Dropdown

Sabtu, 09 Mei 2015

DUA ANAK GOKIL


Oleh Dududnk Sakelan

PULANG dari masjid Yan Hendra terlihat menangis. Air mata sama ingus menyatu di bibirnya yang ngembang, karena kebanyakan nangis. Tentu saja, hal itu mengundang perhatian bagi Sastra Dewita, ibu tirinya. "Kenapa dirikau, Nak? Pulang dari masjid kok nangis?" tanyanya sambil ngelap ingus Yan Hedra dengan lap kompor. Maklum wanita cantik mantan gadis sampul majalah dinding itu baru saja bersih-bersih di dapur, ngelap kompornya.
Yan Hendra makin menjadi tangisnya. Ia pun guling-guling di lantai.
"Cep ... cep ... cep .....," Sastra Dewita yang biasa dipanggil Mama Era, merasa nggak tega melihatnya. Air matanya pun ikut berlinang. "Sebenarnya dirikau kenapa sih, Nak? Berantem sama Airi Cha, ya? Mama kan udah bilang, jangan temenan sama Cha. Meskipun ia cewek, ia mempunyai tenaga kuda."
"Bukan, Cha yang mengganggu Yan, Ma, hik hik hik."
"Trus ... siapa? Zura?" Mama Era bertanya lagi.
"Bukan, Ma. Mba Zenith Azzura baik orangnya. Dia kan sahabat hati Yan." Yan Hendra mulai lancar bicaranya. Ia pun nggak lagi nangis.
"Jadi ... siapa, dong?"
"Ustadz Dudunk."
"Haah ...?!" Mama Era melotot tajam. Bulu matanya yang lentik, sampai ikut menegang. "Kenapa Dudunk mengganggu dirikau?"
"Ustadz, Ma."
"Healaaa, ustadz kalau benar. Kalau kerjanya gangguin anak orang?" Mama Era mencak-mencak. "Mau jadi preman masjid apa dia?"
"Ma, Yan nggak diijini shalat Jumat."
"Lha, lha, ustadz apa itu? Orang mau shalat, nggak diijinin. Ini sudah kelewatan. Mama harus lapor ke Kakek Solihin."
"Kok mau lapor ke Kakek Solihin, Ma. Apa hubungannya?" tanya Yan Hendra heran.
Mama Era menarik napas panjang pendek. "Yan Hendra, anak tiri Mama. Dengar ya? Tanah yang dibangun masjid itu, dulunya milik Kakek Solihin. Lalu dihibahkan untuk dibangun masjid. Lha, dengan begitu, Kakek Solihin kan lebih punya hak ketimbang Dudunk yang sok kuasa itu?"
Yan Hendra manggut-manggut sambil membersihkan ingusnya dengan ujung lidahnya.
"Dirikau diapain saja oleh Dudunk?"
"Nggak diapa-apain, Ma. Cuma nggak ngijinin Yan shalat."
"Dia nggak titip salam? Eh, maksudnya ... nggak titip pesan? Biasanya setiap habis marahin anak orang, dia selalu titip pesan."
"Titip, Ma. Katanya, bilang ya sama mama tirimu, harus merhatiin anaknya dengan baik."
"Aladalah, dia bilang begitu?" Mama Era yang dasarnya memang pemarah, jadi memuncak lagi kemarahannya. Gigi rahangnya beradu, hingga terdengar bunyi gemeretak.
"Benar, Mama," jawab Yan Hendra, ngomporin.
"Kenapa katanya, kok Dudunk berani-berani nggak ngijinin kamu shalat?"
"Cuma karena Yan nggak bawa sarung, Mama."
"Jadi ...?" Mama Era langsung geleng-geleng kepala. Baru nyadar bahwa anak tirinya hanya memakai katok kolor. Pantesan aja nggak diijinin shalat, batinnya. Dasar gokil, pergi ke masjid, lupa nggak pake sarung.
Di saat itu, muncul Linda sambil nyanyi-nyanyi lagu ciptaannya sendiri, Sakitnya di Paha Ayam.
"Lho, Lin, dirikau dari mana?" tanya Mama Era. Oh iya, Linda itu adalah anak kandung Mama Era, dari pernikahannya dengan Tedy Maulana Ibrahim, yang raib entah kemana. Kabar terakhir, ia telah nikah lagi Musiyem yang mempunyai kewarganegaraan ganda.
Linda yang nama lengkapnya Dhafitha Linda Nur Azizah. tertawa saja sambil terus bernyanyi-nyanyi.
"Lho, dirikau kok pakek sarung? Itu kan sarung adikmu?" tanya Mama Era rada sebel.
"Hihi, tadi lihat sarung Adek Yan di kursi, langsung Linda pake saja. Sedang kopyahnya ini milik tetangga yang lagi dijemur. Gagah Linda ya, Ma? Nggak ketara, kalau cewek."
Mama Era geleng-geleng melihat tingkah anaknya yang memang tomboy. Ia pun nggak menyalahkan Linda, karena ia dulu juga tomboy. Malah lebih tomboy dari Linda. "Eh, dirikau berpakaian gitu, dari mana?" tanyanya kemudian.
"Dari masjid, Ma. Shalat jumat."
"Linda, Linda, dirikau ini gimana sih, Lin? Shalat Jumat itu hanya untuk kaum pria. Dirikau nggak boleh." Mama Era menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
"Meski sudah pakai sarung dan kopyah, tetap nggak boleh ya, Ma?" tanya Linda polos.
"Tau, ah!" Mama Era meninggalkan kedua anaknya yang gokil. Ia masuk ke kamarnya, untuk membuat puisi pesanan temannya.***
Bumi Kerapan, 080515

Tidak ada komentar:

Posting Komentar