Dropdown

Senin, 13 Juli 2015

DAN SENJA PUN USAI (bag.2) karya: Yanuar Hendra


"Bang ..."“Hmm ....”
“Abang kok diam aja?”
“Ya mau bicara apa lagi? Situasi sudah berubah. Sekian puluh tahun waktu menyela, dan kini tak ada lagi yang tersisa.”
“Dia sempat membicarakan soal Abang. Tak banyak, sih. Tapi sepertinya dia menyesal. Abang tak berusaha mendekatinya lagi? Sekarang dia janda lho, Bang?”
“Hallaah, ko ini macam-macam aja!”
“Tapi Abang masih cinta kan sama dia? Buktinya waktu Ti bilang dia mau ke Jakarta, respon Abang cepat kali. Tapi Abang tak coba untuk lihat-lihat dia?”
“Nggak.”
“Ah, bohong lah! Dia sempat curiga sama sopir taksi yang ngantar dia ke hotel. Itu Abang, ya?”
Tak ada jawaban.
“Ti yakin itu pasti Abang. Abang nyopir taksi di bandara?”
“Nggak, cuma nyerep ….”

CERITA MANIS BUAT MUSIYEM karya: Dimaz Dewantara


Pagi ini Musiyem protes keras sambil membawa spanduk besar-besar di depan rumahku. Aku kira ada demo besar-besaran ketika dari dalam aku melihat spanduk itu berkibar-kibar, tahu-tahunya di luar hanya Musiyem seorang diri saja. Wkwkwk. Yaah, kalau ngurusin demo begini sih aku cuma ‘ngutik’ jari kelingkingku dengan jempol, alias cekrekmukrek.
Akan tetapi sebagai manusia juga, aku nggak tega melihat Musiyem kedinginan diterpa angin dan badai di luar sambil megangin sepanduk. Apalagi ketika aku melihat kepalanya goyang-goyang dan giginyaatampak gemeratakan lantaran menahan ggigil terkena sabetan air hujan yang mulai turun.
“Mbak, Mus monggo silahkan masuk saja!” ujarku seraya membuka gerbang pintu dan mempersilahkan Musiyem untuk masuk ke rumah
“Aku duduk di luar sajalah, Dim” katanya tebata-bata masih menahan gigil
“Ya, sudah aku buatkan teh ya biar anget badannya”

DAN SENJA PUN USAI (bag.1) karya: Yanuar Hendra


Dan memperhatikan dengan saksama perempuan berkerudung merah hati itu. Wajahnya agak tirus dengan make up tipis. Ada sedikit kerut-merut di kanan kiri hidung, serta agak berkantung di kelopak mata bagian bawah. Kulitnya relatif putih dengan beberapa flek sangat minimalis, dan nyaris tak terlihat dalam jarak pandang tertentu. Dibalut busana muslim warna coklat tua dengan lengan sebatas siku; namun dari arah dalam disambung manset panjang sewarna dengan kerudungnya, wanita itu terlihat charming dan modis. Terlebih dipadu dengan tas bermerek internasional pada lengan kirinya.
“Ke mana kita, Bu?” tanyanya sopan sambil melirik kaca spion ketika mobil mulai meninggalkan area parker. Dilihatnya wanita itu mengeluarkan smartphone.
“Sebentar. Jalan saja perlahan,” katanya. Kemudian terlihat dia menekan beberapa tombol angka, lalu mulai bicara dengan seseorang. “Assalaamu’alaikum … Kakak baru sampai nih, Ti …”
“Oh, ya? Aduuuh, maaf. Hetty tak bisa jemput,” sahut suara di seberang telepon selulernya. “Kakak sama siapa?”
“Sendirilaah... Sama siapa pula?”
Suara lawan bicaranya mengikik. “Nginap di tempat akulah, ya? Cuma sempit, maklum anak kost.”
“Eh, daerah mana ko bilang tempo hari?”
“Kuningan. Ya, Kak ya? Pliiiis … Nginap di tempat akulah, ya?”
“Kita tengok nanti ajalah. Kayaknya udah sore. Nanti kakak hubungi ko, ya?”
“Eh, Kakak mau berapa hari di sini?”
“Mungkin dua atau tiga hari …” jawab wanita itu, kemudian memutuskan pembicaraan. “Ke daerah Kuningan aja, Pak,” katanya kepada si sopir.

