Selasa, 30 Juni 2015
Bagaimana Memahami Puisi
Oleh:Achmad Solihin
29 Juni pukul 17:02
Bagi sebagian teman kita, pertanyaan ini akan terasa agak menyulitkan untuk mendapatkan jawabannya. Mengapa? Karena puisi cenderung ingin dipahami dengan pola pikir yang terlalu rasional. Untuk jenis puisi dalam pahatan kekata harfiah dimana pemaknaannya memang terang-benderang (atau secara eksplisit sudah jelas sebagaimana adanya), rasionalitas kita tentu akan cepat menangkap kandungan isinya dengan baik. Contohnya, bisa kita cermati dalam puisi yang steril dari unsur majasi (kata-kata kiasan). Seperti, di antaranya, puisi anak-anak biasanya masih menggunakan kalimat-kalimat sederhana dan akrab dengan dunia bocah. Selain itu, ada juga puisi bermajas atau berkias yang menggunakan gaya bahasa seperti metafora, personifikasi, sarkasme, dan sebagainya. Silahkan buka kembali catatan sekolahnya, dulu saya mulai mendapat pelajaran mengenai gaya bahasa saat duduk di kelas dua dan tiga es-em-pe. Namun waktu itu, belum bisa bikin puisi. Cuma menghapalkan teori aja biar nilai Bahasa Indonesianya gak terlalu jelek. Hehehe.. Dalam memahami puisi majasi, suka atau taksuka ya harus banyak membaca karya orang lain. Bukan menjiplak, tetapi menelaah gaya bertuturnya. Jangan bosan berlatihlah coret-mencoret sebebas mungkin. Sambil mengamati keadaan sekitar, terutama yang paling diminati dan bisa menggugah kepekaan rasa kita. Misalnya; kita dapat menciptakan sebuah puisi mengenai keseharian hidup tetangga di dekat rumah kita. Nampaknya terlalu sepele, tetapi jika sering dilatih akan terasah kepekaan hati kita. Tentu akan butuh waktu, dan juga perlu ketelatenan, Bila menemukan sebuah puisi yang memang sulit diterima secara pemikiran biasa, cobalah simak lalu amati penempatan setiap kata dalam satu larik ke larik berikutnya. Jangan dulu memaksakan diri untuk memahami makna di dalamnya melainkan silahkan menikmati keindahan dan kelenturan gaya bahasa pada pengungkapannya. Terus terang, banyak puisi majasi para penyair yang tidak saya pahami. Namun demikian, saya dapat menikmati puisi-puisi mereka. Itulah letak kenikmatan menghayati puisi. Semoga bermanfaat. Salam kolak manis Cerpen-Ku, I love you all. grin emotikon Cipageran Bandung Barat, 29-06-
Minggu, 28 Juni 2015
KISAH RAMADHAN (BAG.4)
Naskah itu kubaca lagi. Tidak tahu kenapa Bu Linda memberi tugas penulisan skenario pentas sendratari itu padaku. Bukankah di SMU 'CERPENKU' banyak murid lain yang jauh lebih pinter?
Beberapa hari belakangan ini, pikiranku terfokus pada cerita naskah Ramayana ini. Sampai terbawa mimpi, bahkan di saat pingsan.
Sepertinya, harus segera kurampungkan, agar tidak jadi beban pikiran. Mungkin akan jadi kenangan manis kala aku lulus nanti.
Sepertinya, harus segera kurampungkan, agar tidak jadi beban pikiran. Mungkin akan jadi kenangan manis kala aku lulus nanti.
Bersambung...
Eh, dikit banget ya, Mas Dudunk?
Ini tema bikin bingung, jadi inget yang di kampung. Memory sayur kangkung, dari gadis berkerudung, yang mata dan hidung, bikin hatiku bersenandung, melambung sampai langit ujung.
Hingga awan mendung datang dari Bandung, ending menggantung, terkatung-katung, rampung.
Hi hi
lupain, itu curhat orang linlung.
Ini tema bikin bingung, jadi inget yang di kampung. Memory sayur kangkung, dari gadis berkerudung, yang mata dan hidung, bikin hatiku bersenandung, melambung sampai langit ujung.
Hingga awan mendung datang dari Bandung, ending menggantung, terkatung-katung, rampung.
Hi hi
lupain, itu curhat orang linlung.
Terusin cerita aja.
"Baiklah, anak-anak. Kita mulai latihan!" kata Bu Linda Nurazizah. Kaca mata bening yang nangkring di hidung mbangir, menambah anggun wajah manisnya.
Murid-murid -terutama cowok, begitu antusias mengikuti sesi latihan drama ini. Alasannya, apa lagi kalau bukan karena ingin menghayati pesona kecantikan ibu gurunya yang membuai dan melambai. Daun kali, ya?
Murid-murid -terutama cowok, begitu antusias mengikuti sesi latihan drama ini. Alasannya, apa lagi kalau bukan karena ingin menghayati pesona kecantikan ibu gurunya yang membuai dan melambai. Daun kali, ya?
"Ini kan Ramadhan, kenapa pentas drama Ramayana, Bu?" tanya Dimaz. Murid ganteng yang dapat peran jadi Sri Rama.
"Kenapa bukan Umar bin Khotob, atau para wali aja, Bu?" Aditya yang di naskah jadi adik Rama, ikut bertanya.
"Mending Romeo and Juliet. Romantis!" usul Hany Juwita. Tumben dia nda usul cerita horor.
"Titanic, lebih asyik," sahut Ira Andinita. Murid kalem yang bikin aku rada kesengsem.
"Jaka Tarub aja, Bu Guru. Aku ikut jadi bidadari." Musiyem tak mau kalah.
Aku tersenyum. Rupanya pemilik warung kopi itu tak tahan cuma menonton. Eh mana itu putrinya yang imut, ya? Airi Cha, kopinya selalu nikmat!
"Kenapa bukan Umar bin Khotob, atau para wali aja, Bu?" Aditya yang di naskah jadi adik Rama, ikut bertanya.
"Mending Romeo and Juliet. Romantis!" usul Hany Juwita. Tumben dia nda usul cerita horor.
"Titanic, lebih asyik," sahut Ira Andinita. Murid kalem yang bikin aku rada kesengsem.
"Jaka Tarub aja, Bu Guru. Aku ikut jadi bidadari." Musiyem tak mau kalah.
Aku tersenyum. Rupanya pemilik warung kopi itu tak tahan cuma menonton. Eh mana itu putrinya yang imut, ya? Airi Cha, kopinya selalu nikmat!
Andro, Nano, Ifank, Saeful dan hampir semua murid cowok ikut usul. Bukan ingin berpartisipasi, tapi semata-mata ingin dapat tatapan mata Ibu Linda yang indah bagai pelangi senja.
Bu Linda hanya tersenyum menanggapinya.
"Ayo, Mj! Coba jelaskan!" katanya pada putri Pak Kepsek yang mengatur semua dekorasi panggung drama nanti.
"Ayo, Mj! Coba jelaskan!" katanya pada putri Pak Kepsek yang mengatur semua dekorasi panggung drama nanti.
"Rahwana adalah kisah angkara murka karena memperturutkan hawa nafsu. Nah, Ramadhan, intinya adalah pengendalian hawa nafsu," terang Mj.
Wih, kayak bu guru, batinku.
"Nafsu itu fitrah manusia. Tuhan menganugerahkan akal dan pikiran, agar kita mampu mengendalikannya," tambah Mj.
Wih, kayak bu guru, batinku.
"Nafsu itu fitrah manusia. Tuhan menganugerahkan akal dan pikiran, agar kita mampu mengendalikannya," tambah Mj.
Semua murid cowok terdiam. Bukan mendengar ceramah Mj. Sama sekali tak menarik!
Mata mereka tertuju pada Bu Linda. Mengamati wajahnya, gerakan lembutnya, ayunan tangannya, langkahnya, semuanya.
Yah, namanya juga nafsu. Manusiawi, kan?
Mata mereka tertuju pada Bu Linda. Mengamati wajahnya, gerakan lembutnya, ayunan tangannya, langkahnya, semuanya.
Yah, namanya juga nafsu. Manusiawi, kan?
Selesai.
Gading, juni2015
Gading, juni2015
Sabtu, 27 Juni 2015
KISAH RAMADHAN (BAG.3)
Kutinggalkan warung kopi dengan menahan malu. Pulang dan tidur! Itu yang kupikirkan. Sabtu hari bebas, kan? Tadi aja aku bolos. Di sekolah, Pak Guru Achmad Solihin paling beri pelajaran soal warga negara yang baik. Membosankan!
Di SMU 'CERPEN-KU', yang kusuka cuma pelajaran bahasa Indonesia. Soalnya, gurunya cantik banget. Kapan-kapan aku ceritain tentang ibu guru yang namanya mirip baku jamu keliling, Linda Nurazizah.
Kalau sekarang, aku ingin tidur!
Kalau sekarang, aku ingin tidur!
Tak sampai sampai seperminuman kopi, kasur tipis di lantai kamar kost yang sewanya sering telat kubayar, telah berhasil mengantar jiwaku ke alam mimpi.
Di mana aku menjelma jadi konglomerat. Namanya juga mimpi. Bebas, dong!
Di mana aku menjelma jadi konglomerat. Namanya juga mimpi. Bebas, dong!
Nah di mimpi itu, aku menjadi pengusaha sukses, yang menguasai 100% saham kepemilikan PT. Raja Alengka. Perusahaan kopi terbesar di Asia yang mulai merambah Eropa.
"Selain Sinta Dewita dan suaminya, siapa lagi penghuni rumah itu?" tanyaku saat mobil Van berperatan canggih yang kutumpangi berhenti tak jauh dari rumah Kepala Desa Ayodya.
"Cuma adiknya Si Ramadhan, Pi. Namanya Laksmana Aditya," jawab Andro Indrajit, putraku yang jenius, yang mengatur aksi penculikan .
"Tenang, Bos!" sela Rossi, gadis cantik lulusan universitas ternama Amerika jurusan Teknologi Informatika yang kupekerjakan untuk operasi ini.
"Sinyal, jaringan telpon dan listrik di rumah itu, sudah saya blokir," tambahnya.
"Tenang, Bos!" sela Rossi, gadis cantik lulusan universitas ternama Amerika jurusan Teknologi Informatika yang kupekerjakan untuk operasi ini.
"Sinyal, jaringan telpon dan listrik di rumah itu, sudah saya blokir," tambahnya.
"It's show time!" Andro segera menyusul Dimaz Ramadhan yang terlihat keluar dari rumah. Dapat kupastikan, tujuannya adalah kantor Telkom terdekat.
Seperti yang telah diperkirakan, tak lama Laksmana Aditya juga keluar.
"Go!" kataku pada Hany Juwita, salah satu agenku yang ahli dalam urusan merayu dan menyesatkan kaum Adam.
Kini, tinggal Sinta sendirian.
Sebelum bertindak, aku merasa ada yang mengguncang-guncang pundakku.
"Bangun! Sahur!" kata Khusni Yakob, teman kostku.
Sebelum bertindak, aku merasa ada yang mengguncang-guncang pundakku.
"Bangun! Sahur!" kata Khusni Yakob, teman kostku.
"Besok Minggu. Libur, ah! Bebas mau puasa atau tidak."
"Puasa nda pakai libur." Khusni menarik lenganku.
"Tuh, udah aku bikinin kopi."
"Tuh, udah aku bikinin kopi."
Kantukku seketika lenyap. Langsung kuraih gelas yang berisi minuman beraroma syurga. Ya, syurganya anak kost.
"Ih, cuci muka dulu!"
--- besok lagi, ah! ---
Jumat, 26 Juni 2015
KISAH RAMADHAN (BAG.2)
#Tirta_Kerinduan
(Parodi wayang facebook)
(Parodi wayang facebook)
Merasa malu dengan ledekan ibu-ibu di warung kopi, aku bergegas pulang.
Dug!!
Karena tergesa-gesa, kepalaku menabrak kusen pintu. Limbung, lalu jatuh.
Karena tergesa-gesa, kepalaku menabrak kusen pintu. Limbung, lalu jatuh.
Dug!!
Kepalaku membentur lantai. Enak, eh sakit sekali. Entah dari mana datangnya, puluhan kunang-kunang mengerubuti kepalaku.
Di tv, Cita Chitata menyindirku,
... Sakitnya tuh di sini,
di dalam hatiku...
Kepalaku membentur lantai. Enak, eh sakit sekali. Entah dari mana datangnya, puluhan kunang-kunang mengerubuti kepalaku.
Di tv, Cita Chitata menyindirku,
... Sakitnya tuh di sini,
di dalam hatiku...
Semakin lama, semakin sayup, lalu hening, gelap, tak kurasakan apa-apa.
"Papi! Are you oke?" tanya Andro Indrajit.
"Papi cuma capai. Ada apa?" Aku balik tanya.
"Papi cuma capai. Ada apa?" Aku balik tanya.
"Cuma mau kasih tahu, kalau mobil yang Papi pesen sudah siap."
Aku memang pesan mobil dengan disain khusus. Rencana penculikan Sinta Dewita harus berhasil, besok.
Sejak melihat istri Dimaz Ramadhan di peresmian Bendungan Maili, aku seperti minum 'Tirta Kerinduan'. Selalu saja ingin bertemu. Wajahnya seakan terlihat di semua tempat. Di dinding, di lemari, di pohon, di pucuk Monas, di langit, di gelas kopi, bahkan semua iklan di tv terlihat diperankan oleh Sinta.
"Mas! Bangun, Mas. Jangan pingsan di sini!"
"Sinta!?" tanyaku begitu membuka mata.
"Saya Zenith, Mas! Mau ditagih malah pingsan."
"Pingsan di rumahku saja, Mas. Nanti tak kasih jamu beras kencur," kata Linda yang disambut cekikikan ibu-ibu yang lain.
--- besok lagi, ya?---
TIRTA KEHIDUPAN UNTUK ABAH (bag.2)
Halaman ketiga ada Dhea Day, Saeful Nak Bacty, Pncari Jati Diri, Erma Rusyani dan Mj TinxTinx, dengan kasus super galau.
Hahaha ... hahaha, tak sadar Rossi tertawa lepas melihat nama-nama temannya yang tertulis dibuku tamu.
"Rossi, silahkan masuk!" sang asisten tampan menyuruhnya masuk.
Memasuki ruang praktek mbah Ifank, Rossi dibuat mlongo persis Ayam mau nelor. Tak ada kesan seram, tak ada kemenyan, tak ada kembang selapangan. Di meja terdapat komputer, Tv, dan peralatan elektronik lainnya. Mbah Ifank dengan penampilan trendy ala brondy idolanya Hany Juwita sedang sibuk di depan laptop.
"Mbah Ifank? Maaf saya Rossi, anaknya Abah Achmad Solihin," Rossi bingung harus bagaimana.
"Ya, Saya tahu itu, mau cari tirta untuk Abah, ya?" suara mbah Ifank membuat Rossi terlena, suaranya mirip suara Afghan. Serak-serak gimana gitu ....
"I i iya Mbah, tapi Mbah koq ngga kayak Dukun?" Rossi tambah bingung.
"Hahaha, lagipula siapa bilang aku dukun? Setiap penyakit itu Allah telah ciptakan obatnya, kita wajib berikhtiar mencarinya," kata mbah Ifank sambil matanya sibuk melototin laptopnya.
"Mereka yang datang kesini, ada yang galau, ada yang patah hati obat mujarab ya dzikir, karena hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." kata mbah Ifank yang bersuara Afghan persis Abah Solihin kalau lagi ceramah.
"Tirta kehidupan itu ya tirta wudhu, bayangkan lima kali wajah kita terbasuh ditambah sholat sunah lainya itulah tirta sebagai obat," mbah Ifank menjelaskan.
Rossi hanya mlongo, laler dan nyamuk masuk kemulutnya tanpa permisi.
"Mbah lagi sibuk apa, sih?" Rossi memberanikan diri bertanya.
"Hahaha ... sssttt aku lagi buka Cerpen-ku, di group itu aku paling suka ama yang namanya Musiyem. Orangnya manis, ramah, baik hati dan tidak sombong persis puteri salju deh. Tapi kalau koment puisiku rada sableng dia, masa' aku posting puisi sedih komentnya malah ketawa," kata mbah Ifank sambil senyum-senyum membuat jantung Rossi seakan lepas bautnya.
Hadeh ... memandang mbah Ifank, Rossi teringat ayang embebnya Andro Wp. Sebenarnya Rossi sudah ingin putus saja. Rossi seorang pembalap tapi punya pacar jangankan naik motor naik sepeda saja jatuh jungkir balik. Nampaknya Ifank paham perasaan Rossi. Saat itu juga Ifank menyatakan cinlok, cinta di lokasi Pertemuan pada Rossi. Rossi senang tiada tara, lansung bergoyang sowang gaya terbaru.
"Rossi, penyebab Abahmu sering kumat ayannya karena Abah tuh naksir berat Percaya Sama Zalika tapi takut ditolak lagi," kata Ifank bersuara Afghan.
Ah ... biarlah Abah ayan yang penting aku telah cinlok sama mbah Ifank bersuara Afghan. Rossi tersenyum lupa di rumah Abahnya lagi kejang-kejang.
Wkwkwkkkkk ....
Bks, Juni 2015
***
MENCARI TIRTA KEHIDUPAN (bag.1)
Adzan subuh baru saja berlalu, namun Rossi sudah bersiap dengan motornya. Wajahnya tampak diliputi kecemasan. Bum ... buuuummmm ... motornya langsung ngebut di jalan yang masih sepi. Rossi menghentikan motornya di rumah Budy Hakiki, tanpa melepas helmnya Rossi langsung mengetuk pintu berulang-ulang.
"Hadeh ... bentar! Siapa sih!" suara Budy menggerutu sambil memakai sarung.
"Bang, Abah sakitnya kambuh lagi, Bang!" suara Rossi penuh kecemasan.
"Duduk dulu sini, emang Abah Achmad Solihin kenapa? Koq perasaan ayannya sering kambuh sekarang?" tanya Budy heran.
"Waktu kemarin kambuh karena cintanya ditolak Hany Juwita, terus yang sekarang ditolak Mbak Ani Sugiharto, aduh pusing nih, Bang!" ucap Rossi pada Kakak tercintanya.
"Abang punya usul, kamu pergi ke rumah Mbah Ifank Amarta minta air, namanya tirta kehidupan. Abang denger, banyak yang sudah sembuh kalau berobat kesana," usul Budy.
Demi Abah tercinta, Rossi rela memacu motor balap hasil modifikasi odong-odong Yan Hendra. Rossi melewati lembah, mendaki gunung dan melewati rawa-rawa. Sampailah Rossi di gubuk yang sangat menyeramkan di sekitarnya nampak tengkorak kepala binatang berserakan. Pintu masuk bertuliskan "Open" waduh ... nih dukun bisa inggris juga pikir Rossi. Di dekat pintu masuk ada meja kecil taplaknya bermotif kepiting dan udang berbaris.
"Misi ... misi ... Mbah dukun Ifank Amarta, saya ada peluru eh perlu," Rossi agak gemeteran juga.
Tak lama muncul seorang berwajah tampan nan rupawan.
"Nama saya ADitya, saya Asisten Mbah Ifank, silahkan isi buku tamu dulu, ya" sapa ramah Aditya.
Rossi mengambil pulpen bergambar Hello kitty, timbul niat keingin tahuannya, siapa saja yang pernah bertamu ke sini.
Dibuka lembar pertama wew ... Dimaz Dewantara, Hersan Tosa, Budy Cahyadi Putra Ratu, Cefri D'alberqueque, Cahyo Wibowo, Nano Setyokodan Khoirul Muhtaromi dengan kasus patah hati.
Dibuka lembar pertama wew ... Dimaz Dewantara, Hersan Tosa, Budy Cahyadi Putra Ratu, Cefri D'alberqueque, Cahyo Wibowo, Nano Setyokodan Khoirul Muhtaromi dengan kasus patah hati.
Wkwkkkkk ... tak sadar Rossi tertawa sendiri.
Halaman kedua ada Hany juwita, Setia Rahmawati Numbone, Dhenok Raharjo, Puspa Andini, Sastra Dewita, Zenith Azzura dan Airi Cha dengan kasus minta jimat penolak ABG ( Aki-aki Banyak Gaya).
Wkwkwkkkkk kali ini Rossi makin tak bisa menahan tawanya.
Halaman ketiga mohon maaf penulis mau berangkat kerja dulu jadi disambung nanti sore ya ... Hihihi
Bks, Juni 2015
***
Kamis, 25 Juni 2015
KISAH RAMADHAN (BAG.1)
#Akukan _jadi_malu
(Parodi wayang facebook)
Berbagai rayuan kupuisikan, berbagai fasilitas kusediakan, berbagai perhiasan kutawarkan.
Tetap saja tak mengubah pendirian Sinta Dewita.
Tetap saja tak mengubah pendirian Sinta Dewita.
Aku tak habis pikir. Apa kelebihan Dimaz Ramadhan, sehingga Sinta Dewita begitu setia. Bukankah, di desa Ayodya dia cuma seorang Lurah?
Sedang aku?
Aku adalah Prof. Rahwana Romi. Bos besar dari perusahaan kopi terbesar di Asia, PT Raja Alengka.
Aku punya rumah megah, mobil mewah, harta berlimpah. Namun kalah oleh seorang Lurah. Bagaimana aku tidak resah dan gelisah?
Aku adalah Prof. Rahwana Romi. Bos besar dari perusahaan kopi terbesar di Asia, PT Raja Alengka.
Aku punya rumah megah, mobil mewah, harta berlimpah. Namun kalah oleh seorang Lurah. Bagaimana aku tidak resah dan gelisah?
Haruskah aku ikut senam yoga di sanggar adikku Yan Hendra Wibisana?
Atau kuserahkan saja perusahaan ini pada anakku Andro Indrajit, lalu aku alih profesi jadi peternak sapi seperti adikku Dudunk Kumbakarna?
Atau kuserahkan saja perusahaan ini pada anakku Andro Indrajit, lalu aku alih profesi jadi peternak sapi seperti adikku Dudunk Kumbakarna?
Tidak!!
Aku harus dapatkan cintaku. Bagaimanapun caranya!
Kalau perlu, aku akan menculiknya!
Aku harus dapatkan cintaku. Bagaimanapun caranya!
Kalau perlu, aku akan menculiknya!
"Ih, ngopi apa melamun, Mas?" Suara Airi Cha putri Mbok Sumiyem warung kopi sebelah kontrakan mengagetkanku.
"Hi, Hi... Kalau melamun jangan kelamaan, Mas!" Ani Sugiharto bakul pecel itu ikut nimbrung.
"Nglamunin aku, ya?" Si cantik tukang jamu, Dhafitha juga ikut nanya.
"Kopinya dingin, tuh!" Zenit si tukang kreditpun ikut menimpali.
"Hi, Hi... Kalau melamun jangan kelamaan, Mas!" Ani Sugiharto bakul pecel itu ikut nimbrung.
"Nglamunin aku, ya?" Si cantik tukang jamu, Dhafitha juga ikut nanya.
"Kopinya dingin, tuh!" Zenit si tukang kreditpun ikut menimpali.
Akukan jadi malu!
***
KEHEBATAN BRONDY KITA YANG SATU INI
Andro WP adalah salah satu brondy yang terkenal ganteng. Memang, tak dapat dipungkiri lagi soal kegantengannya makanya dia dijuluki brondy bersertifikat A lantaran keabsahannya diakui seluruh kaum hawa sedusun cerpenku.
Di mana-mana tiap kali Brondy kita yang satu ini lewat, gelisahlah seluruh cewek cewek yang melihat atau mendengarnya. Musiyem misalnya, baru mendengar Andro mau lewat saja dia sudah siap-siap ngintip di jendela. Lain lagi Era, dia buru-buru manjat pohon pepaya, sedangkan Airi dan Hany Juwita buru-buru naik genteng. Semua itu, semata-mata dilakukan hanya untuk menikmati kegantengan brondy bersertifikat A ini.
Ketika derap langkah brondy kita sudah terdengar dan mulai terlihat batang hidungnya, cewek-cewek itu mulai nggak karuan gelisahnya.Musiyem ngeces sebaskom, pandangannya mengikuti terus langkah Andro dan saking terlenanya, mukanya nyium jendela. Alhasil muka pun bengkak-bengkak.
Sementara itu, Era yang di atas pohon pepaya, kakinya mulai kesemutan, akhirnya sebelum puas menikmati pemandangan rambut kriting brondy kita, dia malah jatuh merosot berkecipak di comberan, sedangkan Airi sama hany malah asyik ngrumpi, otomatis tidak tahu brondy kita sudah lewat. Akan tetapi, ketika telah jauh, aroma parfum brondy kita nyangkut dihidung mereka maka sambil merem-merem dan mengendus mereka mencari cari aroma itu sampai muka mereka tabrakan. Ah, itulah sekelumit kehebatan Brondy kita ini. Mengenai cerita kehebatan lainnya, akan diceritakan lain kali saja … hehe
***
Rabu, 24 Juni 2015
DEAR, MUSIYEM
Di balik tirai bermotif bunga sakura, Musiyem duduk termanggu di atas tempat tidur, sambil mendekap lutut.
Raut wajahnya terlihat menyembunyikan beban yang dalam. Sesekali matanya melirik jam dinding.
Tak lama kemudian terdengar pintu rumahnya diketuk, Musiyem segera beranjak menuju keruang depan untuk menjumpai siapa yang sedang bertamu.
Raut wajahnya terlihat menyembunyikan beban yang dalam. Sesekali matanya melirik jam dinding.
Tak lama kemudian terdengar pintu rumahnya diketuk, Musiyem segera beranjak menuju keruang depan untuk menjumpai siapa yang sedang bertamu.
Setelah pintu terbuka, Musiyem tampak gugup melihat penampilan beberapa sahabatnya yang begitu memukau.
Kecantikan Sastra mampu menghipnotis para pujangga dengan gaunnya yang berwarna putih, feminin sekali.
Hany terlihat anggun dengan busana casual, siapa yang melihat pasti akan tercengang.
Sementara Airi yang tomboy, membuat orang terkagum-kagum dengan gayanya yang sangat elegan.
Kecantikan Sastra mampu menghipnotis para pujangga dengan gaunnya yang berwarna putih, feminin sekali.
Hany terlihat anggun dengan busana casual, siapa yang melihat pasti akan tercengang.
Sementara Airi yang tomboy, membuat orang terkagum-kagum dengan gayanya yang sangat elegan.
"Woi! Ko bengong sih? Mana masih pakai baju tidur lagi!" celetuk Hany Juwita pada Musiyem".
"Kamu gak jadi ikut Mus, ke acara pesta dansa?" sambung Airi Cha.
"Ayo Mus ganti baju, biar Era yang rias." tambah Sastra Dewita.
"Hmm... Gimana ya? Kayaknya aku gak jadi deh, kalian gak apa kan pergi tanpa aku?" jawab Musiyem ragu.
"Mana asyik kalau gak ada kamu, Mus! Alasannya apa coba?" tanya Hany penasaran.
"Anu... Brondyku gak bisa temenin aku kesana..." ucap Musiyem malu-malu.
"Kan ada kita bertiga, gimana sih?" tukas Airi bingung.
"Iya, tapi pas di sana saat kalian ketemu gebetan masing-masing, pasti aku dilupain..." jawab Musiyem penuh ragu.
"Sudah, ayo ganti baju, biar Era dandanin..." tukas Era, sambil menggandeng Musiyem ke dalam kamarnya.
Setelah selesai, Musiyem tidak kalah cantik dengan ketiga sahabatnya itu, dengan balutan gaun berwarna merah muda, membuat mimik wajahMusiyem sangat manis.
Setibanya di acara pesta, segera Dimaz Dewantara menghampiri Era, juga Airi bersama ADitya. Tidak lama Andro Wp datang kepada Hany.
Ketiga pasangan itupun pergi ke tengah acara pesta, tinggal Musiyemterpaku dalam kekecewaan atas sikap sahabatnya.
Setibanya di acara pesta, segera Dimaz Dewantara menghampiri Era, juga Airi bersama ADitya. Tidak lama Andro Wp datang kepada Hany.
Ketiga pasangan itupun pergi ke tengah acara pesta, tinggal Musiyemterpaku dalam kekecewaan atas sikap sahabatnya.
Tidak jauh dari tempat Musiyem berdiri, sepasang mata tak berkedip melihat dirinya, Musiyem yang tak menyadari akan hal itu, langsung terkejut saat pria tampan itu tiba-tiba berdiri di depannya.
"Mas... Mas... Mas Dude?!" sergah Musiyem terbata.
Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengannya.
"Iya, suatu kehormatan bila Nona bersedia berkenalan denganku?" jawab Dude Harlino dengan ramah.
"Iya, suatu kehormatan bila Nona bersedia berkenalan denganku?" jawab Dude Harlino dengan ramah.
Musiyem dan Dude menikmati acara pesta dengan sangat romantis, seolah lampu hanya menyorot dirinya dengan Dude, terlebih irama musik yang begitu lembut, membuat keduanya bagai raja dan ratu pesta. membuat ketiga sahabatnya iri.
Nb: special buat Musiyem, sebagai balasan cerpen bully sebelumnya oleh percaya, maklum ya Bu, kalau tulisannya rada-rada kacau. Hehe
***
Selasa, 23 Juni 2015
CURAHAN HATI
Oh, Musiyem...
Tak ada lagi yang harus kucurahkan, bila telah kau beberkan isi hatiku.
Untuk keluar rumah saja aku malu, apa lagi untuk ke luar negeri aku tak punya ongkos.
Semua orang telah tau, kalau aku adalah selingkuhan Brondy.
Rasanya wajahku bagaikan tembok China, penuh akan sejarah yang tak mungkin terulang.
Untuk keluar rumah saja aku malu, apa lagi untuk ke luar negeri aku tak punya ongkos.
Semua orang telah tau, kalau aku adalah selingkuhan Brondy.
Rasanya wajahku bagaikan tembok China, penuh akan sejarah yang tak mungkin terulang.
Kepada Sastra Dewita yang baik hati, bantu aku mencari kacamataku yang terjatuh di kolong mejamu.
Aku hilang arah tanpanya...
Untuk Hany Juwita, segera gantikan penaku yang telah kau hilangkan tempo hari.
Tak berdaya aku tanpanya...
Aku hilang arah tanpanya...
Untuk Hany Juwita, segera gantikan penaku yang telah kau hilangkan tempo hari.
Tak berdaya aku tanpanya...
Musiyem, cepatlah kembali membawakan diaryku yang telah kau bawa kabur.
Tak ada lagi yang bisa kau dapatkan dari itu, karna brondymu sudah melamarku malam minggu kemarin.
Tak ada lagi yang bisa kau dapatkan dari itu, karna brondymu sudah melamarku malam minggu kemarin.
Kini aku hanya bisa mengucap maaf kepadamu, sahabatku Musiyem.
Karna kembali aku membullymu lagi dan lagi...
Karna kembali aku membullymu lagi dan lagi...
***
BRONDY CAEM BIKIN LUPA DIRI
" Kampreto ,,,!!! Bego, loh ,,,Sialan, loh ,,,!!!!!" Hujatan yang keluar dari mulut manis Airi Cha membahana terdengar seantero jagad, nggak biasanya umpatan itu keluar dari mulutnya, ini semua tidak lain karena motor kesayangannya terserempet mobil sedan yang mencoba menyalipnya.
Spontan saja pengemudi sedan itu menghentikan laju mobilnya dan keluar menghampirinya, bibir manis yg sedari tadi menggerutu mendadak diam, terkesima karena yg keluar menghampirinya itu tak lain adalah brondy caem ,,,Dimas Dewantara dengan memakai kacamata hitamnya, matanya tak berkedip menikmati ketampanan orang itu, bahkan mbaMusiyem dan Hany Juwita yang kebetulan berada di seberang jalan matanya pun tak berkedip melihat Brondy caem ini, bahkan anak-anak mereka yg lagi naik odong-odong bang Yan Hendra terlupakan seketika.
Spontan saja pengemudi sedan itu menghentikan laju mobilnya dan keluar menghampirinya, bibir manis yg sedari tadi menggerutu mendadak diam, terkesima karena yg keluar menghampirinya itu tak lain adalah brondy caem ,,,Dimas Dewantara dengan memakai kacamata hitamnya, matanya tak berkedip menikmati ketampanan orang itu, bahkan mbaMusiyem dan Hany Juwita yang kebetulan berada di seberang jalan matanya pun tak berkedip melihat Brondy caem ini, bahkan anak-anak mereka yg lagi naik odong-odong bang Yan Hendra terlupakan seketika.
" Ada apa mba ,,,?" tanya Dimas Dewantara menghampiri Airi Cha yang sedari tadi sewot dibuatnya.
" Ach,,, nggak ada apa-apa, anu ,,,eeeeh itu kucing lewat hampir ketabrak !" jawabnya tersipu malu.
" Ooooooh ya sudah ,,,kirain ada apa? kalau begitu saya permisi dulu, ya...." jawab Dimas sambil kembali ke mobilnya dan melaju lagi.
" Cha,,,Cha, kamu ini melihat Brondy caem aja langsung lupa pada pokok masalah hihihihihihhihi ,,,," gumam Percaya Sama Zalika yang sedari tadi hanya terdiam membisu di belakang Airi Cha yang sedang di boncengnya.
***
Cmh,23062015
Senin, 22 Juni 2015
KANGEN BAPAK
Karya: Dudunk Sakelan
SUDAH tiga tahun Nhe
Nha ditinggal
bapaknya pergi ke Malaysia, menjadi TKI. Tentu saja gadis yang baru menginjak
remaja itu kangen berat sama ayah satu-satunya itu. Tiap hari kerjanya cuma
memandangi foto Dude Herlino, untuk menurunkan tensi kangennya, meski foto
bintang sinetron itu tidak ada mirip-miripnya dengan foto bapaknya.
"Kalo kangen, telepon aja, Nha!" saran Rumman Ahmar,
teman akrabnya. Ia tidak tega juga lihat Nhe Nha yang kian hari tubuhnya kian
ndut.
"Udah, Rum, tapi Nhe Nha tetap dilanda kangen yang semakin
berat pada Bapak. Kecuali kalo Nhe Nha melototin fotonya Mas Dude Herlino, baru
perasaan kangen itu jadi terobati."
"U-uh, kamu. Dasar ganjen!" Rumman tertawa.
Nhe Nha mendengus.Tawa Sohibnya tidak membuat hatinya ikut
ceria. Bayangan bapaknya yang lebih kerap menyerupai Dude Herlino, berkelebatan
tanpa henti di benaknya.
Setelah berpikir dan merenung, Nhe Nha pun berkeinginan untuk
menyusul bapaknya. Hal itu kemudian diceritakan pada Bu Musiyem,
emboknya.
"Kamu berani berangkat sendirian?" tanya Bu Musiyem
sambil menatap sendu pada anak sematawayangnya. "Malaysia itu jauh,
Nak!"
"Ibukota Malaysia Kualalumpur kan, Mbok?"
"Iya."
"Ya, dekat. Cuma di Sidoarjo, Jawa Timur."
"Kok di Sidoarjo?" Bu Musiyem tertawa geli. Yang ada
di Sidoarjo itu bukan Kualalumpur, Nha. Tapi lumpur Lapindo."
"Jadi, salah ya, Mbok?" tanya Nhe Nha polos.
"Ya, salah." Bu Musiyem berhenti ketawa. Hati kecilnya
merasa kasihan juga mengetahui otak puterinya yang sedikit o'on.
"Sudahlah, Nha, kamu tidak usah punya rencana pergi ke
Malaysia. Kita doakan saja bapakmu agar selamat dan cepat pulang."
Nhe Nha mendesah. Aroma jengkol dari mulutnya, menebar hangat.
"Nanti kalo ayah pulang, Nhe Nha pengin dibawain oleh-oleh sama Bapak,
Mbok!"
"Nhe Nha, penginnya oleh-oleh apa?" tanya mboknya
sambil mengacak-ngacak sayang rambut puterinya dengan parutan kelapa.
"Nhe Nha pengin dibawain adek, Mbok. Nhe Nha kan udah lama
pengin punya a...."
"Nhe Nha!" penggal mboknya yang mendadak gusar.
Parutan yang dipegangnya digigit dengan geram.
"Kenapa, Mbok?" tanya Nhe Nha heran.
"Dasar culun, kamu!" pekik Mbok Musiyem geram.
"Ah, Mbok. Begitu aja marah? Capeee... deh!" seru Nhe
Nha sambil menaruh punggung tangannya di jidatnya***
btbt, 100215
Met Malam Sahabat CERPEN-KU
Met Malam Sahabat CERPEN-KU
Kaulah Puisiku
Oleh : Sastra Dewita
Malam telah meminang pagi
Lahirkan batari di ujung Fajar
Pada ujung lalang yang semalam tancapkan bulan
Kulihat bening embun dalam lelehan
Aku sudahlah lintuh dalam keheningan
Saat pendar cahaya itu datang
Menancapkan bunga pijar pada tampuknya
Lahirkan batari di ujung Fajar
Pada ujung lalang yang semalam tancapkan bulan
Kulihat bening embun dalam lelehan
Aku sudahlah lintuh dalam keheningan
Saat pendar cahaya itu datang
Menancapkan bunga pijar pada tampuknya
Lalu puisi-puisi pun terlahir darinya
Merekah bak kelopak perawan
Suci dalam basuhan darah yang terdedah
Merona jingga selayak kidung senja
Semua terpancar indah seindah birumu
Inang dari setiap puisi-puisiku
Merekah bak kelopak perawan
Suci dalam basuhan darah yang terdedah
Merona jingga selayak kidung senja
Semua terpancar indah seindah birumu
Inang dari setiap puisi-puisiku
Kini biarlah kujulang hati sebagai labuhan
Saat puisi sudahlah menjadikanmu sebagai manggala hati
Kan kurengkuh segala cahaya akanmu
Menjadikannya sebagai tiara palung kalbu
Dengan namamu yang terukir indah pada merahnya yang merekah.
Saat puisi sudahlah menjadikanmu sebagai manggala hati
Kan kurengkuh segala cahaya akanmu
Menjadikannya sebagai tiara palung kalbu
Dengan namamu yang terukir indah pada merahnya yang merekah.
Bumi Andalas,
NK.22.6.2015
NK.22.6.2015
MONYET MERAH
Karya: Yan Hendra
Situasinya
sudah gawat darurat! Tidak bisa ditoleran lagi. Beberapa kebun pisang habis
digondol. Digebah dengan bungkalan tanah, mereka mengernyitkan dahi, lalu
serentak turun, kemudian mengambil apa saja yang ditemukan untuk balas melempar.
Keruan saja, para petani tak mampu melawanan, terpaksa lari tunggang-langgang.
Kempling
pulang mendengar cerita saudaranya itu. Berbekal senapan buru, dan alat
penjebak, dia mengatur siasat. Usai subuh, ia pergi ke kebun, dan menunggu
beberapa lama di balik kamuflase dedaunan, setelah memasang jebakan. Ketika
matahari melempar selendang cahaya ke kebun, yang ditunggu pun datang.
Sekawanan
monyet berloncatan dari satu dahan ke dahan pohon lain sambil mengeluarkan
suara riuh ( siapa yang bisa menirukan suaranya, boleh ngacung). Sasaran mereka
adalah kebun singkong Mang Karta. Cara mereka mencabutnya sungguh unik. Sang
pohon mereka goyang ke sana-kemari, lalu dua diantaranya saling membelakangi.
Mereka goyang-goyang lagi sambil ditarik ke atas. Bila batang singkong dirasa
besar, maka butuh tiga sampai empat ekor yang melakukannya, dan... tetap
menarik dari belakang.
Diantara
kawanan itu ada beberapa yang enggan kerja keras, dan mencari sesuatu yang
mudah diperoleh. Seekor diantaranya melihat dua buah pisang di dekat rerimbunan
semak. Dia melirik teman-temannya... tak ada yang lihat. “Bagus, untukku
sendiri!” pikirnya.
”Hup!” Sang
monyet lompat meraih pisang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat
ditolak... begitu menjejak sasaran, tiba-tiba saja dia dikurung jeruji besi.
Sang monyet tertegun, sebelum kedua tangannya mencengkeram bilah-bilah
pengurungnya, lalu digoyang-goyang sambil berteriak histeris (siapa yang bisa
jadi pengisi suaranya, ya? J )Kejadian itu mengejutkan kawanannya. Serentak mereka
berloncatan memberi bantuan.
“Duaaarrr!
Duaaarrr...!” Kempling tak kalah sigap. Dia yang sejak tadi sudah siaga
mengawasi, langsung keluarkan tembakan. Kawanan monyet hentikan langkah.
Sebagian berbalik dan kabur. Sebagian lagi clingak-clinguk mencari si pembuat
suara letusan, sementara sisanya mengeluarkan geraman mengancam. Tapi saat
Kempling muncul, dan melepaskan tembakan kedua, kawananan itu tanpa dikomando
lari serabutan. Tembakan ketiga dilepaskan Kempling, untuk membuat nyali monyet
yang tersisa ciut dan tunggang-langgang meninggalkan tempat itu.
