Bismillah ...
Keluarga CERPEN-Ku tersayang, saya coba lagi dengan cerbung baru. Kali ini saya ingiin sekali mengangkat kisah tentang sebuah profesi yang sangat dipandang sebelah mata. Saya yakin banyak diantara kita tidak tahu betapa profesi ini juga menimbulkan pengalaman yang unik, menarik dan penuh ilmu dan sarat perjuangan. Tidak berbeda dengan profesi keren lainnya. Nah, mari mulai saja. Semoga terhibur smile emotikon
Keluarga CERPEN-Ku tersayang, saya coba lagi dengan cerbung baru. Kali ini saya ingiin sekali mengangkat kisah tentang sebuah profesi yang sangat dipandang sebelah mata. Saya yakin banyak diantara kita tidak tahu betapa profesi ini juga menimbulkan pengalaman yang unik, menarik dan penuh ilmu dan sarat perjuangan. Tidak berbeda dengan profesi keren lainnya. Nah, mari mulai saja. Semoga terhibur smile emotikon
NANNY
Istana Di Balik Perdu
Oleh: AniS
Istana Di Balik Perdu
Oleh: AniS
Hiruk pikuk di sebuah yayasan penyalur tenaga kerja membuat kepala Najma, pusing. Tak dihiraukan semua suara bising itu, dan tetap bertahan mencoba tidur. Kontrak kerja yang telah ditanda tangani siang tadi, mulai berlaku esok hari. Itu artinya Najma harus siap diambil ketempat kerja. Najma tidak mau, kurang istirahat membuat kesan pertama dengan bos, berjalan buruk.
Najma turun dari mobil yang menjemputnya dari yayasan. Pagar tinggi berwarna hijau tua dengan tanaman bambu hias yang merapat di pagar menyambutnya. Keadaan ini membuat rumah terkesan sangat tertutup. Diantar seorang petugas keamanan, Najma memasuki halaman rumah yang tidah terlalu luas.
"Assalamu'alaikum," desis Najma perlahan. Pak satpam yang mengantarnya, menoleh sekejab dan tersenyum.
"Assalamu'alaikum," desis Najma perlahan. Pak satpam yang mengantarnya, menoleh sekejab dan tersenyum.
Najma berjalan membuntuti pak satpam. Rumah yang aneh. Dimulai dari pagar tinggi yang rimbun oleh perdu, halaman minimalis, lalu kamar-kamar asisten rumah tangga yang berjejer bagai rumah kontrakan. Najma melintasi kamar-kamar tersebut dengan heran.
"Di mana-mana, kamar asisten di belakang, tapi ini di ruang paling depan," pikirnya.
Melintas di dapur kecil, ruang cuci dan keluar melewati pintu kaca. Barulah sebuah pemandangan indah tampak disana. Hamparan rumput hijau yang luas dengan patung-patung hiasan. Ruang tamu luas berkapasitas sekitar 30 orang, menghadap taman.
"Benar- benar mampu menipu pengintip yang hendak berbuat jahat. Siasat yang baik," pikir Najma dalam senyum.
"Di ujung sana ada tangga. Naiklah keatas, Nyonya sudah menunggu," kata pak satpam. Najma pun melintasi taman menuju tangga naik.
Seorang wanita berusia sekitar 30 tahun, duduk bersandar di kursi malas. Najma mendekat dan mengangguk. Wanita cantik berkulit putih dan bermata sipit itu tersenyum tanpa bangkit dari kursi malasnya. Keadaannya yang tengah mengandung dan menunggu hari kelahiran, membuatnya tidak leluasa bergerak.
"Najma Nur Aini. Siapa nama panggilanmu? tanyanya sambil meneliti data yang diberikan Najma.
"Najma."
"Baiklah Najma, kau bisa memanggilku Non Lea. Karena babynya belum lahir, kau masih kupanggil namamu. Babyku kelak bernama Dilan, anak laki-laki. Kau akan dipanggil Nanny Dilan, mengerti?"
"Baik Non Lea."
"Masuklah. Calon kamar Dilan, di sebelah kanan, dan akan jadi kamarmu juga. Atur bagaimana kau bisa nyaman bekerja. Sementara istirahatlah." Katanya memberi instruksi. Najma mengangguk dan minta diri.
Bersambung ke: Menyambut Tangan Yang Mungil

Tidak ada komentar:
Posting Komentar