Dropdown

Sabtu, 30 Mei 2015

Malam Pertama

Karya:Airi Cha

Akhirnya, setelah berusaha setengah abad dan setengah gila. Hany Juwita yang tergabung dalam duo Pluto, berhasil menyandera hati Yan Hendra, dan di tambatkan pada pohon tomat Dudunk. Yan menduda semenjak ditinggal hidup istri nge Te Ka We.

Karena kegigihanya setiap hari nongkrong di bawah pohon tomat,  Dudunk dan Joele merasa kasiman. Mereka menerima Hany sebagai calon istri abah. Namun dengan satu syarat, nggak boleh ada pesta yang bisa mengakibatkan Joele menjadi korban, tumbal kebahagiaan abah.
Sementara Mbak Musi nangis bombay datang ke rumahku.

"HUHUHU ... " tangisnya pilu memecahkan kaca jendela dan anak telinga.
"Napa, Mbak?" tanyaku pake sedikit aja khawatir.
"Dudunk dan Joel, nggak milih aku sebagai EMATIR!" serunya pilu.
"EMATIR apaan, Mbak?" tanyaku.
"Emak tiri, Cha." jelasnya sambil jilat ingus.
"Yang ihklas, Mbak." Aku coba menenangkanya.
"Masalahnya aku sampe belah celengan Semarku buat beli Bred Fit!"
"Siapa lagi Bred itu, Mbak?" tanyaku binggung.
"Sapi jantan, buat pasangan Joel, Cha!" sewot Mbak Musi.
"Oalaaaa ...."
Seminggu setelah itu, kampung Cerpen_Ku di ramaikan oleh pesta pernikahan Yan dan Hany, perawan tetangga selemparan batu. Pesta diadakan ala kadar dan ala sadar. Hanya ada lalapan sawit, sumbangan dari Nano Setyoko, sebanyak tiga kontainer. Mangga seratus karung persembahan Musi, walau dengan hati hancur seperti digilas odong-odong. Sementara, Khusni Yakob mengirimkan sepuluh truk pepaya segar, sebagai pencuci mulut. Sempat terpikir olehku, ini pesta perkawinan atau acara rujakan, ya? Ada juga sate bekicot, sajian Dimaz Dewantara dan Khoirul Muhtaromi. Hasil ngembat dari empang tetangga.
Sementara, sebagai partisipasi aku dan yang lainya hanya sumbing hihihi sumbang doa. Bukan pelit, ntar kalau kebayakan yang nyumbang manten jadi keenakan, nggak mau keluar modal.
Hari berganti senja dan malam pun tiba. Para undangan sudah pada pulang. Selayaknya pengantin baru, Hany sudah stanbay di kamar pengantin. Tak lupa minum ramuan Madura pemberian Musi. Rumah terlihat sunyi, Dudunk mungkin ngungsi ke kandang Joel. Sepasang pengantin terlihat malu meong duduk di sisi ranjang.
"Hanhan!" sapa Yan. Hany senyum ngulum gundu.
"Anu, anu,anu!"
"Anu apa dan anu siapa, Bang?" tanya Hany binggung.
"Anu, Abang grogi." Yan tersapu-sapu.
"Sama, Bang!" seru Hany meong.
"Kalau begitu kita pemanasan dulu, yuk!"
"Gimana caranya, Bang?" tanya Hany lugu.
"Kita main loncatan di kasur."
"Oke!" sahut Hany senang.
Dengan semangat mereka berdua berloncatan di atas kasur yang masih baru dan empuk.
Tiba-tiba ...
"Kreekkk ... gudubrrraakkk!" Ranjang pengantin ambruk. Berbarengan dengan itu ....
"Adaaauuu ... moeeehh!"
Yan dan Hany saling pandang. Tak lama kepala Dudunk nyembul dari kolong ranjang, di susul Musi dan Joel.
Tiga mahluk luar biasa ini, cengengesan sembari ngelus jidat mereka yang jendol sebesar buah salak.
"Apa alasan kamu ada di bawah ranjang, Dunk?" bentak abah sewot..
"Pengen belajar, Bah. Biar nanti kalau ada jodoh sudah mahir." jawab kerbau Dudunkmalu-malu.
"Dan kamu, Yem?" sentak Yan.
"Nemani Dudunk, agar ntar belajarnya tidak sendirian." Tersapu-sapu Yem menjawab.
"Dan lantas kamu, Joel? Jangan katakan ...?"
"Moeeh ... meoh ... moooeeehhhh!" Coba buka kamus.
"Biar pinter, Bah. Ntar mas Dunk ngak repot-repot lagi buat ngajari."
"Waduh!" Yan pusing tujuh turunan sembilan tikungan mendengar pengakuan Joel. Belum lagi Yan sempat menarik nafas ....
"Krek, kreeekk, kreeeekkk, gdubbrraaakkk!"
"Siapa lagi itu!" hardik Yan galak.
"Kuciiiinnnggg ... meeooonngggg!" Terdengar suara dari luar seperti jamaah sholat Jum'at.
"Kuciiinggg ...!" Sahut Yan, Hany, Dudunk dan Musi mengalahkan jamaah sholat Subuh.
Sementara di luar terlihat, Nano, Khusni, Dimaz, Khoirul, Achmad Solihin,Zenith Azzura, Sastra Dewita, Dhafitha Linda Nur Azizah, Senja Kelabu, Mj Tinx, Dhenok Raharjo Adji Purnomo Bae Shopya Rangganizer, berlarian kocar-kacir. Tunggang-langgang sampe nungging balik, karena aksi mereka ketahuan. Apes dah.

Bilik Ku, 300515.

Jumat, 22 Mei 2015

TK CERPEN-KU


Sekarang kita akan mengintip kelas B, yang pasti sudah terbayang kelas dengan anak yang imut-imut, manis dan ceria.
Nah ... Itu murid TK Aruna Tosa sudah datang, dengan memakai tas Batman tempat minum bergambar Dora. Nano Setyoko juga sudah datang sambil ngemut buah sawit. Zenith Azzura datang diantar harimau belang. Nano dan Aruna takut bukan kepalang hingga tak sadar mereka berpelukan.
Percaya Sama Zalika datang penuh ceria sambil nyanyi tokek di dinding.Mj Tinx dengan menenteng tas Hello Kitty mengejar Zalika. Khoirul Muhtaromi mungkin murid TK paling kalem, berjalan masuk kelas dan langsung duduk manis.
Cepi Rahmat datang diantar mamanya, ia langsung duduk di sampin Khoirul.
Wah ... murid yang manis-manis, ya ....?
"Selamat pagi, anak-anak?" bu guru Sutini Tini menyapa muridnya.
"Selamat pagi, Bu Guruuuuuuuuuuu!" jawab anak-anak kompak.
"Kita belajar mengenal huruf-huruf ya anak-anak," Bu Sutini mengambil gambar huruf.
Mungkin, kita akan membayangkan anak-anak ini akan memperhatikan Bu guru?
Lihatlah ...
"Aduh, Aruna! Kenapa bawa hp ke sekolah?" Bu Sutini menegur Aruna yang sibuk selfie dengan Zurra.
"Bu, aku kan hobby selfie, aku ngga mau sekolah kalau dilarang bawa hp ih!" jawab Aruna sambil terus selfie.
Bu Sutini hanya bisa geleng-geleng melihat ulah Aruna. Sementara di bangku belakang Nano sibuk menghitung buah sawit yang dibawanya.
"Nano, masukan ke dalam tas dulu ya sawitnya, kan kita mau belajar huruf!" Bu Sutini dengan menahan kesal menegur Nano.
"Ahh! Bu guru nih! aku kan calon pengusaha sawit, jadi harus pandai menghitung sawit, Bu!" jawab Nano sambil terus menghitung sawitnya.
Di bangku depan Zalika malah ngepang rambut Mj Tinx, tak lupa diikat dengan pita pink. Kemudian mereka mengeluarkan boneka barbie dan mulai sibuk bermain.
"Zalika, Mj! Simpan dulu ya mainannya nanti pulang sekolah baru boleh main barbie!" Bu Sutini dengan suara menahan emosi menegur dua muridnya.
"Bu guru, kalo di rumah kita ngga bisa main di recokin sama Airi Cha dan Hany Juwita, kalo di kelas kan ngga ada mereka," jawab Zalika.
Aduuuuuhhhh ... Bu Sutini menempelkan koyok cap seribu cabe di dahi karena tak kuat menahan emosi. Harapannya tinggal tertuju pada Khoirul dan Cepi. Dilihatnya dua muridnya itu sedang belajar huruf, yah ... Inilah murid yang tekun. Bu Sutini menghampirinya.
"Khoirul lagi belajar menulis, ya?" tanya Bu Sutini ramah dan penuh kasih sayang.
"Iya, Bu guru,"
"Wahh ... bagus, boleh ibu lihat nulis apa,"
"Nulis ini, Bu," jawab Khoirul sambil menunjukkan tulisannya yang walau masih kayak cakar ayam tapi bisa terbaca, isinya, "Aku cinta Sastra Dewita anak kelas A,"
Bu Sutini langsung berkunang-kunang pusing tak terkira.
"Bu Guru mau lihat tulisan Cepi, ngga?" tanya Cepi.
"Ya, mana Cepi,"
Cepi menyodorkan tulisannya isinya: "kita putus Rumman Ahmar"
Bu Sutini tanpa banyak kata lagi, ia keluar kelas dengan niat ingin mengundurkan diri. Tak tahan dengan ulah murid-muridnya

NANNY (BAG.9)

a


Selamat Tinggal Dilan
Non Lea memasuki kamar Dilan dengan membawa selembar kertas dan pena.
"Nanny, kontrak kerja keduamu. Tanda tangan disini," perintahnya sambil menyodorkan pena dan meletakkan kertas di hadapan Najma.
"Maaf, Non Lea, saya tidak memperpanjang kontrak."
"Apa! Lea tidak suka yang begini. Bagaimana Dilan?" katanya sedikit panik. Najma tersenyum saja menanggapi.
"Jangan terlalu khawatir. Ambil saja nanny baru, serahkan pada saya. Saya baru pergi saat Dilan sudah mengenal dan nyaman bareng nanny barunya. Saya masih banyak waktu."
"Yah, nanny selalu punya banyak cara." kata Non Lea sambil berlalu keluar kamar.
Meja makan. Di sanalah setiap kabar baru tersampaikan. Saat sarapan dan makan malam. Di waktu itu saja keluarga ini berkumpul. Selepasnya dunia berbeda bagi mereka. Kabar rencana Nanny Dilan mengundurkan diri untuk menikah, merebak pagi ini.
***
Najma memperhatikan Dilan yang tengah menapakkan kaki di rumput taman yang basah oleh embun pagi. Rasa geli dikakinya membuat Dilan tampak lucu.
"Ini terapi yang baik untukmu bayi Dilan,"gumam Najma, yang kemudian terkejut mendengar seseorang menguap di dekatnya.
"Ko Lip?"
"Nanny, benar-benar akan menikah?" tanya Ko Lip dengan wajah ngantuknya. Najma tersenyum dan mengangguk.
"Kau bahkan tidak pernah mengambil cuti. Kapan pacarannya?"
"Saya tidak melakukan itu."
"Jadi bagaimana bisa menikah?"
"Itulah adat kampung halaman. Wanita yang sudah dewasa, lalu seorang pria menginginkannya, dan datang pada orang tua untuk meminang," kata Najma menjelaskan. Ko Lip nampak terbengong.
"Begitukah?"
"Ya. Mirip seperti islam mengajarkan. Bedanya, islam mengijinkan pertemuan pertama yang di sebut ta'aruf. Saat ta'aruf kurang berkenan di hati, baik wanita atau prianya boleh menolak."
"Lalu ..., kau tidak bisa menolak?"
"Kenapa harus menolak? Pria itu pilihan keluarga, pasti baik. Kami melakukannya turun temurun dan menyukainya."
"Kau tidak menyukaiku, em... maksud Lip, seperti kebanyakan wanita suka."
Najma jadi tertawa melihat tingkah Ko Lip. Tapi kemudian memasang wajah serius.
"Tentu saja suka, Ko.... Siapa yang tidak suka pria tampan dan kaya? Tapi sukanya seorang untuk menikah tidak sederhana. Perbedaan yang banyak, hari akan jadi susah dilalui."
"Lip, ajarkan nanti."
"Seperti kamus dan buku yang Ko Lip kasih kemarin-kemarin?"
Setelah menjadi teman, Ko Lip memang sering mengajari Najma banyak hal. Juga memberi buku-buku dan kamus bahasa untuk dipelajari. Terutama dua bahasa keseharian mereka English dan Mandarin. Walaupun Najma juga belajar bahasa asing di yayasan pendidik calon nanny, Najma tetap bersemangat belajar. Nanny wajib mengenal bahasa asing, minimal percakapan sederhana.
"Jadi, Nanny tahu maksud Lip?"
"Ya. Tapi jangan memaksakan diri. Non Santi kelihatannya cantik juga baik."
"Lip suka muslim sepertimu. Diri yang selalu terjaga itu, luar biasa."
"Ko Lip bahkan masih katolik. Bersama Non Santi, Anda bisa mulai belajar dari sekarang, dan jadi muslim yang sejati," saran Najma sambil tersenyum.
"Ok." kata Ko Lip sambil mengangkat bahu dan berlalu pergi.
***
Najma berpapasan dengan ibu Rian yang dipanggil,Non Fung.
"Baguslah, aku tidak harus melihatmu lebih lama."katanya pelan sambil berlalu. Tapi kemudian menghentikan langkah tanpa berbalik mendengar Najma membalas ucapannya.
"Tentu Anda senang. Tapi saya tidak peduli. Orang besar seperti Anda, mengkambing hitamkan orang kecil. Itu bukan apa-apa,"kata Najma tegas. Dengan mengepalkan tangan, Non Fung berlalu cepat menuju kamarnya.
***
Dari balik kaca, Najma memperhatikan Dilan, dengan mata kabur karena basah. Dilan menolak semua makan malam yang diberikan oleh nanny barunya. Mata kecilnya mencari-cari sosok yang dekat dengannya. Bahkan ibunya tidak dipedulikan. Tidak tahan, akhirnya Najma masuk dan mengambil sendok dari tangan nanny baru.
"Sekali lagi, biar saya bantu Dilan makan malam," katanya serak. Dilan pun makan dengan lahap. Non Lea menarik nafas berat.
Akhirnya waktupun tiba. Saat Najma harus pergi. Ditatapnya Dilan yang bermain- main di taman bersama Mattiew, kakaknya. Najma tidak ingin, Dilan melihatnya pergi. Semalam Najma sudah berpamitan pada semuanya. Juga meminta maaf pada Pak Sopyan dan Non Fung walau tidak dianggap sekalipun.
"Selamat tinggal Dilan, semoga kau tetap sehat dan baik- baik saja. Juga... Cepat besar."
Tamat
***

Kamis, 21 Mei 2015

NANNY (BAG.8)

a


Tabir Yang Tersingkap
Najma melihat Mattiew sendirian bermain bola di taman.
"Nanny Dilan, please take for me!"teriaknya sambil menunjuk bola di bawah tangga.
"Where your nanny?" tanya Najma sambil berjongkok mengimbangi tinggi Mattiew, sambil menyerahkan bola. Mengimbangi tinggi anak saat berbicara adalah adab yang diajarkan pada setiap calon nanny, untuk mendapatkan perhatian anak.
"Nanny go to eat."
"O."
Najma melirik jam di tangannya. "13:10, makan siang sudah lewat. Kenapa Mattiew ditinggal begitu lama? Pasti ada sesuatu,"pikir Najma.
Benar saja, baru Najma hendak beranjak, Wati datang dengan wajah tegang.
"Ada apa? Kenapa Mettiew ditinggal sendirian jam segini? Makan siang telat juga?"
"Udah jangan banyak tanya. Semua lagi bingung. Sore nanti nyonya besar mau nyidang kita semua."
"Masalah apa lagi?"
"Ada yang pakai sambungan telepon jarak jauh sampai jutaan tagihannya."
Najma terbengong, dan segera bergegas mancari info lengkapnya.
Semua tampak berkumpul di depan TV.
"Mbak Ima, siapa yang ngasih tahu pertama?"tanya Najma penasaran.
"Pak Agus. Karyawan di kantor nyonya. Sekarang ke kantor telkom buat ngelacak kemana tujuan panggilan.
"Tapi kenapa semua tegang? Yang penting kan nggak pakai telepon itu,"heran Najma melihat ketegangan semua.
"Suster kan belum pernah disidang nyonya. Suaranya menggelegar seperti petir. Nggak salah juga gemeter duduk di sana nanti,"kata mbak Ima sambil menunjuk ruang tamu. Mimi, asisten rumah yang paling muda tampak sangat gelisah
"Mimi kenapa?"tanya Najma.
"Mimi, ngelap telepon setiap hari. Jangan-jangan kepencet tanpa sadar, bagaimana?" tanya Mimi lugu.
"Kalau kepencet terus ditutup lagi habisnya nggak jutaan, Mi,"kata Najma. Mimi tersenyum lega.
Sore hari ketika semua ada dirumah, nyonya besar turun dan memanggil semua pekerja di rumah itu, kecuali sopir pribadi keruang tamu.
"Kalian tahu kenapa dikumpulkan di sini!?"tanya nyonya dengan suara keras dan berwibawa. Semua menunduk tak ada yang menjawab.
"Kalian di sini bekerja. Tidak diperkenankan menggunakan fasilitas rumah, selain untuk urusan pekerjaan. Tagihan telepon melonjak tinggi bulan ini. Bukan masalah biayanya. Saya tidak suka pekerja disini bertingkah lancang! Line telepon yang aktif keluar cuma ada tiga. Kamar saya, kamar Non Fung dan ruang baca pribadi saya. Siapa yang berani menjelajah dan menggunakan fasilitas tanpa ijin!?"
Suasana sungguh tegang, ketika seseorang memasuki ruangan. Pak Agus masuk dengan selembar kertas di tangannya.
"Gimana, Gus. Ke mana panggilan menuju?" tanya nyonya dengan suara rendah.
"Panggilan jarak jauh ke Kute Bali, Nyonya. Tanggal (...)." Pak Agus menyebutkan tanggal yang terbaca dari kertas yang dipegangnya. "Selama lima hari berturut-turut,"lanjutnya.
"Itu tanggal, saat Yanyan ke Kute kan?" kata Non Lea, ibu Dilan.
Semua mata menuju kearah Non Fung dan Pak Yanyan, ayah dan ibu Rian.
"Tapi Fung pakai ponsel buat telepon Daddy," kata ibu Rian menatap bingung suaminya.
"Panggil Sopyan ke sini!" perintah nyonya tegas.
"Sopyan, waktu di Bali, kamu disewakan kamar di hotel yang sama dengan Pak Yan, kan? Apa ada yang meneleponmu?" tanya nyonya, ketika Pak Sopyan sudah masuk dan duduk.
"Ya, Nyonya," kata Pak Sopyan sambil menunduk.
"Siapa!"
"Mira, Nanny Rian yang lama."
Semua saling pandang. Kini tatapan nyonya besar menancap pada Fung menantunya.
"Fung, urus ini. Jangan sampai terulang. Perhatikan orang-orang pribadi kalian," katanya sambil beralih menatap semua anak dan menantunya.
"Maaf, Nyonya. Boleh saya bicara?" tanya Najma yang kemudian menarik semua mata menatap kearahnya.
"Ya, Nanny Dilan."
"Nanny lama Rian, keluar bukan karena saya, Nyonya."
"Lalu?"
"Saya tidak tahu apakah bermasalah dalam kerja, hanya saja saya tahu kedekatannya dengan Pak Sopyan, dan kemarahannya pada saya hanya karena cemburu. Saya meminta bantuan Pak Sopyan, atas perintah Non Lea."
"Fung, urus ini jangan sampai terulang,"kata nyonya sambil menatap menatunya itu tajam. " Saya tidak suka, orang-orang tidak nyaman kerja di sini karena masalah seperti itu. Sekarang, semuanya teruskan pekerjaan kalian,"lanjutnya sambil mengalihkan pandangan pada para pekerja.
Sorot mata kebencian ibu Rian semakin terasa tajam bagi Najma, tapi Najma tidak takut. Lega rasanya kebenaran terungkap. Najma sungguh kagum atas kebijakan nyonya besar, mengatasi masalah dalam keluarganya.
Bersambung ke episode 9: Selamat Tinggal Dilan (tamat)

Rabu, 20 Mei 2015

NANNY (7)



Intrik Dan Kambing Hitam
Najma tengah mengisi buku laporan harian sambil menjaga Dilan bermain-main di dekatnya. Bayi mungil itu kini telah aktif bergerak. Dilan selalu saja meraih tangan nannynya untuk naik kepangkuan. Najma memberikan ponselnya agar bisa menjauh sejenak, hingga laporannya selesai.
"Yah! Basah kena air liur," pekik Najma tertahan. Cepat-cepat coba dihidupkannya ponsel itu. Gagal.
***
"Non Lea, ponsel saya tidak akan bisa dihubungi sementara,"lapor Najma, agar bosnya tidak menghubungi untuk menanyakan kabar Dilan, seperti biasa saat di kantor.
"Rusak? Minta tolong sama Pak Sopyan bawa ke servis. Hari ini dia standbay di rumah," katanya menyarankan. Najma mengangguk.
"Pak Sopyan, bisa bantu bawa ponsel saya ke servis?"tanya Najma.
"Tentu. Apa sih yang nggak buat nanny cantik seperti kamu?"katanya genit.
"Ih, simpan saja itu untuk nanny Rian,"kata Najma mencoba bercanda. Sungguh terpaksa Najma menemui bapak genit itu. Najma segera berbalik untuk masuk kembali kerumah, ketika dilihatnya Mira telah berdiri kaku di hadapannya.
"Eh, Suster Mira, itu tadi...." Najma gugup dan bingung mau berkata apa. Mira sudah terlanjur salah paham karena cemburu dan malu menyadari Najma tahu tentang hubungannya dengan sopir bos.
"Ah, dia memang cemburuan. Lupakan saja, nanti aku bereskan," kata Pak Sopyan.
Najma bekerja dengan tegang hari itu, dan Dilan menjadi rewel hingga komplit penderitaan Najma. Belum lagi cemburu buta Mira yang menurut Najma tidak masuk akal menjadi berbuntut panjang. Najma tidak bisa bertemu Mira di kamar Rian untuk menjelaskan. Ibu Rian yang galak tidak mengijinkan seseorang berada di wilayahnya tanpa berkepentingan dengan dirinya.
"Nanny, ada masalah apa sama nanny Rian?" Najma terbengong mendapat pertanyaan tak terduga itu.
"Bahkan para bos tahu? Keterlaluan," geram Najma dalam hati.
"Hei... , Nanny!"
"O, tidak ada. Mungkin salah paham, Non Lea."
"Ibu Rian kadang naif untuk wajah didepan Mami, hati-hatilah,"kata ibu Dilan yang dijawab anggukan oleh Najma.
Najma bergegas kebawah ketika ada kesempatan. Benar saja gosip hangat tersebar di sana.
"Suster Najma, ada masalah apa? Suster Mira mau keluar."
"Gimana, Mbak Ima tahu?"
"Semua tahu. Waktu sarapan tadi Non Fung, ibunya Rian bilang ke Nyonya."
"Bilang apa?"
"Nanny Rian mau keluar gara-gara nanny Dilan," kata Mbak Ima menirukan ucapan ibu Rian.
Akhirnya Mira benar-benar keluar dari keluarga itu. Tanpa mau bertemu Najma untuk menjelaskan apa masalahnya. Najma tidak lagi merasa nyaman bekerja karena sorot mata kebencian ibu Rian kerap ditemuinya. Ibu Rian menganggap Najma penyebab kesulitannya harus beradaptasi lagi dengan nanny baru.
Bersambung ke episode 8: Tabir yang tersingkap.

Selasa, 19 Mei 2015

NANNY (BAG.6)

a


Sisi Lain Ko Lip
Najma tengah menyusun botol susu kedalam steamer(alat pemanas untuk mensterilkan perlengkapan makan bayi), ketika pintu kamar diketuk dari luar.
"Masuk!"
Ko Lip membuka pintu perlahan dan melongokkan wajah.
"Ada apa?" tanya Najma heran. Tidak biasanya Ko Lip mencarinya.
"Pinjam toilet," katanya sambil menunjuk kamar mandi yang tengah terpakai. Lantai dua rumah ini memiliki 5 kamar dan hanya kamar Dilan dan neneknya yang memiliki toilet tersendiri.
"Heran, kenapa bukan toilet ibunya yang dipinjam," gerutu Najma dalam hati.
"Sebentar saya turun Ko, tapi jangan berisik ya, Dilan bobo."
"Ok."
Najma turun sementara Ko Lip ada menggunakan kamar mandi.
"Sekalian makan,"gumam Najma, sembari menuruni tangga. Taman bawah tangga yang gelap membuat dapur terlihat jelas dari balik kaca. Beberapa orang tengah makan bersama termasuk Wati dan Mira. Najma bergegas menghampiri.
"Dilan sudah tidur?"tanya Wati, melihat Najma datang.
"Sudah."jawab Najma. Tapi tiba-tiba, terdengar suara dari monitor yang dibawa Najma. Gubraaakk!
"Cepet periksa, mungkin kebentur box. Dilan sudah rusuh bobonya,"kata Wati lagi.
"Itu dari kamar mandi. Ko Lip pinjam toilet." Semua saling pandang.
Cie Eng yang duduk agak jauh nampak tersenyum sinis.
"Semua nanny baru di sini didekati sama Lip. Tidak tahu apa maksudnya,"katanya acuh seolah pada diri sendiri.
"Benarkah?"tanya Najma memandang tak percaya pada Wati dan Mira. Keduanya menggangguk bersamaan.
"Tapi tidak lama kok, terus biasa lagi. Aku sih seneng aja didekati Ko Lip yang ganteng itu," kata Mira dengan mata berbinar.
"Ihh!" semua kompak bergidik. Najma terbengong memikirkan sesuatu.
Najma naik kelantai dua, tetapi tidak langsung masuk kekamar. Duduk termenung dikursi teras sampai tidak menyadari Ko Lip sudah duduk di sampingnya.
"Lama sekali. Lip mau tidur takut Dilan bangun," kata Ko Lip mengagetkan Najma.
Najma tidak menjawab, hanya mengangkat tinggi monitor yang dibawanya.
"O,tahu begitu tadi ditinggal aja," gumam Ko Lip.
Lama berdua terdiam dalam pikiran masing-masing.
"Apa yang bunyi tadi?"
"O, shawer lepas."
"Saya harap tidak sering pinjam toilet di kamar Dilan."
Ko Lip diam, lalu katanya, "Lip tadi mau panggil kamu naik, sudah selesai pakai toilet, tidak sengaja dengar kalian ngobrol."
Najma tertegun, dan suasana jadi tegang di antara keduanya.
"Maaf."
"Tidak perlu. Dulu Lip punya nanny muslim. Lip ingat betul karena diasuh lama hingga menjelang SMP." Tidak disangka Ko Lip mau berkisah. Najma diam menjadi pendengar yang baik.
" Lip penasaran dengan islam, bukan hanya karena nanny. Mami dulunya dari keluarga muslim, tapi masuk katolik ketika menikah dengan Papi, dan diboyong ke Australi. Bahkan Mami tidak keberatan Lip belajar islam biarpun beragama katolik."
Ko Lip mengakhiri kisahnya dan menatap Najma.
"Dari semua muslim yang Lip kenal, dan Lip dekati, cuma nanny Dilan yang perilakunya mirip nanny Lip dulu. Bahkan Santi, pacar Lip, seorang penganut islam yang modern."
Diwaktu berikunya, Ko Lip dan Najma pun menjadi seperti teman.
Bersambung ke episode 7: Intrik dan dikambing hitam

Senin, 18 Mei 2015

NANNY (BAG.5)



Tingkah Lucu Para Pria Dalam Istana
Najma baru saja selesai mendandani bayi Dilan ketika Pak Yoon baru keluar dari kamar mandi, berbalut handuk besar. 
"Baby ... anak daddy!" serunya sambil melangkah cepat, berniat mampir ke kamar putranya. Dengan cekatan Najma mengangkat Dilan dan segera melewatinya keluar kamar.
"Dilan akan menunggu Anda di bawah untuk sarapan," kata Najma dengan tegas. Pak Yoon nampak tersenyum malu.
Najma kini harus ekstra hati-hati. Najma menyadari, keluarga tempatnya bekerja bukanlah muslim yang mengerti prinsip islam dalam bergaul. Mereka yang memang keturunan asing menganggap kekonyolan mereka adalah wajar. Mereka menikmatinya sebagai hiburan. Tetapi mereka orang-orang pandai dan bukan penjahat. Jika tidak diberi kesempatan tidak akan melakukan hal yang berlebih.
Najma membuat minuman di dapur bawah.
"Dilan masih lama, secangkir kopi enak nih," pikir Najma.
"Kopi ya? Bisa tolong sekalian?" Pak Sopyan menyodorkan sebungkus kopi. Najma tersenyum mengangguk.
Dua gelas kopi dibawa Najma menghampiri Pak Sopyan di depan TV.
"Duduk sini, aku punya biskuit."
"Terimakasih. Ini kopinya."
Najma duduk di depan Pak Sopyan. Tanpa sengaja menelitinya.
"Seorang yang sudah sangat dewasa. Umurnya 40-an tahun. Tidakkah memiliki keluarga?" batin Najma.
"Hei ..., malah melamun. Nanti keburu bos selesai sarapan lho," kata Pak Sopyan menyadarkan Najma.
"Sudah lama jadi nanny?"
"Sekitar 2 tahun."
"O, sudah ku duga. Kau baru seumuran anakku."
"Bapak punya putri seusia saya?"
"Kenapa kaget begitu?"
"Itu artinya, juga seumur Mira?" Najma menutup mulut, menyesali ucapannya. Dilihatnya Pak Sopyan tertegun, tapi sedetik kemudian tawanya meledak.
"Ha ha ha! Suster, hidup kita begitu membosankan. Kalian diam di rumah seharian dengan seorang bayi, dan kami di mobil hampir seharian juga. Apa tidak bosan? Cari hiburan yang murahlah. Kau mau ku kenalkan sama sopir Pak Yoon?"
Kata-kata Pak Sopyan yang panjang lebar membuat darah Najma menggelegak naik. Panggilan dari ruang makan menjadi penolong bagi Najma agar segera berlalu dari hadapan pak sopir yang kini tampak menjijikkan.
Najma membawa Dilan ke lantai dua. Langkahnya yang cepat membuatnya hampir menabrak Ko Lip yang telah rapi dan siap turun untuk berangkat kerja.
"Hei, ada apa itu wajah...," katanya sambil mengulurkan tangan hendak menyentuhkan ke pipi Najma. Najma segera mengangkat wajah dengan mata melotot. Ko Lip segera mundur dan melebarkan jemari kedua tangannya di depan dada.
"Oh, sorry," katanya dengan wajah bersalah.
Najma berlalu sambil ngedumel. "Ada apa semua orang hari ini." gerutunya.
Bersambung ke episode 6 ; Sisi lain Ko Lip

Minggu, 17 Mei 2015

NANNY (BAG.4)


Goda Dan Cinta Lokasi
"Nanny Dilan!" panggil Lea bos Najma sambil mengangsurkan selembar kertas. "Jadwal Dilan minggu ini," sambungnya.
Usia Dilan kini telah lewat tiga bulan. Telah mengikuti jadwal keluar orang tuanya. Najma membaca catatan yang diberikan padanya.
"Minggu pagi ikut ke Hiyat Hotel?" gumam Najma.
Ternyata akhir pekan mereka isi jalan bareng keluarga besar. Hiyat Hotel adalah dimana mereka tergabung dalam sport club. Para bapak olahraga di gym, sementara para istri mengikuti bimbingan yoga. Semua anak-anak dan nanny dibawa. Para bos membawa sendiri mobil masing-masing. Sopir pribadi semua libur.
"Le, kita berangkat dulu aja sama Mattiew, Dilan daddy jemput agak siang nanti,"kata ayah Dilan pada istrinya, tadi pagi. Jadilah Najma tidak perlu terburu-buru, masih banyak waktu.
Najma, telah siap menunggu jemputan dengan tas perlengkapan besar di punggung dan menggendong Dilan. Mobil ayah Dilan masuk kehalaman. Najma buru-buru mendekat. Pak Yoonn ayah Dilan turun dan mengambil tas Najma untuk dimasukkan ke dalam mobil, lalu membuka pintu belakang mobil untuk Najma.
Mobil berjalan perlahan diiringi musik yang mengalun lembut.
"Dilan ... ,mana anak daddy?" kata Pak yoon sambil mengulurkan tangan kebelakang. Najma berinisiatif menggeser duduk ke tengah hingga Pak Yoon bisa menyentuh putranya. Tapi rupanya Pak Yoon tidak benar-benar ingin bercanda dengan Dilan. Sekalipun kaki Dilan dapat disentuh, tangannya tetap meraba-raba hingga sampai ke kaki Najma bagian atas. Najma menyadarinya dan menimpakan tubuh mungil Dilan ketangan nakal tersebut. Pak Yoon segera menarik tangannya dan kembali menyetir mobil dengan dua tangan.
"Nanny, apa kau punya pacar?" tanya Pak Yoon dengan santai sambil berdendang.
"Saya tidak pacaran, Pak," jawab Najma yang kini telah bergerak menjauh dari jangkauan Pak Yoon.
"Sayang sekali. Padahal kau begitu manis. Lebih cantik dari pada pacar Ko Lip," katanya sambil mengedipkan mata nakal. Najma tidak menanggapinya hingga sampai ke tempat tujuan.
Hari Senin, aktifitas kantor kembali dimulai. Jam delapan pagi, ketiga sopir pribadi datang menjalankan tugas. Seperti biasa Najma membawa Dilan kebawah dan menempatkannya dalam kereta dorong. Ayah dan ibu Dilan ingin sarapan sambil menggoda bayi mungilnya.
Najma melihat-lihat ke halaman sambil menunggu waktunya mengambil Dilan kembali setelah orang tuanya selesai sarapan. Rupanya Mira,nanny yang tinggal di kamar bawah juga sedang melakukan hal yang sama. Rian, bayi asuhannya yang empat bulan lebih tua umurnya dari Dilan juga sedang bersama ayah dan ibunya di ruang makan. Tapi ada yang membuat Najma tertegun. Mira yang sedang mengobrol dengan Pak Sopyan sopir bosnya tampak berekspresi berbeda. Cerah dan berlagak malu-malu. Sesekali tangan Pak Sopyan berwisata ke pinggang Mira. Dengan jengah Najma segera berlalu dari halaman.
Bersambung ke: Tingkah lucu para pria dalam istana

Sabtu, 16 Mei 2015

NANNY (BAG.2)

a


Menyambut Tangan Yang Mungil
Najma memasuki sebuah kamar dan meneliti sekeliling. Sebuah box bayi, meja perawatan bayi dengan kasur kecil di atas dan laci-laci di bawahnya mengisi kamar itu. Terdapat tempat tidur ukuran single di pojok ruangan. Kesanalah Najma mengayunkan langkah dan menghempaskan diri sejenak, sambil tetap meneliti sekeliling kamar.
Najma membongkar kopernya dan menyusun barang pribadi di sebuah lemari pakaian di belakang pintu. Terdapat lorong di sampingnya yang ternyata mengarak ke kamar mandi. Najma menarik sebuah buku kecil dan sebuah pena dari saku koper sebelum mendorongnya kepojokan supaya terlihat rapi. Setelah dirasa beres, Najma beranjak dan duduk di pinggir tempat tidur, lalu mengisi buku yang dipegangnya. Buku ini adalah sarana untuk membuat laporan harian pekerjaannya agar bos nanti bisa ikut memantau keadaan putra ataupun putrinya.
Sore selepas mandi Najma turun kebawah. Ruang asisten rumah tangga yang ditujunya. Najma disambut beberapa orang dengan senyum. Didekatinya mereka dan mengulurkan tangan untuk menjabatnya satu persatu. Ada tiga orang asisten rumah tangga, dua orang nanny seperti dirinya, seorang penjaga keamanan rumah, dan seorang lagi yang menyambut Najma kurang ramah. Dia menyendiri dipojokan saat menonton televisi bersama dan memiliki kamar terpisah. Diketahui belakangan dirinya adalah pengurus rumah tangga yang bertanggung jawab pada semua urusan dirumah itu termasuk para asisten rumah tangga.
"Makan Sus, ambil sendiri dimeja itu. Saya yang masak untuk kita-kita," kata seorang dari mereka yang baru dikenal Najma bernama Ima. Diantara mereka, nanny dipanggil dengan sebutan 'suster' di depan namanya.
Najma duduk menggabungkan diri ikut menonton televisi sambil mengobrol.
" Mbak Ima ini jago masak, masakannya enak," kata Wati yang ternyata nanny dari Mattiew anak pertama Lea. Dan nanny seorang lagi adalah milik adik Lea yang tinggal di kamar bawah di belakang ruang tamu.
Ditengah asyiknya menonton, tiba-tiba sedikit gaduh. Ternyata para tuan rumah yang bekerja baru pulang. Tiga buah mobil masuk halaman. Pak satpam sibuk membuka pagar dan mengatur parkir mobil. Ruang TV yang merupakan lorong masuk membuat mereka yang sedang menonton segera beringsut memberi jalan.
Sepasang suami istri yang tinggal di kamar bawah, lewat begitu saja. Diikuti seorang bapak muda yang ternyata suami Lea yang lewat sambil menebar senyum. Kemudian seorang wanita tua namun cantik, yang ternyata nyonya besar dirumah itu, masuk dan tersenyum. Langkahnya terhenti saat melihat Najma.
"O, nanny baru Lea sudah datang? Yang betah ya," katanya ramah yang disambut anggukan kepala oleh Najma. Terakhir masuk adalah seorang lelaki muda nan tampan bagai artis. Najma tersenyum geli melihat para wanita yang ada nampak salah tingkah.
"Hallo," sapanya ramah.
"Ko Lip, sudah pulang?" Sapa mereka hampir bersamaan.
Orang yang dipanggil Ko Lip adalah bungsu di keluarga itu. Masih lajang dan berkepribadian baik. Keluarga itu sangat menghargai orang-orang yang bekerja di rumahnya. Bahkan Lip tidak segan bercanda dengan mereka, hingga menjadi idola dalam rumah. Konon kekasih Lip yang datang kerap dijahili oleh mereka, sebagai bentuk kecemburuan. Lip menghadapinya dengan santai.
Tida hari sejak kedatangan Najma, lahirlah bayi mungil laki-laki yang diberi nama Dilan. Najma menerima Dilan yang diangsurkan oleh ibunya di dalam kamar.
"Asuh baik-baik, segera lapor kalau ada yang tidak beres. Untuk kebutuhan yang diperlukan, tulis di kertas, berikan pada saya. Mengerti?."
"Ya, Non Lea."
Hari-hari Najma mulai sibuk. Najma turun hanya saat perlu makan dan perlu bantuan seseorang untuk menitipkan Dilan diwaktu darurat seperti perlu kekamar kecil. Tidak ada lagi waktu ngobrol-ngobrol dan saling bertukar cerita. Kecuali dengan Wati yang juga tinggal di lantai atas.
Bersambung ke: Transaksi antar pekerja

***

NANNY (BAG.3)


Transaksi Antar Pekerja
Najma menyalakan monitor setelah berhasil menidurkan Dilan. Perutnya keroncongan karena belum sempat sarapan. Bergegas Najma turun sambil menenteng salah satu baby monitor (alat untuk mendengarkan suara bayi saat ditinggal sendirian) semacam walkie-talkie.
Najma sarapan dengan terburu- buru.
"Oeeekk!" suara dari monitor membuat Najma mengeluh panjang pendek.
"Ampun deh, belum lagi ditelan," gerutunya sambil membuang sarapan yang belum lagi habis dimakan. Mencuci piringnya segera dan berlari kembali ke atas. Suara gaduh di monitornya mengiringi langkah Najma yang memburu.
"Dilan, kenapa cepet banget bangun?" kata Najma sambil mengakat Dilan dari box tempat tidurnya.
"Kring, kring," suara telephon line berdering dengan lampu merah berkedip. Telepon line ini hanya berfungsi di area rumah antar ruangan saja, dan hanya beberapa yang bisa menerima sambungan dari luar. Najma mengangkatnya.
"Suster Najma, rendaman bajumu bisa bau kalau dibiarkan sampai sore lho," suara Mbak Ima dari ujung telepon.
"Jadi?"
"Kucucikan 2 potong 5 ribu?"
"Ampun deh," pikir Najma gondok di hati.
Najma menekan angka 02, line kamar Mattiew.
"Suster Wati, apa mesin cuci nggak boleh dipakai?" tanya Najma.
"Sebenarnya nanny boleh pakai, tapi Cie Eng, si tua itu melarang. Terpaksa kalau repot kita pakai jasa Mbak Ima. Aku yang pegang Mattiew saja nggak bisa nyambi karena peraturan, anak-anak terlarang dibawa ke area cuci dan ruang asisten rumah," kata Wati menjelaskan.
Begitulah, entah siapa yang memulai, transaksi antar pekerja di rumah itu saling dimanfaatkan dengan baik. Bahkan mbak Ima juga menjual kopi untuk melayani para sopir pribadi yang menunggu tugas di pos keamanan rumah. Nanny adalah sasaran paling empuk karena kesibukannya. Sering meminta tolong pada mereka, artinya harus menyiapkan 'jatah' saat gajian, di luar jasa cuci baju yang sudah ditetapkan sebelumnya. Memang gaji Nanny cukup besar, lebih dari dua kali lipat gaji asisten rumah tangga.
Bersambung ke: Goda Dan Cinlok

Jumat, 15 Mei 2015

NANNY (BAG. 1)

Bismillah ...
Keluarga CERPEN-Ku tersayang, saya coba lagi dengan cerbung baru. Kali ini saya ingiin sekali mengangkat kisah tentang sebuah profesi yang sangat dipandang sebelah mata. Saya yakin banyak diantara kita tidak tahu betapa profesi ini juga menimbulkan pengalaman yang unik, menarik dan penuh ilmu dan sarat perjuangan. Tidak berbeda dengan profesi keren lainnya. Nah, mari mulai saja. Semoga terhibur smile emotikon


NANNY
Istana Di Balik Perdu
Oleh: AniS
Hiruk pikuk di sebuah yayasan penyalur tenaga kerja membuat kepala Najma, pusing. Tak dihiraukan semua suara bising itu, dan tetap bertahan mencoba tidur. Kontrak kerja yang telah ditanda tangani siang tadi, mulai berlaku esok hari. Itu artinya Najma harus siap diambil ketempat kerja. Najma tidak mau, kurang istirahat membuat kesan pertama dengan bos, berjalan buruk.
Najma turun dari mobil yang menjemputnya dari yayasan. Pagar tinggi berwarna hijau tua dengan tanaman bambu hias yang merapat di pagar menyambutnya. Keadaan ini membuat rumah terkesan sangat tertutup. Diantar seorang petugas keamanan, Najma memasuki halaman rumah yang tidah terlalu luas.
"Assalamu'alaikum," desis Najma perlahan. Pak satpam yang mengantarnya, menoleh sekejab dan tersenyum.
Najma berjalan membuntuti pak satpam. Rumah yang aneh. Dimulai dari pagar tinggi yang rimbun oleh perdu, halaman minimalis, lalu kamar-kamar asisten rumah tangga yang berjejer bagai rumah kontrakan. Najma melintasi kamar-kamar tersebut dengan heran.
"Di mana-mana, kamar asisten di belakang, tapi ini di ruang paling depan," pikirnya.
Melintas di dapur kecil, ruang cuci dan keluar melewati pintu kaca. Barulah sebuah pemandangan indah tampak disana. Hamparan rumput hijau yang luas dengan patung-patung hiasan. Ruang tamu luas berkapasitas sekitar 30 orang, menghadap taman.
"Benar- benar mampu menipu pengintip yang hendak berbuat jahat. Siasat yang baik," pikir Najma dalam senyum.
"Di ujung sana ada tangga. Naiklah keatas, Nyonya sudah menunggu," kata pak satpam. Najma pun melintasi taman menuju tangga naik.
Seorang wanita berusia sekitar 30 tahun, duduk bersandar di kursi malas. Najma mendekat dan mengangguk. Wanita cantik berkulit putih dan bermata sipit itu tersenyum tanpa bangkit dari kursi malasnya. Keadaannya yang tengah mengandung dan menunggu hari kelahiran, membuatnya tidak leluasa bergerak.
"Najma Nur Aini. Siapa nama panggilanmu? tanyanya sambil meneliti data yang diberikan Najma.
"Najma."
"Baiklah Najma, kau bisa memanggilku Non Lea. Karena babynya belum lahir, kau masih kupanggil namamu. Babyku kelak bernama Dilan, anak laki-laki. Kau akan dipanggil Nanny Dilan, mengerti?"
"Baik Non Lea."
"Masuklah. Calon kamar Dilan, di sebelah kanan, dan akan jadi kamarmu juga. Atur bagaimana kau bisa nyaman bekerja. Sementara istirahatlah." Katanya memberi instruksi. Najma mengangguk dan minta diri.
Bersambung ke: Menyambut Tangan Yang Mungil

Selasa, 12 Mei 2015

Salah Sangka


Salah sangka adalah keliru atau salah menduga. Salah sangka kadang berakhir lucu tapi juga kadang berakhir pertengkaran. Tak jarang menjadi salah paham yang berkepanjangan efeknya cari dukungan untuk pembenaran atas pendapatnya. Untuk mengatasi kita harus mencari tahu dan menganalisa mana yang benar dan yang mana dusta. Waduh ... gaya dah. Seperti contoh dibawah ini.
Yan Hendra sudah lama bersahabat dengan Nano Setyoko bahkan mereka berjanji bila anak-anak mereka besar akan dijodohkan. Setelah anak-anak mereka dewasa Nano dan Yan teringat akan janji mereka dulu.
Yan memanggil Dudunk Sakelan putera tertuanya, dan menceritakan perjanjian antara dirinya dengan Nano.
"Dunk, gimana mau ngga kamu ama anaknya Pak Nano?" tanya Yan sambil goes odong-odongnya.
Setahu Dudunk anak mas Nano itu kan Airi Cha, gadis tomboy yang temenan sama Tarzan, kemana-mana bawa ketapel dan hobby manjat pohon. Pohon melon juga dipanjatnya. Nah kalau aku pacaran sama Airi gimana mau romantis, aku kan ngga bisa naik pohon, cuma bisa naik sapi, ah ... Ngga banget deh. Terus yang kedua Zenith Azzura yang ini lebih parah kemana-mana ditemenin Macan, lah ... gimana mau mesra bisa-bisa aku dicaplok tanpa dimasak.
"Ngga ah pap, anaknya serem-serem kasih Andro Wp aja lah," jawab Dudunk langsung pergi ke kandang sapi.
"Dunk! sini dululah, bener nih kamu ngga mau? ntar nyesel loh," Yan berlari mengejar Dudunk ke kandang sapi.
"Yakin pap, mending aku sama musiyem biar gitu-gitu dia baik hati, ngga sombong, jujur, penyabar dan imut, kayak putri salju deh dia," Dudunk menjawab sambil membelai sapinya.
"Ya sudah kalau begitu kamu tanda tangan surat pernyataan bahwa kamu ngga akan nyesel, dan papa akan menjodohkan adikmu Andro dengan anak Nano." kata Yan sambil mengeluarkan kertas bermaterai 100 ribu.
Tanpa pikir panjang Dudunk langsung tanda tangan diatas materai plus cap jempol biar afdol.
Akhirnya Yan, Dudunk dan Andro datang ke rumah Nano untuk melamar salah satu puterinya untuk Andro. Di depan rumah Nano nampak Zurra sedang bermain dengan macan belang. Sementara Airi nangkring di atas pohon nangka sambil memegang ketapel.
"Hadeh, nih waktu hamil emaknya ngidam apa ya, punya anak parah semua" bisik Dudunk ke Andro.
Yan langsung menjewer kuping Dudunk pakai tang.
"Assalamualaikum," Yan menberi salam.
"Waalaikum salam, cari Papi Nano ya? masuk aja udah ditunggu tuh," jawab Zurra sambil memeluk macannya.
Singkat cerita perjodohan berlanjut, namun tidak seperti yang Dudunk duga, ternyata Nano masih punya anak satu lagi yang selama ini membuka usaha di kota Padang.
Dan begitu diperkenalkan Dudunk hampir mati berdiri anak Papi Nano sangat cantik jauh dari musiyem si puteri salju.
"Perkenalkan ini sulung saya, namanya Sastra Dewita yang telah kita sepakati di jodohkan dengan Andro," Nano memperkenalkan puterinya.
Andro tampak bahagia sementara Dudunk kejang-kejang ayannya kumat.
"Papa, aku mau deh dijodohin," rayu Dudunk setelah sadar dari ayannya.
"Ya berarti tinggal pilih Airi atau Zurra," jawab Yan santai.
"Papa, sama Era aja pap," Dudunk merayu.
Tanpa banyak bicara Yan menempelkan surat pernyataan bermaterai 100 ribu di jidat Dudunk. Dan ... seketika ayannya kumat lagi