Setelah
kawanan itu pergi, dia menghampiri si korban. Sang monyet mengernyitkan dahi,
menggeram dan memperlihatkan gigi-gigi tajam. Suara ancaman dan sikap
menggertak, sama sekali tak membuat Kempling keder. Sebaliknya dia berjongkok,
balas menatap si monyet sambil tersenyum, dan berkata lirih, “Kalau kau tak mau
diam, maka kuberikan pada Haris Gibran. Tahu siapa dia? Di tangannya tubuhmu
akan dikuliti, kepalamu dibelah dan otakmu disedot, lalu kau dipanggang hingga
keluar minyak untuk diolesi pada kumisnya... ngerti?!”
“Nguuk!” Si
monyet seperti tersedak. Warna kulit muka yang semula kemerahan, kini memucat.
Ekspresi garang berganti ciut, memelas, dan minta dikasihani. “Ya sudah, kalau
mau selamat, diamlah. Nanti kau akan kulepas,” lanjut Kempling seraya
mengeluarkan cat piloks warna merah, dan langsung menyemprot si monyet dari
beberapa sudut, hingga seluruh tubuhnya terwarnai. “Tarrraaaa...! Sekarang kau
berubah menjadi monyet paling ganteng sedunia. Sun Go Kong pun kalah. Kau
adalah Funky Monkey yang pertama. Cewek-cewek monyet pasti tergila-gila.
Sekarang kita tunggu saja, teman-temanmu pasti datang melihat keadaanmu.”
Mereka
menunggu lebih dari dua jam, dan perkiraan Kempling tak meleset. Dari jauh,
diantara rerimbunan pohon-pohon besar, dia melihat daun-daunnya bergerak tanpa
tiupan angin. Kawanan itu agaknya hati-hati, dan tak mau terekspos. Mereka
mengintai, sambil memantau situasi. Saat yang tepat melepas si monyet berpiloks
merah. “Ayo, keluar. Pergi dan kembali pada kawan-kawanmu. Cari monyet
tercantik, kawini dia, dan pergilah dari sini sejauh-jauhnya!” katanya
menggebah. Si monyet keluar, memandang sejenak padanya. Kempling sulit
menafsirkan, apakah itu ungkapan terima kasih, atau menyumpahinya. Tetapi
sejurus kemudian dilihatnya sang monyet berlari ke satu jurusan, lompat ke satu
pohon kecil, untuk kemudian lompat lagi ke pohon yang lebih besar sambil
memperdengarkan suara lengkingan, yang mungkin artinya, “Aku datang,
kawan-kawaaaan...!”
“Hu hu hu
haaa...! Hu hu haa...!” teriak beberapa monyet keluar dari persembunyian,
menyambut kawannya dengan sukacita. Namun saat jarak pandang semakin dekat,
kawanan monyet mengeluarkan lengkingan aneh. Kesannya gaduh, kacau, dan panik.
Sedikit demi sedikit mereka berloncatan mundur, seolah ada ancaman.
“Siapa kau?
Pergiii...!” bentak seekor monyet, galak.
“Aku temanmu...!”
“Pergi! Kami tidak punya teman sepertimu, ayo pergi!”
“Aku temanmu...!”
“Pergi! Kami tidak punya teman sepertimu, ayo pergi!”
Alih-alih
pergi, si monyet merah semakin bernafsu mendekati kawanannya seakan hendak
membuktikan dirinya bagian dari mereka. Hal sebaliknya terjadi, kawanan itu
melihat ada spesies baru yang coba mengancam keselamatan dan belum diketahui
kekuatannya. Seekor ini pasti pancingan. Mungkin saja teman-temannya sudah
mengepung, dan entah berapa banyak jumlahnya. Hal itu membuat mereka memilih
menghindar. Namun si monyet merah terus mengejar untuk membuktikan
eksistensinya, dan semakin bernafsu dirinya, maka semakin cepat pula kawanannya
berloncatan lari masuk ke dalam hutan menghindarinya.
Demikianlah,
kejar-kejaran antara monyet merah dan kawanannya entah berlangsung sampai di
mana dan sejauh apa. Mang Karta dan beberapa petani lain tak pernah lagi
melihat kawanan monyet itu lagi, setidaknya untuk beberapa bulan ini.
***
Jkt, 04022015
Minggu, 21 Juni 2015
Tidurlah Nak Tidurlah
Oleh : Sastra Dewita
Tidurlah nak ... tidurlah
Biar kuninabobokan kau dengan tadah jemari kumuhku
Biar kudendangkan tubuh mungilmu dengan nafas sengauku
Biar kuayun kau dari ujung selokan itu
Tidurlah nak ... tidurlah
Biar kuninabobokan kau dengan tadah jemari kumuhku
Biar kudendangkan tubuh mungilmu dengan nafas sengauku
Biar kuayun kau dari ujung selokan itu
Tidurlah nak ... tidurlah
Bermimpilah tentang sepotong roti
Bermimpilah tentang boneka berkepang dua
Bermimpilah tentang daster mungil berenda pada lengannya
Bermimpilah tentang sepasang sendal jepit berwarna biru
Bermimpilah tentang pita saten yang pernah kita intip dari toko seberang jalan sana
Tidurlah nak ... tidurlah
Bermimpilah tentang boneka berkepang dua
Bermimpilah tentang daster mungil berenda pada lengannya
Bermimpilah tentang sepasang sendal jepit berwarna biru
Bermimpilah tentang pita saten yang pernah kita intip dari toko seberang jalan sana
Tidurlah nak ... tidurlah
Biar kuselimuti kau dengan dinginnya malam
Beralas aspal
Beratap mega
Berlampu bintang
Hanya dekap yang menghangatkan
Tidurlah nak ... tidurlah.
Beralas aspal
Beratap mega
Berlampu bintang
Hanya dekap yang menghangatkan
Tidurlah nak ... tidurlah.
Bumi Andalas, 21/6/2015
Langganan:
Komentar (Atom)




