Najma tengah mengisi buku laporan harian sambil menjaga Dilan bermain-main di dekatnya. Bayi mungil itu kini telah aktif bergerak. Dilan selalu saja meraih tangan nannynya untuk naik kepangkuan. Najma memberikan ponselnya agar bisa menjauh sejenak, hingga laporannya selesai.
"Yah! Basah kena air liur," pekik Najma tertahan. Cepat-cepat coba dihidupkannya ponsel itu. Gagal.
***
"Non Lea, ponsel saya tidak akan bisa dihubungi sementara,"lapor Najma, agar bosnya tidak menghubungi untuk menanyakan kabar Dilan, seperti biasa saat di kantor.
"Rusak? Minta tolong sama Pak Sopyan bawa ke servis. Hari ini dia standbay di rumah," katanya menyarankan. Najma mengangguk.
"Pak Sopyan, bisa bantu bawa ponsel saya ke servis?"tanya Najma.
"Tentu. Apa sih yang nggak buat nanny cantik seperti kamu?"katanya genit.
"Ih, simpan saja itu untuk nanny Rian,"kata Najma mencoba bercanda. Sungguh terpaksa Najma menemui bapak genit itu. Najma segera berbalik untuk masuk kembali kerumah, ketika dilihatnya Mira telah berdiri kaku di hadapannya.
"Tentu. Apa sih yang nggak buat nanny cantik seperti kamu?"katanya genit.
"Ih, simpan saja itu untuk nanny Rian,"kata Najma mencoba bercanda. Sungguh terpaksa Najma menemui bapak genit itu. Najma segera berbalik untuk masuk kembali kerumah, ketika dilihatnya Mira telah berdiri kaku di hadapannya.
"Eh, Suster Mira, itu tadi...." Najma gugup dan bingung mau berkata apa. Mira sudah terlanjur salah paham karena cemburu dan malu menyadari Najma tahu tentang hubungannya dengan sopir bos.
"Ah, dia memang cemburuan. Lupakan saja, nanti aku bereskan," kata Pak Sopyan.
Najma bekerja dengan tegang hari itu, dan Dilan menjadi rewel hingga komplit penderitaan Najma. Belum lagi cemburu buta Mira yang menurut Najma tidak masuk akal menjadi berbuntut panjang. Najma tidak bisa bertemu Mira di kamar Rian untuk menjelaskan. Ibu Rian yang galak tidak mengijinkan seseorang berada di wilayahnya tanpa berkepentingan dengan dirinya.
"Nanny, ada masalah apa sama nanny Rian?" Najma terbengong mendapat pertanyaan tak terduga itu.
"Bahkan para bos tahu? Keterlaluan," geram Najma dalam hati.
"Hei... , Nanny!"
"O, tidak ada. Mungkin salah paham, Non Lea."
"Ibu Rian kadang naif untuk wajah didepan Mami, hati-hatilah,"kata ibu Dilan yang dijawab anggukan oleh Najma.
"Hei... , Nanny!"
"O, tidak ada. Mungkin salah paham, Non Lea."
"Ibu Rian kadang naif untuk wajah didepan Mami, hati-hatilah,"kata ibu Dilan yang dijawab anggukan oleh Najma.
Najma bergegas kebawah ketika ada kesempatan. Benar saja gosip hangat tersebar di sana.
"Suster Najma, ada masalah apa? Suster Mira mau keluar."
"Gimana, Mbak Ima tahu?"
"Semua tahu. Waktu sarapan tadi Non Fung, ibunya Rian bilang ke Nyonya."
"Bilang apa?"
"Nanny Rian mau keluar gara-gara nanny Dilan," kata Mbak Ima menirukan ucapan ibu Rian.
"Gimana, Mbak Ima tahu?"
"Semua tahu. Waktu sarapan tadi Non Fung, ibunya Rian bilang ke Nyonya."
"Bilang apa?"
"Nanny Rian mau keluar gara-gara nanny Dilan," kata Mbak Ima menirukan ucapan ibu Rian.
Akhirnya Mira benar-benar keluar dari keluarga itu. Tanpa mau bertemu Najma untuk menjelaskan apa masalahnya. Najma tidak lagi merasa nyaman bekerja karena sorot mata kebencian ibu Rian kerap ditemuinya. Ibu Rian menganggap Najma penyebab kesulitannya harus beradaptasi lagi dengan nanny baru.
Bersambung ke episode 8: Tabir yang tersingkap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar