Dropdown

Senin, 22 Juni 2015

KANGEN BAPAK



Karya: Dudunk Sakelan
SUDAH tiga tahun Nhe Nha ditinggal bapaknya pergi ke Malaysia, menjadi TKI. Tentu saja gadis yang baru menginjak remaja itu kangen berat sama ayah satu-satunya itu. Tiap hari kerjanya cuma memandangi foto Dude Herlino, untuk menurunkan tensi kangennya, meski foto bintang sinetron itu tidak ada mirip-miripnya dengan foto bapaknya.
"Kalo kangen, telepon aja, Nha!" saran Rumman Ahmar, teman akrabnya. Ia tidak tega juga lihat Nhe Nha yang kian hari tubuhnya kian ndut.
"Udah, Rum, tapi Nhe Nha tetap dilanda kangen yang semakin berat pada Bapak. Kecuali kalo Nhe Nha melototin fotonya Mas Dude Herlino, baru perasaan kangen itu jadi terobati."
"U-uh, kamu. Dasar ganjen!" Rumman tertawa.
Nhe Nha mendengus.Tawa Sohibnya tidak membuat hatinya ikut ceria. Bayangan bapaknya yang lebih kerap menyerupai Dude Herlino, berkelebatan tanpa henti di benaknya.
Setelah berpikir dan merenung, Nhe Nha pun berkeinginan untuk menyusul bapaknya. Hal itu kemudian diceritakan pada Bu Musiyem, emboknya.
"Kamu berani berangkat sendirian?" tanya Bu Musiyem sambil menatap sendu pada anak sematawayangnya. "Malaysia itu jauh, Nak!"
"Ibukota Malaysia Kualalumpur kan, Mbok?"
"Iya."
"Ya, dekat. Cuma di Sidoarjo, Jawa Timur."
"Kok di Sidoarjo?" Bu Musiyem tertawa geli. Yang ada di Sidoarjo itu bukan Kualalumpur, Nha. Tapi lumpur Lapindo."
"Jadi, salah ya, Mbok?" tanya Nhe Nha polos.
"Ya, salah." Bu Musiyem berhenti ketawa. Hati kecilnya merasa kasihan juga mengetahui otak puterinya yang sedikit o'on.
"Sudahlah, Nha, kamu tidak usah punya rencana pergi ke Malaysia. Kita doakan saja bapakmu agar selamat dan cepat pulang."
Nhe Nha mendesah. Aroma jengkol dari mulutnya, menebar hangat. "Nanti kalo ayah pulang, Nhe Nha pengin dibawain oleh-oleh sama Bapak, Mbok!"
"Nhe Nha, penginnya oleh-oleh apa?" tanya mboknya sambil mengacak-ngacak sayang rambut puterinya dengan parutan kelapa.
"Nhe Nha pengin dibawain adek, Mbok. Nhe Nha kan udah lama pengin punya a...."
"Nhe Nha!" penggal mboknya yang mendadak gusar. Parutan yang dipegangnya digigit dengan geram.
"Kenapa, Mbok?" tanya Nhe Nha heran.
"Dasar culun, kamu!" pekik Mbok Musiyem geram.
"Ah, Mbok. Begitu aja marah? Capeee... deh!" seru Nhe Nha sambil menaruh punggung tangannya di jidatnya***

btbt, 100215
Met Malam Sahabat CERPEN-KU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar