Karya: Dudunk Sakelan
SUDAH tiga tahun Nhe
Nha ditinggal
bapaknya pergi ke Malaysia, menjadi TKI. Tentu saja gadis yang baru menginjak
remaja itu kangen berat sama ayah satu-satunya itu. Tiap hari kerjanya cuma
memandangi foto Dude Herlino, untuk menurunkan tensi kangennya, meski foto
bintang sinetron itu tidak ada mirip-miripnya dengan foto bapaknya.
"Kalo kangen, telepon aja, Nha!" saran Rumman Ahmar,
teman akrabnya. Ia tidak tega juga lihat Nhe Nha yang kian hari tubuhnya kian
ndut.
"Udah, Rum, tapi Nhe Nha tetap dilanda kangen yang semakin
berat pada Bapak. Kecuali kalo Nhe Nha melototin fotonya Mas Dude Herlino, baru
perasaan kangen itu jadi terobati."
"U-uh, kamu. Dasar ganjen!" Rumman tertawa.
Nhe Nha mendengus.Tawa Sohibnya tidak membuat hatinya ikut
ceria. Bayangan bapaknya yang lebih kerap menyerupai Dude Herlino, berkelebatan
tanpa henti di benaknya.
Setelah berpikir dan merenung, Nhe Nha pun berkeinginan untuk
menyusul bapaknya. Hal itu kemudian diceritakan pada Bu Musiyem,
emboknya.
"Kamu berani berangkat sendirian?" tanya Bu Musiyem
sambil menatap sendu pada anak sematawayangnya. "Malaysia itu jauh,
Nak!"
"Ibukota Malaysia Kualalumpur kan, Mbok?"
"Iya."
"Ya, dekat. Cuma di Sidoarjo, Jawa Timur."
"Kok di Sidoarjo?" Bu Musiyem tertawa geli. Yang ada
di Sidoarjo itu bukan Kualalumpur, Nha. Tapi lumpur Lapindo."
"Jadi, salah ya, Mbok?" tanya Nhe Nha polos.
"Ya, salah." Bu Musiyem berhenti ketawa. Hati kecilnya
merasa kasihan juga mengetahui otak puterinya yang sedikit o'on.
"Sudahlah, Nha, kamu tidak usah punya rencana pergi ke
Malaysia. Kita doakan saja bapakmu agar selamat dan cepat pulang."
Nhe Nha mendesah. Aroma jengkol dari mulutnya, menebar hangat.
"Nanti kalo ayah pulang, Nhe Nha pengin dibawain oleh-oleh sama Bapak,
Mbok!"
"Nhe Nha, penginnya oleh-oleh apa?" tanya mboknya
sambil mengacak-ngacak sayang rambut puterinya dengan parutan kelapa.
"Nhe Nha pengin dibawain adek, Mbok. Nhe Nha kan udah lama
pengin punya a...."
"Nhe Nha!" penggal mboknya yang mendadak gusar.
Parutan yang dipegangnya digigit dengan geram.
"Kenapa, Mbok?" tanya Nhe Nha heran.
"Dasar culun, kamu!" pekik Mbok Musiyem geram.
"Ah, Mbok. Begitu aja marah? Capeee... deh!" seru Nhe
Nha sambil menaruh punggung tangannya di jidatnya***
btbt, 100215
Met Malam Sahabat CERPEN-KU
Met Malam Sahabat CERPEN-KU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar