju bagus, dengan pita di kepala, tinggal di rumah besar berpagar tinggi duuuh ... pasti senyaman istana."
"Esok, nak jika kau telah menjadi seorang bidan, kau akan seperti mereka memiliki anak-anak yang tak kan pernah merasakan sepertimu maka berjanjilah Nak untuk terus menjadi anak yang pintar agar kau bisa seperti mereka dan Bunda kan terus berjuang tuk mewujudkan mimpimu Nak."
"Bunda ... aku berjanji, aku akan meraih mimpi-mimpiku, aku tak ingin tinggal di emperan-emperan toko ini, aku tak ingin lagi bergumul dengan sampah, aku ingin membelikan Bunda baju yang bagus, aku ingin mengajak Bunda makan di rumah makan dekat pasar itu, aku ingin kita tinggal di rumah yang ada kasurnya Bunda maka restui dan doakan aku selalu Bunda."
" Anakku ... doa Bunda tak akan pernah putus untukmu karena hanya itu lah satu-satunya yang bisa Bunda berikan bagi hidupmu. Hanya setangkup doa milik Bunda yang berharga Nak, sekarang kemarilah sayang ... lelaplah engkau dalam kasih Bunda, esok masih tetap harus kita lalui walau sulit tapi percayalah Tuhan selalu bersama kita."
Bumi Andalas, 18/7/2015
Special to Komunitas Anak Jalanan (KAJ. BUKIT)

Rabu, 15 Juli 2015

NENEKKU MASIH PERAWAN #3 oleh: DUDUNK SAKELAN



SORE yang berselimut kabut. Aku duduk dengan lesu di bawah pohon tomat. Pikiranku benar-benar kacau. Bagaimana tidak, semua teman di Cerpen-Ku menyuruhku mengalah pada nenek. Masa, hanya karena nenek sudah tua, aku harus mengalah? Padahal cinta adalah soal hati---
"Eh, rupanya kamu ada di sini, Dunk? Pantesan saja dicari di kamarnya, nggak ada!" Nenek tiba-tiba sudah bergelayut manja di sebelahku.
Aku mendengus saja. Malas sekali untuk meladeninya. Mending diam seribu bahasa.
"Dunk, besok kan sudah lebaran. Menurut kamu, enaknya Mas Bram dibelikan baju apa, ya?"
Aku kembali mendengus.
"Mas Bram itu ...."
"Alaaa ... Nenek! Mas Bram terus dari tadi yang diomongin?!" Aku berdiri. Lalu, jumpalitan ke atas pohon tomat.
"Dudunk ...! Kamu kenapa, sih? Dari semalam, kok uring-uringan mulu?" Nenek memandangku dengan pandangan cemas, "ayo, turun ...! Nanti jatuh, lho!"

Cara Meminimalisir Kata-Kata


Dalam banyak kasus banyak terlihat pengulangan-pengulangan yang tidak penting pada suatu karangan. Mungkin bukan persoalan salah atau benar, tetapi secara estetika menjadi kurang manis dan indah untuk dibaca. Di samping memang terjadi pemborosan kata.
Contoh: 
Malam Minggu kemarin, aku dan ibu pergi ke pasar malam. Aku dan ibu membeli baju baru. Baju baru itu berwarna merah. Baju berwarna merah adalah kesukaanku.
***
Bandingkan dengan ini.
Malam Minggu kemarin, aku dan ibu pergi ke pasar malam. Kami membeli baju baru berwarna merah, kesukaanku.
***
- Aku dan ibu pada kalimat kedua, diganti ' kami' untuk efisiensi.
- Baju baru itu, pada kalimat ketiga dihilangkan, sedang berwarna merah dimasukkan pada kalimat kedua.
- Kalimat keempat dipenggal, lalu ambil 'kesukaanku' untuk disambung.
- Akhirnya jadi paragraf baru, hanya dengan dua kalimat.
***
Contoh paragraf di atas sangat sederhana. Pada kebanyakan kasus, kita sering 'terperangkap' pada pengulangan kata ganti orang, dan kata sambung, seperti: saya, aku, kau, dia, nya ... Dan, yang ....

Baik, segitu aja dulu, ya?
Semoga bermanfaat.

***