Karya: Ripki Aripianto
Sepasang bola berbinar rupa bintang itu menatapku sekedip. Aduhai gadis rupawan yang kutemui di penghujung senja tadi, berlalunya ia tinggalkan jejak candu. Diri jadi kepayang akan bayangnya yang memakai baju biru, pun helai tiara hitamnya kemerahan panjang terurai, kian indah bersama bandana menghias pesonanya nan lugu. Tak ayal lagi ia akan masuk dalam mimpiku, dan niscaya hariku esok jua lusa turut syahdu, pikirku.
"Sungguh, apa yang kau lamunkan, Nak?" tanya ibu menggelitik indria dengar dan angan awal malam ini.
Tubuhku manut menyusuri langkah sadar beranjak dari sandar, menjauhi bilik dingin istana reyot keluarga mungil rindu berbahagia. Kupandang ibu, "Alangkah ia menawan hatiku, Bu ...," lantunku merdu penuh cinta, "siapakah gerangan warga baru kita itu?"
"Ia Bulan, putri insinyur dari kota. Keluarganya kaya raya tak jelata seperti kita. Maka janganlah kau bermimpi milikinya wahai anakku yang gembala!" Kemudian berlalulah ibu selepas gerak bibirnya memuntah suara rima peruntuh renjanaku.
Masam kala itu pula wajah ibu, seakan derita tanpa harta keluarga kami menjadi pecut beronak. Mungkin kalbu ibu melepuh sebab lama sudah bara menjelaga di rongga sepinya, jelmakan beban, mengingat kami hanya berdua semenjak bapak tenang di pusara ujung desa.
Betul memang ucap ibu bahwa aku hanya si gembala kerbau pembajak. Yang bila malam seperti ini pun kumeniti galengan sawah-sawah orang. Semilir dingin tak kuhirau. Rintih celepuk kubiar. Halimun kutampar gusar, terkadang, kulakukan hanya saat menghalangi mataku pada langit yang ada bulan bergambar si Bulan.
Lihat kunang-kunang yang katanya kuku orang mati, bagiku surgawi di mana hati sepi alam hibur menyuguhi. Walaupun kerjapnya kabur diusir terang oborku yang hendak mengkili-kili lubang belut untuk pengganjal perut pagi nanti. Sampai-sampai kembali kusadar diri, mangsaku belut, mangsa Bulan pasti roti. Ia anak insinyur, sedang aku gembala, anak sawah pula. Haruskah aku jadi punguk pemakan belut yang rindui Bulan penikmat roti? Ya sudah kubatal saja mencari belut. Sebab pikirku kalut. Gengsi pada Bulan bermata bintang. Apa pula kata malam sebagai bapaknya bila melihatku. Derajatku nan rendah bisa malah menitik di nadir. Biar kusembunyi saja dibalik jas tanpa harta supaya gagah laksana Laksamana.
Maka sesampai rumah kan kupecah ayam dari tanah liat pemakan picisan. Picisan dari keringat yang mengkristal semenjak kusandang gelar gembala. Semoga picisan itu seharga baju, minyak wangi, sepatu, atau bila kurang, sandal jepit pun tak mengapa. Asal bisa menambah pesonaku hingga menjatuhkan bulan ke dalam dada yang terlampau lama dipenuhi kabang-kabang ini. Sebesar harap, malah kumau gaba-gaba segera melengkung memayungi aku dan Bulan di pelaminan.
"Nak, mengapa kau belah celengan itu? Bukankah isinya kan kaupakai untuk kuliah di kota?!" Kepalang sial aku tertangkap basah mata ibu.
Terlampau bodoh lidah jujur semenjak kecilku malah menjawab, "Uang ini untuk belanja pakaian dan melamar Bulan, Bu."
"Alamak .... Tangannya belumlah kau jabat, sua baru sekadar tatap, setabik sapa pun belum kau ucap. Elinglah kau, Nak!"
Byurrr!
Mineral dari segelas kaca membasahi wajah, terjungkal aku bangun dari mimpi. Rupanya mimpi masa susah cintaku dulu. Sebab kini aku di dunia nyata bersama Bulan, istriku. Bulan putri insinyur yang kujampi-jampi. Bulan putri insinyur yang kubawa lari, kukawin lari, kucuri paksa, hingga sampai di sini, istana sewaan pinggir kota. Rumah kontrakan.
***
***
Bogor, 4 Januari 2016
RA
RA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar