Dropdown

Rabu, 23 Desember 2015

MENULIS ARTIKEL DI KORAN

Oleh: Achmad Solihin

Dulu setelah lulus kuliah, aku sempat bingung mau bekerja apa. Berlembar-lembar surat lamaran sudah kukirim ke berbagai perusahaan namun tak satupun mendapatkan balasan memuaskan. Akhirnya daripada menunggu terus di dalam ketidakpastian, seperti "Waiting for Godot" an sich, iseng-iseng kucoba menulis beberapa artikel lalu mengirimkannya ke koran-koran lokal dan nasional via kantor pos.


Waktu itu biasanya aku menulis pada kertas hvs berukuran A4 dengan spasi rangkap sebanyak 4 hingga 5 lembar per artikel. Dari tujuh artikel pertama yang telah kukirimkan ternyata hanya tiga yang berhasil dimuat, dua tulisanku di Pikiran Rakyat dan satu lainnya di Republika.
Artikel yang kutulis bertemakan masalah kesehatan dan psikologi keluarga. Pernah sekali aku juga menulis soal politik pada suatu event berhadiah di tabloid sebuah parpol. Alhamdulillah, aku menang dan tulisan dengan fotoku yang sedang berjas dan berdasi gagah pun terpampang di tabloid itu. Tetapi sayang, hadiah yang dijanjikan takpernah aku terima sampai detik ini. Sudah dua kali panitia dan sponsornya kusurati, tetap saja tidak ada jawaban sedikitpun. Meskipun begitu, aku bersyukur bahwa setiap orang pasti memiliki potensi besar yang tersembunyi di dalam dirinya. Makanya aku kemudian terus menulis lagi ke koran-koran lain, dan lumayan bisa mendapat honorarium sebesar lima puluh sampai dua ratus ribu rupiah untuk satu artikelnya. 
Cuma sebagai penulis lepas ya kudu sabar. Kenapa? Karena eh karena itu honorarium datangnya kira-kira dua atau tiga minggu setelah tanggal penerbitan artikel kita di koran ybs. Malah kadangkala kita harus proaktif menyurati redaksinya bila setelah lebih dari sebulan upah artikel belum juga kita terima. Sabarnya tuh disitu, ya. Hehehe.. 

Untuk menulis sebuah artikel mutlak wajib mematuhi EYD. Bila kita nekad menggunakan gaya tulisan "semau gue" dijamin pasti ditolak. Seperti menulis ala Marvel tidak akan diterima oleh surat kabar sekelas Kompas, Republika, dan lain-lain. 
Penting bagi kita agar memperhatikan karakter media cetak tujuan sebelum mengirimkan tulisan kita kesana. Segmen pasar remaja atau dewasa, misalnya, dapat kita ketahui melalui pengamatan terhadap muatan tulisan paling dominan di dalam penerbitannya. 
Selain itu, kita dapat pula mengirimkan naskah ke koran umum pada rubrik tertentu sesuai dengan tema yang kita usung. Dalam penulisan judul, buatlah kata atau kalimat yang membuat penasaran si pembaca. Dulu saya pernah menulis artikel kesehatan dengan judul: Pria Juga Mengalami Menopause. Ketika itu yang sering ditulis orang adalah menopause pada wanita. Tentu saja judul tersebut mampu mengundang rasa ingin tahu lebih jauh lagi. Judul sebagai pintu pembuka harus ditunjang pula dengan fakta-fakta akurat dan berbobot sehingga tulisan kita bisa memikat hati pembaca. 
Kunci guna memperluas wawasan pemikiran kita yaitu; membaca. Dengan banyak membaca, kita akan memperoleh banyak pengetahuan. Pilihlah bacaan yang sehat dan mencerdaskan. Jenis bacaan akan ikut menentukan dan mempengaruhi paradigma berpikir kita ke depannya. Jangan mudah berputus asa. Teruslah menulis dan menulis dengan hati riang. Satu ketika insya Alloh akan memetik hasilnya. 
Sedikit tambahan, pada halaman terakhir artikel jangan lupa tuliskan titi mangsa, nama lengkap, alamat, serta nomor telepon. Hal ini untuk memudahkan redaksi disono. Sekarang mah udah zaman canggih, kirim artikel lewat e-mail jauh lebih mudah, Cuy. Demikian, semoga bermanfaat. 

grin emotikon
Bandung Barat, 13-12-2015 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar