Dropdown

Senin, 18 Mei 2015

NANNY (BAG.5)



Tingkah Lucu Para Pria Dalam Istana
Najma baru saja selesai mendandani bayi Dilan ketika Pak Yoon baru keluar dari kamar mandi, berbalut handuk besar. 
"Baby ... anak daddy!" serunya sambil melangkah cepat, berniat mampir ke kamar putranya. Dengan cekatan Najma mengangkat Dilan dan segera melewatinya keluar kamar.
"Dilan akan menunggu Anda di bawah untuk sarapan," kata Najma dengan tegas. Pak Yoon nampak tersenyum malu.
Najma kini harus ekstra hati-hati. Najma menyadari, keluarga tempatnya bekerja bukanlah muslim yang mengerti prinsip islam dalam bergaul. Mereka yang memang keturunan asing menganggap kekonyolan mereka adalah wajar. Mereka menikmatinya sebagai hiburan. Tetapi mereka orang-orang pandai dan bukan penjahat. Jika tidak diberi kesempatan tidak akan melakukan hal yang berlebih.
Najma membuat minuman di dapur bawah.
"Dilan masih lama, secangkir kopi enak nih," pikir Najma.
"Kopi ya? Bisa tolong sekalian?" Pak Sopyan menyodorkan sebungkus kopi. Najma tersenyum mengangguk.
Dua gelas kopi dibawa Najma menghampiri Pak Sopyan di depan TV.
"Duduk sini, aku punya biskuit."
"Terimakasih. Ini kopinya."
Najma duduk di depan Pak Sopyan. Tanpa sengaja menelitinya.
"Seorang yang sudah sangat dewasa. Umurnya 40-an tahun. Tidakkah memiliki keluarga?" batin Najma.
"Hei ..., malah melamun. Nanti keburu bos selesai sarapan lho," kata Pak Sopyan menyadarkan Najma.
"Sudah lama jadi nanny?"
"Sekitar 2 tahun."
"O, sudah ku duga. Kau baru seumuran anakku."
"Bapak punya putri seusia saya?"
"Kenapa kaget begitu?"
"Itu artinya, juga seumur Mira?" Najma menutup mulut, menyesali ucapannya. Dilihatnya Pak Sopyan tertegun, tapi sedetik kemudian tawanya meledak.
"Ha ha ha! Suster, hidup kita begitu membosankan. Kalian diam di rumah seharian dengan seorang bayi, dan kami di mobil hampir seharian juga. Apa tidak bosan? Cari hiburan yang murahlah. Kau mau ku kenalkan sama sopir Pak Yoon?"
Kata-kata Pak Sopyan yang panjang lebar membuat darah Najma menggelegak naik. Panggilan dari ruang makan menjadi penolong bagi Najma agar segera berlalu dari hadapan pak sopir yang kini tampak menjijikkan.
Najma membawa Dilan ke lantai dua. Langkahnya yang cepat membuatnya hampir menabrak Ko Lip yang telah rapi dan siap turun untuk berangkat kerja.
"Hei, ada apa itu wajah...," katanya sambil mengulurkan tangan hendak menyentuhkan ke pipi Najma. Najma segera mengangkat wajah dengan mata melotot. Ko Lip segera mundur dan melebarkan jemari kedua tangannya di depan dada.
"Oh, sorry," katanya dengan wajah bersalah.
Najma berlalu sambil ngedumel. "Ada apa semua orang hari ini." gerutunya.
Bersambung ke episode 6 ; Sisi lain Ko Lip

Tidak ada komentar:

Posting Komentar