Dropdown

Minggu, 29 Maret 2015

KALAU TEDY JATUH CINTA

a

Oleh Kang Kelan
SAAT aku duduk manis mau bikin cerpen yang ada hubungannya dengan prangko, tiba-tiba sahabat karibku di segala cuaca, Tedy Maulana Ibrahim, nongol denga cengirannya yang khas.
"Lagi ngapain, Dudunk anak Emak?" tanyanya seraya langsung merebahkan pantat Semar-nya di bibir ranjang.
"Lagi ngebayangin Sastra Dewita," ucapku sekenanya. Padahal emang iya, hihi. Habis, lama nggak ketemu. Gimana kabarnya,ya? Pasti tambah cantik setelah PP-nya ganti. Moga aja hatinya nggak berubah. Tetap baik kepada semua orang.
"Hihi." Tedy ketawa. Pasti deh, nggak percaya. Nggak apa-apalah. Itu lebih aman buatku. Biar nggak menggoda aku mulu. "Dunk. Dudunk pernah jatuh cinta, nggak?" tanyanya kemudian. Membuat aku menutup laptopku. Beneran, aku tertarik dengan pertanyaannya itu. Aku pun yang tadinya duduk di kursi, pindah ke ranjang. Di sebelah Tedy.
Aku bersila.
"Pernah nggak, Dunk?" Tedy mengulangi lagi pertanyaannya.
"Kamu sendiri?" Aku balik bertanya.
Tedy nyengir. "Dan kamu?"
Aku nyengir juga. Sebagai pertanda bahwa jawabannya sama. "Aku tahu siapa yang kamu taksir," ucapku dengan nada menggoda. "Arifah, kan?"
"Kok kamu tahu?" Tedy kaget campur tersipu. Wajahnya bersemu merah. Dia-diam aku kasihan juga. Orang jatuh cinta nggak pantas digoda atau pun diledek. Karena cinta adalah perkara hati. Anugerah dari Yang Kuasa lagi.
"Biasa ajalah, Tedy. Nggak usah malu-malu meong!" Seruku sembari menepuk pundaknya. "Kalian udah jadian, kan?"
Tedy terdiam. Wajah jenakanya berubah sedih. Seperti Ada mendung tebal bergelayut manja di langit hatinya.
"Arifah menolakmu?" tanya setengah mengejar.
Tedy nggak menjawab. Hanya mendesah panjang pendek. Sampai aroma jengkolnya memenuhi ruang kamarku yang berantakan, seperti kapal pecah.
"Kalau ditolak, dukun bertindak, Ted!" Aku tertawa, menghibur.
"Aku masih belum 'nembak', Dunk?"
"Lho, buruan dong, Ted!" seruku menggebu sendiri. "Kalau kamu nyantai gitu, nanti kedahuluan orang. Soalnya, dengar-dengar Bos Yan Hendradan Achmad Solihin lagi berlomba mencari simpati Arifah."
"Aku bingung, Dunk!"
"Kok bingung?" tanyaku heran. Sebel juga.
"Soalnya...." Tedy menggantungkan ucapannya, membuat aku semakin heran dan sebel.
"Soalnya... kenapa?" desakku dengan wajah sedikit merengut.
"Soalanya aku...." Tedy kembali menggantungkan kalimatnya.
"Iya. Kenapa dengan kamu, Ted?" Aku mulai gusar. Tapi aku nggak sampai membentak Tedy. Takut nangis. Dan kalau nangis, ia langsung ngadu ke Airi Cha, saudara angkatnya. Dan ujung-ujungnya aku juga yang kena semprot tuh cewek.
"Aku benar-benar bingung, Dunk." Tedy merengek. Pasti sudah mau menangis.
"Bingung kan ada penyebabnya, Tedy Manis? Cerita dong, sama aku. siapa tahu, aku punya solosinya," ucapku sok manis. Padahal kati kecil pengen menjitak jidatnya, saking sebelnya.
"Tapi jangan cerita ke siapa-siapa, ya? Cukup kamu dan cicak-cicak yang ada di kamar ini saja yang tahu kenapa aku nggak segera 'nembak' Arifah."
"Iya, dah. AKu janji."
"Sumpah?"
"Udah, ah. Jangan bertele-tele. Langsung aja jelasin!" sergahku beneran sewot kali ini.
Tedy tersenyum. Tapi sekilas saja. Berikutnya menatapku lurus tanpa senyum. "Dunk. Aku... aku kan nggak 'nembak' Arifah, karena hatiku mulai ragu sekarang."
"Kenapa ragu?"
"Apa yang kurang dari Arifah? Doi cantik, bohay juga."
"Bukan karena itu, Dunk."
"Terus?" kejarku nggak sabar. Kalau dia jawabnya muter-muter lagi, kupastikan akan kujitak jidatnya yang mengkilap itu.
"Ada cewek lain yang mengisi hatiku."
"Siapa?" Aku tertawa geli. Ternyata playboy juga tuh bocah.
"Aku serius, Dunk. Belakangan bayangnnya selalu berkelebat di benakku. Mengikuti gerak pikiranku." Tedy menatapku dengan mimik serius pula.
"Iya, tapi siapa cewek yang kini membuat kamu jadi gila gitu?" tanyaku tanpa mengerem tawaku.
"Sastra Dewita."
"Haaah...?!" Aku tersentak kaget. Tawaku lenyap seketika. Dan tiba-tiba aku melihat Tedy seperti serdadu Belanda yang harus aku usir dari kamarku.***
Bumi Kerapan, 290315

Selasa, 24 Maret 2015

Awalan "di" dan Penempatannya

#vitamin pagi
semangat pagi SOBAT CERPEN-KU ....
Di pagi yang cerah ini, marilah kita awali segala sesuatunya dengan hal-hal yang baik. Salah satunya yaitu dengan meminum vitamin hehehhe
Sebenarnye aye kagak bisa basa-basi, jadi nyok kite langsung aje ye ...
Kerap sekali terjadi kesalahan dalam penempatan awalan di-. Mungkin sebelumnya sudah pernah dijelaskan oleh big bos kita Kak Yan Hendra. Sekarang saya akan mengajak sahabat cerpen-ku untuk mengingat kembali.
*Awalan (di-) jika diikuti dengan kata keterangan tempat, maka penulisannya harus DI PISAH, selain itu ditulis serangkai.
contoh:
1- Di dalam
- Di luar
- Di sana
- Di mana
2- Diikat
- Diracun
- Dibabat
Namun, ada beberapa kata yang penulisannya bisa dipisah dan bisa juga serangkai, tergantung dengan kalimatnya.
Contoh:
1- Di balik (dipisah)
Mas Dudung sembunyi di balik pintu.
(Kata 'balik' di sini menunjukkan keterangan tempat)
2- Dibalik
Meja itu dibalik oleh Tedy.
(Kata 'balik' di sini menunjukkan keterangan kerja).
Oke sampai di sini dulu ya ....
Semoga bermanfaat ^-^
Salam Cerita Penulis!

Jumat, 20 Maret 2015

AAARGH ...!

AAARGH ...!
Sebenarnya saya sudah pasrah dan ikhlas dia memilih pria lain. Seperti yang pernah dikatakan Pak Ustadz :jodoh, rezeki, dan maut sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tapi entah kenapa, kok ya setelah beberapa hari dia masih saja 'ngeledek'.
"Datang ya? Dia kan temen kita juga. Kamu bawa pasangan barumu, sedang aku ... yang pasti ... ada deeeh ...." katanya. Tuh, kan? Padahal dia sudah dapat informasi kalau saya tuh masih jomblo. Kenapa juga mau pamer pacar baru ke saya dalam acara ultah teman?
Dua hari lalu dia pun mengundang dengan gaya yang sama untuk menghadiri reuni TK kami. "Bawa pasangan, ya? Jangan lupa ...." katanya. Huh, sungguh terlalu! Saya ga kepengin banget balikan sama cewe matre itu. Dia mungkin ga peduli dengan cowo ganteng, sebab standar seperti Boneng atau Bokir sudah cukup, asal tajir. Atau ... jangan-jangan dia menyesal sudah ngajak putusan ... secara, saya kan baru dapat warisan, dan dengan cara seperti itu ingin buat saya emosi lalu marah, dan ngajak balikan. Awas, kau ya!
"Datang ya nanti malam, coz kami akan tunangan ..." katanya di telepon, sore ini. "Kamu boleh kok bawa pasangan ...."
"Acara makan malam saja?" tanya saya datar.
"Ya. Datang, ya?"
"Baiklah. Siapkan piringnya tiga saja."
"Kenapa? Pasanganmu tak dibawa?"
"Bawa. Hanya saja selera makannya tidak biasa ..."
"Vegetarian? Aku bisa menyiapkannya!"
"Bukan. Dari namanya kau akan tahu selera makannya."
"Aku mengenalnya?"
"Ya. Mungkin dia sudah datang lebih dulu. Namanya SUMANTO ...."
"Cklek!"
Telepon langsung diputus.
Dia tak pernah lagi menghubungi saya

***

Minggu, 15 Maret 2015

BALADA RUMMAN DAN AHMAR


Alkisah diceritakan bahwa hubungan asmara antara Rumman dan Ahmar sudah seperti mur dan baut, pena dan kertas, atau saya dan odong-odong. Tak terpisahkan, sebab sudah menjadi imej yang satu. Hal semacam itu tentu saja membuat sebagian orang menjadi iri, atau mungkin juga hendak menguji, sejauh mana sih kekuatan ikatan kasih mereka? Tak terkecuali Qila.
Qila yang cintanya ditolak mentah-mentah oleh Boneng, kadang merasa bahwa adiknya yang masih bau kencur dan ngomong errrr aja belum lempeng, kok bisa-bisanya lope-lopean sama Rumman? Sudah gitu, berjanji sehidup-semati, lagi di depan pohon tomatnya Dudunk saling mengatakan: loping yu polepel.!
"Rumman, sini deh. Aku mau minta tolong," kata Qila di telepon. "Tapi jangan bilang-bilang Ahmar, coz kamu tau sendiri kalo die rempong."
"Oke, Ka...!"
"Jangan pake L...!"tegas Qila.
"Siap!" Dengan menggunakan ilmu Saipi Angin, Rumman tiba dengan cepat, membuat Qila merasa heran.
"Waktu Kak Qila tadi telepon, kan ane lagi lewat di depan rumah..."jelas Rumman.
"O, pantes..."Qila manggut-manggut. "Gini, Man. Kakak mau minta tolong, " lanjutnya. "Tapi inget, ini rahasia kita berdua. Ahmar ga boleh tau."
"Segitunya, Kak Qila...Emang apa sampai rahasia segala?"
"Kamu kan tau Kakak ngajar di SD. Nah, Kakak lagi nyuruh anak-anak bikin majalah dinding. Ntar diisi tulisan ama anak-anak. Kakak mesti mempelopori, kan? Berhubung tulisan kakak jelek, maka kakak minta tolong kamu yang tulisi..."jelas Qila.
"O, gitu? Tulisan ane juga ga bagus-bagus amat, Kak..."
"Dibanding tulisan kakak, kamu lebih bagus. Ya udah, mau bantu, ga?" kilah Qila sambil menyodorkan kertas polos dan pulpen. "Ga mesti dibagus-bagusin. Yaaaa, standar kamu yang biasa aja," lanjutnya sambil menunjukkan secarik kertas berisi puisi pendek.
"Nyalin ini?"
"Iya."
Rumman membaca dalam hati sambil menuliskannya.
-- Hambar --
seperti siang berganti malam/ dan tirai malam putus disayat mentari/apa yang sebaiknya kita lakukan/ bila keduanya begitu serasi/ maaf terima aja/ apa pun itu...
***
Saat Rumman baru sehari bertugas di Papua, Qila datang ke rumah Ahmar, dan menyerahkan amplop kecil.
"Dari Rumman. Baca aja," kata Qila dingin sambil mengemut es potong.
Ahmar merobek amplopnya hati-hati sekali dengan pikiran yang diselubungi ratusan tanda tanya. Wajahnya mendadak pias, dan bibirnya gemetar membaca tulisan yang ada di dalam amplop.
- maaf, Ahmar. Sepertinya kita sudah tidak serasi. Sebaiknya kita putus aja-
"Tidak! Tidak mungkin....!" desis Ahmar sambil memandang Qila. Tubuhnya gemetar seperti melihat hantu yang menakutkan. "Tidak mungkiiin....! Kak Qila, katakan, Lumman tidak mungkin menulis sepelti ini, kan? Tidak mungkin. Dia pasti belcanda, kan?! Katakan, Kak Qila! Lumman pasti belcanda, kaaan...!" teriak Ahmar panik sambil menyerahkan secarik kertas tadi pada Qila, sementara ia sendiri memencet-mencet nomor Rumman. Gagal. Diulanginya beberapa kali, tapi tetap gagal. Ahmar semakin panik, mundar-mandir tidak karuan dan mendecah sambil geleng-gelengkan kepala.
"Tapi kamu yakin ini tulisan dia?" tanya Qila.
"Ya, aku hapal itu tulisannya. Tapi...aaaalllllghhh! Tidak mungkin! Tidak mungkin Lumman menulis sepelti itu!" teriak Ahmar menghempaskan pantat di sofa, rebahan, tengkurap, lalu guling-gulingan di lantai sambil berteriak-teriak histeris.
Melihat itu Qila tak tega juga. Khawatir Ahmar gila betulan. Dihampirinya Ahmar, dan saat anak itu berteriak membuka mulut, dicocolnya dengan sisa es potong yang tadi diemutnya.
"Blep!"
Keruan saja Ahmar gelagapan. Teriakannya terhenti. Disemburnya sisa es potong itu sambil meludah berkali-kali ke dalam vas bunga.
"Udah diem! Gitu aja stres. Kayak orang gila. Semua itu rekayasa!" kata Qila.
"Tapi...tapi aku tahu itu tulisan Lumman..." tanya Ahmar sambil menyisakan airmata di pipinya.
"Itu aku yang buat!" aku Qila. "Kamu kan tau aku jago menirukan tulisan orang. Aku suruh Rumman menulis puisi yang ada kata-kata yang cocok dengan tulisan tadi. Jadi aku tau gayanya waktu nulis huruf pe, em, te, es, dan sebagainya...." lanjutnya menjelaskan.
"Benel itu lekayasa?!" tanya Ahmar dengan wajah berseri. "Kenapa sih iseng banget? Kak Qila jahat, ih!"
"Hihihi...."
"Kenapa, sih? Iseng aja. Hampil pingsan aku...."
"Segitunya...ya udah ah, kakak pulang dulu...."
"Eh, ntal dulu!" cegah Ahmar. "Peluk ciumnya mana?" lanjutnya sambil senyum-senyum menghampiri. Begitu sudah dekat, Ahmar langsung memeluk dan meletakkan kodok mainannya yang mirip Ahmar, eh kodok betulan ke tengkuk Qila, dan seketika masuk ke dalam bajunya.
"Hiiiiiiiiii....!" Qila menjerit ketakutan, dan tubuhnya bergelinjangan menahan geli, takut, dan jijik. "Ahmaaaaaar...!" teriaknya minta tolong. Tapi Ahmar sudah berlari keluar sambil tertawa mengejek.
"Hahaha....! Lasain! Itu balasannya olang yang udah ngeljain aku...weeek....!"
"Ahmaaaaaar...! Toloooong...."
"Bodo!"
***
sekian

Sabtu, 14 Maret 2015

PAHLAWAN BERTOPENG

Hujan rintik-rintik tak membuat Lukman Hakim lupa dengan tugas utamanya memberi makan ayam-ayam peliharaan emaknya, Musiyem
Sibuk dia mengaduk nasi, sayuran dan dedek ditambah vitamin agar ayamnya terhindar dari penyakit.
"Ayam dah lu empanin semua, Luk?" tanya Emak Musi.
"Udeh mak tenang aje nape...? Ayam aja di perhatiin, lah aye pan dari pagibelum makan ape-ape Mak!" kata Lukman sambil manyun.
"Nah ntu kue makan aje, tadi emak bikin buat elu," Musiyem menunjuk kue di meja.
Dengan semangat perang Uhud, Lukman menyantap kue di meja.
"Mak! Kok rasa kue aneh, sih?" Lukman mencoba memperhatikan tekstur kue made in Emak.
"Iye emak salah tadi, mo ngambil terigu malah dedek empan ayam yang emak aduk, tapi enak, kan? Nah tuh sepiring habis ma elu sendiri," jawab Emak santai.
Lukman tampak mendelik menahan enek.
Lukman adalah jawara yang sudah terkenal di Kampung Bekicot. Tapi agar tak diketahui identitasnya ia selalu menggunakan topeng saat beraksi.
Lukman dan dua sahabatnya yaitu Cahyo Wibowo dan Achmad solihin selalu membela kaum yang tertindas. Saat ada kejahatan mereka langsung lari ke kamar dan ganti kostum. Kostum Lukman ala Batman, Cahyo ala Superman dan Achmad ala Spiderman. Mereka tampak lucu dengan kostum itu, karena perut mereka buncit jadi seperti sedang hamil 9 bulan.
Suatu malam tiga pahlawan bertopeng sedang nongkrong di kandang ayam karena ada ayam yang hendak bertelor.
Emak menyuruh mereka menunggu ayam yang sedang bertelor takutnya harus dioperasi cesar.
Tiba-tiba terdengar suara wanita minta tolong.
"Tolong....toloooongggg!!"
"Ih ntu kan suara Zenith Azzura, pacar aye!" Lukman bangkit dari duduknya.
"Hayo kita beraksi cepaaaat masuk kamaaarr ganti kostum!" ajak Cahyo.
Tak lama mereka telah keluar menuju target. Di perempatan tampak tiga perampok hendak merampas cincin batu akik yang dipakai hampir di kesepuluh jarinya.
"Pahlawan bertopeng dataaaaaangggg!!" Ketiga pahlawan itu kompak melompat menghadang perampok.
Bukan ketakutan reaksi dari ketiga perampok itu, bahkan Zenith pun tampak tersipu. Perampok dan Zenith tertawa terbahak-bahak bahkan perampok itu sampai jungkir balik karena geli.
Ketiga pahlawan itupun jadi bingung dan saling berpandangan.

Dan......ups..! Setelah mencari tahu penyebabnya ternyata ...mereka salah kostum!!, Lukman salah memakai celana dalam emak yang bergambar bunga kamboja, sedangkan Achmad memakai kaos dalam emak yang berpita ungu dan Cahyo memakai BH emak warna pink.
Tak ada niat lagi menolong Zenith...yang ada kabuuuuuurrrr!!!! Pulang dan ganti kostum. Tampaknya mereka salah masuk kamar emak tadi. Ups..!

Sabtu, 07 Maret 2015

TRAGEDI DI PASAR REBO



CARI duit sekarang susah. Benar apa kata Pak Haji Omairama, jangankan yang halal, yang haram pun susah didapat. Tapi syukurlah, aku masih punya iman. Jadi, usaha yang halal-halal saja. Entah kalau kepepet, he. Tapi tidaklah ya, mudah-mudahan jangan.
Hari ini aku mencoba keberuntungan dengan menjual obat panu. Aku jualan di Pasar Rebo. Wajah aku sudah aku sulap pake kumis dan jenggot palsu. Tidak mungkin Musyisem, Terry, Bundha Vinram, Bunda Sri Eli Prorida, Hany Juwita cewek yang suka jeles padaku itu, mengenal aku lagi. Entah kalau Sastra Dewita. Soalnya kumis dan jenggot palsu ini aku nyewa di salonnya.
Meskipun hanya jualan obat jamu, aku pake asisten juga, merangkap sebagai penyandang dana. Khusni Yakob dan Emak Arifah Najmi, yang kini sudah tidak menganggap aku anak lagi. Ya, tidak apa-apa.
Hari sudah agak siangan, tapi dagangan belum laku-laku juga. Hanya ada beberapa gelintir orang yang nongkrong di dekatku jualan. Di antaranya Mba Puspa Andini, Banyu Biru II, III dan Iv. Tapi aku nyantai saja. Mereka tidak akan kenal aku. Yang repot si Emak ini, sudah dandanannya menor banget, pake ganjen lagi. Dari tadi kuperhatikan ngobrol terus sama si Banyu. Sudahlah, tidak apa-apa. 'Kali aja naksir setelah cintanya kandas dengan Bang Aruna Tosa.
"Gimana ini, Bang?" Khusni menatapku cemas.
"Tenang. 'Bentar lagi dagangan kita habis."
"Bang Dunk bisa tenang, karena nggak ngeluarin duit buat modal. Lha, aku?" Khusni mulai merengek. "Padahal uang yang Bang Dunk bikin ngulak obat panu itu sebenarnya untuk modal ngelamar Hany Juwita. Sekarang gagal sudah."
"Beneran, kamu naksir Hany?"
"Benar, Bang."
"Mantep?"
"Mantep."
"Sebaiknya jangan ah, Mending kamu naksir Zenith Azzura, atau Linda aja."
"Kalau Era, bang?"
"Jangan. Era orangnya galak. Dalam seharinya kalau tidak marahin orang, dia pusing katanya. Mau?"
"Nggak, Bang Dunk. Atut, hihi."
"Ya, udah. Duduk manis dulu kamu. Aku mau manggil pembeli dulu," ucapku pada Khusni yang sudah bisa kutenangkan kegalauan hatinya.
Setelah aku teriak-teriak nawarkan dagangan, ternyata banyak juga yang datang. "Bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara semua. Kalian jangan menganngap remeh penyakit panuh. Karena panuh ternyta bisa membunuh juga. Lebih kejam dari penyakit kencing manis, liver, tumur, kankker dan lain-lainnya," ucapku.
Orang-orang makin berbondong-bondong. "Kok bisa?" tanya Rinjani Syafriadi, di sela kerumunan orang.
"Iya, mana bisa panuh membunuh? Jangan-jangan boong!" Muhamad Relqy Auliansyah Alvano teriak-teriak.
"Iya, pasti boong!" teriak yang lain.
"Tenang saudara-saudara. Kita dengerin dulu penjelasannya. Siapa tahu benar!" Qila mencoba menenangkan orang-orang yang mengerubuniku. Hihi, syukur dah!
"Benar apa kata Neng Cantik ini." Aku menengahi. "Saya mau cerita tentang orang yang mati karena terjangkit penyakit panu itu. "Gini, di kampung saya ada seorang pemuda yang sedianya akan menikah bulan depan, ternyata kedapatan meninggal dengan tubuh mengenaskan. Lantarannya ya karena panu itu."
"Terus, Bang?" tanya Musiyem penasaran melihat aku berhenti cerita.
Aku tersenyum, karena pancinganku kena. "Hayoo, obat panunya dibeli dulu, ya? Soalnya sebentar lagi saya harus terbang ke Jakarta. Untuk mendatangi pelanggan di sana."
"Harganya berapa, Bang?"tanya Rumman Ahmar.
"Cuma lima puluh ribu rupiah per botol."
"Kok mahal?"
"Yang murah onde-onde!" seruku kesal.
Singkat cerita, akhirnya dagangan aku laris manis. Khusni mengerjab-ngerjabkan matanya. Sialan!
"Hayoo, Bang, lanjutkan ceritanya. Awas bohong lho, ya!" Yudha S. Riadi yang langsung memborong sepuluh botol, teriak-teriak.
Aku tersenyum saja.
"Mati menggenaskan gimana, Bang?" Era yang sejak tadi diam saja, turut bertanya.
"Ceritanya, dia kan miara panu di tubuhnya. Suatu ketika dia naik motor. Pas lagi nyetir, kulit yang ada panunya itu gatal. Karena tidak tahan, dia lalu menggaruknya. Akibatnya fatal dah. Saat asik garuk-garuk, ada truk dari arah depan, dan menabraknya. Makanya penyakit panu itu...."
"Huuuuuuu... tipu!" Tiba-tiba orang-orang yang tadinya konsentrasi mendengarkan cerita aku, jadi pada teriak-teriak. Malah ada yang melempar aku segala.
Setelah mengamankan uang, aku cepat-cepat kabur. Biar emak Arifah dan Khusni saja yang jadi sasaran kemarahan mereka, hihi***
btbt, 060315
Met Pagi

Jumat, 06 Maret 2015

TIGA SALES GOKIL (bag.2)


BEL tanda masuk sudah berbunyi. Suasana kantor sudah sepi. Ketiga sales yang nggak lucu-lucu amat itu sudah meninggalkan sekolah dengan damai. Teman-teman guru juga sudah pada masuk ke kelasnya masing-masing. Di ruang guru, tinggal aku dan Bu Sastra Dewita. Eh, Pak Tedy Maulana Ibrahim juga. Tuh makhluk lagi sibuk memberesin barang-barang yang tadi dibeli, dan masih menumpuk di lantai.
"Pak Ted, tolong saya belikan permen!" seru Bu Sastra sambil nyodorin uang. "Beli ke Surabaya, ya? Jauh 'dikit nggak apa-apa."
"Lewat Papua aja ya, Bu? Biar saya nggak balik-balik sekalian," sahut Pak Tedy geli sendiri.
Bu Sastra seperti menahan diri untuk tidak tersenyum. Malah wajahnya disetel serius. Terutama saat menoleh ke arahku. "Bi. Abi jangan dulu ke kelas," ucapnya rada judes begitu Pak Tedy telah keluar.
Aku menatap Ummi heran. Hihi, Ibu Kepala Sekolah itu sebenarnya adalah istriku.Tapi nasib aku tidak sebagus doi. Mestinya aku yang jadi kepala sekolah. Tapi tidak apa-apa dah, rejekinya orang memang tidak sama.
"Abi udah mulai ganjen, ya?" seruduk istriku tiba-tiba.
"Maksudnya?" Aku nyureng.
"Alaaa, belaga bloon lagi!" Istriku mencibir. "Abi pikir Ummi nggak tahu, kalau tadi Abi ngecengin sales cantik yang bernama Hany Juwita itu."
"Hihihi, Ummi cemburu, ya?"
"Bukan cemburu. Cuma nggak suka aja. Ini kan sekolah. Nggak baik seorang guru bertingkah seperti tadi," ucap istriku tegas.
"Kalau di luar sekolah boleh, ya?"
"Hush!" Istriku melotot. Lalu geleng-geleng kepala. "Dasar!"
Aku nyengir saja. Lalu aku meningalkan Ruang Guru. Pergi ke kelas. Setelah ngasih tugas, diam-diam aku keluar lagi. Dan secara diam-diam pula aku meninggalkan sekolah, pergi ke rumah Qila yang rumahnya di belakang sekolah. Entah kenapa perasaan aku jadi tidak enak setelah tadi memberikan nomot HP-nya pada Yudha S. Riadi yang tadi minta nomor HP aku.
Tidak pake lama, akhirnya aku sampai juga di depan hidung Qila. Aku tersentak kaget, karena gadis yang kata mamanya itu cantik banget, kudapati sedang menangis. Di dekatnya ada Ina Rustiati dan Echa Aja. Kuperhatikan Echa Aja sedang ngelap ingus Qila dengan bajunya Echa Aja sendiri yang dijadikan serbet. Sedang Ina sibuk merekam tangis Qila yang suaranya berirama dangdut, namun juga sebentar-sebentar beralih ke pop dan keroncong.
"Qila kenapa, Ina?" Aku mulai bertanya.
"Tadi ada penelepon mistelius, Pak Gulu," jawab Ina dengan suara cadelnya. Tuh anak memamg tidak bisa bilang 'r'. Setiap ketemu huruf 'r' selalu dibilangnya 'l'.
"Penelepon misterius?"
"Benal. Dia nggak nyebutin nama, Pak. Begitu Qila ngangkat, penelepon itu langung malah-malah nggak kaluan."
"Benar, Pak. Bahkan penelepon itu nggak memberi kesempatan sedikitpun pad Qila untuk berkata-kata," sambung Echa Aja serius.
"Kila-kila olang itu siapa ya, Pak Gulu?" tanya Ina rada manaja.
"Ya, aku nggak tahu juga," sahutku berbohong. Hati kecil tetap yakin itu kelakuan si Yudha dan kedua temannya.
"Tadi penelepon itu ngajak perang tanding lho, Pak. Katanya sekarang juga Qila ditunggu di ujung lorong sana itu," ucap Echa Aja dengan cemas.
"Hikhikhik, aku takut!" Tiba-tiba Qila menghambur ke arahku. Tangisnya semakin cetar membahana dalam pelukanku.
"Cup... cup..., jangan nangis ah, malu!" seruku dengan mata tidak kuasa menahan tangis juga. Melihat aku menangis, Echa Aja dan Ina yang tadinya tidak terpengaruh, akhirnya ikut menangis pula. Kedua gadis cantik itu, juga memeluk aku. Ummi... eh, Hany... tolongin!***
btbt, 050215
Met Pagi semua

