Dropdown

Jumat, 06 Maret 2015

TIGA SALES GOKIL (bag.2)


BEL tanda masuk sudah berbunyi. Suasana kantor sudah sepi. Ketiga sales yang nggak lucu-lucu amat itu sudah meninggalkan sekolah dengan damai. Teman-teman guru juga sudah pada masuk ke kelasnya masing-masing. Di ruang guru, tinggal aku dan Bu Sastra Dewita. Eh, Pak Tedy Maulana Ibrahim juga. Tuh makhluk lagi sibuk memberesin barang-barang yang tadi dibeli, dan masih menumpuk di lantai.
"Pak Ted, tolong saya belikan permen!" seru Bu Sastra sambil nyodorin uang. "Beli ke Surabaya, ya? Jauh 'dikit nggak apa-apa."
"Lewat Papua aja ya, Bu? Biar saya nggak balik-balik sekalian," sahut Pak Tedy geli sendiri.
Bu Sastra seperti menahan diri untuk tidak tersenyum. Malah wajahnya disetel serius. Terutama saat menoleh ke arahku. "Bi. Abi jangan dulu ke kelas," ucapnya rada judes begitu Pak Tedy telah keluar.
Aku menatap Ummi heran. Hihi, Ibu Kepala Sekolah itu sebenarnya adalah istriku.Tapi nasib aku tidak sebagus doi. Mestinya aku yang jadi kepala sekolah. Tapi tidak apa-apa dah, rejekinya orang memang tidak sama.
"Abi udah mulai ganjen, ya?" seruduk istriku tiba-tiba.
"Maksudnya?" Aku nyureng.
"Alaaa, belaga bloon lagi!" Istriku mencibir. "Abi pikir Ummi nggak tahu, kalau tadi Abi ngecengin sales cantik yang bernama Hany Juwita itu."
"Hihihi, Ummi cemburu, ya?"
"Bukan cemburu. Cuma nggak suka aja. Ini kan sekolah. Nggak baik seorang guru bertingkah seperti tadi," ucap istriku tegas.
"Kalau di luar sekolah boleh, ya?"
"Hush!" Istriku melotot. Lalu geleng-geleng kepala. "Dasar!"
Aku nyengir saja. Lalu aku meningalkan Ruang Guru. Pergi ke kelas. Setelah ngasih tugas, diam-diam aku keluar lagi. Dan secara diam-diam pula aku meninggalkan sekolah, pergi ke rumah Qila yang rumahnya di belakang sekolah. Entah kenapa perasaan aku jadi tidak enak setelah tadi memberikan nomot HP-nya pada Yudha S. Riadi yang tadi minta nomor HP aku.
Tidak pake lama, akhirnya aku sampai juga di depan hidung Qila. Aku tersentak kaget, karena gadis yang kata mamanya itu cantik banget, kudapati sedang menangis. Di dekatnya ada Ina Rustiati dan Echa Aja. Kuperhatikan Echa Aja sedang ngelap ingus Qila dengan bajunya Echa Aja sendiri yang dijadikan serbet. Sedang Ina sibuk merekam tangis Qila yang suaranya berirama dangdut, namun juga sebentar-sebentar beralih ke pop dan keroncong.
"Qila kenapa, Ina?" Aku mulai bertanya.
"Tadi ada penelepon mistelius, Pak Gulu," jawab Ina dengan suara cadelnya. Tuh anak memamg tidak bisa bilang 'r'. Setiap ketemu huruf 'r' selalu dibilangnya 'l'.
"Penelepon misterius?"
"Benal. Dia nggak nyebutin nama, Pak. Begitu Qila ngangkat, penelepon itu langung malah-malah nggak kaluan."
"Benar, Pak. Bahkan penelepon itu nggak memberi kesempatan sedikitpun pad Qila untuk berkata-kata," sambung Echa Aja serius.
"Kila-kila olang itu siapa ya, Pak Gulu?" tanya Ina rada manaja.
"Ya, aku nggak tahu juga," sahutku berbohong. Hati kecil tetap yakin itu kelakuan si Yudha dan kedua temannya.
"Tadi penelepon itu ngajak perang tanding lho, Pak. Katanya sekarang juga Qila ditunggu di ujung lorong sana itu," ucap Echa Aja dengan cemas.
"Hikhikhik, aku takut!" Tiba-tiba Qila menghambur ke arahku. Tangisnya semakin cetar membahana dalam pelukanku.
"Cup... cup..., jangan nangis ah, malu!" seruku dengan mata tidak kuasa menahan tangis juga. Melihat aku menangis, Echa Aja dan Ina yang tadinya tidak terpengaruh, akhirnya ikut menangis pula. Kedua gadis cantik itu, juga memeluk aku. Ummi... eh, Hany... tolongin!***
btbt, 050215
Met Pagi semua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar