Dropdown

Sabtu, 07 Maret 2015

TRAGEDI DI PASAR REBO



CARI duit sekarang susah. Benar apa kata Pak Haji Omairama, jangankan yang halal, yang haram pun susah didapat. Tapi syukurlah, aku masih punya iman. Jadi, usaha yang halal-halal saja. Entah kalau kepepet, he. Tapi tidaklah ya, mudah-mudahan jangan.
Hari ini aku mencoba keberuntungan dengan menjual obat panu. Aku jualan di Pasar Rebo. Wajah aku sudah aku sulap pake kumis dan jenggot palsu. Tidak mungkin Musyisem, Terry, Bundha Vinram, Bunda Sri Eli Prorida, Hany Juwita cewek yang suka jeles padaku itu, mengenal aku lagi. Entah kalau Sastra Dewita. Soalnya kumis dan jenggot palsu ini aku nyewa di salonnya.
Meskipun hanya jualan obat jamu, aku pake asisten juga, merangkap sebagai penyandang dana. Khusni Yakob dan Emak Arifah Najmi, yang kini sudah tidak menganggap aku anak lagi. Ya, tidak apa-apa.
Hari sudah agak siangan, tapi dagangan belum laku-laku juga. Hanya ada beberapa gelintir orang yang nongkrong di dekatku jualan. Di antaranya Mba Puspa Andini, Banyu Biru II, III dan Iv. Tapi aku nyantai saja. Mereka tidak akan kenal aku. Yang repot si Emak ini, sudah dandanannya menor banget, pake ganjen lagi. Dari tadi kuperhatikan ngobrol terus sama si Banyu. Sudahlah, tidak apa-apa. 'Kali aja naksir setelah cintanya kandas dengan Bang Aruna Tosa.
"Gimana ini, Bang?" Khusni menatapku cemas.
"Tenang. 'Bentar lagi dagangan kita habis."
"Bang Dunk bisa tenang, karena nggak ngeluarin duit buat modal. Lha, aku?" Khusni mulai merengek. "Padahal uang yang Bang Dunk bikin ngulak obat panu itu sebenarnya untuk modal ngelamar Hany Juwita. Sekarang gagal sudah."
"Beneran, kamu naksir Hany?"
"Benar, Bang."
"Mantep?"
"Mantep."
"Sebaiknya jangan ah, Mending kamu naksir Zenith Azzura, atau Linda aja."
"Kalau Era, bang?"
"Jangan. Era orangnya galak. Dalam seharinya kalau tidak marahin orang, dia pusing katanya. Mau?"
"Nggak, Bang Dunk. Atut, hihi."
"Ya, udah. Duduk manis dulu kamu. Aku mau manggil pembeli dulu," ucapku pada Khusni yang sudah bisa kutenangkan kegalauan hatinya.
Setelah aku teriak-teriak nawarkan dagangan, ternyata banyak juga yang datang. "Bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara semua. Kalian jangan menganngap remeh penyakit panuh. Karena panuh ternyta bisa membunuh juga. Lebih kejam dari penyakit kencing manis, liver, tumur, kankker dan lain-lainnya," ucapku.
Orang-orang makin berbondong-bondong. "Kok bisa?" tanya Rinjani Syafriadi, di sela kerumunan orang.
"Iya, mana bisa panuh membunuh? Jangan-jangan boong!" Muhamad Relqy Auliansyah Alvano teriak-teriak.
"Iya, pasti boong!" teriak yang lain.
"Tenang saudara-saudara. Kita dengerin dulu penjelasannya. Siapa tahu benar!" Qila mencoba menenangkan orang-orang yang mengerubuniku. Hihi, syukur dah!
"Benar apa kata Neng Cantik ini." Aku menengahi. "Saya mau cerita tentang orang yang mati karena terjangkit penyakit panu itu. "Gini, di kampung saya ada seorang pemuda yang sedianya akan menikah bulan depan, ternyata kedapatan meninggal dengan tubuh mengenaskan. Lantarannya ya karena panu itu."
"Terus, Bang?" tanya Musiyem penasaran melihat aku berhenti cerita.
Aku tersenyum, karena pancinganku kena. "Hayoo, obat panunya dibeli dulu, ya? Soalnya sebentar lagi saya harus terbang ke Jakarta. Untuk mendatangi pelanggan di sana."
"Harganya berapa, Bang?"tanya Rumman Ahmar.
"Cuma lima puluh ribu rupiah per botol."
"Kok mahal?"
"Yang murah onde-onde!" seruku kesal.
Singkat cerita, akhirnya dagangan aku laris manis. Khusni mengerjab-ngerjabkan matanya. Sialan!
"Hayoo, Bang, lanjutkan ceritanya. Awas bohong lho, ya!" Yudha S. Riadi yang langsung memborong sepuluh botol, teriak-teriak.
Aku tersenyum saja.
"Mati menggenaskan gimana, Bang?" Era yang sejak tadi diam saja, turut bertanya.
"Ceritanya, dia kan miara panu di tubuhnya. Suatu ketika dia naik motor. Pas lagi nyetir, kulit yang ada panunya itu gatal. Karena tidak tahan, dia lalu menggaruknya. Akibatnya fatal dah. Saat asik garuk-garuk, ada truk dari arah depan, dan menabraknya. Makanya penyakit panu itu...."
"Huuuuuuu... tipu!" Tiba-tiba orang-orang yang tadinya konsentrasi mendengarkan cerita aku, jadi pada teriak-teriak. Malah ada yang melempar aku segala.
Setelah mengamankan uang, aku cepat-cepat kabur. Biar emak Arifah dan Khusni saja yang jadi sasaran kemarahan mereka, hihi***
btbt, 060315
Met Pagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar