a
Oleh Kang Kelan
SAAT aku duduk manis mau bikin cerpen yang ada hubungannya dengan prangko, tiba-tiba sahabat karibku di segala cuaca, Tedy Maulana Ibrahim, nongol denga cengirannya yang khas.
"Lagi ngapain, Dudunk anak Emak?" tanyanya seraya langsung merebahkan pantat Semar-nya di bibir ranjang.
"Lagi ngebayangin Sastra Dewita," ucapku sekenanya. Padahal emang iya, hihi. Habis, lama nggak ketemu. Gimana kabarnya,ya? Pasti tambah cantik setelah PP-nya ganti. Moga aja hatinya nggak berubah. Tetap baik kepada semua orang.
"Hihi." Tedy ketawa. Pasti deh, nggak percaya. Nggak apa-apalah. Itu lebih aman buatku. Biar nggak menggoda aku mulu. "Dunk. Dudunk pernah jatuh cinta, nggak?" tanyanya kemudian. Membuat aku menutup laptopku. Beneran, aku tertarik dengan pertanyaannya itu. Aku pun yang tadinya duduk di kursi, pindah ke ranjang. Di sebelah Tedy.
Aku bersila.
"Pernah nggak, Dunk?" Tedy mengulangi lagi pertanyaannya.
"Kamu sendiri?" Aku balik bertanya.
Tedy nyengir. "Dan kamu?"
Aku nyengir juga. Sebagai pertanda bahwa jawabannya sama. "Aku tahu siapa yang kamu taksir," ucapku dengan nada menggoda. "Arifah, kan?"
"Kok kamu tahu?" Tedy kaget campur tersipu. Wajahnya bersemu merah. Dia-diam aku kasihan juga. Orang jatuh cinta nggak pantas digoda atau pun diledek. Karena cinta adalah perkara hati. Anugerah dari Yang Kuasa lagi.
"Biasa ajalah, Tedy. Nggak usah malu-malu meong!" Seruku sembari menepuk pundaknya. "Kalian udah jadian, kan?"
Tedy terdiam. Wajah jenakanya berubah sedih. Seperti Ada mendung tebal bergelayut manja di langit hatinya.
"Arifah menolakmu?" tanya setengah mengejar.
Tedy nggak menjawab. Hanya mendesah panjang pendek. Sampai aroma jengkolnya memenuhi ruang kamarku yang berantakan, seperti kapal pecah.
"Kalau ditolak, dukun bertindak, Ted!" Aku tertawa, menghibur.
"Aku masih belum 'nembak', Dunk?"
"Lho, buruan dong, Ted!" seruku menggebu sendiri. "Kalau kamu nyantai gitu, nanti kedahuluan orang. Soalnya, dengar-dengar Bos Yan Hendradan Achmad Solihin lagi berlomba mencari simpati Arifah."
"Aku bingung, Dunk!"
"Kok bingung?" tanyaku heran. Sebel juga.
"Soalnya...." Tedy menggantungkan ucapannya, membuat aku semakin heran dan sebel.
"Soalnya... kenapa?" desakku dengan wajah sedikit merengut.
"Soalanya aku...." Tedy kembali menggantungkan kalimatnya.
"Iya. Kenapa dengan kamu, Ted?" Aku mulai gusar. Tapi aku nggak sampai membentak Tedy. Takut nangis. Dan kalau nangis, ia langsung ngadu ke Airi Cha, saudara angkatnya. Dan ujung-ujungnya aku juga yang kena semprot tuh cewek.
"Aku benar-benar bingung, Dunk." Tedy merengek. Pasti sudah mau menangis.
"Bingung kan ada penyebabnya, Tedy Manis? Cerita dong, sama aku. siapa tahu, aku punya solosinya," ucapku sok manis. Padahal kati kecil pengen menjitak jidatnya, saking sebelnya.
"Tapi jangan cerita ke siapa-siapa, ya? Cukup kamu dan cicak-cicak yang ada di kamar ini saja yang tahu kenapa aku nggak segera 'nembak' Arifah."
"Iya, dah. AKu janji."
"Sumpah?"
"Udah, ah. Jangan bertele-tele. Langsung aja jelasin!" sergahku beneran sewot kali ini.
Tedy tersenyum. Tapi sekilas saja. Berikutnya menatapku lurus tanpa senyum. "Dunk. Aku... aku kan nggak 'nembak' Arifah, karena hatiku mulai ragu sekarang."
"Kenapa ragu?"
"Apa yang kurang dari Arifah? Doi cantik, bohay juga."
"Bukan karena itu, Dunk."
"Terus?" kejarku nggak sabar. Kalau dia jawabnya muter-muter lagi, kupastikan akan kujitak jidatnya yang mengkilap itu.
"Ada cewek lain yang mengisi hatiku."
"Siapa?" Aku tertawa geli. Ternyata playboy juga tuh bocah.
"Aku serius, Dunk. Belakangan bayangnnya selalu berkelebat di benakku. Mengikuti gerak pikiranku." Tedy menatapku dengan mimik serius pula.
"Iya, tapi siapa cewek yang kini membuat kamu jadi gila gitu?" tanyaku tanpa mengerem tawaku.
"Sastra Dewita."
"Haaah...?!" Aku tersentak kaget. Tawaku lenyap seketika. Dan tiba-tiba aku melihat Tedy seperti serdadu Belanda yang harus aku usir dari kamarku.***
"Haaah...?!" Aku tersentak kaget. Tawaku lenyap seketika. Dan tiba-tiba aku melihat Tedy seperti serdadu Belanda yang harus aku usir dari kamarku.***
Bumi Kerapan, 290315