Minggu, 12 Juli 2015

PURA-PURA

Seperti biasa, setiap hari Selasa selepas bel pulang berbunyi mereka yang mengaku sebagai anggota ROHIS mengadakan rapat di sanggarnya. Rapat kali ini di pimpin oleh Ustad Ilham, guru paling ganteng disekolah. Beliau menyampaikan tentang apa saja yang harus di persiapkan untuk acara buka puasa bersama. Semua mendengarkan kecuali aku, ya aku. Aku mencemaskan Rangga, si ketua rohis itu.
"Ukhti, kenapa cemas begitu?" Zara membuyarkan lamunanku yang tertuju kepada Rangga.
"Akh, tidak apa-apa, ukhti."
Kutengok jam tanganku, sudah seperempat jam rapat berjalan tapi Rangga belum juga muncul. Padahal tadi ketika ditanya olehku dia bilang akan hadir rapat. Kalau saja dia tidak bilang seperti itu aku tidak akan menghadiri rapat.
"Assalamualaikum, ustadz ma'af saya telat."
Itu dia Rangga, orang yang ku tunggu-tunggu. Aku tersenyum lega.
"Oh, jadi ukhti mencemaskan akhi Rangga?" terka Zara.
"Tidak ukhti. Memangnya ada Akhi Rangga?" Tanyaku menyembunyikan rasaku.
***
CRB,2015

ENTAH 1



Diamku dalam sunyi dini hari.
Merajut sulaman dzikir Ilahi.
Dalam hari-hari terwarnai mimpi.
Melukis setiap dinding nurani
Coba memberi arti dari kehidupan ini.
Ku baktikan hidup pada dunia.
Menjaja syahwat cinta harta.
Menggadai ibadah yang sia-sia.
Tenggelam dalam kubang nistanya dosa.
Entah sampai kapan.........
Sesekali ku coba menepi
Tapi nafsu kian membebani.
Merajukku untuk kembali menari.
Menyanyikan irama duniawi.
Hingga Syetan tertawa senang.
Dan Iblis tersenyum menang.
Entah sampai kapan................
***

Misteri Hilangnya Sandal Hello Kitty


Tema :
‪#‎Pura‬-pura

Selepas menunaikan shalat subuh berjamaah, Detektif Abdul dan Ubay bergegas menuju kantor mereka. Hari ini banyak kasus sulit yang harus dipecahkan, dimulai dari kasus cinta segitiga mba Percaya Sama Zalikadengan Hyun Bin dan David Beckham, hilangnya koko krunch milik BuWirda Fathiya Al Faiq, dan kasus yang paling menghebohkan seluruh warga desa CERPEN-KU, yaitu misteri keberadaan Putri Setia Rahmawati Numbone saat bermain petak umpet. Sampai status ini dimuat, Putri Tia belum juga ditemukan.
Dalam perjalanan, Detektif Abdul dan Ubay dikagetkan oleh suara yang memanggil mereka. Sesaat Abdul mengira itu suara Agnes Monica yang kangen padanya, tapi semakin dekat, ia melihat seperti Raisha yang ingin mengatakan cinta, makin dekat lagi, ternyata dia adalah si cantikHashirama Rama Rahma. Ia berlari tergopoh-gopoh, wajahnya tetap mempesona, dan gerakan tubuhnya sangat anggun. Sejenak ia menghela napas panjang.
“Sendal saya hilang Bang Detektif,” ujar Rahma dengan wajah yang berkaca-kaca.
“Hilang? Bay ini pasti pencurian,” kata Abdul penuh percaya diri.
“Baik, antar kami langsung ke TKP Nona Rahma,” ujar Ubay berwibawa.
***
“Tadi saya simpan di sini Bang, tapi pas keluar udah gak ada lagi,” kata Rahma terisak-isak.
“Apa ada orang yang Nona curigai saat ini?” Tanya Ubay dengan memainkan kaca pembesarnya di TKP.
“Ada Bang, dia Um Tonie Hida, tetangga saya.”
“Pasti dia pelakunya!” Tiba-tiba Abdul berteriak dengan lantang.
“Buset! Bikin kaget aja kamu Dul,” ujar Ubay sembari menghantamkan kaca pembesar ke kepala Abdul.
“Iya Bang, pasti dia pelakunya. Soalnya kemarin, dia maksa banget beli sandal saya Bang. Tapi saya gak jual,” isakan Rahma seketika berubah menjadi tangisan.
“Baiklah Nona Rahma, kasus ini akan kami selidiki lebih lanjut. Jadi mohon untuk bersabar terlebih dahulu,” kata Ubay menenangkan Rahma.
“Iya, makasih Bang Detektif. Biayanya berapa Bang?”
“Hmm, gak usah khawatir dengan biaya. Cukup dengan senyuman manis Nona Rahma saja,” ucap Ubay menggoda.
“Ah, Bang Detektif bisa aja.”
***
Menyelidiki kasus hilangnya sandal Rahma merupakan tugas berat yang harus segera diselesaikan oleh Detektif Abdul dan Ubay. Akhir-akhir ini memang banyak kasus kehilangan yang aneh terjadi. Pernah suatu ketika Detektif Abdul dan Ubay memecahkan kasus hilangnya macan Zenith Azzura Azzura, yang ternyata bersembunyi di dalam lemari. Sang macan bertutur bahwa ia bersembunyi karena majikannya sering menganggapnya seperti boneka Barbie yang imut. Lebih aneh lagi kasus kehilangan boneka milik Mj Tinx, yang ternyata ada di bawah bantal. Sang boneka mengakui bahwa majikannya sering memperlakukannya seperti seekor macan. Kenapa kalian gak tukeran aja?
“Dul, dari tadi kamu cengingiran terus,” kata Ubay melihat kawan detektifnya senyam-senyum sendiri.
“Haha, sstt Bay. Tadi saya cuman pura-pura nuduh um Toni Hida?”
“Maksudnya Dul?”
“Nih coba lihat, sandal Hello Kitty Rahma, saya yang pakai Bay haha. Selfie dulu ah.”
“BUSET! Jadi kamu yang ambil Dul? Ikutan selfie ah.”


Abdul dan Ubay
Makassar, 7 Juli 2015

PURA PURA



Wajah boneka dengan kerlip sayu pada kedua mata
Tutur kata lugu melintuh bak perawan desa
Derai canda selalu mempesona
Gelak lucu tak henti tersungging di setiap kata
Seolah tak ada pura-pura
Aku begitu jatuh cinta saat pandangan pertama
Kupanggil kau adik kau panggil aku kakak
Lalu kita seperti kakak beradik
Kerap kau menangis mengeluh buat iba
Hingga kupeluk dalam setiap doa
Di suatu senja kau pun bercerita
Jatuh cinta pada seorang pemuda
Aku pun tertawa dengan bahagia
sambut senang dalam derai tawa
Namun ternyata itu lah akhir sebuah cerita
Perlahan kau mulai berpura-pura
Sering berdusta dalam setiap kata
Tak lagi lugu kini mulut penuh bisa
Kau yang bak perawan desa kini sungguh luar biasa
Gaya kota lenggok pun mulai menggoda
Tak lagi ramah selalu ketus bicara
Aku pun heran lalu bertanya kenapa
Jawabnya sungguh tak terduga
Ia takut aku menggoda pacarnya
Ah ... cinta kau memang luar biasa
Bisa menyulap segala dengan seketika
Hingga dia pun kini bergaun dusta penuh pura pura.

Bumi Andalas, 12/7/2015
***

PURA-PURA DEMI JURAGAN KABAYAN


Juragan kabayan sidak ke satu kampung
"sungai mendadak banyak ikan gurame,nila,lauk mas berseliweran""
Juragan kabayan berkata:mentang mentang aku suka mancing sungai kalian isi dengan bemacammacam ikan padaahal sungai penuh limbah pabrik".
Para gadis dan ibu-ibu mendadak berdandan wah.
"apakah setiap hari nyai berpakaian seperti ini ",tanya pejabat kabayan
Sang gadis tertunduk malu sebab semua hasil ngutang kiri kanan
Rumah -rumah mendadak bercat bersih ,jalan- jalan rapih jembatan mendadak diperbaiki,kampung mendadak sejahtera
Pejabat desa tak mau di nilai gagal memajukan desa
aku tak jadi berikan bantuan pada kampung.ini teriak pejabat kabayan
Apa yang mesti di perbaiki jika desa telah sejahteraa.
Sang kades bengong,inilah jika para pejabat berprinsip asal bapa senang.

Ted juli15
***

Sabtu, 11 Juli 2015

CINTA GILA

‪#‎bebas
Letih rasanya, harus mengantri berjam-jam hanya untuk mendapatkan sehelai tiket kereta api. Belum lagi, ketika di kereta harus berdesak-desakkan dengan penumpang lain yang berkeringat dan mempunyai aroma tubuh beraneka ragam.
"Fiuh..."
Cinta membayangkan dirinya ketika akan mudik lebaran ke kampung cerpen-ku.
"Sebaiknya, aku tidak usah pulang. Lagi pula, disana bapak akan menjodohkanku dengan orang yang tak pernah kutahu sebelumnnya. Tapi, jika aku disini mas Bambang pasti akan terus menggodaku. Ih orang yang sangat menyebalkan."
Baju yang telah ia kemas pun, hendak ia rapikan lagi ke lemari.