Oh, Musiyem...
Tak ada lagi yang harus kucurahkan, bila telah kau beberkan isi hatiku.
Untuk keluar rumah saja aku malu, apa lagi untuk ke luar negeri aku tak punya ongkos.
Semua orang telah tau, kalau aku adalah selingkuhan Brondy.
Rasanya wajahku bagaikan tembok China, penuh akan sejarah yang tak mungkin terulang.
Untuk keluar rumah saja aku malu, apa lagi untuk ke luar negeri aku tak punya ongkos.
Semua orang telah tau, kalau aku adalah selingkuhan Brondy.
Rasanya wajahku bagaikan tembok China, penuh akan sejarah yang tak mungkin terulang.
Kepada Sastra Dewita yang baik hati, bantu aku mencari kacamataku yang terjatuh di kolong mejamu.
Aku hilang arah tanpanya...
Untuk Hany Juwita, segera gantikan penaku yang telah kau hilangkan tempo hari.
Tak berdaya aku tanpanya...
Aku hilang arah tanpanya...
Untuk Hany Juwita, segera gantikan penaku yang telah kau hilangkan tempo hari.
Tak berdaya aku tanpanya...
Musiyem, cepatlah kembali membawakan diaryku yang telah kau bawa kabur.
Tak ada lagi yang bisa kau dapatkan dari itu, karna brondymu sudah melamarku malam minggu kemarin.
Tak ada lagi yang bisa kau dapatkan dari itu, karna brondymu sudah melamarku malam minggu kemarin.
Kini aku hanya bisa mengucap maaf kepadamu, sahabatku Musiyem.
Karna kembali aku membullymu lagi dan lagi...
Karna kembali aku membullymu lagi dan lagi...
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar