Najma menyalakan monitor setelah berhasil menidurkan Dilan. Perutnya keroncongan karena belum sempat sarapan. Bergegas Najma turun sambil menenteng salah satu baby monitor (alat untuk mendengarkan suara bayi saat ditinggal sendirian) semacam walkie-talkie.
Najma sarapan dengan terburu- buru.
"Oeeekk!" suara dari monitor membuat Najma mengeluh panjang pendek.
"Ampun deh, belum lagi ditelan," gerutunya sambil membuang sarapan yang belum lagi habis dimakan. Mencuci piringnya segera dan berlari kembali ke atas. Suara gaduh di monitornya mengiringi langkah Najma yang memburu.
"Dilan, kenapa cepet banget bangun?" kata Najma sambil mengakat Dilan dari box tempat tidurnya.
"Kring, kring," suara telephon line berdering dengan lampu merah berkedip. Telepon line ini hanya berfungsi di area rumah antar ruangan saja, dan hanya beberapa yang bisa menerima sambungan dari luar. Najma mengangkatnya.
"Suster Najma, rendaman bajumu bisa bau kalau dibiarkan sampai sore lho," suara Mbak Ima dari ujung telepon.
"Jadi?"
"Kucucikan 2 potong 5 ribu?"
"Ampun deh," pikir Najma gondok di hati.
"Kucucikan 2 potong 5 ribu?"
"Ampun deh," pikir Najma gondok di hati.
Najma menekan angka 02, line kamar Mattiew.
"Suster Wati, apa mesin cuci nggak boleh dipakai?" tanya Najma.
"Sebenarnya nanny boleh pakai, tapi Cie Eng, si tua itu melarang. Terpaksa kalau repot kita pakai jasa Mbak Ima. Aku yang pegang Mattiew saja nggak bisa nyambi karena peraturan, anak-anak terlarang dibawa ke area cuci dan ruang asisten rumah," kata Wati menjelaskan.
Begitulah, entah siapa yang memulai, transaksi antar pekerja di rumah itu saling dimanfaatkan dengan baik. Bahkan mbak Ima juga menjual kopi untuk melayani para sopir pribadi yang menunggu tugas di pos keamanan rumah. Nanny adalah sasaran paling empuk karena kesibukannya. Sering meminta tolong pada mereka, artinya harus menyiapkan 'jatah' saat gajian, di luar jasa cuci baju yang sudah ditetapkan sebelumnya. Memang gaji Nanny cukup besar, lebih dari dua kali lipat gaji asisten rumah tangga.
Bersambung ke: Goda Dan Cinlok

Tidak ada komentar:
Posting Komentar