Rabu, 04 Maret 2015

TIGA SALES GOKIL (bag.1)


KEMARIN ada tiga orang sales ke sekolah. Dua cowok satu cewek. Tanpa diminta, mereka langsung memperkenalkan diri. "Nama saya Yudha S. Riadi, mantan pacarnya Rinjani Syafriadi," ucap salah seorang yang kalau aku perhatikan dengan tidak cermat wajah dan bodynya mirip pemeran Arjuna di ketoprak Rumman Ahmar cs yang dulu pernah ngetop sebelum Orrde Baru modar.
Habis itu, salah seorang lagi tampil memperkenalkan dia. Doi berambut godrong ala personil Soneta Grup pimpinan Pak Haji Omairama. "Kenalkan nama saya Khusni Yakob," ucapnya dengan suara dibulat-bulatin, neru suara Pak Haji Omairama. Dan begitu selesai memperkenalkan diri, doi menutup dengan sebuah lagu yang berjudul Tabir Kepalsuan.
Suaranya memang bagus sih. Tidak kalah dengan penyanyi aslinya. Apalagi goyangannya. Perpaduan antara Om Arofiq dan Pak Haji. Semua yang hadir di ruangan guru, kecuali aku, bergoyang semua. Menirukan gerakan si pengagum Pak Haji Omairama itu.
Sementara aku, yang nggak ikutan goyang, karena aku lebih memilih ngecengin satu-satunya cewek yang ikut jadi sales itu. Siapa namanya ya? Wajahnya cantik banget. Berjilbab lagi. Kalau aku perhatikan dari samping kiri, wajahnya mirip seperti Evi Tamala. Beneran. Bagai kedongdong dibelah dua.
Aku kemudian pindah ke sebelah kanan. Apa masih mirip Evi Tamala apa tidak. Eh, ternyata sudah berubah. Sekarang miirip Dewi Persik. Bibirnya, hidungnya, jidatnya, sama persis. Bagai buah durian dibelah dua.
Aku makin penasaran. Lalu aku geser ke belakangnya. Auw, ternyata beda lagi. Seperti Inul Darah Tinggi. Itu kalau dilihat dari goyangannya sih, yang ngebor banget.
Suasana kemudian hening begitu lagu Tabir Kepalsuan sudah selesai dinyanyiin. Masing-Masing kembali ketempat duduknya. Termasuk Ibu Sastra Dewita, sang Kepala Sekolah. Bu Puspa Andini, yang menjabat sebagai Waksek, kulihat membuka kaos kakinya. Ngepel keringatnya yang membajir di wajah keibuannya.
Setelah semuanya pada duduk, cewek yang dari detik awal aku kecengin itu, tiba-tiba naik ke atas meja. Kupikir mau nyanyi juga. Atau membaca puisi, seperti yang biasa Bu Sastra Dewita lakukan bila sedang jam-jam istirahat kayak gini. "Kenalkan Nama saya Hay Juwita," ucapnya memecah heninng. Suaranya cempreng, namun mendayu-dayu mirip suara penyiar radio.
Tiba-tiba suasana jadi ramai dengan tepuk tangan dan sorak-sorai. Terlebih ketika cewek yang telah kutahu bernama Hany Juwita itu melakukan aksi jumpalitan di udara. Berpindah dari meja satu ke meja yang lainnya. Terakhir nangkring di atas lemari Bu Sastra Dewita.
Setelah Hany Juwita kembali ke tempat duduknya, mulailah ia dan kedua temannya mempromosikan dagangannya yang berupa papan nama dan aneka macam tulisan dan kaliqrafi.
"Semuanya boleh Ibu beli kecuali tulisan ini," ucapku pada Bu Sastra Dewita begitu memutuskan untuk memborong semua dagangan sales itu.
"Kenapa Pak Dudunk?" Mata rembulan Bu Sastra Menatap lekat padaku.
"Bu, tulisan ini berbunyi, 'di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat'. Lha, itu kan nggak sepenuhnya benar, Bu?"
btbt, 030315
‪#‎Bersambung‬ dulu ya? Dudunk mo ke Ondangan ne!
SALAM