Di balik tirai bermotif bunga sakura, Musiyem duduk termanggu di atas tempat tidur, sambil mendekap lutut.
Raut wajahnya terlihat menyembunyikan beban yang dalam. Sesekali matanya melirik jam dinding.
Tak lama kemudian terdengar pintu rumahnya diketuk, Musiyem segera beranjak menuju keruang depan untuk menjumpai siapa yang sedang bertamu.
Raut wajahnya terlihat menyembunyikan beban yang dalam. Sesekali matanya melirik jam dinding.
Tak lama kemudian terdengar pintu rumahnya diketuk, Musiyem segera beranjak menuju keruang depan untuk menjumpai siapa yang sedang bertamu.
Setelah pintu terbuka, Musiyem tampak gugup melihat penampilan beberapa sahabatnya yang begitu memukau.
Kecantikan Sastra mampu menghipnotis para pujangga dengan gaunnya yang berwarna putih, feminin sekali.
Hany terlihat anggun dengan busana casual, siapa yang melihat pasti akan tercengang.
Sementara Airi yang tomboy, membuat orang terkagum-kagum dengan gayanya yang sangat elegan.
Kecantikan Sastra mampu menghipnotis para pujangga dengan gaunnya yang berwarna putih, feminin sekali.
Hany terlihat anggun dengan busana casual, siapa yang melihat pasti akan tercengang.
Sementara Airi yang tomboy, membuat orang terkagum-kagum dengan gayanya yang sangat elegan.
"Woi! Ko bengong sih? Mana masih pakai baju tidur lagi!" celetuk Hany Juwita pada Musiyem".
"Kamu gak jadi ikut Mus, ke acara pesta dansa?" sambung Airi Cha.
"Ayo Mus ganti baju, biar Era yang rias." tambah Sastra Dewita.
"Hmm... Gimana ya? Kayaknya aku gak jadi deh, kalian gak apa kan pergi tanpa aku?" jawab Musiyem ragu.
"Mana asyik kalau gak ada kamu, Mus! Alasannya apa coba?" tanya Hany penasaran.
"Anu... Brondyku gak bisa temenin aku kesana..." ucap Musiyem malu-malu.
"Kan ada kita bertiga, gimana sih?" tukas Airi bingung.
"Iya, tapi pas di sana saat kalian ketemu gebetan masing-masing, pasti aku dilupain..." jawab Musiyem penuh ragu.
"Sudah, ayo ganti baju, biar Era dandanin..." tukas Era, sambil menggandeng Musiyem ke dalam kamarnya.
Setelah selesai, Musiyem tidak kalah cantik dengan ketiga sahabatnya itu, dengan balutan gaun berwarna merah muda, membuat mimik wajahMusiyem sangat manis.
Setibanya di acara pesta, segera Dimaz Dewantara menghampiri Era, juga Airi bersama ADitya. Tidak lama Andro Wp datang kepada Hany.
Ketiga pasangan itupun pergi ke tengah acara pesta, tinggal Musiyemterpaku dalam kekecewaan atas sikap sahabatnya.
Setibanya di acara pesta, segera Dimaz Dewantara menghampiri Era, juga Airi bersama ADitya. Tidak lama Andro Wp datang kepada Hany.
Ketiga pasangan itupun pergi ke tengah acara pesta, tinggal Musiyemterpaku dalam kekecewaan atas sikap sahabatnya.
Tidak jauh dari tempat Musiyem berdiri, sepasang mata tak berkedip melihat dirinya, Musiyem yang tak menyadari akan hal itu, langsung terkejut saat pria tampan itu tiba-tiba berdiri di depannya.
"Mas... Mas... Mas Dude?!" sergah Musiyem terbata.
Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengannya.
"Iya, suatu kehormatan bila Nona bersedia berkenalan denganku?" jawab Dude Harlino dengan ramah.
"Iya, suatu kehormatan bila Nona bersedia berkenalan denganku?" jawab Dude Harlino dengan ramah.
Musiyem dan Dude menikmati acara pesta dengan sangat romantis, seolah lampu hanya menyorot dirinya dengan Dude, terlebih irama musik yang begitu lembut, membuat keduanya bagai raja dan ratu pesta. membuat ketiga sahabatnya iri.
Nb: special buat Musiyem, sebagai balasan cerpen bully sebelumnya oleh percaya, maklum ya Bu, kalau tulisannya rada-rada kacau. Hehe
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar