Dropdown

Sabtu, 16 Mei 2015

NANNY (BAG.2)

a


Menyambut Tangan Yang Mungil
Najma memasuki sebuah kamar dan meneliti sekeliling. Sebuah box bayi, meja perawatan bayi dengan kasur kecil di atas dan laci-laci di bawahnya mengisi kamar itu. Terdapat tempat tidur ukuran single di pojok ruangan. Kesanalah Najma mengayunkan langkah dan menghempaskan diri sejenak, sambil tetap meneliti sekeliling kamar.
Najma membongkar kopernya dan menyusun barang pribadi di sebuah lemari pakaian di belakang pintu. Terdapat lorong di sampingnya yang ternyata mengarak ke kamar mandi. Najma menarik sebuah buku kecil dan sebuah pena dari saku koper sebelum mendorongnya kepojokan supaya terlihat rapi. Setelah dirasa beres, Najma beranjak dan duduk di pinggir tempat tidur, lalu mengisi buku yang dipegangnya. Buku ini adalah sarana untuk membuat laporan harian pekerjaannya agar bos nanti bisa ikut memantau keadaan putra ataupun putrinya.
Sore selepas mandi Najma turun kebawah. Ruang asisten rumah tangga yang ditujunya. Najma disambut beberapa orang dengan senyum. Didekatinya mereka dan mengulurkan tangan untuk menjabatnya satu persatu. Ada tiga orang asisten rumah tangga, dua orang nanny seperti dirinya, seorang penjaga keamanan rumah, dan seorang lagi yang menyambut Najma kurang ramah. Dia menyendiri dipojokan saat menonton televisi bersama dan memiliki kamar terpisah. Diketahui belakangan dirinya adalah pengurus rumah tangga yang bertanggung jawab pada semua urusan dirumah itu termasuk para asisten rumah tangga.
"Makan Sus, ambil sendiri dimeja itu. Saya yang masak untuk kita-kita," kata seorang dari mereka yang baru dikenal Najma bernama Ima. Diantara mereka, nanny dipanggil dengan sebutan 'suster' di depan namanya.
Najma duduk menggabungkan diri ikut menonton televisi sambil mengobrol.
" Mbak Ima ini jago masak, masakannya enak," kata Wati yang ternyata nanny dari Mattiew anak pertama Lea. Dan nanny seorang lagi adalah milik adik Lea yang tinggal di kamar bawah di belakang ruang tamu.
Ditengah asyiknya menonton, tiba-tiba sedikit gaduh. Ternyata para tuan rumah yang bekerja baru pulang. Tiga buah mobil masuk halaman. Pak satpam sibuk membuka pagar dan mengatur parkir mobil. Ruang TV yang merupakan lorong masuk membuat mereka yang sedang menonton segera beringsut memberi jalan.
Sepasang suami istri yang tinggal di kamar bawah, lewat begitu saja. Diikuti seorang bapak muda yang ternyata suami Lea yang lewat sambil menebar senyum. Kemudian seorang wanita tua namun cantik, yang ternyata nyonya besar dirumah itu, masuk dan tersenyum. Langkahnya terhenti saat melihat Najma.
"O, nanny baru Lea sudah datang? Yang betah ya," katanya ramah yang disambut anggukan kepala oleh Najma. Terakhir masuk adalah seorang lelaki muda nan tampan bagai artis. Najma tersenyum geli melihat para wanita yang ada nampak salah tingkah.
"Hallo," sapanya ramah.
"Ko Lip, sudah pulang?" Sapa mereka hampir bersamaan.
Orang yang dipanggil Ko Lip adalah bungsu di keluarga itu. Masih lajang dan berkepribadian baik. Keluarga itu sangat menghargai orang-orang yang bekerja di rumahnya. Bahkan Lip tidak segan bercanda dengan mereka, hingga menjadi idola dalam rumah. Konon kekasih Lip yang datang kerap dijahili oleh mereka, sebagai bentuk kecemburuan. Lip menghadapinya dengan santai.
Tida hari sejak kedatangan Najma, lahirlah bayi mungil laki-laki yang diberi nama Dilan. Najma menerima Dilan yang diangsurkan oleh ibunya di dalam kamar.
"Asuh baik-baik, segera lapor kalau ada yang tidak beres. Untuk kebutuhan yang diperlukan, tulis di kertas, berikan pada saya. Mengerti?."
"Ya, Non Lea."
Hari-hari Najma mulai sibuk. Najma turun hanya saat perlu makan dan perlu bantuan seseorang untuk menitipkan Dilan diwaktu darurat seperti perlu kekamar kecil. Tidak ada lagi waktu ngobrol-ngobrol dan saling bertukar cerita. Kecuali dengan Wati yang juga tinggal di lantai atas.
Bersambung ke: Transaksi antar pekerja

***

NANNY (BAG.3)


Transaksi Antar Pekerja
Najma menyalakan monitor setelah berhasil menidurkan Dilan. Perutnya keroncongan karena belum sempat sarapan. Bergegas Najma turun sambil menenteng salah satu baby monitor (alat untuk mendengarkan suara bayi saat ditinggal sendirian) semacam walkie-talkie.
Najma sarapan dengan terburu- buru.
"Oeeekk!" suara dari monitor membuat Najma mengeluh panjang pendek.
"Ampun deh, belum lagi ditelan," gerutunya sambil membuang sarapan yang belum lagi habis dimakan. Mencuci piringnya segera dan berlari kembali ke atas. Suara gaduh di monitornya mengiringi langkah Najma yang memburu.
"Dilan, kenapa cepet banget bangun?" kata Najma sambil mengakat Dilan dari box tempat tidurnya.
"Kring, kring," suara telephon line berdering dengan lampu merah berkedip. Telepon line ini hanya berfungsi di area rumah antar ruangan saja, dan hanya beberapa yang bisa menerima sambungan dari luar. Najma mengangkatnya.
"Suster Najma, rendaman bajumu bisa bau kalau dibiarkan sampai sore lho," suara Mbak Ima dari ujung telepon.
"Jadi?"
"Kucucikan 2 potong 5 ribu?"
"Ampun deh," pikir Najma gondok di hati.
Najma menekan angka 02, line kamar Mattiew.
"Suster Wati, apa mesin cuci nggak boleh dipakai?" tanya Najma.
"Sebenarnya nanny boleh pakai, tapi Cie Eng, si tua itu melarang. Terpaksa kalau repot kita pakai jasa Mbak Ima. Aku yang pegang Mattiew saja nggak bisa nyambi karena peraturan, anak-anak terlarang dibawa ke area cuci dan ruang asisten rumah," kata Wati menjelaskan.
Begitulah, entah siapa yang memulai, transaksi antar pekerja di rumah itu saling dimanfaatkan dengan baik. Bahkan mbak Ima juga menjual kopi untuk melayani para sopir pribadi yang menunggu tugas di pos keamanan rumah. Nanny adalah sasaran paling empuk karena kesibukannya. Sering meminta tolong pada mereka, artinya harus menyiapkan 'jatah' saat gajian, di luar jasa cuci baju yang sudah ditetapkan sebelumnya. Memang gaji Nanny cukup besar, lebih dari dua kali lipat gaji asisten rumah tangga.
Bersambung ke: Goda Dan Cinlok

Jumat, 15 Mei 2015

NANNY (BAG. 1)

Bismillah ...
Keluarga CERPEN-Ku tersayang, saya coba lagi dengan cerbung baru. Kali ini saya ingiin sekali mengangkat kisah tentang sebuah profesi yang sangat dipandang sebelah mata. Saya yakin banyak diantara kita tidak tahu betapa profesi ini juga menimbulkan pengalaman yang unik, menarik dan penuh ilmu dan sarat perjuangan. Tidak berbeda dengan profesi keren lainnya. Nah, mari mulai saja. Semoga terhibur smile emotikon


NANNY
Istana Di Balik Perdu
Oleh: AniS
Hiruk pikuk di sebuah yayasan penyalur tenaga kerja membuat kepala Najma, pusing. Tak dihiraukan semua suara bising itu, dan tetap bertahan mencoba tidur. Kontrak kerja yang telah ditanda tangani siang tadi, mulai berlaku esok hari. Itu artinya Najma harus siap diambil ketempat kerja. Najma tidak mau, kurang istirahat membuat kesan pertama dengan bos, berjalan buruk.
Najma turun dari mobil yang menjemputnya dari yayasan. Pagar tinggi berwarna hijau tua dengan tanaman bambu hias yang merapat di pagar menyambutnya. Keadaan ini membuat rumah terkesan sangat tertutup. Diantar seorang petugas keamanan, Najma memasuki halaman rumah yang tidah terlalu luas.
"Assalamu'alaikum," desis Najma perlahan. Pak satpam yang mengantarnya, menoleh sekejab dan tersenyum.
Najma berjalan membuntuti pak satpam. Rumah yang aneh. Dimulai dari pagar tinggi yang rimbun oleh perdu, halaman minimalis, lalu kamar-kamar asisten rumah tangga yang berjejer bagai rumah kontrakan. Najma melintasi kamar-kamar tersebut dengan heran.
"Di mana-mana, kamar asisten di belakang, tapi ini di ruang paling depan," pikirnya.
Melintas di dapur kecil, ruang cuci dan keluar melewati pintu kaca. Barulah sebuah pemandangan indah tampak disana. Hamparan rumput hijau yang luas dengan patung-patung hiasan. Ruang tamu luas berkapasitas sekitar 30 orang, menghadap taman.
"Benar- benar mampu menipu pengintip yang hendak berbuat jahat. Siasat yang baik," pikir Najma dalam senyum.
"Di ujung sana ada tangga. Naiklah keatas, Nyonya sudah menunggu," kata pak satpam. Najma pun melintasi taman menuju tangga naik.
Seorang wanita berusia sekitar 30 tahun, duduk bersandar di kursi malas. Najma mendekat dan mengangguk. Wanita cantik berkulit putih dan bermata sipit itu tersenyum tanpa bangkit dari kursi malasnya. Keadaannya yang tengah mengandung dan menunggu hari kelahiran, membuatnya tidak leluasa bergerak.
"Najma Nur Aini. Siapa nama panggilanmu? tanyanya sambil meneliti data yang diberikan Najma.
"Najma."
"Baiklah Najma, kau bisa memanggilku Non Lea. Karena babynya belum lahir, kau masih kupanggil namamu. Babyku kelak bernama Dilan, anak laki-laki. Kau akan dipanggil Nanny Dilan, mengerti?"
"Baik Non Lea."
"Masuklah. Calon kamar Dilan, di sebelah kanan, dan akan jadi kamarmu juga. Atur bagaimana kau bisa nyaman bekerja. Sementara istirahatlah." Katanya memberi instruksi. Najma mengangguk dan minta diri.
Bersambung ke: Menyambut Tangan Yang Mungil

Selasa, 12 Mei 2015

Salah Sangka


Salah sangka adalah keliru atau salah menduga. Salah sangka kadang berakhir lucu tapi juga kadang berakhir pertengkaran. Tak jarang menjadi salah paham yang berkepanjangan efeknya cari dukungan untuk pembenaran atas pendapatnya. Untuk mengatasi kita harus mencari tahu dan menganalisa mana yang benar dan yang mana dusta. Waduh ... gaya dah. Seperti contoh dibawah ini.
Yan Hendra sudah lama bersahabat dengan Nano Setyoko bahkan mereka berjanji bila anak-anak mereka besar akan dijodohkan. Setelah anak-anak mereka dewasa Nano dan Yan teringat akan janji mereka dulu.
Yan memanggil Dudunk Sakelan putera tertuanya, dan menceritakan perjanjian antara dirinya dengan Nano.
"Dunk, gimana mau ngga kamu ama anaknya Pak Nano?" tanya Yan sambil goes odong-odongnya.
Setahu Dudunk anak mas Nano itu kan Airi Cha, gadis tomboy yang temenan sama Tarzan, kemana-mana bawa ketapel dan hobby manjat pohon. Pohon melon juga dipanjatnya. Nah kalau aku pacaran sama Airi gimana mau romantis, aku kan ngga bisa naik pohon, cuma bisa naik sapi, ah ... Ngga banget deh. Terus yang kedua Zenith Azzura yang ini lebih parah kemana-mana ditemenin Macan, lah ... gimana mau mesra bisa-bisa aku dicaplok tanpa dimasak.
"Ngga ah pap, anaknya serem-serem kasih Andro Wp aja lah," jawab Dudunk langsung pergi ke kandang sapi.
"Dunk! sini dululah, bener nih kamu ngga mau? ntar nyesel loh," Yan berlari mengejar Dudunk ke kandang sapi.
"Yakin pap, mending aku sama musiyem biar gitu-gitu dia baik hati, ngga sombong, jujur, penyabar dan imut, kayak putri salju deh dia," Dudunk menjawab sambil membelai sapinya.
"Ya sudah kalau begitu kamu tanda tangan surat pernyataan bahwa kamu ngga akan nyesel, dan papa akan menjodohkan adikmu Andro dengan anak Nano." kata Yan sambil mengeluarkan kertas bermaterai 100 ribu.
Tanpa pikir panjang Dudunk langsung tanda tangan diatas materai plus cap jempol biar afdol.
Akhirnya Yan, Dudunk dan Andro datang ke rumah Nano untuk melamar salah satu puterinya untuk Andro. Di depan rumah Nano nampak Zurra sedang bermain dengan macan belang. Sementara Airi nangkring di atas pohon nangka sambil memegang ketapel.
"Hadeh, nih waktu hamil emaknya ngidam apa ya, punya anak parah semua" bisik Dudunk ke Andro.
Yan langsung menjewer kuping Dudunk pakai tang.
"Assalamualaikum," Yan menberi salam.
"Waalaikum salam, cari Papi Nano ya? masuk aja udah ditunggu tuh," jawab Zurra sambil memeluk macannya.
Singkat cerita perjodohan berlanjut, namun tidak seperti yang Dudunk duga, ternyata Nano masih punya anak satu lagi yang selama ini membuka usaha di kota Padang.
Dan begitu diperkenalkan Dudunk hampir mati berdiri anak Papi Nano sangat cantik jauh dari musiyem si puteri salju.
"Perkenalkan ini sulung saya, namanya Sastra Dewita yang telah kita sepakati di jodohkan dengan Andro," Nano memperkenalkan puterinya.
Andro tampak bahagia sementara Dudunk kejang-kejang ayannya kumat.
"Papa, aku mau deh dijodohin," rayu Dudunk setelah sadar dari ayannya.
"Ya berarti tinggal pilih Airi atau Zurra," jawab Yan santai.
"Papa, sama Era aja pap," Dudunk merayu.
Tanpa banyak bicara Yan menempelkan surat pernyataan bermaterai 100 ribu di jidat Dudunk. Dan ... seketika ayannya kumat lagi

Minggu, 10 Mei 2015

Gosip

Gosip adalah kabar burung yang bisa benar bisa juga tidak. Kita asyik bila bergosip dan tak pernah memikirkan perasaan orang yang kita gosipin. Dengan sedikit bumbu gurih, manis bahkan pedas gosip makin hot makin banyak peminat.
Gosip bertemanan dengan hasud, iri, dengki ujung-ujungnya ketemu deh sama fitnah, padahal fitnah lebih kejam dari pembunuhan ... Wuih serem dan kejam kan?
Tapi sssssstttt ... tahu ngga ternyata Airi Cha ada main sama Sastra Dewita, Aduuuhh parah emang, Airi cewek jadi-jadian itu ternyata ada skandal hot sama Era.
Tiap hari Airi datang saat salon Era masih sepi, pulangnya saat salon juga sudah sepi. Terus dua makhluk sejenis itu bergandengan ... Wow!!!
Nano Setyoko sibuk mengintai di atas pohon asem, untuk memperhatikan gerak-gerik mereka, kemudian melaporkan kepada Dudunk Sakelan. Dudunk sang wartawan tabloid gosip lokal mulai sibuk menulis berita.
Esoknya, Nano dengan semangat full meminjam sepeda onthel Yan Hendra untuk membeli tabloid gosip hasil pengintaiannya ... Namun hampir pingsan tapi ngga jadi melihat berita yang ditulis Dudunk. " Nano setyoko juragan sawit dari Sampit, terlibat skandal dengan tukang odong-odong Yan Hendra"
Dengan hidung berasap, kuping berasap tanduk numbuh di kepalanya, Nano menyeret Dudunk yang sedang sibuk dengan sapinya.
"Dunk! Gila luh! Masa jadi gue yang lu
gosipin! Kan rencananya Era ama Airi?" Dada Nano berdegub menahan emosi tingkat tinggi.
"Wah, maaf Mas Nano, ternyata Airi ke salon Era bukan karena ada skandal, tapi Airi lagi belajar dandan, katanya sih biar ditaksir penghulu," Dudunk dengan santai menjelaskan.
"Tapi koq jadi gue! Dasar semprul lu, kan eyke jadi malu," emosi Nano masih di ujung ubun-ubun.
"Ya ... daripada ngga ada gosip nanti tabloid saya ngga laku, eehhh ... saya bikin gosip Mas Nano sama Bang Yan, tabloid saya laris manis, ludes Mas," jawab Dudunk sambil ngibrit melihat Mas Nano mengeluarkan clurit, ia yakin Mas Nano hendak menyolek body gempalnya dengan clurit.
Mas nano bingung melihat Dudunk lari tanpa ada yang mengejar. Mas Nano mencongkel biji cabe yang nyelib di giginya dengan clurit. Hadeh ... harap maklum Nano kan jawara jago silat ...
Hihihi gosip ...

RINDU EMAK



RINDU EMAK
Oleh Dudunk Sakelan
SELFI, seorang bocah yang masih duduk di banku TK, selalu bersedih. Rindu pada emaknya yang bekerja di Hong Kong. "Kita susul yuk Yah, ke Hong Kong," ujarnya pada suatu hari.
Ayahnya mengacak-acak sayang rambut putri semata wayangnya itu. "Sabar ya, Sel. Beberapa bulan lagi emakmu sudah akan pulang," ucapnya sambil meneteskan airmata. Soalnya si Ayah, rindu juga. Rindunya sudah berkarat malah.
"Tapi Selfi maunya ketemuan sekarang, Ayah." Selfi mulai merajuk. "Ya, Yah. Kita susul, ya?"
Ayahnya tersenyum. "Sel, Hong Kong itu jauh. Ayah nggak punya ongkos."
"Si Joele aja digadein, Yah? Uangnya buat ongkos pergi ke Hong Kong."
"Hihihi, jangan dong, kasihan. Lagi pula belum tentu Joele-nya mau."
Selfi garuk-garuk kepalanya yang memang gatal. "Gimana ya? Oh iya, Yah. Selfi kan punya celengan. Kita pecahin aja. kalo ke Hong Kong cuma naik odong-odong, pasti cukup. Apalagi naik odong-odongnya Kakek Yan Hendra. Kakek pasti ngasih diskon."
"Sel, Hong Kong itu jauh. Kita nggak mungkin pergi ke sana dengan naik odong-odong." Ayahnya kembali ketawa. Geli.
"Kata Mba Zenith Azzura, Hong Kong dekat katanyanya, Yah. Dilihat di peta, cuma berjarak beberapa centi."
"Jangan percaya sama Mba Zenith. Dia orangnya suka bercanda. Dia kan dulunya anggota Warkop. Sejak diputusin sama Indro, dia keluar dari Warkop. Terus bergabung dengan Sule di OVJ. Tapi sekarang kontraknya dengan Trans TV, kan sudah berakhir."
"Begitu ya, Yah?"
"He-eh."
"Yah, andai emak pulang, enak ya, Yah? Selfi pasti dikasih oleh-oleh." Selfi kembali mengembalikan pembicaraan ke topik semula.
"Selfi, mau oleh-oleh apa?"
"Adik."
"Haah ...?!" Ayahnya tersentak kaget.
"Pasti lucu deh, punya adik blesteran Hong Kong. Matanya sipit, kulitnya putih bersih," ucap Selfi lagi dengan polosnya. Nggak sadar, ayahnya telah pingsan, karena dilanda kaget yang bertegangan tinggi.***
Bumi Kerapan, 090515

Sabtu, 09 Mei 2015

DUA ANAK GOKIL


Oleh Dududnk Sakelan

PULANG dari masjid Yan Hendra terlihat menangis. Air mata sama ingus menyatu di bibirnya yang ngembang, karena kebanyakan nangis. Tentu saja, hal itu mengundang perhatian bagi Sastra Dewita, ibu tirinya. "Kenapa dirikau, Nak? Pulang dari masjid kok nangis?" tanyanya sambil ngelap ingus Yan Hedra dengan lap kompor. Maklum wanita cantik mantan gadis sampul majalah dinding itu baru saja bersih-bersih di dapur, ngelap kompornya.
Yan Hendra makin menjadi tangisnya. Ia pun guling-guling di lantai.
"Cep ... cep ... cep .....," Sastra Dewita yang biasa dipanggil Mama Era, merasa nggak tega melihatnya. Air matanya pun ikut berlinang. "Sebenarnya dirikau kenapa sih, Nak? Berantem sama Airi Cha, ya? Mama kan udah bilang, jangan temenan sama Cha. Meskipun ia cewek, ia mempunyai tenaga kuda."
"Bukan, Cha yang mengganggu Yan, Ma, hik hik hik."
"Trus ... siapa? Zura?" Mama Era bertanya lagi.
"Bukan, Ma. Mba Zenith Azzura baik orangnya. Dia kan sahabat hati Yan." Yan Hendra mulai lancar bicaranya. Ia pun nggak lagi nangis.
"Jadi ... siapa, dong?"
"Ustadz Dudunk."
"Haah ...?!" Mama Era melotot tajam. Bulu matanya yang lentik, sampai ikut menegang. "Kenapa Dudunk mengganggu dirikau?"
"Ustadz, Ma."
"Healaaa, ustadz kalau benar. Kalau kerjanya gangguin anak orang?" Mama Era mencak-mencak. "Mau jadi preman masjid apa dia?"
"Ma, Yan nggak diijini shalat Jumat."
"Lha, lha, ustadz apa itu? Orang mau shalat, nggak diijinin. Ini sudah kelewatan. Mama harus lapor ke Kakek Solihin."
"Kok mau lapor ke Kakek Solihin, Ma. Apa hubungannya?" tanya Yan Hendra heran.
Mama Era menarik napas panjang pendek. "Yan Hendra, anak tiri Mama. Dengar ya? Tanah yang dibangun masjid itu, dulunya milik Kakek Solihin. Lalu dihibahkan untuk dibangun masjid. Lha, dengan begitu, Kakek Solihin kan lebih punya hak ketimbang Dudunk yang sok kuasa itu?"
Yan Hendra manggut-manggut sambil membersihkan ingusnya dengan ujung lidahnya.
"Dirikau diapain saja oleh Dudunk?"
"Nggak diapa-apain, Ma. Cuma nggak ngijinin Yan shalat."
"Dia nggak titip salam? Eh, maksudnya ... nggak titip pesan? Biasanya setiap habis marahin anak orang, dia selalu titip pesan."
"Titip, Ma. Katanya, bilang ya sama mama tirimu, harus merhatiin anaknya dengan baik."
"Aladalah, dia bilang begitu?" Mama Era yang dasarnya memang pemarah, jadi memuncak lagi kemarahannya. Gigi rahangnya beradu, hingga terdengar bunyi gemeretak.
"Benar, Mama," jawab Yan Hendra, ngomporin.
"Kenapa katanya, kok Dudunk berani-berani nggak ngijinin kamu shalat?"
"Cuma karena Yan nggak bawa sarung, Mama."
"Jadi ...?" Mama Era langsung geleng-geleng kepala. Baru nyadar bahwa anak tirinya hanya memakai katok kolor. Pantesan aja nggak diijinin shalat, batinnya. Dasar gokil, pergi ke masjid, lupa nggak pake sarung.
Di saat itu, muncul Linda sambil nyanyi-nyanyi lagu ciptaannya sendiri, Sakitnya di Paha Ayam.
"Lho, Lin, dirikau dari mana?" tanya Mama Era. Oh iya, Linda itu adalah anak kandung Mama Era, dari pernikahannya dengan Tedy Maulana Ibrahim, yang raib entah kemana. Kabar terakhir, ia telah nikah lagi Musiyem yang mempunyai kewarganegaraan ganda.
Linda yang nama lengkapnya Dhafitha Linda Nur Azizah. tertawa saja sambil terus bernyanyi-nyanyi.
"Lho, dirikau kok pakek sarung? Itu kan sarung adikmu?" tanya Mama Era rada sebel.
"Hihi, tadi lihat sarung Adek Yan di kursi, langsung Linda pake saja. Sedang kopyahnya ini milik tetangga yang lagi dijemur. Gagah Linda ya, Ma? Nggak ketara, kalau cewek."
Mama Era geleng-geleng melihat tingkah anaknya yang memang tomboy. Ia pun nggak menyalahkan Linda, karena ia dulu juga tomboy. Malah lebih tomboy dari Linda. "Eh, dirikau berpakaian gitu, dari mana?" tanyanya kemudian.
"Dari masjid, Ma. Shalat jumat."
"Linda, Linda, dirikau ini gimana sih, Lin? Shalat Jumat itu hanya untuk kaum pria. Dirikau nggak boleh." Mama Era menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
"Meski sudah pakai sarung dan kopyah, tetap nggak boleh ya, Ma?" tanya Linda polos.
"Tau, ah!" Mama Era meninggalkan kedua anaknya yang gokil. Ia masuk ke kamarnya, untuk membuat puisi pesanan temannya.***
Bumi Kerapan, 080515

Jumat, 08 Mei 2015

DESKRIPSI TOKOH DAN TEMPAT




#vitamin pagi
Assalamualaikum sobat CERPEN-KU ....
Jumpa lagi, nih, di acara vitamin_pagi ala Linda, hehehe ....
Linda mau ngajak SOBAT CERPEN-KU untuk belajar bersama membuat DESKRIPSI TOKOH DAN TEMPAT dalam sebuah cerita.
Contoh:
Tokoh : kepala suku CERPEN-KU
Lelaki yang dikenal dengan kaca mata hitamnya. Rambutnya yang selalu terlihat rapih dengan olesan minyak rambut urang-aring, dan senyumnya yang menawan membuat rakyat cerpen-ku semua terpukau.
Tempat : pasar
Suasana terasa semakin panas dengan suara teriakan para pedagang sayuran, ikan, pakaian yang berlomba menjajakan dagangannya. Jalan sempit dipenuhi lalu lalang pengunjung yang terkadang berhenti sejenak untuk melihat-lihat buah atau sayuran. Tampak dari kejauhan pedagang dengan pembeli adu mulut menawar dagangan.
Mungkin segini saja contoh dari saya.
Silakan sobat pilih salah satu tokoh dan tempat di bawah ini, untuk dideskripsikan.
Tokoh:
- Petani
- Penggembala
- Pak RT
- Lurah
- Pencopet
- Pelacur
Tempat
- Kuburan
- Diskotik
- Sawah
- Hutan
- Jempat
Oke selamat berkarya
Salam pena kreatif
Cerpen-Ku

Minggu, 12 April 2015

PUTRI PULAU KUDA DICULIK


( maaf sekarang saya tidak ingin membuat cerita lucu...tapi cerita yang menyeramkan maka persiapkan diri anda untuk membaca cerita ini, dan carilah teman untuk menemani anda agar tak terjadi hal yang menakutkan.ok...siap...bacalah)
Alkisah di pulau seribu kuda liar, kepala suku Yan Hendra sedang resah dan gelisah.Putri semata wayang Hany Juwita buah cinta terpaksanya dengan Arifah Najmi di culik oleh putra dari kerajaan Kebiri yang bernama Putra Juna, putra dari Raja Mekel Indani dan Permaisuri Rahmaa Zulfa Azizah. menurut on the pot ketampanan Juna menempati urutan ke 2 dibawah Tukul Arwana. Ketampanan Juna terkenal hingga ke Tambun Bekasi.
Yan Hendra memerintahkan Panglima perangnya Nano Setyoko dan Juls Kaka untuk memimpin pasukannya membebaskan Putri Hany dari tangan Juna. Namun Arifah ragu dengan kemampuan Nano.
"Suamiku, tak usahlah Nano memimpin pasukan menyerbu Raja Mekel Indani." kata Arifah sambil memandang Nano yang sedang sibuk makan kepala bebek.
"Memang kenapa? Kulihat Nano gagah perkasa dan pantas untuk tugas ini," Yan menjelaskan pada istrinya.
"Lihatlah, Nano punya kelemahan demen banget makan kepala, bila musuh tahu kelemahannya bisa-bisa Nano disuguhi sebaskom kepala ayam, kepala musang dan semua jenis kepala, kan ga bakal jadi perang sibuk melahap kepala dia," jelas Arifah panjang lebar.
Tapi Yan Hendra tetap memerintahkan Nano dan Juls memimpin pasukan. Harapan Arifah tertumpu pada Juls yang ahli mengatur strategi perang.
Dengan mengendarai kuda binal Nano tampak bermasalah dengan kudanya.
Setelah diamati ternyata Kudanya sangat marah karena kepalanya digigitin Nano.
Tibalah Pasukan di kerajaan Kebiri, pasukan dipimpin Juls bersiap meruntuhkan gerbang istana. Sementara Nano sibuk menggigit kepala burung yang ditemukannya dijalan.
"Pasukaaaaannn serbuuuuuu!!!" perintah Juls denga gagah perkasa tanpa menghiraukan Nano.
Namun tiba-tiba muncul Raja Mekel Indani ditemani istri dan putranya.
"Stop! Stop! ada apa ini! Kalian pasukan dari mana dan bermaksud apa?" tanya Mekel heran.
"Kami dari pulau Seribu kuda, hendak membebaskan Putri Hany, yang diculik Juna!" jawab juls mantap.
"Ehh..eh.., Hany diculik putra saya? Ga salah nih," kata Rahma sambil mengandeng putranya.
Mendengar suara merdu Rahma, Nano langsung membuang kepala burung yang dari tadi dimakannya. Sambil mengedip-ngedip ke arah Rahma, Nano bergaya bak panglima perang untuk mendapat perhatian Rahma. Rahma adalah mantan kekasihnya, saat ia melamar ditolak mentah-mentah oleh orang tua Rahma.
"Maaf, kalian semua salah paham, bukan saya yang menculik Hany, tapi Hany yang maksa ikut saya, saya sampai stres menghadapinya, ditolak halus ga ngerti, ditolak kasar malah senang, tolonglah saya pak Juls, bawa Hany pulang, sebelum saya gila," Juna menghiba kepada Juls.
"Hal ini sudah saya duga, dan ini kejadian kedua, dulu Hany juga minta diculik sama Ghe Phie. hingga Ghe memohon kepada saya untuk membawa Hany kembali," jelas juls sambik menggaruk-garuk kepalanya yang berketombe.
"Putri Hany mari kita pulang, bikin malu aja," ajak Juls kesal.
"Pak Juls, habis ini saya pengen diculik Dudunk Sakelan, Aruna Tosa, Lukman Hakim dan Yudha S. Riadi." jawab Hany sambil mencatat di bukunya.
"Ter se raaaahhh!!!" jawab Juls sambil menarik Nano yang kegenitan melihat Rahma.
Akhirnya pasukan pulang dengan perasaan dongkol karena tertipu ulah Hany. Hany tampak tak merasa bersalah duduk diatas punggung kuda liar sambil menyanyikan lagu Maju tak gentar.
Hany...Hany