Dropdown

Jumat, 08 Januari 2016

Si Pengumpul Batu Kali


Oleh : Linda Puspita Sari
"Seret nenek itu ke kantor polisi!" perintah Pak Lurah kepada ajudannya.
Dua lelaki berbadan kekar yang mengenakan baju serba hitam, dengan sigap manarik paksa tangan Mbah Darmi, si pengumpul batu kali.
Puluhan warga Desa Kedondong, berkumpul di depan rumah janda tua berumur 80 tahun. Hanya satu dua orang saja yang membela Mbah Darmi. Menghalangi jalan para ajudan, tapi justru pukulan keras di bagian perut yang mereka dapatkan. Sementara yang lain bersorak memberi dukungan pada lurah yang buta hati.
***

"Pak, tolong penjarakan pencuri itu!" ujar lurah saat tiba di kantor polisi, dengan geram dia menunjuk Mbah Darmi.
Pak polisi yang bingung, karena mendapat laporan secara tiba-tiba, dengan masih menjaga wibawanya dia bertanya, "Apa itu benar, Nek?"
Mbah Darmi hanya mampu menunduk dan meneteskan air mata, "Maaf, Pak. Saya terpaksa melakukannya. Cucu saya sakit, dan dia lapar. Sementara batu yang saya kumpulkan belum cukup untuk dijual, sehingga saya tidak punya uang untuk beli beras. Lalu saat saya melewati kebun Pak lurah, buah pisang miliknya matang, tapi hampir semua dimakan codot, hanya tinggal dua biji saja yang masih bagus, kemudian saya ambil untuk cucu saya, Pak." Air matanya terus mengalir, penuh penyesalan.
"Maaf, bukankah Nenek mendapat raskin?" tanya polisi muda itu, heran.
"Tidak, Pak. Sudah tiga bulan ini."
"Bohong! Setiap bulan saya menyalurkan raskin dari pemerintah untuk kalian," sahut lurah gugup, saat mendapati sorot mata elang Pak Polisi mendarat di netranya.
"Benar, Pak! Mbah Darmi enggak bohong. Selama tiga bulan ini, kami rakyat miskin tidak mendapat raskin. Tapi justru mereka yang kaya, punya penghasilan tetap yang mendapat bagian. Sementara kami hanya bisa menelan ludah," tukas Adi, pemuda yang tadi membela Mbah Darmi, datang mendekati mereka.
"Bohong! Bohong! Itu semua tidak benar," sanggah Pak Lurah berusaha tetap tenang, meski wajahnya tak mampu menutupi kecemasannya.
Adi yang merupakan teman seprofesi dengan Mbah Darmi sebagai pengumpul batu kali, melingkarkan lengannya di pundak kecil Mbah Darmin.
"Sudah, Pak. Saya tidak jadi lapor." Lurah itu melesat pergi. Namun langkahnya terhenti saat suara lantang keluar dari mulut Pak Polisi.
"Tunggu! Bapak tidak boleh pergi. Anda harus menjalani pemeriksaan terlebih dahulu."
HK, 7/1/16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar